Monthly Archives: October 2014

TIDAK TAKUT NERAKA DAN TIDAK BUTUH SURGA

Di antara ajaran sufi adalah tidak takut neraka dan tidak membutuhkan surga.

Berikut ini di antara perkata’an tokoh-tokoh mereka.

– Abu Yazid Al-Bustami berkata : “Surga itu tidak pernah terlintas di hati orang-orang yang mempunyai cinta, karena mereka terhalang dari padanya karena cinta mereka”. (Thabaqatu Ash-Shufiyyah, As-Sulami, hal. 19).

– Abu Yazid Al-Busthami bermunajat kepada Allah Ta’ala dengan berkata :
“Aku tidak menginginkan-Mu karena pahala. Namun, aku menginginkan-Mu karena siksa”. (Syarhu Ash-Shufiyyah, Mahmud Al-Ghurab, hal. 180).

– Abu Yazid Al-Busthami berkata : “Barangsiapa kenal Allah, maka surga menjadi pahala dan petaka baginya.” (An-Nuru fi Kalimati Abu Thaifur, As-Sahlaji, hal. 147).

– Abu Yazid Al-Busthami berkata : “Aku ingin hari kiamat terjadi agar aku bisa memasang kemahku di pintu jahannam.” Seseorang berkata kepada Abu Yazid Al-Busthami, “Kenapa begitu wahai Abu Yazid ?” Abu Yazid Al-Busthami menjawab, “Karena aku tahu bahwa jika jahannam melihatku, ia pasti padam.” (An-Nuru fi Kalimati Abu Thaifur, As-Sahlaji, hal. 147).

• PENGHINA’AN TERHADAP NERAKA DAN APINYA

– Asy-Syibli berkata dalam majelis ilmunya : “Sesungguhnya Allah mempunyai hamba-hamba. Jika mereka meludah di atas Jahannam, maka Jahannam pasti padam”. (Al-Luma’, Ath-Thusi, hal. 491).

– Asy-Syibli berkata : “Jika terlintas di benakku bahwa neraka dan apinya membakar sehelai rambutku, maka aku musyrik.” (Ibid, hal. 490).

Suatu ketika Asy-Syibli mendengar seseorang membaca ayat :

“Allah Ta’ala berfirman : “Tinggallah kalian dengan hina di dalamnya dan janganlah kalian berbicara dengan Aku.” (Al-Mukminin: 108).

– Lalu Asy-Syibli berkata : “Ah, seandainya aku menjadi salah seorang di antara mereka.” (Ibid, hal. 490).

– Abu Hazim Al-Madani berkata : “Aku malu kepada Tuhanku jika aku menyembah-Nya karena takut siksa. Kalau begitu, aku seperti orang jahat yang jika tidak takut, maka ia tidak akan… beramal. Aku juga malu kepada-Nya jika aku menyembah-Nya karena mengharap pahala-Nya, karena jika aku menyembah-Nya karena mengharap pahala-Nya maka dengan cara seperti itu aku seperti buruh yang jahat yang jika tidak diberi gaji maka ia tidak mau bekerja, namun aku menyembah-Nya karena cinta kepada-Nya.” (Ghautsu Al-Mawahibi Al-Aliyyati, AN-Nafzi Ar-Randi, Jilid I, hal. 242. Juga Qutu Al-Qulubi, Abu Thalib Al-Makki, Jilid II, hal. 56).

[Semua perkata’an di atas dikutip dari kitab Dirasat fi At-Tasawuf, Dr. Ihsan Ilahi Dhahir, Edisi Indonesia Darah Hitam Tasawuf, penerbit Darul Falah, Jakarta].

• ORANG YANG DI KATAKAN HINA OLEH ORANG SUFI

– Tokoh sufi Muhammad bin Sa’id Az-Zanji pernah ditanya, siapa sebenarnya yang dinamakan ORANG HINA itu ? Ia menjawab, Yaitu orang yang menyembah Allah karena takut dan berharap.” (Nafahatu Al-Unsi, Al-Jami, hal. 38).

