DIMANA ALLAH BERADA SEBELUM DI CIPTAKANNYA ‘ARSY ?

DIMANA ALLAH BERADA SEBELUM DI CIPTAKANNYA ‘ARSY ?
.
Diantara kesesatan jahmiyah atau orang-orang yang terpengaruh faham jahmiyah adalah mempertanyakan keberada’an Allah Ta’ala sebelum di ciptakannya ‘Arsy.
.
Mereka bertanya, “Sebelum di ciptakan ‘Arsy Allah berada di mana ?”
.
Atau mereka bertanya, “Apa mungkin Allah berpindah tempat ?”
.
Itulah diantara pertanya’an-pertanya’an yang biasa di lontarkan orang-orang yang terpengaruh kesesatan faham jahmiyah.
.
“Dimana keberada’an Allah sebelum Allah Ta’ala menciptakan ‘Arsy ?”, “Apa mungkin Allah berpindah tempat ?”
.
PERTANYA’AN-PERTANYA’AN DI ATAS TIMBUL AKIBAT KESALAHAN BERFIKIR SANGAT FATAL, YAITU AKIBAT DARI SIKAP MENYERUPAKAN ALLAH DENGAN MAKHLUK.
.
Padahal Allah Ta’ala sudah menjelaskan dalam Firman-Nya :
.
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ
.
“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia . .” (Q.S Asy-Syuro: 11).
.
Terhadap makhluk kita boleh punya pemikiran atau pertanya’an, bagaimana, dari mana, mau kemana dan lainnya.
.
Misalnya, suatu sa’at kita melihat seekor angsa di depan rumah. Kemudian kita bertanya-tanya
.
Dari mana angsa itu ?
.
Pertanya’an di atas tidak ada yang salah, Karena makhluk terikat oleh hukum-hukum Sunnatullah yang berlaku atasnya. Tetapi untuk Allah Ta’ala, Dia terbebas dari semua ikatan-ikatan hukum yang berlaku sebagaimana pada makhluk-Nya.
.
Keberada’an Allah Ta’ala sebelum diciptakannya ‘Arsy, juga bagaimana keberada’an-Nya di atas ‘Arsy adalah termasuk perkara ghaib yang tidak di terangkan dalam Kitab-Nya. Dan kita tidak di wajibkan untuk mengetahui perkara-perkara yang tidak di terangkan oleh Allah dan Rasul-Nya.
.
Dalam sebuah riwayat disebutkan, bahwa ada kalanya dalam diri manusia timbul pikiran-pikiran aneh karena bisikan syaitan. Misalnya kita berpikir, bahwa alam semesta ini diciptakan oleh Allah. Lalu siapa yang menciptakan Allah ?
.
Nabi menasehatkan : Kalau ada bisikan-bisikan seperti itu, seorang Muslim cukup mengatakan, “Amantu billahi wa bi Rusulihi” (aku beriman kepada Allah dan kepada Rasul-rasul-Nya). (HR. Imam Ahmad).
.
Para Ulama sering mengatakan “Tafakkaruu fi khalqillah wa laa tafakkaruu fi dzatillah” (pikirkanlah tentang cipta’an Allah, namun jangan berpikir tentang Dzat-Nya).
.
ISTIWA’ TANPA TAKYIF, TAMTSIL DAN TASYBIH
.
Keimanan kita kepada Istiwa’ (bersemayam)-nya Allah di atas ‘Arsy/Langit tanpa melakukan takyif (menyatakan hakekat sifat tersebut), tanpa tamtsil (memisalkannya dengan makhluk) dan tanpa tasybih (menyerupakannya dengan makhluk).
.
Abu Nu’aim Al Ash-bahani (334 H-430 H) rahimahullah, penulis kitab Al Hilyah berkata : “Metode kami (dalam menetapkan sifat Allah) adalah jalan hidup orang yang mengikuti Al Kitab, As Sunnah dan ijma’ (konsensus para ulama). Di antara i’tiqod (keyakinan) yang dipegang oleh mereka (para ulama) bahwasanya hadits-hadits yang shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkan Allah berada di atas ‘Arsy dan mereka meyakini bahwa Allah beristiwa’ (menetap tinggi) di atas ‘Arsy-Nya. Mereka menetapkan hal ini tanpa melakukan takyif (menyatakan hakekat sifat tersebut), tanpa tamtsil (memisalkannya dengan makhluk) dan tanpa tasybih (menyerupakannya dengan makhluk). Allah sendiri terpisah dari makhluk dan makhluk pun terpisah dari Allah. Allah tidak mungkin menyatu dan bercampur dengan makhluk-Nya. Allah menetap tinggi di atas ‘Arsy-Nya di langit sana dan bukan menetap di bumi ini bersama makhluk-Nya”.
.
(Dinukil dari Majmu’ Al Fatawa, Ahmad bin Abdul Halim Al Haroni, 5/60, Darul Wafa’, cetakan ketiga, 1426 H).
.
ALLAH DIATAS ARSYI BUKAN BERARTI ALLAH MEMBUTUHKAN TEMPAT
.
Imam Abu Ja’far Ahmad bin Muhammad Ath Thahawi rahimahullah [wafat tahun 321 H]. Beliau berkata: “Allah tidak membutuhkan ‘Arsy dan apa yang ada dibawahnya. Allah menguasai segala sesuatu dan apa yang ada diatasnya. Dan Dia tidak memberi kemampuan kepada makhluk-Nya untuk mengetahui segala sesuatu.” Beliau menjelaskan bahwa Allah menciptakan ‘Arsy dan bersemayam di atasnya, bukanlah karena Allah membutuhkan ‘Arsy tetapi Allah memiliki hikmah tersendiri tentang hal itu. Bahkan sebaliknya, sekalian makhluk termasuk ‘Arsy bergantung kepada Allah Jalla wa ‘Ala.” [Lihat Imam al-Qadhi ‘Ali bin ‘Ali bin Muhammad bin ‘Abdil ‘Izz ad-Dimasyqi dalam Syarh ‘Aqidah at-Thahâwiyah, (hal. 372)].
.
.
.
با رك الله فيكم
.
By : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί
.
https://agussantosa39.wordpress.com/category/01-islam-dakwah-tauhid/01-islam-sudah-sempurna/
.
.
=====================

FIR’AUN MENGINGKARI ALLAH DI ATAS ‘ARSY

FIR’AUN MENGINGKARI ALLAH DI ATAS ‘ARSY
.
Pengingkaran keberada’an Allah Ta’ala di atas ‘Arsy bukan saja datang dari sekte sesat jahmiyah dan para pengekornya. Tapi jauh-jauh sebelumnya, keberada’an Allah Ta’ala di atas ‘Arsy di ingkari oleh Fir’aun. Karena kedurhaka’annya menolak dakwah Nabi Musa ‘alaihis salam, lalu Allah Ta’ala menenggelamkan Fir’aun ke dasar laut.
.
Pengingkaran Fir’aun terhadap keberada’an Allah Ta’ala di atas ‘Arsy, Allah abadikan di dalam Al-Qur’an.
.
Allah Ta’ala berfirman :
.
وَقالَ فِرْعَوْنُ يا هامانُ ابْنِ لي صَرْحاً لَعَلِّي أَبْلُغُ الْأَسْبابَ أَسْبابَ السَّماواتِ فَأَطَّلِعَ إِلى إِلهِ مُوسى وَ إِنِّي لَأَظُنُّهُ كاذِباً وَ كَذلِكَ زُيِّنَ لِفِرْعَوْنَ سُوءُ عَمَلِهِ وَ صُدَّ عَنِ السَّبيلِ وَ ما كَيْدُ فِرْعَوْنَ إِلاَّ في تَبابٍ
.
“Dan berkatalah Firaun, Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu, (yaitu) pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Tuhan Musa dan sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta.” Demikianlah dijadikan Fir’aun memandang baik perbuatan yang buruk itu, dan dia dihalangi dari jalan (yang benar), dan tipu daya Fir’un itu tidak lain hanyalah membawa kerugian”. (QS.Ghafir/Al Mu’min: 36-37).
.
Ayat di atas menceritakan tentang kesombongan dan kebodohan Fir’aun yang minta di buatkan sebuah bangunan tinggi yang tujuannya untuk melihat Allah yang di katakan oleh Nabi Musa berada di atas langit.
.
Terkait ayat di atas, seorang Ulama Ahli Tafsir Imam Al-Thabari rahimahullah (w. 310 H) berkata :

وقوله: (وَإِنِّي لأظُنُّهُ كَاذِبًا) يقول: وإني لأظنّ موسى كاذبا فيما يقول ويدّعي من أن له في السماء ربا أرسله إلينا.

