Monthly Archives: October 2016

DIMANA ALLAH BERADA SEBELUM DI CIPTAKANNYA ‘ARSY ?

DIMANA ALLAH BERADA SEBELUM DI CIPTAKANNYA ‘ARSY ?
.
Diantara kesesatan jahmiyah atau orang-orang yang terpengaruh faham jahmiyah adalah mempertanyakan keberada’an Allah Ta’ala sebelum di ciptakannya ‘Arsy.
.
Mereka bertanya, “Sebelum di ciptakan ‘Arsy Allah berada di mana ?”
.
Atau mereka bertanya, “Apa mungkin Allah berpindah tempat ?”
.
Itulah diantara pertanya’an-pertanya’an yang biasa di lontarkan orang-orang yang terpengaruh kesesatan faham jahmiyah.
.
“Dimana keberada’an Allah sebelum Allah Ta’ala menciptakan ‘Arsy ?”, “Apa mungkin Allah berpindah tempat ?”
.
PERTANYA’AN-PERTANYA’AN DI ATAS TIMBUL AKIBAT KESALAHAN BERFIKIR SANGAT FATAL, YAITU AKIBAT DARI SIKAP MENYERUPAKAN ALLAH DENGAN MAKHLUK.
.
Padahal Allah Ta’ala sudah menjelaskan dalam Firman-Nya :
.
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ
.
“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia . .” (Q.S Asy-Syuro: 11).
.
Terhadap makhluk kita boleh punya pemikiran atau pertanya’an, bagaimana, dari mana, mau kemana dan lainnya.
.
Misalnya, suatu sa’at kita melihat seekor angsa di depan rumah. Kemudian kita bertanya-tanya
.
Dari mana angsa itu ?
.
Pertanya’an di atas tidak ada yang salah, Karena makhluk terikat oleh hukum-hukum Sunnatullah yang berlaku atasnya. Tetapi untuk Allah Ta’ala, Dia terbebas dari semua ikatan-ikatan hukum yang berlaku sebagaimana pada makhluk-Nya.
.
Keberada’an Allah Ta’ala sebelum diciptakannya ‘Arsy, juga bagaimana keberada’an-Nya di atas ‘Arsy adalah termasuk perkara ghaib yang tidak di terangkan dalam Kitab-Nya. Dan kita tidak di wajibkan untuk mengetahui perkara-perkara yang tidak di terangkan oleh Allah dan Rasul-Nya.
.
Dalam sebuah riwayat disebutkan, bahwa ada kalanya dalam diri manusia timbul pikiran-pikiran aneh karena bisikan syaitan. Misalnya kita berpikir, bahwa alam semesta ini diciptakan oleh Allah. Lalu siapa yang menciptakan Allah ?
.
Nabi menasehatkan : Kalau ada bisikan-bisikan seperti itu, seorang Muslim cukup mengatakan, “Amantu billahi wa bi Rusulihi” (aku beriman kepada Allah dan kepada Rasul-rasul-Nya). (HR. Imam Ahmad).
.
Para Ulama sering mengatakan “Tafakkaruu fi khalqillah wa laa tafakkaruu fi dzatillah” (pikirkanlah tentang cipta’an Allah, namun jangan berpikir tentang Dzat-Nya).
.
ISTIWA’ TANPA TAKYIF, TAMTSIL DAN TASYBIH
.
Keimanan kita kepada Istiwa’ (bersemayam)-nya Allah di atas ‘Arsy/Langit tanpa melakukan takyif (menyatakan hakekat sifat tersebut), tanpa tamtsil (memisalkannya dengan makhluk) dan tanpa tasybih (menyerupakannya dengan makhluk).
.
Abu Nu’aim Al Ash-bahani (334 H-430 H) rahimahullah, penulis kitab Al Hilyah berkata : “Metode kami (dalam menetapkan sifat Allah) adalah jalan hidup orang yang mengikuti Al Kitab, As Sunnah dan ijma’ (konsensus para ulama). Di antara i’tiqod (keyakinan) yang dipegang oleh mereka (para ulama) bahwasanya hadits-hadits yang shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkan Allah berada di atas ‘Arsy dan mereka meyakini bahwa Allah beristiwa’ (menetap tinggi) di atas ‘Arsy-Nya. Mereka menetapkan hal ini tanpa melakukan takyif (menyatakan hakekat sifat tersebut), tanpa tamtsil (memisalkannya dengan makhluk) dan tanpa tasybih (menyerupakannya dengan makhluk). Allah sendiri terpisah dari makhluk dan makhluk pun terpisah dari Allah. Allah tidak mungkin menyatu dan bercampur dengan makhluk-Nya. Allah menetap tinggi di atas ‘Arsy-Nya di langit sana dan bukan menetap di bumi ini bersama makhluk-Nya”.
.
(Dinukil dari Majmu’ Al Fatawa, Ahmad bin Abdul Halim Al Haroni, 5/60, Darul Wafa’, cetakan ketiga, 1426 H).
.
ALLAH DIATAS ARSYI BUKAN BERARTI ALLAH MEMBUTUHKAN TEMPAT
.
Imam Abu Ja’far Ahmad bin Muhammad Ath Thahawi rahimahullah [wafat tahun 321 H]. Beliau berkata: “Allah tidak membutuhkan ‘Arsy dan apa yang ada dibawahnya. Allah menguasai segala sesuatu dan apa yang ada diatasnya. Dan Dia tidak memberi kemampuan kepada makhluk-Nya untuk mengetahui segala sesuatu.” Beliau menjelaskan bahwa Allah menciptakan ‘Arsy dan bersemayam di atasnya, bukanlah karena Allah membutuhkan ‘Arsy tetapi Allah memiliki hikmah tersendiri tentang hal itu. Bahkan sebaliknya, sekalian makhluk termasuk ‘Arsy bergantung kepada Allah Jalla wa ‘Ala.” [Lihat Imam al-Qadhi ‘Ali bin ‘Ali bin Muhammad bin ‘Abdil ‘Izz ad-Dimasyqi dalam Syarh ‘Aqidah at-Thahâwiyah, (hal. 372)].
.
.
.
با رك الله فيكم
.
By : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί
.
https://agussantosa39.wordpress.com/category/01-islam-dakwah-tauhid/01-islam-sudah-sempurna/
.
.
=====================