Orang yang beribadah karena takut akan siksa neraka, dan beribadah karena ingin masuk surga, adalah orang-orang yang hina menurut orang sufi.

Maka perhatikan berikut ini :

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

“Aku adalah orang yang paling tahu di antara kalian tentang Allah, karena itu aku adalah orang yang paling takut di antara kalian kepada-Nya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

• PERINTAH UNTUK TAKUT KEPADA ALLAH

Allah Ta’ala memerintahkan agar orang-orang yang beriman takut kepada-Nya.

– Allah Ta’ala berfirman :

وَإِيَّايَ فَارْهَبُونِ

“Dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut.” (Al-Baqarah: 40).

– Allah Ta’ala berfirman :

يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلا يَشْفَعُونَ إِلا لِمَنِ ارْتَضَى وَهُمْ مِنْ خَشْيَتِهِ مُشْفِقُونَ

“Allah mengetahui segala sesuatu yang di hadapan mereka (malaikat) dan yang di belakang mereka, dan mereka tiada memberi syafa’at melainkan kepada orang yang diridai Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya.” (Al-Anbiyaa’: 28).

– Allah Ta’ala berfirman :

وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ

“Dan bagi orang yang takut akan sa’at menghadap Tuhannya ada dua surga.” (Ar-Rahman: 46).

• PERINTAH SUPAYA BERDO’A DENGAN RASA TAKUT DAN HARAP

Allah Ta’ala yang memerintahkan kepada orang-orang yang beriman, agar berdo’a dengan rasa takut dan harap.

– Allah Ta’ala berfirman :

وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا إِنَّ رَحْمَةَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ

“Dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan harapan.” (Al-A’raaf: 56).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah manusia yang paling mengenal Allah dan paling takut kepada-Nya, lalu mengapa orang-orang sufi mengatakan tidak takut kepada Allah ?

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

“Aku adalah orang yang paling tahu di antara kalian tentang Allah, karena itu aku adalah orang yang paling takut di antara kalian kepada-Nya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Notes:

Kita berbaik sangka kepada tokoh-tokoh dimana orang-orang sufi menukil ucapan dan perbuatan dari mereka, serta membersihkan mereka dari apa saja yang dialamatkan kepada mereka, seperti Rabi’ah al-Adawiyah, al-Junaid al-Baghdadi, Abdul Qadir al-Jailani, dan tokoh-tokoh lain.

http://faisalchoir.blogspot.com/2012/07/di-antara-bukti-kesesatan-sufi-tidak.html?m=1

__________

AJARAN IBNU ARABI

Di antara tokoh sufi yang mashur adalah Ibnu Arabi, nama lengkapnya Abu Bakar Muhammad ibn Ali Muhyiddin Al-Hatimi At-Thai Al-Andalusi, dikenal dengan Ibnu Arabi (bukan Ibnul Arabi yang ahli tafsir).

Ibnu Arabi dianggap sebagai tokoh tasawuf falsafi, lahir di Murcia Spanyol, 17 ramadhan 560 H/28 Juli 1165 M, dan mati di Damaskus, Rabi’ul Tsani 638 H/Oktober 1240 M.

Inti ajarannya didasarkan atas teori wihdatul wujud (satunya wujud, semua wujud di alam ini adalah cerminan Allah) yang menghasilkan wihdatul adyan (satunya agama, tauhid maupun syirik).

Di antara ajaran Ibnu Arabi adalah :

– “Hamba adalah Tuhan”. (tercantum dalam kitab Ibnu Arabi, Fushush Al-Hikam, 92-93).

– “Neraka adalah surga itu sendiri”. (Fushush Al-Hikam, 93-94).

– “Perbuatan hamba adalah perbuatan Allah itu sendiri”. (Fushush Al-Hikam, 143).