“Dan firman-Nya (berkena’an kata-kata Fir’aun), “Dan sesungguhnya aku percaya Musa itu seorang pendusta !”, maksud perkata’an (Fir’aun) adalah, “Dan sesungguhnya aku percaya Musa ini pendusta terhadap apa yang dia katakan BAHWA MUSA MEMPUNYAI TUHAN DI LANGIT YANG MENGUTUSNYA”.

(Tafsir al-Thabari, 21/387, Tahqiq: Ahmad Syakir, cet Muassasah al-Risalah, cet Pertama, lihat juga: Tafsir ayat 38 Surah al-Qhasas).
.
Imam Abul Hasan al-Asy’ari rahimahullah (w. 324 H) dalam kitab beliau, Al-Ibanah terkait ayat di atas berkata :

كذب موسى عليه السلام في قوله: إن الله سبحانه فوق السماوات

“Dia (Fir’aun) mendustakan Musa ‘alaihi salam tentang perkata’an Musa : Bahwa ALLAH subhanahu wa Ta’ala berada DI ATAS LANGIT”.
.
Ahmad bin Abdul Halim Al Haroni mengatakan,
.
كَذَّبَ مُوسَى فِي قَوْلِهِ إنَّ اللَّهَ فَوْقَ السَّمَوَاتِ
.
“Fir’aun mengingkari Musa, di mana Musa mengatakan bahwa Allah berada di atas langit”. (Majmu’ Al Fatawa, 3/225).
.
• Yang mengingkari Allah Ta’ala di atas ‘Arsy adalah pengikut Fir’aun.
.
Ibnu Abil ‘Izz mengatakan, “Barangsiapa yang mendustakan ketinggian Dzat Allah di atas langit yaitu dari golongan Jahmiyah, maka mereka termasuk pengikut Fir’aun. Sedangkan yang menetapkan ketinggian Dzat Allah di atas langit, merekalah pengikut Musa dan pengikut Muhammad.” (Syarh Al ‘Aqidah Ath Thohawiyah, 2/441).
.
Itulah diantara ke durhaka’an Fir’aun yang mengingkari keberada’an Allah Ta’ala di atas langit akibat dari kesombongan dan kebodohannya.
.
Namun yang sangat mengherankan, ke durhaka’an Fir’aun tersebut justru malah di ikuti oleh sekte sesat jahmiyah dan orang-orang yang mengikuti kesesatannya sampai sa’at ini. Pengingkaran mereka terhadap keberada’an Allah Ta’ala di atas ‘Arsy adalah akibat dari menyerupakan Allah Ta’ala dengan makhluk. Padahal sifat Allah berbeda dengan sifat yang di miliki oleh makhluk.
.
Mereka itulah orang-orang yang mengingkari Allah Ta’ala di atas ‘Arsyi, sekte sesat jahmiyah dan para pengekornya yang sebenarnya musyabihah (yang menyerupakan Allah dengan makhluk).
.
.
با رك الله فيكم
.
By : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί
.
https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/
.
.
================

JAHMIYAH MEYAKINI ALLAH BERADA DI SETIAP TEMPAT

JAHMIYAH MEYAKINI ALLAH BERADA DI SETIAP TEMPAT
.
Diantara keyakinan sesat jahmiyah ialah, mereka mengingkari keberada’an Allah Ta’ala di atas ‘Arsy dan meyakini bahwa Allah Ta’ala berada di setiap tempat, Allah Ta’ala ada di mana-mana.
.
– Imam Abul-Hasan Al-Asy’ariy (260 – 324 H) rahimahullah di dalam kitabnya berkata :
.
وقد قال قائلون من المعتزلة والجهمية والحرورية : إن معنى استوى إستولى وملك وقهر، وأنه تعالى في كل مكان، وجحدوا أن يكون على عرشه، كما قال أهل الحق
.
“Dan telah berkata orang-orang dari kalangan mu’tazillah, jahmiyyah, dan haruriyyah (khawarij) : ‘Sesungguhnya makna istiwaa’ adalah : menguasai (istilaa’), memiliki, dan mengalahkan. ALLAH TA’ALA BERADA DI SETIAP TEMPAT. MEREKA MENGINGKARI KEBERADA’AN ALLAH DI ATAS ‘ARSY-NYA, sebagaimana yang dikatakan oleh Ahlul-Haq (Ahlus-Sunnah)”. (Al-Ibaanah, hal. 34-37).
.
– Imam al-Zahabi (673–748 H) berkata :
.
وَمَقَالَةُ الْجَهْمِيَّةِ أَنَّ اللهَ تَبَارَكَ وَتعَالَى فِيْ جَمِيْعِ الأَمْكِنَةِ تَعَالَى اللهُ عَنْ قَوْلِهِمْ
.
“Adapun perkata’an Jahmiyyah (bahwa) ‘Allah Tabāraka wa Ta‘ālaada BERADA DI SEMUA TEMPAT, Maha Tinggi Allah dari perkata’an (rendahan) mereka itu”. (Al-‘Uluww hlm. 143).
.
– Al Hafizh Abu Ja’far Muhammad bin ‘Utsman bin Muhammad bin Abi Syaibah Al ‘Abasi, muhaddits Kufah di masanya, di mana beliau telah menulis tentang masalah ‘Arsy dalam seribu kitab, beliau berkata,
.
وأنكروا العرش وأن يكون الله فوقه وقالوا إنه في كل مكان
.
“Jahmiyah mengingkari ‘Arsy dan mengingkari keberada’an Allah di atas ‘Arsy. JAHMIYAH KATAKAN BAHWA ALLAH BERADA DI SETIAP TEMPAT”. (Al ‘Uluw, hal. 220 dan Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 220-221).
.
Keyakinan sesat jahmiyah yang mengingkari keberada’an Allah Ta’ala di atas ‘Arsy dan meyakini Allah Ta’ala berada di setiap tempat, maka konsekuensinya Allah Ta’ala berarti berada di tempat-tempat kotor dan juga tempat-tempat najis.
.
Imam Abu Hasan Al-Asy’ariy rahimahullah berkata :
.
وَزَعَمَتِ الْمُعْتَزِلَةُ وَالْحَرُوْرِيَّةُ وَالْجَهْمِيَّةُ أَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، فَلَزِمَهُمْ أَنَّهُ فِيْ بَطْنِ مَرْيَمَ وَفِيْ الْحُشُوْشِ وَالأَخْلِيَةِ، وَهَذَا خِلَافُ الدِّيْنِ، تَعَالَى اللهُ عَنْ قَوْلِهِمْ
.
“Dan kaum Mu‘tazilah, Haruriyyah, dan jahmiyah beranggapan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala BERADA DI SETIAP TEMPAT. HAL INI MELAZIMKAN MEREKA BAHWA ALLAH BERADA DI PERUT MARYAM, TEMPAT SAMPAH DAN WC. PAHAM INI MENYELISIHI AGAMA. Maha Tinggi Allah dari perkataan (rendahan) mereka”. (Al-Ibānah fi Uṣūl Diyānah hlm. 26).
.
Maha suci Allah Ta’ala dari keyakinan rusak dan perkata’an buruk orang-orang jahmiyah. Maka pantas apabila di sebutkan sekte jahmiyah lebih buruk daripada yahudi dan nasrani.
.
Sa’id bin ‘Amir Adh Dhuba’i (122-208 H) Ulama Bashroh berkata :
.
هم شر قولا من اليهود والنصارى قد إجتمع اليهود والنصارى وأهل الأديان مع المسلمين على أن الله عزوجل على العرش وقالوا هم ليس على شيء
.
“Jahmiyah lebih jelek dari yahudi dan nashrani. Telah diketahui bahwa yahudi dan nashrani serta agama lainnya bersama kaum muslimin bersepakat bahwa Allah ‘azza wa jalla menetap tinggi di atas ‘Arsy. Sedangkan Jahmiyah, mereka katakan bahwa Allah tidak di atas sesuatu pun”. (Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar, hal. 157 dan Mukhtashor Al ‘Uluw hal. 168).
.
YANG DIMAKSUD ALLAH BERADA DI SETIAP TEMPAT ADALAH ILMUNYA
.
Menurut para Ulama Shalaf, yang dimaksud Allah berada di setiap tempat, Allah ada dimana-mana adalah ilmunya.
.
– Imam Ibnu Katsir rahimahullah (w 774 H) ketika menafsirkan surat Al Hadiid ayat 4 berkata :
.
“Dia bersama kamu” IALAH ILMU-NYA, PENGAWASAN-NYA, PENJAGA’AN-NYA bersama kamu, sedang Dzat Allah di atas ‘Arsy di langit”. (Tafsir Qur`anil Azhim: 4/317).
.
– Imam Malik bin Anas (93-179 H) berkata :
.
الله في السماء، وعلمه في كل مكان، لا يخلو منه شيء.
.
“Allah berada di atas langit, DAN ILMUNYA BERADA DI SETIAP TEMPAT. Tidak ada terlepas dari-Nya sesuatu”. (Mukhtashar Al-‘Ulluw, hal. 140 no. 130].
.
– Imam Ahmad bin Hambal (164-241 H) pernah ditanya,
.
ما معنى قوله وهو معكم أينما كنتم و ما يكون من نجوى ثلاثه الا هو رابعهم
.
Apa makna firman Allah, “Dan Allah bersama kamu di mana saja kamu berada” (QS. Al Hadiid: 4) dan “Tiada pembicara’an rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah keempatnya” (Q.S Al Mujadilah: 7) ?
.
Imam Ahmad bin Hambal menjawab :
.
قال علمه عالم الغيب والشهاده علمه محيط بكل شيء شاهد علام الغيوب يعلم الغيب ربنا على العرش بلا حد ولا صفه وسع كرسيه السموات والأرض
.
Yang dimaksud dengan kebersama’an tersebut adalah ILMU ALLAH. Allah mengetahui yang ghoib dan yang nampak. ILMU ALLAH MELIPUTI SEGALA SESUATU YANG NAMPAK DAN YANG TERSEMBUNYI. NAMUN RABB KITA TETAP MENETAP TINGGI DI ATAS ‘ARSY, tanpa dibatasi dengan ruang, tanpa dibatasi dengan bentuk. Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Kursi-Nya pun meliputi langit dan bumi”. (Itsbat Sifatil ‘Uluw, hal. 116).
.
– Adh-Dhahhaak berkata :
.
هو على العرش وعلمه معهم
.
“Allah berada di atas ‘Arsy, DAN ILMU-NYA BERSAMA MEREKA”. (As-Sunnah oleh ‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal hal. 80).
.
– Ibnul Mubarok bertanya pada Sufyan Ats Tsauri mengenai firman Allah ‘azza wa jalla,
.
وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ
.
“Dia (Allah) bersama kalian di mana saja kalian berada.” (QS. Al Hadid: 4).
.
روى غير واحد عن معدان الذي يقول فيه ابن المبارك هو أحد الأبدال قال سألت سفيان الثوري عن قوله عزوجل وهو معكم أينما كنتم قال علمه
.
Sufyan Ats Tsauri menyatakan BAHWA YANG DI MAKSUDKAN ADALAH ILMU ALLAH (yang berada bersama kalian, bukan dzat Allah)”. (Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar, 137-138).
.
– Imam Abul Hasan Al-’Asy’ari rahimahullah [260 – 324 H] dalam kitabnya Risaalah ila Ahli Ats-Tsagr berkata : Dan Allah mengetahui yang tersembunyi dan yang lebih samar dari yang tersembunyi, tidak ada sesuatupun di langit maupun di bumi yang tersembunyi bagi Allah, hingga seakan-akan Allah senantiasa hadir bersama segala sesuatu. Hal ini telah ditunjukan oleh Allah Azza wa Jalla dengan firmanNya,
.
وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ
.
Dia bersama kamu dimana saja kamu berada (QS Al-Hadiid : 4).
.
Para ahlul ilmi menafsirkan hal ini dengan ta’wil yaitu BAHWASANYA ILMU ALLAH MELIPUTI MEREKA DI MANA SAJA MEREKA BERADA”. (Risaalah ilaa Ahli Ats-Tsagr 231-234).
.
.
با رك الله فيكم
.
By : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί
.
https://agussantosa39.wordpress.com/category/01-islam-dakwah-tauhid/01-islam-sudah-sempurna/
.
.
____________________

