WALI DAN KAROMAH MENURUT KAUM SUFI

Pandangan kaum Sufi tentang wali dan karamah menyimpang dari Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam.

Diantara pandangan mereka adalah sebagai berikut :

– Wali adalah gambaran tentang sosok yang telah menyatu dan melebur diri dengan Allah Ta’ala. Hal ini sebagaimana yang dinyatakan oleh Al Manuufi (dedengkot Sufi) dalam kitabnya Jamharatul ‘Auliya’ 1/98-99 (lihat Firaq Mu’ashirah 2/ 699).

– Gelar wali merupakan pemberian dari Allah Ta’ala yang bisa diraih tanpa melakukan amalan (sebab), dan bisa diraih oleh seorang yang baik atau pelaku kemaksiatan sekalipun. (Lihat Firaq Mu’ashirah 2/701).

Menurut Sufi, Wali memiliki kekhususan melebihi kekhususan Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam. Diantara kekhususan tersebut adalah :

1. Mengetahui apa yang ada di hati manusia.

Sebagaimana ucapan An-Nabhani tentang Muhammad Saifuddin Al Farutsi An Naqsyabandi.

2. Mampu menolak malaikat maut yang hendak mencabut nyawa atau mengembalikan nyawa seseorang.

Hal ini diterangkan Muhammad Shadiq Al Qaadiri tentang Asy Syaikh Abdul Qadir Al Jailani.

3. Mampu berjalan di atas air dan terbang di udara.

An Nabhani menceritakan hal itu tentang diri Muhammad As Sarwi yang dikenal dengan Ibnu Abil Hamaa’il.

4. Dapat menunaikan shalat lima waktu di Makkah padahal mereka ada di negeri yang sangat jauh.

An Nabhani membela perbuatan wali-wali mereka tersebut.

5. Memiliki kesanggupan untuk memberi janin pada seorang ibu walaupun tidak ditakdirkan Allah Ta’ala.

Sekali lagi kedustaan Muhammad Shadiq Al Qaadiri tentang Asy Syaikh Abdul Qadir Al Jailani. (Dinukil dari buku-buku kaum Sufi melalui kitab Khashaa’ishul Mushthafa hal. 280-293).

Dan masih banyak lagi keanehan-keanehan yang ada pada tokoh-tokoh atau wali-wali mereka.

KEYAKINAN SUFI LAINNYA

• Menurut Sufi, Kedudukan wali lebih tinggi dari pada Nabi.

– Ibnu Arabi menyatakan di dalam sebuah syairnya : “Kedudukan puncak kenabian berada pada suatu tingkatan Sedikit dibawah wali dan diatas rasul “. (Lathaa’iful Asraar hal.49).

– Abu Yazid Al Busthami berkata : “Kami telah mendalami suatu lautan, yang para nabi hanya mampu di tepi-tepinya saja.” (Firaq Mu’ashirah 2/698)

• Menurut Sufi, seorang wali tidak terikat dengan syariat Islam.

Asy Sya’rani menyatakan bahwa Ad Dabbagh pernah berkata : “Pada salah satu tingkatan kewalian dapat dibayangkan seorang wali duduk bersama orang-orang yang sedang minum khamr (minuman keras), dan dia ikut juga minum bersama mereka. Orang-orang pasti menyangka ia seorang peminum khamr, namun sebenarnya ruhnya telah berubah bentuk dan menjelma seperti yang terlihat tersebut. (Ath Thabaqaatul Kubra 2/41)

• Menurut Sufi, seorang Wali Harus Ma’shum (Terjaga Dari Dosa).

Ibnu Arabi berkata : “Salah satu syarat menjadi imam kebatinan adalah harus ma’shum. Adapun imam dhahir (syariat-pen) tidak bisa mencapai derajat kema’shuman.” (Al Futuuhaat Al Makkiyah 3/183).

• Menurut Sufi, seorang wali harus dita’ati secara mutlak.

Al Ghazali berkata : “Apapun yang telah diinstruksikan syaikhnya dalam proses belajar mengajar maka hendaklah dia mengikutinya dan membuang pendapat pribadinya. Karena, kesalahan syaikhnya itu lebih baik daripada kebenaran yang ada pada dirinya.” (Ihya’ Ulumuddin 1/50)

• Menurut Sufi, perbuatan maksiat seorang Wali dianggap sebagai Karamah.

Dalam menceritakan karamah Ali Wahisyi, Asy Sya’rany berkata : “Syaikh kami itu, bila sedang mengunjungi kami, dia tinggal di rumah seorang wanita tuna susila/pelacur.” (Ath Thabaqaatul Kubra 2/135)

• Menurut Sufi, karamah menjadikan seorang wali memiliki kema’shuman.

Al Qusyairi berkata : “Salah satu fungsi karamah yang dimiliki oleh para wali agar selalu mendapat taufiq untuk berbuat ta’at dan ma’shum dari maksiat dan penyelisihan syari’at.” (Ar Risalah Al Qusyairiyah hal.150).

Dari bahasan di atas dapat kita simpulkan bahwa pengertian wali menurut kaum sufi sangatlah rancu dan menyimpang, karena dengan pengertian sufi tersebut siapa saja bisa menjadi wali, walaupun ia pelaku kesyirikan, bid’ah atau kemaksiatan. Ini jelas-jelas bertentangan dengan Al Qur’an, As Sunnah dan fitrah yang suci.

Wallahu a’lam bishshawaab.

asantosa30.wordpress.com/

——————–

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s