– “Fir’aun adalah mu’min dan terbebas dari siksa neraka”. (Fushush Al-Hikam, 181).

– “Wanita adalah Tuhan”. (Fushush Al-Hikam, 216).

– “Fir’aun adalah Tuhan Musa”. (Fushush Al-Hikam, 209).

– “Semua ini adalah Allah, tidak ada nabi/rasul atau malaikat. Allah adalah manusia besar”. (Fushush Al-Hikam, 48).

– “Allah membutuhkan pertolongan makhluk”. (Fushush Al-Hikam, 58-59).

Karena begitu sesatnya penyimpangan yang ditampilkan Ibnu Arabi, maka 37 ulama telah mengkafirkannya atau memurtadkannya. Di antara yang mengkafirkan Ibnu Arabi itu adalah ulama-ulama besar yang dikenal sampai kini :

•Ibnu Daqieq Al-‘Ied (w 702 H).
•Ibnu Taimiyah (w 728 H).
•Ibnu Qayyim Al-Jauziah (w 751 H).
•Qadhi ‘Iyadh (w 744 H).
•Al-‘Iraqi (w 826 H).
•Ibnu Hajar Al-Asqalani (w 852 H).
•Al-Jurjani (w 814 H).
•Izzuddin bin Abdis Salam (w 660 H).
•An-Nawawi (w 676 H).
•Adz-Dzahabi (w 748 H).
•Al-Bulqini (w 805 H).

(Lihat Tasawuf Belitan Iblis, Darul Falah, Jakarta, 2001, hlm. 72-73).

http://faisalchoir.blogspot.com/2012/07/di-antara-bukti-kesesatan-sufi-tidak.html?m=1

_______________________

SIKAP PARA ULAMA BASHRAH DI MASA KEMUNCULANNYA KELOMPOK SUFI

Para ulama Bashrah yang mengalami masa kemunculan kelompok sufi ini, tidaklah tinggal diam. Sebagaimana diriwayatkan Abu Asy-Syaikh Al-Ashbahani dengan sanadnya dari Muhammad bin Sirin, bahwa telah sampai kepadanya berita tentang orang-orang yang mengutamakan pakaian yang terbuat dari bulu domba.

Beliau berkata : “Sesungguhnya ada orang-orang yang mengutamakan pakaian yang terbuat dari bulu domba dengan alasan untuk meneladani Al-Masih bin Maryam ! Maka petunjuk Nabi kita lebih kita cintai, beliau biasa mengenakan pakaian yang terbuat dari bahan katun dan yang selainnya.” (Diringkas dari Majmu’ Fatawa, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah hal. 5, 6, 16).

http://shirotholmustaqim.wordpress.com/2013/08/13/mewaspadai-ajaran-sufi/

——————————

TARIAN & NYANYIAN BAGIAN DARI IBADAH ORANG-ORANG SUFI

Penulis Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah al Fauzan

Termasuk Bagian dari ‘Agama’ Shufi Adalah Mereka Beribadah Kepada Allah Dengan Nyanyian dan Tarian.

Mereka katakan bahwa semua itu adalah ibadah kepada Allah. Dr. Sobir Tu’aimah berkata dalam kitabnya, As-Sufiah Mu’taqadan wa Maslakan (Tasawuf, keyakinan dan jalan hidupnya) : “Tarian sufi telah menjadi ciri khas pada sebagian besar tarekat-tarekat tasawuf dalam berbagai kesempatan peringatan kelahiran tokoh-tokoh mereka, yaitu dengan berkumpulnya para pengikut tarekat tersebut untuk mendengarkan alunan suara musik yang keluar dari sekitar dua ratus orang pemusik, baik laki maupun wanita, sementara para pembesar duduk-duduk sambil menghisap berbagai macam rokok dan para pemimpin mereka serta para pengikutnya melakukan baca’an atas sebagian khurofat yang berkaitan orang-orang mati dikalangan mereka. Setelah berbagai penelitian, kami sampai pada kesimpulan bahwa penggunaan musik di kalangan tarekat tasawuf masa kini merujuk kepada apa yang disebut sebagai “Nyanyian kristiani hari Minggu“.

”Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menjelaskan tentang awal mula timbulnya tasawuf serta sikap para ulama tentang hal tersebut dan apa saja yang mereka perbuat. “Ketahuilah bahwa hal tersebut bukan muncul pada kurun tiga abad pertama yang terkenal utama, tidak di Hijaz [1] tidak juga di Syam [2], tidak di Yaman tidak juga di Mesir, tidak di Maroko tidak juga di Irak, tidak juga di Khurasan. Di negri-negri tersebut tidak ada–pada waktu itu, orang alim, shaleh, zuhud dan ahli ibadah yang berkumpul untuk mendengarkan tepuk tangan dan suara bersiul, dengan rebana atau dengan telapak tangan, tidak juga dengan potongan kayu. Akan tetapi semua itu terjadi di akhir abad ke tiga. Dan ketika para imam melihatnya, merekapun mengingkarinya. Imam Syafi’i rahimahullah berkata : “Ketika saya meninggalkan Baghdad ada sesuatu yang dibuat-buat oleh orang-orang zindiq yang mereka namakan Taghbir (nyanyian sufi) yang menghalangi orang dari Al Quran”.

Yazid bin Harun berkata : “Tidak ada yang melakukan nyanyian sufi kecuali orang yang fasiq, entah kapan hal itu berawal ?”.

Imam Ahmad ditanya tentang hal tersebut, maka dia menjawab : “Saya tidak menyukainya, itu adalah perkara yang diada-adakan. Ada yang bertanya, Apakah kita boleh duduk bersama mereka, Beliau menjawab : “Jangan.

Begitu juga semua imam agama membencinya, para pembesar masyaikh tidak menghadirinya, Ibrahim bin Adham tidak menghadirinya tidak juga Fudhail bin Iyadh, tidak juga Ma’ruf Al Karkhi, tidak Abu Sulaiman Ad-Daariny, tidak juga Ahmad bin Abilhawary, Sirry Saqty dan yang semacam mereka.

Sedangkan sejumlah ulama terhormat yang sempat menghadiri acara-acara mereka, pada akhirnya meninggalkannya, tokoh-tokoh ulama mencela pelaku-pelakunya sebagaimana yang dilakukan oleh Abdul Qadir dan Syaikh Abul Bayan dan lain-lainnya.

Sedangkan Imam Syafi’i yang menyatakan bahwa hal tersebut bersumber dari orang-orang zindiq, beliau adalah seorang imam dan ahli dalam Ushululislam (kaidah dasar-dasar Islam).

Disamping karena hal tersebut tidak didengar kecuali oleh mereka yang dituduh zindiq seperti Ibnu Ruwandi, Al-Farabi dan Ibnu Sina serta yang semacam mereka.

Sedangkan orang-orang yang hanif pengikut Ibrahim alaihissalam yang Allah jadikan dia sebagai imam dan penganut agama Islam yang tidak menerima dari seorangpun agama selainnya dan mengikuti syariat Rasul terakhir Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Maka tidak ada pada mereka orang yang menyukainya dan menyerukan kepada perbuatan semacam itu. Mereka (yang dimaksud orang Islam) adalah pengikut Al Quran, keimanan dan petunjuk dan kebahagiaan, cahaya dan kemenangan, ahli ma’rifah, ilmu dan keyakinan serta keikhlasan kepada Allah, mencintai-Nya, tawakkal kepada-Nya, takut dan kembali kepada-Nya.