ALLAH TA’ALA DIATAS ‘ARSY MENURUT SYAIKH ABDUL QADIR JAILANI

ALLAH TA’ALA DIATAS ‘ARSY MENURUT SYAIKH ABDUL QADIR JAILANI
.
Syaikh Abdul Qadir Jailani (470-561 H) adalah seorang ulama Ahlus Sunnah ahli fiqih bermadzhab hanbali yang sangat dihormati.
.
Sebagaimana para Ulama Ahlus Sunnah lainnya, Syaikh Abdul Qadir Jailani memiliki aqidah bahwa Allah Ta’ala berada di atas ‘Arsy. Hal ini bisa kita perhatikan di dalam kitabnya.
.
Syaikh Abdul Qadir Jailani berkata :
.
وهو بجهة العلو مستو، على العرش محتو على الملك محيط علمه بالأشياء
.
“Dia (Allah) beristiwa di atas. Dia di atas Arsy, Dia menguasai semua keraja’an, ilmu-Nya meliputi segala sesuatu”. (Abdul Qadir al-Jailani, al-Ghunyah, 1/71).
.
Lebih lanjut Syaikh Abdul Qadir Jailani menjelaskan tentang istawaa’-Nya Allah Ta’ala di atas ‘Arsy, yaitu memaknai istawaa’ sebagaimana teksnya tanpa ditakwil, juga tidak di maknai duduk atau menempel sebagaimana yang di maknai oleh orang-orang mujassimah atau sebagaimana yang di katakan oleh orang-orang dari pengekor Asy’ariyah. Syaikh Abdul Qadir Jailani juga menjelaskan kata istawaa’ tidak boleh dimaknai menguasai, sebagaimana aqidah Mu’tazilah.
.
Berikut keterangan Syaikh Abdul Qadir Jailani :
.
وينبغي إطلاق صفة الاستواء من غير تأويل، وأنه استواء الذات على العرش لا على معنى القعود والمماسة كما قالت المجسمة والكرامية، ولا على معنى العلو والرفعة كما قالت الأشعرية، ولا معنى الاستيلاء والغلبة كما قالت المعتزلة، لأن الشرع لم يرد بذلك ولا نقل عن أحد من الصحابة والتابعين من السلف الصالح من أصحاب الحديث ذلك.
.
“Selayaknya memahami istiwa Allah sesuai makna tekstualnnya, tanpa ditakwil. Dia bersemayam secara dzat di atas ‘Arsy, tidak kita maknai duduk dan menempel di Arsy, sebagaimana perkata’an Mujassimah dan Karramiyah, tidak pula dimaknai berada di atas, sebagaimana perkata’an Asy’ariyah. Tidak boleh dimaknai menguasai, sebagaimana aqidah Mu’tazilah. Karena syariat tidak menyebutkan semua makna itu, dan tidak dinukil satupun keterangan dari sahabat, maupun tabi’in di kalangan Salaf, para pembawa hadits”. (Abdul Qadir al-Jailani, al-Ghunyah, 1/74).
.
Syaikh Abdul Qadir Jailani juga mengatakan bahwa Allah Ta’ala turun ke langit terendah.
.
Syaikh Abdul Qadir Jailani berkata :

وأنه ينزل في كل ليلة إلى السماء الدنيا كيف شاء لا بمعنى نزول الرحمة وثوابه على ما ادعت المعتزلة والأشعرية…

“Dan sungguh Dia (Allah) juga turun ke langit terendah dengan cara yang Dia kehendaki, bukan bermakna turun rahmat-Nya atau pahala-Nya sebagaimana yang dikatakan oleh Mu’tazilah dan Asya’irah . .”. (Abdul Qadir al-Jailani, al-Ghunyah Li Thalibi `l-Haq, 56-57).
.
Perkata’an Syaikh Abdul Qadir Jailani di atas berdasarkan kepada hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
.
يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِيْنَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ اْلآخِرِ، فَيَقُوْلُ: مَنْ يَدْعُوْنِي فَأَسْتَجِيْبَ لَهُ، وَمَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ، وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ. حتى ينفجر الفجر

“Rabb kita tabaraka wa ta’ala turun ke langit dunia setiap sepertiga malam akhir. Ia lalu berkata: ‘Barangsiapa yang berdoa, akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku akan Aku beri. Siapa yang memohon ampun kepada-Ku, akan Aku ampuni. Hingga terbit fajar‘ ” (HR. Bukhari 1145, Muslim 758).
.
Ketika menerangkan keberada’an Allah Ta’ala di atas ‘Arsy, Syaikh Abdul Qadir Jailani membawawakan hadits jaariyah sebagai dalilnya.
.
Syaikh Abdul Qadir Jailani berkata :
.
وأنه بجهة العلو مستو، على العرش محتو، وأن النبي شهد بإسلام الجارية لما سألها: أي الله؟ فأشارت إلى السماء، وأن عرش الرحمن فوق الماء، والله تعالى على العرش ودونه سبعون ألف حجاب من نور وظلمة، وأن للعرض حد يعلمه الله.