FIR’AUN MENGINGKARI ALLAH DI ATAS ‘ARSY

FIR’AUN MENGINGKARI ALLAH DI ATAS ‘ARSY
.
Pengingkaran keberada’an Allah Ta’ala di atas ‘Arsy bukan saja datang dari sekte sesat jahmiyah dan para pengekornya. Tapi jauh-jauh sebelumnya, keberada’an Allah Ta’ala di atas ‘Arsy di ingkari oleh Fir’aun. Karena kedurhaka’annya menolak dakwah Nabi Musa ‘alaihis salam, lalu Allah Ta’ala menenggelamkan Fir’aun ke dasar laut.
.
Pengingkaran Fir’aun terhadap keberada’an Allah Ta’ala di atas ‘Arsy, Allah abadikan di dalam Al-Qur’an.
.
Allah Ta’ala berfirman :
.
وَقالَ فِرْعَوْنُ يا هامانُ ابْنِ لي صَرْحاً لَعَلِّي أَبْلُغُ الْأَسْبابَ أَسْبابَ السَّماواتِ فَأَطَّلِعَ إِلى إِلهِ مُوسى وَ إِنِّي لَأَظُنُّهُ كاذِباً وَ كَذلِكَ زُيِّنَ لِفِرْعَوْنَ سُوءُ عَمَلِهِ وَ صُدَّ عَنِ السَّبيلِ وَ ما كَيْدُ فِرْعَوْنَ إِلاَّ في تَبابٍ
.
“Dan berkatalah Firaun, Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu, (yaitu) pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Tuhan Musa dan sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta.” Demikianlah dijadikan Fir’aun memandang baik perbuatan yang buruk itu, dan dia dihalangi dari jalan (yang benar), dan tipu daya Fir’un itu tidak lain hanyalah membawa kerugian”. (QS.Ghafir/Al Mu’min: 36-37).
.
Ayat di atas menceritakan tentang kesombongan dan kebodohan Fir’aun yang minta di buatkan sebuah bangunan tinggi yang tujuannya untuk melihat Allah yang di katakan oleh Nabi Musa berada di atas langit.
.
Terkait ayat di atas, seorang Ulama Ahli Tafsir Imam Al-Thabari rahimahullah (w. 310 H) berkata :

وقوله: (وَإِنِّي لأظُنُّهُ كَاذِبًا) يقول: وإني لأظنّ موسى كاذبا فيما يقول ويدّعي من أن له في السماء ربا أرسله إلينا.