Sedangkan bagi mereka yang memiliki pengetahuan tentang hakekat agama ini, keada’an hati, ma’rifahnya, seleranya serta perasa’annya segera mengetahui bahwa mendengarkan orang yang bersiul dan bertepuk tangan tidaklah mendatangkan manfaat bagi hati dan kemaslahatan, tetapi justru mengandung kemudharatan dan bahaya yang lebih parah, hal tersebut bagi ruh seperti khamar bagi jasad, karena mengakibatkan pelakunya mabuk melebihi mabuknya seseorang dari khamar sehingga mereka merasakan kelezaran tanpa dapat membedakan, sebagaimana yang di rasakan orang yang mabuk karena minum khamar, bahkan dapat terjadi lebih banyak dan lebih besar dari peminum khamar, mencegah mereka dari zikir kepada Allah dan dari shalat melebihi apa yang dapat mencegah mereka karena minum khamar. Mendatangkan kepada mereka pertikaian dan permusuhan lebih besar dari apa yang didapatkan dari khamar”.

Dia juga berkata : “Adapun tarian, tidak diperintahkan oleh Allah, begitu juga Rasul-Nya, tidak juga salah seorang imam, akan tetapi Allah berfirman dalam kitab-Nya : “Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu”. (Luqman: 19).

“Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati”. (Al-Furqan: 63) maksudnya dengan tenang dan penuh wibawa, sedangkan ibadahnya orang beriman adalah ruku’ dan sujud”.

Bahkan rebana dan tarian tidak di perintahkan Allah dan Rasul-Nya, tidak pula oleh seseorang dari kalangan salaf umat ini.

Adapun perkata’an orang-orang bahwa hal tersebut adalah jaring yang digunakan untuk “menjaring” orang-orang awam adalah benar adanya, karena kebanyakan mereka menjadikan jaring tersebut untuk mendapatkan makanan atau roti di atas makanan. Allah Ta’ala berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan yang bathil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah”. (At-Taubah: 34).

Yang melakukan hal tersebut adalah tokoh-tokoh kesesatan yang dikatakan kepada pemimpin-pemimpin mereka : “Dan mereka berkata : “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menta’ati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). Ya Tuhan kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar”. (Al Ahzab 67-68)

Sedangkan jala yang dimaksud untuk menjaring massa, sesungguhnya adalah jala yang robek dimana buruannya keluar lagi jika telah masuk ke dalamnya, karena yang masuk untuk mendengar suara-suara bid’ah dalam tarekat sedang dia tidak memiliki landasan syari’at Allah dan Rasul-Nya, akan terwarisi dalam dirinya kondisi yang parah…. [3].

Kalangan tasawuf yang mendekatkan diri kepada Allah dengan nyanyian dan tarian, tepat bagi mereka firman Allah Ta’ala : “(Yaitu) orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau” (Al-A’raf: 51)

[Judul Asli Haqiqatushufiyyah wa Mauqifush Shufiyyah min Ushulil Ibadah wad Diin Edisi Indonesia Hakikat Sufi dan Sikap Kaum Sufi terhadap prinsip Ibadah dan Agama

Dinukil Dari http:// salafy.or.id%5D

http://sunniy.wordpress.com/2009/12/17/termasuk-bagian-dari-agama-shufi-adalah-mereka-beribadah-kepada-allah-dengan-nyanyian-dan-tarian/

————————

KAROMAH MENURUT AL QUR’AN DAN SUNNAH

Karomah memang ada pada sebagian manusia yang bertakwa, Allah Ta’ala dan Rasul-Nya menerangkan bahwa karamah itu ada, baik di masa dahulu maupun di masa yang akan datang sampai hari kiamat.

Diantaranya apa yang Allah kisahkan tentang Maryam dalam surat Ali Imran 37 ataupun Ashhabul Kahfi dalam surat Al Kahfi dan kisah pemuda mukmin yang dibunuh Dajjal di akhir jaman (H.R. Al Bukhari no. 7132 dan Muslim no. 2938).

Selain itu, kenyata’an yang kita lihat ataupun dengar dari berita yang mutawatir bahwa karamah itu memang terjadi di zaman kita ini.