“Dia (Allah) berada di atas, beristiwa’ di atas Arsy, meliputi segala kerajaan-Nya. Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam telah menyaksikan ke Islaman budak wanita ketika beliau bertanya kepadanya : “Di mana Allah ?” Maka dia (budak wanita) menunjuk ke atas. Dan bahwasanya Arsy Allah itu di atas air. Allah beristiwa’ di atasnya, sebelumnya (di bawahnya) adalah 70.000 hijab dari cahaya dan kegelapan. Dan bahwa arsy itu memiliki batasan yang di ketahui oleh Allah”. (Abdul Qadir al-Jailani, al-Ghunyah Li Thalibi `l-Haq, 56-57).
.
Itulah aqidah Syaikh Abdul Qadir Jailani yang memiliki pendapat yang bagus dalam masalah tauhid dan sifat-sifat Allah yang sesuai dengan pemahaman Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
.
Imam Ibnu Rajab berkata :

وللشيخ عبد القادر رحمه الله تعالى كلام حسن في التوحيد، والصفات، والقدر، وفي علوم المعرفة موافق للسنة،
.
“Syeikh Abdul Qadir Al Jailani rahimahullah memiliki pendapat yang bagus dalam masalah tauhid, sifat-sifat Allah, takdir, dan ilmu-ilmu ma’rifat yang sesuai dengan sunnah”. (Adz Dzail ‘Ala Thabaqil Hanabilah, Imam Ibnu Rajab).
.
.
_____________________

CELA’AN IMAM SYAFI’I KEPADA ORANG-ORANG SUFI

CELA’AN IMAM SYAFI’I KEPADA ORANG-ORANG SUFI

Ketika Imam Syâfi’i rahimahullah memasuki negeri Mesir pada tahun 199 H, Imam Syafi’i berkata :

خَلَفْتُ بِالْعِرَاقِ شَيْئًا أَحْدَثَهُ الزَّناَدِقَةُ يُسَمُّوْنَـهُ التَّـغْبِيْرَ يُشْغِلُوْنَ بِهِ النَّاسَ عَنِ الْقُرْآنِ

“Aku tinggalkan di (negeri) Irak sesuatu yang diada-adakan oleh kaum zindiq yang mereka sebut dengan taghbiir. Dengan itu, mereka melalaikan orang-orang dari al-Qur`ân”. (Manâqibu asy-Syâfi’i , karya al-Baihaqi 1/173).

Dalam riwayat lain, Imam Syafi’i berkata :

تَرَكْتُ بَغْدَادَ وَقَدْ أَحْدَثَ الزَّناَدِقَةُ فِيْهَا شَيْئًا يُسَمُّوْنَـهُ السَّمَاعَ

“Aku tinggalkan (kota) Baghdad, sedang orang-orang zindiq (waktu itu) telah mengadakan sesuatu yang baru (dalam agama) yang mereka sebut dengan istilah samâ’”.

Makna zindiq adalah orang yang sudah rusak agamanya. Dan orang-orang zindiq yang beliau maksud adalah kalangan mutashawwifah (para penganut Tasawuf). Sementara yang beliau maksud dengan taghbîr atau samâ` ialah nyanyian dan senandung yang mereka dendangkan.

– Imam Syâfi’i rahimahullah juga berkata :

أَسَاسُ التَّصَوَّفِ الْكَسَلُ

“Asas tasawuf adalah kemalasan”. (Al-Hilyah karya Abu Nu’aim al-Ashbahâni 9/136-137).

Dan Imam Syafi’i juga berkata :

لاَ يَكُوْنُ الصُّوْفِيُّ صُوْفِياًّ حَـتَّى يَكُوْنُ فِيْهِ أَرْبَعُ خِصَالٍ : كَسُولٌ أَكُوْلٌ شَؤُوْمٌ كثَيْرُ الْفُضُولِ

“Seseorang tidak akan menjadi Sufi (tulen) kecuali setelah empat perkara ada padanya: sangat malas, banyak makan, sangat pesimis, dan banyak melakukan hal yang tidak perlu”. (Manâqibu asy-Syâfi’i karya al-Baihaqi 2/207).

Imam Syafi’i juga berkata :

لَوْ أَنَّ رَجُلاً تَـصَوَّفَ مِنْ أَوَّلِ النَّهَارِ لَمْ يَأْتِ عَلَيْهِ الظُّهْرُ إِلاَّ وَجَدْتَـهُ أَحْمَقَ

“Kalau ada orang menjadi Sufi di pagi hari, maka tidaklah datang waktu Zhuhur kecuali orang tersebut akan engkau jumpai menjadi manusia yang dungu”. (Manâqib Syâfi’i karya Imam al-Baihaqi 2/207).

____________________

SHIRDI BABA, TOKOH SUFI DARI INDIA

SHIRDI BABA, TOKOH SUFI DARI INDIA

Shirdi Baba adalah tokoh sufi yang sesat, lahir pada tanggal 28 September 1838 di Shirdi, India dan meninggal pada tanggal 15 Oktober 1918. Sebagaimana tokoh sufi lainnya, Shirdi Baba juga banyak pengikutnya.

• Kesesatan Shirdi Baba

Diantara dari sekian banyak kesesatan Shirdi Baba adalah memadukan ajaran hindu dengan ajaran Islam.

Semasa hidupnya ia banyak tinggal di Masjid Dwarakamayi di Desa Shirdi, Distrik Ahmednagar, Maharashtra, India.

Pada awal perkembanganya, banyak umat Hindu dan Muslim menjadi pengikutnya. Pengikut Shirdi Baba menganggapnya sebagai seorang awatara/avatar, yakni sebutan untuk ke ilahian yang muncul di dunia untuk menuntun umat manusia pada kebenaran, dalam sejarah agama-agama dunia biasa disebut sebagai santo ataupun seorang Budha. Namun, jika Tuhan sendiri yang muncul kedunia secara fisik, ia disebut sebagai Purna Avatar.

Shirdi Baba mendorong pengikutnya untuk berdo’a atas nama Hindu dan Islam.

Shirdi bersama para anggotanya menyanyikan nama-nama Tuhan yang manapun, membaca Al-Fatihah, mempelajari kitab suci Al-Quran sekaligus memadukannya dengan teks-teks Hindu seperti Ramayana, Wisnu Sahasranam (Seribu Nama Wishnu), Bhagavad Gita, Yoga Wasista. Oleh karena itu ia menegaskan bahwa ajarannya adalah perpaduan Tauhid dan Advaita Vedanta.

Begitulah orang-orang sufi yang ajarannya di bangun diatas hawa nafsu dan kebodohan.

Maka pantaslah jika para Ulama banyak mencela orang-orang sufi, diantaranya Imam Syafi’i.

CELA’AN IMAM SYAFI’I KEPADA ORANG-ORANG SUFI

Ketika Imam Syâfi’i rahimahullah memasuki negeri Mesir pada tahun 199 H, Imam Syafi’i berkata :

خَلَفْتُ بِالْعِرَاقِ شَيْئًا أَحْدَثَهُ الزَّناَدِقَةُ يُسَمُّوْنَـهُ التَّـغْبِيْرَ يُشْغِلُوْنَ بِهِ النَّاسَ عَنِ الْقُرْآنِ

“Aku tinggalkan di (negeri) Irak sesuatu yang diada-adakan oleh kaum zindiq yang mereka sebut dengan taghbiir. Dengan itu, mereka melalaikan orang-orang dari al-Qur`ân”. (Manâqibu asy-Syâfi’i , karya al-Baihaqi 1/173).