“Dan firman-Nya (berkena’an kata-kata Fir’aun), “Dan sesungguhnya aku percaya Musa itu seorang pendusta !”, maksud perkata’an (Fir’aun) adalah, “Dan sesungguhnya aku percaya Musa ini pendusta terhadap apa yang dia katakan BAHWA MUSA MEMPUNYAI TUHAN DI LANGIT YANG MENGUTUSNYA”.

(Tafsir al-Thabari, 21/387, Tahqiq: Ahmad Syakir, cet Muassasah al-Risalah, cet Pertama, lihat juga: Tafsir ayat 38 Surah al-Qhasas).
.
Imam Abul Hasan al-Asy’ari rahimahullah (w. 324 H) dalam kitab beliau, Al-Ibanah terkait ayat di atas berkata :

كذب موسى عليه السلام في قوله: إن الله سبحانه فوق السماوات

“Dia (Fir’aun) mendustakan Musa ‘alaihi salam tentang perkata’an Musa : Bahwa ALLAH subhanahu wa Ta’ala berada DI ATAS LANGIT”.
.
Ahmad bin Abdul Halim Al Haroni mengatakan,
.
كَذَّبَ مُوسَى فِي قَوْلِهِ إنَّ اللَّهَ فَوْقَ السَّمَوَاتِ
.
“Fir’aun mengingkari Musa, di mana Musa mengatakan bahwa Allah berada di atas langit”. (Majmu’ Al Fatawa, 3/225).
.
• Yang mengingkari Allah Ta’ala di atas ‘Arsy adalah pengikut Fir’aun.
.
Ibnu Abil ‘Izz mengatakan, “Barangsiapa yang mendustakan ketinggian Dzat Allah di atas langit yaitu dari golongan Jahmiyah, maka mereka termasuk pengikut Fir’aun. Sedangkan yang menetapkan ketinggian Dzat Allah di atas langit, merekalah pengikut Musa dan pengikut Muhammad.” (Syarh Al ‘Aqidah Ath Thohawiyah, 2/441).
.
Itulah diantara ke durhaka’an Fir’aun yang mengingkari keberada’an Allah Ta’ala di atas langit akibat dari kesombongan dan kebodohannya.
.
Namun yang sangat mengherankan, ke durhaka’an Fir’aun tersebut justru malah di ikuti oleh sekte sesat jahmiyah dan orang-orang yang mengikuti kesesatannya sampai sa’at ini. Pengingkaran mereka terhadap keberada’an Allah Ta’ala di atas ‘Arsy adalah akibat dari menyerupakan Allah Ta’ala dengan makhluk. Padahal sifat Allah berbeda dengan sifat yang di miliki oleh makhluk.
.
Mereka itulah orang-orang yang mengingkari Allah Ta’ala di atas ‘Arsyi, sekte sesat jahmiyah dan para pengekornya yang sebenarnya musyabihah (yang menyerupakan Allah dengan makhluk).
.
.
با رك الله فيكم
.
By : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί
.
https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/
.
.
================