• DEFINISI KAROMAH

Karomah adalah kejadian diluar kebiasa’an yang Allah anugerahkan kepada seorang hamba tanpa disertai pengakuan (pemiliknya) sebagai seorang nabi, tidak memiliki pendahuluan tertentu berupa doa, bacaan, ataupun dzikir khusus, yang terjadi pada seorang hamba yang shalih, baik dia mengetahui terjadinya (karamah tersebut) ataupun tidak, dalam rangka mengokohkan hamba tersebut dan agamanya. (Syarhu Ushulil I’tiqad 9/15 dan Syarhu Al Aqidah Al Wasithiyah 2/298 karya Asy Syaikh Ibnu Utsaimin).

– Apakah wali Allah itu memiliki atribut-atribut tertentu ?

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan bahwa wali-wali Allah itu tidak memiliki sesuatu yang membedakan mereka dengan manusia lainnya dari perkara-perkara dhahir yang hukumnya mubah seperti pakaian, potongan rambut atau kuku. Dan merekapun terkadang dijumpai sebagai ahli Al Qur’an, ilmu agama, jihad, pedagang, pengrajin atau para petani. (Disarikan dari Majmu’ Fatawa 11/194).

– Apakah wali Allah itu harus memiliki karamah ?

– Lebih utama manakah antara wali yang memilikinya dengan yang tidak ?

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan bahwa tidak setiap wali itu harus memiliki karamah. Bahkan, wali Allah yang tidak memiliki karamah bisa jadi lebih utama daripada yang memilikinya. Oleh karena itu, karamah yang terjadi di kalangan para tabi’in itu lebih banyak daripada di kalangan para sahabat, padahal para sahabat lebih tinggi derajatnya daripada para tabi’in. (Disarikan dari Majmu’ Fatawa 11/283).

– Apakah setiap yang diluar kebiasa’an dinamakan dengan ‘karamah’?

Asy Syaikh Abdul Aziz bin Nashir Ar Rasyid rahimahullah memberi kesimpulan bahwa sesuatu yang di luar kebiasa’an itu ada tiga macam :

1. Mu’jizat yang terjadi pada para rasul dan Nabi 2. Karamah yang terjadi pada para wali Allah 3. Tipuan setan yang terjadi pada wali-wali setan (Disarikan dari At Tanbihaatus Saniyyah hal. 312-313).

Sedangkan untuk mengetahui apakah itu karamah atau tipu daya setan tentu saja dengan kita mengenal sejauh mana keimanan dan ketakwaan pada masing-masing orang yang mendapatkannya (wali) tersebut.

Al Imam Asy Syafi’i rahimahullah berkata : “Apabila kalian melihat seseorang berjalan diatas air atau terbang di udara maka janganlah mempercayainya dan tertipu dengannya sampai kalian mengetahui bagaimana dia dalam mengikuti Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam.” (A’lamus Sunnah Al Manshurah hal. 193).

asantosa30.wordpress.com/

——————–

WALI DAN KAROMAH MENURUT KAUM SUFI

Pandangan kaum Sufi tentang wali dan karamah menyimpang dari Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam.

Diantara pandangan mereka adalah sebagai berikut :

– Wali adalah gambaran tentang sosok yang telah menyatu dan melebur diri dengan Allah Ta’ala. Hal ini sebagaimana yang dinyatakan oleh Al Manuufi (dedengkot Sufi) dalam kitabnya Jamharatul ‘Auliya’ 1/98-99 (lihat Firaq Mu’ashirah 2/ 699).

– Gelar wali merupakan pemberian dari Allah Ta’ala yang bisa diraih tanpa melakukan amalan (sebab), dan bisa diraih oleh seorang yang baik atau pelaku kemaksiatan sekalipun. (Lihat Firaq Mu’ashirah 2/701).

Menurut Sufi, Wali memiliki kekhususan melebihi kekhususan Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam. Diantara kekhususan tersebut adalah :

1. Mengetahui apa yang ada di hati manusia.

Sebagaimana ucapan An-Nabhani tentang Muhammad Saifuddin Al Farutsi An Naqsyabandi.