Dalam riwayat lain, Imam Syafi’i berkata :

تَرَكْتُ بَغْدَادَ وَقَدْ أَحْدَثَ الزَّناَدِقَةُ فِيْهَا شَيْئًا يُسَمُّوْنَـهُ السَّمَاعَ

“Aku tinggalkan (kota) Baghdad, sedang orang-orang zindiq (waktu itu) telah mengadakan sesuatu yang baru (dalam agama) yang mereka sebut dengan istilah samâ’”.

Makna zindiq adalah orang yang sudah rusak agamanya. Dan orang-orang zindiq yang beliau maksud adalah kalangan mutashawwifah (para penganut tasawuf). Sementara yang beliau maksud dengan taghbîr atau samâ` ialah nyanyian dan senandung yang mereka dendangkan.

– Imam Syâfi’i rahimahullah juga berkata :

أَسَاسُ التَّصَوَّفِ الْكَسَلُ

“Asas tasawuf adalah kemalasan”. (Al-Hilyah karya Abu Nu’aim al-Ashbahâni 9/136-137).

Dan Imam Syafi’i juga berkata :

لاَ يَكُوْنُ الصُّوْفِيُّ صُوْفِياًّ حَـتَّى يَكُوْنُ فِيْهِ أَرْبَعُ خِصَالٍ : كَسُولٌ أَكُوْلٌ شَؤُوْمٌ كثَيْرُ الْفُضُولِ

“Seseorang tidak akan menjadi Sufi (tulen) kecuali setelah empat perkara ada padanya: sangat malas, banyak makan, sangat pesimis, dan banyak melakukan hal yang tidak perlu”. (Manâqibu asy-Syâfi’i karya al-Baihaqi 2/207).

Imam Syafi’i juga berkata :

لَوْ أَنَّ رَجُلاً تَـصَوَّفَ مِنْ أَوَّلِ النَّهَارِ لَمْ يَأْتِ عَلَيْهِ الظُّهْرُ إِلاَّ وَجَدْتَـهُ أَحْمَقَ

“Kalau ada orang menjadi Sufi di pagi hari, maka tidaklah datang waktu Zhuhur kecuali orang tersebut akan engkau jumpai menjadi manusia yang dungu”. (Manâqib Syâfi’i karya Imam al-Baihaqi 2/207).

By : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί

____________________

TANGGAPAN : WAHABI MEMALSUKAN PERKATAAN IMAM MALIK RAHIMAHULLAH

TANGGAPAN : WAHABI MEMALSUKAN PERKATAAN IMAM MALIK RAHIMAHULLAH

Ada seseorang yang menamakan dirinya sebagai Abu Salafy yang mengatakan bahwa Wahaby-Salafy (yang kemudian ia sebut sebagai Mujassimah – sebagaimana kebiasannya) telah berdusta atas nama Al-Imam Malik bin Anas rahimahullah. Berikut perkataannya sebagaimana yang tertera di http://abusalafy.wordpress.com/2008/05/19/kaum-wahhabiyah-mujassimah-memalsu-atas-nama-salaf-2/ :

Kaum Mujassimah Berbohong Atas Nama Imam Malik

Selain memalsu atas nama Abu Hanifah, kaum Mujassimah juga memalsu atas nama Imam Malik.

Mereka mangatakan bahwa Imam Malik berkata:

الاستواء معلوم والكيف مجهول والإيمان به واجب والسؤال عنه بدعة.

“Istiwâ’ sudah diketahui, kaif (cara/bentuk) tidak diketahui, beriman kepadanya adalah wajib dan bertanya tentangnya adalah bid’ah.”

Abu Salafy :

Ucapan itu tidak benar pernah diucapkan oleh Imam Malik, baik dengan sanad riwayat shahih, hasan maupun dhaif dengan kedha’ifan ringan. Barang siapa mengaku selain itu hendaknnya ia membawakan bukti dan menjelaskannya. Dan kami insyaallah siap mendiskusikannya di sini.

Stitmen benar pernah diucapkan Imam Malik adalah :

الكيف غير معقول والاستواء منه غير مجهول والإيمان به واجب والسؤال عنه بدعة.

“Al kaif/bentuk/cara tidak masuk akal/tidak bisa diakal-akalkan, istiwâ’ tidak majhûl, beriman kepadanya adalah wajib dan bertanya tentangnya adalah bid’ah (baru dimana sebbelumnya tidak ada).”

Ucapan ini jelas membubarkan anggapan kaum Mujassimah.

Khusus “perkataan memalsu atas nama Abu Hanifah rahimahulah” mungkin kita tunda pembahasannya. Silakan perhatikan baik-baik apa yang dikatakannya di atas. Anda katakan bahwa “Salafy-Wahabiy” memalsu perkataan Al-Imam Malik dan menyembunyikan perkataan beliau dengan lafadh yang sebenarnya.

Maka saya katakan :

1. Jika yang Anda maksud adalah bahwa “Salafy-Wahabiy” yang Anda anggap sebagai Mujassimah adalah orang yang membuat-buat perkataan tersebut, maka itu adalah keliru.

Perkataan Al-Imam Malik bin Anas rahimahullah :

الاستواء معلوم والكيف مجهول والإيمان به واجب والسؤال عنه بدعة.

“Istiwaa’ itu telah diketahui (maknanya), kaifiyah-nya tidak diketahui (majhuul), beriman kepadanya adalah wajib, dan menanyakan tentangnya adalah bid’ah”

bukanlah buatan Salafy-Wahabiy. Apakah Anda tidak pernah membuka-buka kitab sehingga bisa menemukan perkataan Al-Imam Malik bin Anas ini dari para ulama terdahulu ?

Simak perkataan Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullah dalam Tafsir-nya :

قال مالك رحمه الله: الاستواء معلوم – يعني في اللغة – والكيف مجهول، والسؤال عن هذا بدعة. وكذا قالت أم سلمة رضي الله عنها

“Telah berkata Malik rahimahullah : ‘Al-Istiwaa’ adalah diketahui (ma’luum) – yaitu (diketahui) dalam bahasa (‘Arab) – , kaifiyah-nya tidak diketahui (majhuul), bertanya tentang hal ini adalah bid’ah’. Hal yang sama juga dikatakan oleh Ummu Salamah radliyallaahu ‘anhaa” [Tafsir Al-Qurthubi (Al-Jaami’ li-Ahkaamil-Qur’aan), 7/219-220, tahqiq : Hisyaam Samiir Al-Bukhariy; Daar ‘Aalamil-Kutub, Cet. Thn. 1423, Riyadl – atau 9/239, tahqiq : Dr. ‘Abdullah bn ‘Abdil-Muhsin At-Turkiy; Muassasah Ar-Risalah, Cet. 1/1427, Beirut]

Juga Al-Ghazzaaliy dengan lafadh :

…..واتباع ما تشابه من الكتاب والسنة. كما روي عن مالك – رحمه الله- أنه سُئل عن الاستواء، فقال: “الاستواء معلوم، والإيمان به واجب، والكيفية مجهولة، والسؤال عنه بدعة

“……Dan mengikuti apa-apa serupa dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Sebagaimana diriwayatkan dari Maalik rahimahullah bahwasannya ia pernah ditanya tentang al-istiwaa’. Maka beliau menjawab : ‘Al-Istiwaa’ itu diketahui (ma’luum), beriman kepadanya adalah wajib, kaifiyah-nya tidak diketahui (majhuul), dan bertanya tentangnya dalah bid’ah” [Fashlut-Tafriqah Bainal-Kufr waz-Zindiqah, hal. 88; Cet. 1/1353 H].

Juga Al-Imam Abu Bakr bin Al-‘Arabiy rahimahullah dengan lafadh :

وقال مالك أنه لم يتأول. ومذهب مالك رحمه الله أن كل حديث منها معلوم المعنى ولذلك قال للذي سأله : الاستواء معلوم والكيفية مجهولة

“Dan telah Malik bahwasannya ia tidak men-ta’wil-kannya. Madzhab Malik rahimahullah mengatakan bahwa semua hadits tentang sifat adalah diketahuinya maknanya. Oleh karena itu beliau berkata kepada orang yang bertanya kepadanya : ‘Al-Istiwaa’ diketahui (ma’luum), kaifiyyah-nya tidak diketahui (majhuul)” [‘Aaridlatul-Ahwadziy, 3/166; Daarul-Kutub Al-‘Ilmiyyah, tanpa tahun].