JAHMIYAH MEYAKINI ALLAH BERADA DI SETIAP TEMPAT

JAHMIYAH MEYAKINI ALLAH BERADA DI SETIAP TEMPAT
.
Diantara keyakinan sesat jahmiyah ialah, mereka mengingkari keberada’an Allah Ta’ala di atas ‘Arsy dan meyakini bahwa Allah Ta’ala berada di setiap tempat, Allah Ta’ala ada di mana-mana.
.
– Imam Abul-Hasan Al-Asy’ariy (260 – 324 H) rahimahullah di dalam kitabnya berkata :
.
وقد قال قائلون من المعتزلة والجهمية والحرورية : إن معنى استوى إستولى وملك وقهر، وأنه تعالى في كل مكان، وجحدوا أن يكون على عرشه، كما قال أهل الحق
.
“Dan telah berkata orang-orang dari kalangan mu’tazillah, jahmiyyah, dan haruriyyah (khawarij) : ‘Sesungguhnya makna istiwaa’ adalah : menguasai (istilaa’), memiliki, dan mengalahkan. ALLAH TA’ALA BERADA DI SETIAP TEMPAT. MEREKA MENGINGKARI KEBERADA’AN ALLAH DI ATAS ‘ARSY-NYA, sebagaimana yang dikatakan oleh Ahlul-Haq (Ahlus-Sunnah)”. (Al-Ibaanah, hal. 34-37).
.
– Imam al-Zahabi (673–748 H) berkata :
.
وَمَقَالَةُ الْجَهْمِيَّةِ أَنَّ اللهَ تَبَارَكَ وَتعَالَى فِيْ جَمِيْعِ الأَمْكِنَةِ تَعَالَى اللهُ عَنْ قَوْلِهِمْ
.
“Adapun perkata’an Jahmiyyah (bahwa) ‘Allah Tabāraka wa Ta‘ālaada BERADA DI SEMUA TEMPAT, Maha Tinggi Allah dari perkata’an (rendahan) mereka itu”. (Al-‘Uluww hlm. 143).
.
– Al Hafizh Abu Ja’far Muhammad bin ‘Utsman bin Muhammad bin Abi Syaibah Al ‘Abasi, muhaddits Kufah di masanya, di mana beliau telah menulis tentang masalah ‘Arsy dalam seribu kitab, beliau berkata,
.
وأنكروا العرش وأن يكون الله فوقه وقالوا إنه في كل مكان
.
“Jahmiyah mengingkari ‘Arsy dan mengingkari keberada’an Allah di atas ‘Arsy. JAHMIYAH KATAKAN BAHWA ALLAH BERADA DI SETIAP TEMPAT”. (Al ‘Uluw, hal. 220 dan Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 220-221).
.
Keyakinan sesat jahmiyah yang mengingkari keberada’an Allah Ta’ala di atas ‘Arsy dan meyakini Allah Ta’ala berada di setiap tempat, maka konsekuensinya Allah Ta’ala berarti berada di tempat-tempat kotor dan juga tempat-tempat najis.
.
Imam Abu Hasan Al-Asy’ariy rahimahullah berkata :
.
وَزَعَمَتِ الْمُعْتَزِلَةُ وَالْحَرُوْرِيَّةُ وَالْجَهْمِيَّةُ أَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، فَلَزِمَهُمْ أَنَّهُ فِيْ بَطْنِ مَرْيَمَ وَفِيْ الْحُشُوْشِ وَالأَخْلِيَةِ، وَهَذَا خِلَافُ الدِّيْنِ، تَعَالَى اللهُ عَنْ قَوْلِهِمْ
.
“Dan kaum Mu‘tazilah, Haruriyyah, dan jahmiyah beranggapan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala BERADA DI SETIAP TEMPAT. HAL INI MELAZIMKAN MEREKA BAHWA ALLAH BERADA DI PERUT MARYAM, TEMPAT SAMPAH DAN WC. PAHAM INI MENYELISIHI AGAMA. Maha Tinggi Allah dari perkataan (rendahan) mereka”. (Al-Ibānah fi Uṣūl Diyānah hlm. 26).
.
Maha suci Allah Ta’ala dari keyakinan rusak dan perkata’an buruk orang-orang jahmiyah. Maka pantas apabila di sebutkan sekte jahmiyah lebih buruk daripada yahudi dan nasrani.
.
Sa’id bin ‘Amir Adh Dhuba’i (122-208 H) Ulama Bashroh berkata :
.
هم شر قولا من اليهود والنصارى قد إجتمع اليهود والنصارى وأهل الأديان مع المسلمين على أن الله عزوجل على العرش وقالوا هم ليس على شيء
.
“Jahmiyah lebih jelek dari yahudi dan nashrani. Telah diketahui bahwa yahudi dan nashrani serta agama lainnya bersama kaum muslimin bersepakat bahwa Allah ‘azza wa jalla menetap tinggi di atas ‘Arsy. Sedangkan Jahmiyah, mereka katakan bahwa Allah tidak di atas sesuatu pun”. (Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar, hal. 157 dan Mukhtashor Al ‘Uluw hal. 168).