2. Mampu menolak malaikat maut yang hendak mencabut nyawa atau mengembalikan nyawa seseorang.

Hal ini diterangkan Muhammad Shadiq Al Qaadiri tentang Asy Syaikh Abdul Qadir Al Jailani.

3. Mampu berjalan di atas air dan terbang di udara.

An Nabhani menceritakan hal itu tentang diri Muhammad As Sarwi yang dikenal dengan Ibnu Abil Hamaa’il.

4. Dapat menunaikan shalat lima waktu di Makkah padahal mereka ada di negeri yang sangat jauh.

An Nabhani membela perbuatan wali-wali mereka tersebut.

5. Memiliki kesanggupan untuk memberi janin pada seorang ibu walaupun tidak ditakdirkan Allah Ta’ala.

Sekali lagi kedustaan Muhammad Shadiq Al Qaadiri tentang Asy Syaikh Abdul Qadir Al Jailani. (Dinukil dari buku-buku kaum Sufi melalui kitab Khashaa’ishul Mushthafa hal. 280-293).

Dan masih banyak lagi keanehan-keanehan yang ada pada tokoh-tokoh atau wali-wali mereka.

KEYAKINAN SUFI LAINNYA

• Menurut Sufi, Kedudukan wali lebih tinggi dari pada Nabi.

– Ibnu Arabi menyatakan di dalam sebuah syairnya : “Kedudukan puncak kenabian berada pada suatu tingkatan Sedikit dibawah wali dan diatas rasul “. (Lathaa’iful Asraar hal.49).

– Abu Yazid Al Busthami berkata : “Kami telah mendalami suatu lautan, yang para nabi hanya mampu di tepi-tepinya saja.” (Firaq Mu’ashirah 2/698)

• Menurut Sufi, seorang wali tidak terikat dengan syariat Islam.

Asy Sya’rani menyatakan bahwa Ad Dabbagh pernah berkata : “Pada salah satu tingkatan kewalian dapat dibayangkan seorang wali duduk bersama orang-orang yang sedang minum khamr (minuman keras), dan dia ikut juga minum bersama mereka. Orang-orang pasti menyangka ia seorang peminum khamr, namun sebenarnya ruhnya telah berubah bentuk dan menjelma seperti yang terlihat tersebut. (Ath Thabaqaatul Kubra 2/41)

• Menurut Sufi, seorang Wali Harus Ma’shum (Terjaga Dari Dosa).

Ibnu Arabi berkata : “Salah satu syarat menjadi imam kebatinan adalah harus ma’shum. Adapun imam dhahir (syariat-pen) tidak bisa mencapai derajat kema’shuman.” (Al Futuuhaat Al Makkiyah 3/183).

• Menurut Sufi, seorang wali harus dita’ati secara mutlak.

Al Ghazali berkata : “Apapun yang telah diinstruksikan syaikhnya dalam proses belajar mengajar maka hendaklah dia mengikutinya dan membuang pendapat pribadinya. Karena, kesalahan syaikhnya itu lebih baik daripada kebenaran yang ada pada dirinya.” (Ihya’ Ulumuddin 1/50)

• Menurut Sufi, perbuatan maksiat seorang Wali dianggap sebagai Karamah.

Dalam menceritakan karamah Ali Wahisyi, Asy Sya’rany berkata : “Syaikh kami itu, bila sedang mengunjungi kami, dia tinggal di rumah seorang wanita tuna susila/pelacur.” (Ath Thabaqaatul Kubra 2/135)

• Menurut Sufi, karamah menjadikan seorang wali memiliki kema’shuman.

Al Qusyairi berkata : “Salah satu fungsi karamah yang dimiliki oleh para wali agar selalu mendapat taufiq untuk berbuat ta’at dan ma’shum dari maksiat dan penyelisihan syari’at.” (Ar Risalah Al Qusyairiyah hal.150).