Al-Imam Al-Juwainiy rahimahullah dengan lafadh :

الاستواء معلوم والكيفية مجهولة والسؤال عنه بدعه
“Al-Istiwaa itu diketahui (ma’luum), kaifiyyah-nya tidak diketahui (majhuul), dan bertanya tentangnya adalah bid’ah” [Al-‘Aqiidah An-Nidhaamiyyah, hal. 23; Mathbaqah Al-Anwaar, Cet. Thn. 1948, Kairo].

Dan yang lainnya.

Apakah di sini Anda akan mengatakan bahwa Al-Juwainiy, Al-Qurthubiy, Ibnul-‘Arabiy, Al-Ghazaliy, dan yang lainnya yang menukil perkataan Al-Imam Malik bin Anas rahimahullah dengan lafadh : Al-Istiwaa’ ma’luumun (istiwaa’ itu diketahui)…dst. adalah pendusta atau telah melakukan pemalsuan sebagaimana perkataan yang Anda alamatkan pada Wahaby-Salafy ?

Saya kira tidak, dan semoga saja tidak. Anda lakukan itu hanyalah karena sentimen terhadap ‘Salafy-Wahabiy’.

Lazim diketahui bahwa diperbolehkan membawa perkataan secara makna dari perkataan ulama selama makna tersebut tidak terlalu melenceng/berbeda dengan perkataan yang sebenarnya. Para ulama memberi kelonggaran dalam permasalahan nukilan ini, kecuali jika nukilan tersebut bertentangan dengan perkataan yang asli. Ini wajib diingkari. Kelonggaran yang diberikan ulama dalam menukil perkataan ulama lain ini salah satunya disebabkan karena penukilan tersebut hanya ingin mengambil faedah. Selain itu, ia juga bukan nukilan hadits yang menuntut sama seperti sumbernya. Bahkan, dalam hadits pun sering kita temui para ulama menukil secara makna. Saya berikan contoh : Hadits yang disebutkan oleh Al-Imam An-Nawawi dalam Al-Arba’uun (hadits no. 28) :

أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ،

“Aku wasiatkan kalian untuk bertakwa kepada Allah ‘azza wa jalla, mendengar dan taat kepada pemimpin kalian meskipun yang memimpin kalian adalah seorang budak”.

Perhatikan kalimat yang saya garis bawah. An-Nawawi rahimahullah menisbatkan hadits di atas kepada Sunan Abu Dawud dan At-Tirmidzi. Coba Anda cek di dua kitab Sunan tersebut. Atau dalam kitab hadits yang enam. Insya Allah Anda tidak akan mendapati lafadh seperti itu. Beliau (Al-Imam An-Nawawi rahimahullah) membawakan hadits tersebut secara makna. Kalaupun Anda ingin mengoreksi, Anda cukup mengatakan bahwa Al-Imam An-Nawawi rahimahullah keliru dalam masalah ini. Tidak perlu Anda katakan bahwa beliau telah memalsu periwayatan/perkataan dari Al-Imam At-Tirmidzi dan Abu Dawud atau bahkan mengatakan memalsu perkataan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Oleh karena itu, sangat berlebihan kiranya jika ada orang yang menukil perkataan Al-Imam Malik secara makna Anda katakan sebagai pendusta, telah memalsukan, atau perkataan yang semisal.

Kesimpulan di point ini adalah bahwa tuduhan Anda bahwa Salafy Wahabiy memalsukan perkataan Al-Imam Malik rahimahullah adalah berlebihan, ceroboh, ngawur, lagi tidak benar.

2. Perkataan Al-Imam Malik yang disertakan dengan sanadnya tentang istiwaa’ terdapat sedikit perbedaan lafadh namun yang mempunyai kemiripan satu dengan yang lainnya. Akan saya bawakan beberapa diantaranya :

Al-Imam Abu ‘Utsman Isma’il bin ‘Abdirrahman Ash-Shaabuniy rahimahullah (373-449 H) :

أخبرنا أبو محمد المخلدي العدل ، ثنا أبو بكر عبد الله بن محمد بن مسلم الإسفراييني، ثنا أبو الحسين علي بن الحسن، ثنا سلمة بن شبيب،ثنا مهدي بن جعفر بن ميمون الرملي ، عن جعفر بن عبد الله قال: جاء رجل إلى مالك بن أنس يعني يسأله عن قوله : الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى كيف استوى؟ قال فما رأيته وجد من شيء كوجده من مقالته ، وعلاه الرحضاء ، وأطرق القوم ؛ فجعلوا ينتظرون الأمر به فيه ، ثم سُرِّي عن مالك فقال: ( الكيف غير معقول، والاستواء غير مجهول ، والإيمان به واجب ، والسؤال عنه بدعة ، وإني لأخاف أن تكون ضالاً ) ثم أمر به فأخرج

“Telah mengkhabarkan kepada kami Abu MuhammadAl-Mukhalladiy : Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr ‘Abdullah bin Muhammad bin Muslim Al-Isfiraayiiniy : Telah menceritakan kepada kami Abul-Husain ‘Ali bin Al-Hasan : Telah menceritakan kepada kami Salamah bin Syabiib : Telah menceritakan kepada kami Mahdiy bin Ja’far bin Maimun Ar-Ramliy, dari Ja’far bin ‘Abdillah ia berkata : “Datang seorang laki-laki kepada Maalik bin Anas, yaitu menanyakan kepada beliau tentang firman Allah : ‘Ar-Rahman yang beristiwaa’ (bersemayam) di atas ‘Arsy’ ; bagaimana istiwaa’-nya Allah itu ?”. Perawi berkata : “Belum pernah aku melihat beliau (Malik) marah sedemikian rupa seperti marahnya beliau kepada orang itu. Tubuhnya berkeringat, orang-orang pun terdiam. Mereka terus menantikan apa yang akan terjadi. Kemudian setelah keadaan Al-Imam Malik kembali normal, beliau berkata : “Kaifiyah-nya tidaklah dapat dinalar, istiwaa’ sendiri bukan sesuatu yang majhul, beriman kepada adalah wajib, dan bertanya tentangnya adalah bid’ah. Dan sesungguhnya aku takut kamu berada dalam kesesatan”. Kemudian beliau memerintahkan orang tersebut untuk dikeluarkan dari majelisnya [‘Aqidatus-Salaf Ashhaabil-Hadiits, hal. 38-39, tahqiq : Badr bin ‘Abdillah Al-Badr; Adlwaaus-Salaf, Cet. 2/1415].

Abu Bakr Ahmad bin Al-Husain Al-Baihaqiy rahimahullah (384-458 H) :

أخبرنا أبو بكر أحمد بن محمد بن الحارث الفقيه الأصفهاني أنا أبو محمد عبد الله بن محمد بن جعفر بن حيان المعروف بأبي الشيخ ثنا أبو جعفر أحمد بن زيرك اليزدي سمعت محمد بن عمرو بن النضر النيسابوري يقول : سمعت يحيى بن يحيى يقول : كنا عند مالك بن أنس فجاء رجل فقال : يا أبا عبد الله الرحمن على العرش استوى، فكيف استوى؟ قال : فأطرف مالك رأسه حتى علاه الرحضاء ثم قال : الاستواء غير مجهول، والكيف غير معقول، والإيمان به واجب، والسؤال عنه بدعة، وما أراك إلا مبتدعًا. فأمر به أن يخرج

“Telah mengkhabarkan kepada kami Abu Bakr Ahmad bin Muhammad bin Al-Haarits Al-Faqiih Al-Ashfahaniy : Telah mengkhabarkan kepada kami Abu Muhammad ‘Abdullah bin Muhammad bin Ja’far bin Hayyaan yang terkenal dengan nama Abusy-Syaikh : Telah menceritakan kepada kami Abu Ja’far Ahmad bin Zairak Al-Yazdiy : Aku mendengar Muhammad bin ‘Amr bin An-Nadlr An-Naisaburiy berkata : Aku mendengar Yahya bin Yahya berkata : “Kami pernah berada bersama Maalik. Maka datanglah seorang laki-laki yang bertanya : ‘Ar-Rahman yang beristiwaa’ (bersemayam) di atas ‘Arsy’; bagaimana Allah ber-istiwaa’ ?”. Perawi berkata : Malik pun memalingkan kepalanya hingga tubuhnya berkeringat. Kemudian beliau berkata : “Istiwaa’ itu tidaklah majhul, kaifiyah-nya tidak dapat dinalar, beriman kepadanya adalah wajib, dan bertanya tentangnya adalah bid’ah. Tidaklah aku melihatmu melainkan seorang mubtadi’”. Maka beliau memerintahkan agar orang tersebut dikeluarkan dari majelisnya” [Al-Asmaa’ wash-Shifaat, 2/305-306, tahqiq : ‘Abdullah bin Muhammad Al-Haasyidiy; Maktabah As-Suwaadiy].