.
YANG DIMAKSUD ALLAH BERADA DI SETIAP TEMPAT ADALAH ILMUNYA
.
Menurut para Ulama Shalaf, yang dimaksud Allah berada di setiap tempat, Allah ada dimana-mana adalah ilmunya.
.
– Imam Ibnu Katsir rahimahullah (w 774 H) ketika menafsirkan surat Al Hadiid ayat 4 berkata :
.
“Dia bersama kamu” IALAH ILMU-NYA, PENGAWASAN-NYA, PENJAGA’AN-NYA bersama kamu, sedang Dzat Allah di atas ‘Arsy di langit”. (Tafsir Qur`anil Azhim: 4/317).
.
– Imam Malik bin Anas (93-179 H) berkata :
.
الله في السماء، وعلمه في كل مكان، لا يخلو منه شيء.
.
“Allah berada di atas langit, DAN ILMUNYA BERADA DI SETIAP TEMPAT. Tidak ada terlepas dari-Nya sesuatu”. (Mukhtashar Al-‘Ulluw, hal. 140 no. 130].
.
– Imam Ahmad bin Hambal (164-241 H) pernah ditanya,
.
ما معنى قوله وهو معكم أينما كنتم و ما يكون من نجوى ثلاثه الا هو رابعهم
.
Apa makna firman Allah, “Dan Allah bersama kamu di mana saja kamu berada” (QS. Al Hadiid: 4) dan “Tiada pembicara’an rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah keempatnya” (Q.S Al Mujadilah: 7) ?
.
Imam Ahmad bin Hambal menjawab :
.
قال علمه عالم الغيب والشهاده علمه محيط بكل شيء شاهد علام الغيوب يعلم الغيب ربنا على العرش بلا حد ولا صفه وسع كرسيه السموات والأرض
.
Yang dimaksud dengan kebersama’an tersebut adalah ILMU ALLAH. Allah mengetahui yang ghoib dan yang nampak. ILMU ALLAH MELIPUTI SEGALA SESUATU YANG NAMPAK DAN YANG TERSEMBUNYI. NAMUN RABB KITA TETAP MENETAP TINGGI DI ATAS ‘ARSY, tanpa dibatasi dengan ruang, tanpa dibatasi dengan bentuk. Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Kursi-Nya pun meliputi langit dan bumi”. (Itsbat Sifatil ‘Uluw, hal. 116).
.
– Adh-Dhahhaak berkata :
.
هو على العرش وعلمه معهم
.
“Allah berada di atas ‘Arsy, DAN ILMU-NYA BERSAMA MEREKA”. (As-Sunnah oleh ‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal hal. 80).
.
– Ibnul Mubarok bertanya pada Sufyan Ats Tsauri mengenai firman Allah ‘azza wa jalla,
.
وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ
.
“Dia (Allah) bersama kalian di mana saja kalian berada.” (QS. Al Hadid: 4).
.
روى غير واحد عن معدان الذي يقول فيه ابن المبارك هو أحد الأبدال قال سألت سفيان الثوري عن قوله عزوجل وهو معكم أينما كنتم قال علمه
.
Sufyan Ats Tsauri menyatakan BAHWA YANG DI MAKSUDKAN ADALAH ILMU ALLAH (yang berada bersama kalian, bukan dzat Allah)”. (Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar, 137-138).
.
– Imam Abul Hasan Al-’Asy’ari rahimahullah [260 – 324 H] dalam kitabnya Risaalah ila Ahli Ats-Tsagr berkata : Dan Allah mengetahui yang tersembunyi dan yang lebih samar dari yang tersembunyi, tidak ada sesuatupun di langit maupun di bumi yang tersembunyi bagi Allah, hingga seakan-akan Allah senantiasa hadir bersama segala sesuatu. Hal ini telah ditunjukan oleh Allah Azza wa Jalla dengan firmanNya,
.
وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ
.
Dia bersama kamu dimana saja kamu berada (QS Al-Hadiid : 4).
.
Para ahlul ilmi menafsirkan hal ini dengan ta’wil yaitu BAHWASANYA ILMU ALLAH MELIPUTI MEREKA DI MANA SAJA MEREKA BERADA”. (Risaalah ilaa Ahli Ats-Tsagr 231-234).
.
.
با رك الله فيكم
.
By : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί
.
https://agussantosa39.wordpress.com/category/01-islam-dakwah-tauhid/01-islam-sudah-sempurna/
.
.
____________________