Dari bahasan di atas dapat kita simpulkan bahwa pengertian wali menurut kaum sufi sangatlah rancu dan menyimpang, karena dengan pengertian sufi tersebut siapa saja bisa menjadi wali, walaupun ia pelaku kesyirikan, bid’ah atau kemaksiatan. Ini jelas-jelas bertentangan dengan Al Qur’an, As Sunnah dan fitrah yang suci.

Wallahu a’lam bishshawaab.

asantosa30.wordpress.com/

——————–

MEMBUJANG ALA SUFI

Salah satu ajaran sufi yang menonjol adalah tabattul (hidup membujang).

Diyakini oleh penganut sufi, dengan cara beragama seperti ini, mereka lebih bisa mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Benarkah ?

Di antara nikmat dan tanda kekuasa’an Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah disyariatkannya menikah, menikah mendatangkan banyak maslahat dan manfa’at bagi setiap individu dan masyarakat.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untuk kalian istri-istri dari jenis kalian sendiri, supaya kalian cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antara kalian rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (Ar-Rum: 21).

Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullahu berkata : “Nikah termasuk nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang agung. Allah Subhanahu wa Ta’ala syariatkan bagi hamba-Nya dan menjadikannya sebagai sarana serta jalan menuju kemaslahatan dan manfa’at yang tak terhingga.” (Dinukil dari Taudhihul Ahkam, 4/331).

Bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutnya dengan lafadz perintah dalam beberapa ayat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : “Dan jika kalian takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kalian menikahinya), maka nikahilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi, dua, tiga, atau empat. Namun jika kalian takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja, atau budak-budak yang kalian miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” (An-Nisa`: 3).

“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kalian, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahaya kalian yang lelaki dan hamba-hamba sahaya yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberikan kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (An-Nur: 32).

Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian telah mampu untuk menikah hendaknya menikah, karena itu akan lebih menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Barangsiapa yang tidak mampu, hendaknya berpuasa karena itu adalah pemutus syahwatnya.”

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata kepada Sa’id bin Jubair rahimahullahu :
“Menikahlah, karena orang terbaik di umat ini adalah yang paling banyak istrinya.” (Dibawakan oleh Al-Bukhari rahimahullahu dalam Shahihnya).

Para ulama menyatakan, seorang yang khawatir terjatuh dalam zina maka dia wajib menikah. Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan berkata : “Nikah menjadi wajib atas seorang yang khawatir terjatuh dalam zina jika meninggalkannya. Karena, itu adalah jalan bagi dia untuk menjaga diri dari perbuatan haram. Dalam keada’an seperti ini, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu berkata : “Jika seseorang telah perlu menikah dan khawatir terjatuh dalam kenistaan jika meninggalkannya, maka harus dia dahulukan dari amalan haji yang wajib.” (Mulakhkhash Al-Fiqhi, 2/258).

Seorang yang menikah dengan niat menjaga kehormatan dijamin oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Diriwayatkan dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Tiga golongan yang Allah akan menolong mereka, budak yang hendak menebus dirinya, seorang yang menikah untuk menjaga kehormatannya, dan seorang yang berjihad di jalan Allah.” (HR. An-Nasa`i, Kitabun Nikah, Bab Ma’unatullah An- Nakih Al-Ladzi Yuridul ‘Afaf, no. 3166)

Janganlah seseorang meninggalkan pernikahan karena mengikuti bisikan setan, dengan dibayangi kesulitan ekonomi, padahal dia telah sangat ingin menikah serta takut terjatuh dalam maksiat. Bertawakallah dengan disertai ikhtiar. Allah Subhanahu wa Ta’ala menjamin orang yang benar-benar bertawakal kepada-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : “Barangsiapa yang bertawakal kepada-Nya pasti Dia akan mencukupkanya.” (Ath-thalaq 3).

http://asantosa30.wordpress.com/

————————-