Abul-Qaasim Hibatullah bin Al-Hasan Al-Laalika’iy rahimahullah (w. 418 H) :

ذكره علي بن الربيع التميمي المقري قال ثنا عبد الله ابن أبي داود قال ثنا سلمة بن شبيب قال ثنا مهدي بن جعفر عن جعفر بن عبد الله قال جاء رجل إلى مالك بن أنس فقال يا أبا عبد الله الرحمن على العرش استوى كيف استوى قال فما رأيت مالكا وجد من شيء كموجدته من مقالته وعلاه الرحضاء يعني العرق قال واطرق القوم وجعلوا ينتظرون ما يأتي منه فيه قال فسرى عن مالك فقال الكيف غير معقول والاستواء منه غير مجهول والإيمان به واجب والسؤال عنه بدعة فإني أخاف أن تكون ضالا وامر به فأخرج

Telah menyebutkan kepadanya ‘Aliy bin Ar-Rabii’ At-Tamimiy Al-Muqri’, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Abi Dawud, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Salamah bin Syabiib, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Mahdiy bin Ja’far, dari Ja’far bin ‘Abdillah, ia berkata : Datang seorang laki-laki kepada Maalik bin Anas. Ia berkata : “Wahai Abu ‘Abdillah, ‘Ar-Rahman yang beristiwaa’ (bersemayam) di atas ‘Arsy’; bagaiman Allah beristiwaa’ ?”. Perawi berkata : “Belum pernah aku melihat beliau (Malik) marah sedemikian rupa seperti marahnya beliau kepada orang itu. Tubuhnya berkeringat, orang-orang pun terdiam. Mereka terus menantikan apa yang akan terjadi. Maka keadaan Al-Imam Malik kembali normal, beliau berkata : “Kaifiyah-nya tidaklah dapat dinalar, istiwaa’ sendiri bukan sesuatu yang majhul, beriman kepada adalah wajib, dan bertanya tentangnya adalah bid’ah. Dan sesungguhnya aku khawatir kamu berada dalam kesesatan”. Kemudian beliau memerintahkan orang tersebut untuk dikeluarkan dari majelisnya. [Syarh Ushuulil-I’tiqad Ahlis-Sunnah wal-Jama’ah, hal. 398, tahqiq : Ahmad bin Mas’ud bin Hamdaan; desertasi S3].

Perhatikan apa yang tertulis di atas.

Jika yang Anda maksud adalah bahwa ‘Salafiy Wahabiy’ tidak pernah membawakan lafadh yang Anda bawakan, maka itu sangat tidak benar. Tiga matan kitab yang saya punyai dan sebutkan di atas semuanya di-takhrij dan di-tahqiq oleh ahli ilmu ‘Salafy-Wahabiy’ yang banyak dijual di pasaran dan disebarkan di berbagai media (termasuk internet). Selain itu, bertaburan kalimat Al-Imam Malik rahimahullah dengan lafadh-lafadhnya dibawakan dibawakan oleh ulama ‘Salafy-Wahabiy’. Saya ambil contoh :

Perkataan Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah – tokoh pertama yang sangat Anda benci – :

وروى الثقاة عن مالك أن سائلا سأله عن قوله: {الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى} فقال: “الاستواء غير مجهول والكيف غير معقول والإيمان به واجب والسؤال عنه بدعة

“Para perawi terpercaya telah meriwayatkan dari Maalik bahwasannya ada seorang penanya yang bertanya kepada beliau tentang firman Allah : ‘Ar-Rahman yang beristiwaa’ (bersemayam) di atas ‘Arsy’, maka beliau berkata : ‘Al-Istiwaa’ itu tidaklah majhul, kaifiyah-nya (bagaimananya) tidak dapat dinalar, beriman kepadanya wajib, dan bertanya tentannya adalah bid’ah” [lihat Bayaan Talbiis Al-Jahmiyyah, 2/35; Muassasah Qurthubah].

Perkataan Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil-Wahhaab rahimahullah – tokoh kedua yang sangat Anda benci :

فالسلف لا يقولون بورود ما لا معنى له لا في الكتاب ولا في السنة, بل يقولون في الاستواء مثلا: الاستواء غير مجهول والكيف غير معقول والإقرار به إيمان, والجحود به كفر”

“Para ulama salaf tidaklah mengatakan terhadap nash-nash yang datang dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah itu tidak mempunyai makna. Namun mereka mengatakan dalam hal istiwaa’ – misalnya – : ‘Istiwaa’ itu tidaklah majhul, kaifiyyah-nya tidak dapat dinalar, menetapkannya adalah iman, dan mengingkarinya adalah kufur” [Masaailul-Jaahiliyyah, hal. 181, tahqiq : Yusuf bin Muhammad As-Sa’iid; Daarul-Majd, Cet. 1/1425 H].

Perkataan Asy-Syaikh Ibnu Baaz rahimahullah – tokoh ketiga yang sangat Anda benci – saat menukil perkataan Ibnu Taimiyyah :

فقول ربيعة ومالك : الاستواء غير مجهول , والكيف غير معقول , والإيمان به واجب , موافق لقول الباقين : أمروها كما جاءت بلا كيف , فإنما نفوا على علم الكيفية ولم ينفوا حقيقة ……

“Perkataan Rabi’ah dan Maalik : ‘Al-Istiwaa’ tidaklah majhul, kaifiyyah-nya tidak dapat dinalar, dan beriman kepadanya adalah wajib; berkesesuaian dengan dengan perkataan yang lain : ‘Perlakukanlah ia (apa adanya) sebagaimana datangnya tanpa menanyakan bagaimana’. Sesungguhnya yang dinafikkan adalah ilmu tentang kaifiyyah, bukan menafikkan hakekat dari sifat itu sendiri…..” [Majmu’ Fataawaa wa Maqaalaat, 2/101].

Perkataan Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah – tokoh keempat yang sangat Anda benci – juga menukil dan menjelaskan perkataan Al-Imam Malik dan Rabi’ah (guru Al-Imam Malik) rahimahumallah dalam pengantar kitab Mukhtashar Al-‘Ulluw [hal. 36; Al-Maktab Al-Islamiy, Cet. 2/1412].

Masih sangat banyak hal yang dapat ditampilkan. Namun setidaknya beberapa contoh di atas sudah mencukupi, kecuali bagi mereka yang telah buta matanya. Tidak ada yang disembunyikan oleh ‘Wahabi-Salafiy’ – sebagaimana tersirat dalam tulisan Anda.

3. Perkataan Anda : Ucapan ini jelas membubarkan anggapan kaum Mujassimah ; jika itu ditujukan kepada ‘Wahabi-Salafiy’, maka maaf : Anda telah salah alamat, salah berpikir, dan salah dalam berhujjah. Justru ucapan Al-Imam Malik tersebut menjadi hujjah dalam penetapan dhahir makna. Dan,…….. di bagian mana kalimat beliau yang dapat ‘membubarkan’ sebagaimana yang Anda klaim ? Dan apa pula yang ‘bubar’ itu ?

Makna perkataan Al-Imam Malik rahimahullah : ‘Al-Istiwaa’ tidaklah majhul, kaifiyyah-nya tidak dapat dinalar’ ; adalah makna istiwaa’ itu bukan sesuatu hal yang asing untuk dipahami. Dalam bahasa Arab, ghairu majhuul itu sangat identik dengan ma’luum alias diketahui (maknanya). Oleh karena itu, sebagian ulama membawakan perkataan Al-Imam Malik bin Anas rahimahullah tersebut secara makna dengan lafadh : ‘al-istiwaa’u ma’luumun = istiwaa’ itu diketahui maknanya. Bukan dengan jalan ta’wil.

Persis seperti perkataan Al-Qurthubi rahimahullah :

الاستواء معلوم – يعني في اللغة

“Istiwaa’ itu diketahui – yaitu dalam bahasa (‘Arab)”.

Jika disebutkan bahwa istiwaa’ itu ‘diketahui dalam bahasa’, maka artinya adalah diketahui maknanya dalam bahasa ‘Arab – yaitu makna dhahir, makna hakekat yang cepat ditangkap oleh indera dan pikiran.

Apabila Anda cermati perkataan orang yang bertanya kepada Malik bin Anas rahimahullah : “Wahai Abu ‘Abdillah, ‘Ar-Rahman yang beristiwaa’ (bersemayam) di atas ‘Arsy’; bagaiman Allah beristiwaa’ ?” ; dapat diambil satu pengertian bahwa si penanya ini sudah mengerti hakekat makna istiwaa’, sehingga kemudian ia menanyakan bagaimananya istiwaa’ Allah itu dilakukan. Atas pertanyaan ini, Al-Imam Malik bin Anas rahimahullah mengingkari pertanyaan kaifiyyah yang diajukan oleh orang tersebut.

Maka, Al-Imam Adz-Dzahabi rahimahullah berkata :

هذا أن الظاهر يعني به أمران أحدهما أنه لا تأويل لها غير دلالة الخطاب كما قال السلف الإستواء معلوم وكما قال سفيان وغيره قراءتها تفسيرها يعني أنها بينة واضحة في اللغة لا يبتغى بها مضائق التأويل والتحريف وهذا هو مذهب السلف مع إتفاقهم أيضا أنها لا تشبه صفات البشر بوجه إذ الباري لا مثل له لا في ذاته ولا في صفاته

“Lebih jauh lagi, yang dhahir (nampak) – dari nash tersebut – terbagi menjadi dua macam : Pertama, tidak ada penakwilan padanya selain apa yang diindikasikan oleh redaksinya, sebagaimana yang dikatakan oleh ulama salaf : al-istiwaa’ ma’luumun (istiwaa’ itu diketahui maknanya). Sebagaimana juga yang dikatakan oleh Sufyan dan yang lainnya : ‘Apa yang dibaca itu adalah tafsirannya’. Maksudnya adalah bahwa kata tersebut amat jelas menurut bahasa. Tidak selayaknya diganggu dengan interpretasi (ta’wil) dan penyelewengan makna (tahrif). Inilah madzhab salaf dan kesepakatan mereka bahwa sifat-sifat tersebut sama sekali tidak menyerupai sifat manusia, sebab Allah tidak ada permisalan bagi-Nya, tidak pada Dzat-Nya tidak pula pada sifat-Nya” [Al-‘Ulluw, hal. 183, tashhiih : ‘Abdurrahman Muhammad ‘Utsmaan; Al-Maktabah As-Salafiyyah, Cet. 2/1388 H].

Sekali lagi, mana kalimat yang Anda anggap sebagai ‘pembubaran’ itu ?

Perkataan Al-Imam Malik bin Anas rahimahullah adalah hujjah bagi kami untuk Anda, bukan sebaliknya. Sungguh sangat aneh bagi saya ketika Anda memakai perkataan Al-Imam Malik rahimahullah yang lain untuk menghujjahi kami :

الرحمن على العرش استوى كما وصف به نفسه ولا يقال كيف ، وكيف عنه مرفوع…

“Ar Rahmân di atas Arys beristiwâ’ sebagaimana Dia mensifati Diri-Nya. Dan tidak boleh dikatakan: Bagaimana? Dan bagaimana itu terangkat dari-Nya… “.

Perkataan di atas adalah untuk menetapkan sifat istiwaa’ sebagaimana makna dhahir nash yang datang tanpa ta’wil, yaitu : sesuai dengan yang Allah sifatkan bagi diri-Nya.

Untuk memperjelas, sebaiknya Anda memperhatikan perkataan Al-Imam Malik bin Anas rahimahullah yang lain :

وقال عبد الله بن أحمد بن حنبل في الرد على الجهمية حدثني أبي حدثنا شريح بن النعمان عن عبد الله بن نافع قال قال مالك بن أنس : الله في السماء وعلمه في كل مكان لا يخلو منه شيء

Telah berkata ‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal dalam kitab Ar-Radd ‘alal-Jahmiyyah : Telah menceritakan kepadaku ayahku : Telah menceritakan kepada kami Syuraih bin An-Nu’maan, dari ‘Abdullah bin Naafi’, ia berkata : Telah berkata Maalik bin Anas : “Allah berada di atas langit dan ilmu-Nya ada di setiap tempat, tidak terlepas dari-Nya sesuatu” [Dikeluarkan oleh ‘Abdullah dalam As-Sunnah, hal. 5, Abu Dawud dalam Al-Masaail hal. 264, Al-Ajurriy hal. 279, dan lain-lain – lihat Al-‘Ulluw, hal. 103. Sanad riwayat ini shahih].

Ini sangat sesuai dengan penjelasan Al-Imam Mujahid rahimahullah – murid Ibnu ‘Abbas – mengenai firman Allah istawaa ‘alal-‘Arsy :

علا على العرش

“Ia berada tinggi di atas ‘Arsy” [HR. Al-Bukhari].

Sesuai pula dengan penjelasan Ibnu Mas’ud radliyallaahu ‘anhu :

والعرش على الماء والله عز وجل على العرش يعلم ما أنتم عليه

“’Arsy berada di atas air, dan Allah ‘azza wa jalla berada di atas ‘Arsy, yang mengetahui apa-apa yang kalian lakukan” [HR. Ath-Thabarani dalam Al-Kabiir; shahih].

Dari sini dapat kita ambil pemahaman bahwasannya istiwaa’ Allah itu adalah sesuai dhahirnya, bahwa Dia ber-istiwaa’ di atas langit, sedangkan ilmu-Nya berada di setiap tempat. Ini berbeda dengan ‘aqidah sebagian Asy’ariyyah yang meyakini bahwa Allah tidak berada di atas langit, namun ia berada di setiap tempat. Sebagian lagi mengatakan bahwa Allah itu tidak berada dimana-mana, tidak di dalam alam atau di luar alam. Tidak di atas, tidak di bawah. Jika kita tanya kepada mereka : “Dimanakah Allah ?”. Maka mereka menjawab dengan teori bermacam-macam dan jawaban yang susah dicerna lagi memusingkan kepala.

Padahal Rasululah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah membenarkan jawaban seorang budak ketika beliau bertanya kepadanya : “Dimanakah Allah ?”. Maka budak tersebut menjawab : “Di atas langit” [Diriwayatkan oleh Muslim, Malik, Abu Dawud, An-Nasa’i, Ahmad, Ad-Daarimiy, dan yang lainnya].[1]

Maka, kita jika ditanya : “Dimanakah Allah ?”. Kita jawab dengan mudah dan singkat : “Di langit”. Ia ber-istiwaa’ (bersemayam) di atas langit. Namun nampaknya Abu Salafy dan orang yang sepahaman dengannya tidak cukup dengan jawaban yang tertera di dalam hadits ini.

Di akhir pembahasan ini dapat kita katakan bahwa seluruh tulisan dan ucapan Abu Salafy terhadap “Salafy-Wahabiy” (yang sebenarnya adalah Ahlus-Sunnah) yang berisi tuduhan pemalsuan perkataan Al-Imam Malik bin Anas rahimahullah adalah tidak benar, keliru, kurang pengetahuan, ngawur, dan hanya omong kosong belaka. Apalagi jika ia ingin memakai perkataan tersebut untuk mendukung hujjahnya, maka klaim ini adalah salah alamat.

Semoga tulisan ini ada manfaatnya.

Wallaahu a’lam bish-shawwaab.

[1] Namun jawaban ini ternyata tidak memuaskan Al-Kautsariy sehingga membuat dia melemahkan hadits tersebut dengan banyak dalih yang tidak ilmiah (sebagaimana ta’liq-nya yang rusak terhadap kitab Al-Asmaa’ wash-Shifaat milik Al-Imam Al-Bahiaqiy, hal. 441-442). Penolakan Al-Kautsariy ini ternyata banyak diikuti oleh Asy’ariyyun secara membabi buta. Mereka tidak merasa cukup dengan hadits Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dan malah memalingkan jawabannya selainnya. Allaahul-Musta’an. Beginikah pengikut Rasul shallallaahu ‘alaihi wa sallam ?

https://rizkimaulana117.blogspot.co.id/2014/06/tanggapan-wahabi-memalsukan-perkataan.html?m=1

————————–