Category Archives: II. KESESATAN SUFI

SHIRDI BABA, TOKOH SUFI DARI INDIA

SHIRDI BABA, TOKOH SUFI DARI INDIA

Shirdi Baba adalah tokoh sufi yang sesat, lahir pada tanggal 28 September 1838 di Shirdi, India dan meninggal pada tanggal 15 Oktober 1918. Sebagaimana tokoh sufi lainnya, Shirdi Baba juga banyak pengikutnya.

• Kesesatan Shirdi Baba

Diantara dari sekian banyak kesesatan Shirdi Baba adalah memadukan ajaran hindu dengan ajaran Islam.

Semasa hidupnya ia banyak tinggal di Masjid Dwarakamayi di Desa Shirdi, Distrik Ahmednagar, Maharashtra, India.

Pada awal perkembanganya, banyak umat Hindu dan Muslim menjadi pengikutnya. Pengikut Shirdi Baba menganggapnya sebagai seorang awatara/avatar, yakni sebutan untuk ke ilahian yang muncul di dunia untuk menuntun umat manusia pada kebenaran, dalam sejarah agama-agama dunia biasa disebut sebagai santo ataupun seorang Budha. Namun, jika Tuhan sendiri yang muncul kedunia secara fisik, ia disebut sebagai Purna Avatar.

Shirdi Baba mendorong pengikutnya untuk berdo’a atas nama Hindu dan Islam.

Shirdi bersama para anggotanya menyanyikan nama-nama Tuhan yang manapun, membaca Al-Fatihah, mempelajari kitab suci Al-Quran sekaligus memadukannya dengan teks-teks Hindu seperti Ramayana, Wisnu Sahasranam (Seribu Nama Wishnu), Bhagavad Gita, Yoga Wasista. Oleh karena itu ia menegaskan bahwa ajarannya adalah perpaduan Tauhid dan Advaita Vedanta.

Begitulah orang-orang sufi yang ajarannya di bangun diatas hawa nafsu dan kebodohan.

Maka pantaslah jika para Ulama banyak mencela orang-orang sufi, diantaranya Imam Syafi’i.

CELA’AN IMAM SYAFI’I KEPADA ORANG-ORANG SUFI

Ketika Imam Syâfi’i rahimahullah memasuki negeri Mesir pada tahun 199 H, Imam Syafi’i berkata :

خَلَفْتُ بِالْعِرَاقِ شَيْئًا أَحْدَثَهُ الزَّناَدِقَةُ يُسَمُّوْنَـهُ التَّـغْبِيْرَ يُشْغِلُوْنَ بِهِ النَّاسَ عَنِ الْقُرْآنِ

“Aku tinggalkan di (negeri) Irak sesuatu yang diada-adakan oleh kaum zindiq yang mereka sebut dengan taghbiir. Dengan itu, mereka melalaikan orang-orang dari al-Qur`ân”. (Manâqibu asy-Syâfi’i , karya al-Baihaqi 1/173).

Dalam riwayat lain, Imam Syafi’i berkata :

تَرَكْتُ بَغْدَادَ وَقَدْ أَحْدَثَ الزَّناَدِقَةُ فِيْهَا شَيْئًا يُسَمُّوْنَـهُ السَّمَاعَ

“Aku tinggalkan (kota) Baghdad, sedang orang-orang zindiq (waktu itu) telah mengadakan sesuatu yang baru (dalam agama) yang mereka sebut dengan istilah samâ’”.

Makna zindiq adalah orang yang sudah rusak agamanya. Dan orang-orang zindiq yang beliau maksud adalah kalangan mutashawwifah (para penganut tasawuf). Sementara yang beliau maksud dengan taghbîr atau samâ` ialah nyanyian dan senandung yang mereka dendangkan.

– Imam Syâfi’i rahimahullah juga berkata :

أَسَاسُ التَّصَوَّفِ الْكَسَلُ

“Asas tasawuf adalah kemalasan”. (Al-Hilyah karya Abu Nu’aim al-Ashbahâni 9/136-137).

Dan Imam Syafi’i juga berkata :

لاَ يَكُوْنُ الصُّوْفِيُّ صُوْفِياًّ حَـتَّى يَكُوْنُ فِيْهِ أَرْبَعُ خِصَالٍ : كَسُولٌ أَكُوْلٌ شَؤُوْمٌ كثَيْرُ الْفُضُولِ

“Seseorang tidak akan menjadi Sufi (tulen) kecuali setelah empat perkara ada padanya: sangat malas, banyak makan, sangat pesimis, dan banyak melakukan hal yang tidak perlu”. (Manâqibu asy-Syâfi’i karya al-Baihaqi 2/207).

Imam Syafi’i juga berkata :

لَوْ أَنَّ رَجُلاً تَـصَوَّفَ مِنْ أَوَّلِ النَّهَارِ لَمْ يَأْتِ عَلَيْهِ الظُّهْرُ إِلاَّ وَجَدْتَـهُ أَحْمَقَ

“Kalau ada orang menjadi Sufi di pagi hari, maka tidaklah datang waktu Zhuhur kecuali orang tersebut akan engkau jumpai menjadi manusia yang dungu”. (Manâqib Syâfi’i karya Imam al-Baihaqi 2/207).

By : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί

____________________

TIDAK TAKUT NERAKA DAN TIDAK BUTUH SURGA

Di antara ajaran sufi adalah tidak takut neraka dan tidak membutuhkan surga.

Berikut ini di antara perkata’an tokoh-tokoh mereka.

– Abu Yazid Al-Bustami berkata : “Surga itu tidak pernah terlintas di hati orang-orang yang mempunyai cinta, karena mereka terhalang dari padanya karena cinta mereka”. (Thabaqatu Ash-Shufiyyah, As-Sulami, hal. 19).

– Abu Yazid Al-Busthami bermunajat kepada Allah Ta’ala dengan berkata :
“Aku tidak menginginkan-Mu karena pahala. Namun, aku menginginkan-Mu karena siksa”. (Syarhu Ash-Shufiyyah, Mahmud Al-Ghurab, hal. 180).

– Abu Yazid Al-Busthami berkata : “Barangsiapa kenal Allah, maka surga menjadi pahala dan petaka baginya.” (An-Nuru fi Kalimati Abu Thaifur, As-Sahlaji, hal. 147).

– Abu Yazid Al-Busthami berkata : “Aku ingin hari kiamat terjadi agar aku bisa memasang kemahku di pintu jahannam.” Seseorang berkata kepada Abu Yazid Al-Busthami, “Kenapa begitu wahai Abu Yazid ?” Abu Yazid Al-Busthami menjawab, “Karena aku tahu bahwa jika jahannam melihatku, ia pasti padam.” (An-Nuru fi Kalimati Abu Thaifur, As-Sahlaji, hal. 147).

• PENGHINA’AN TERHADAP NERAKA DAN APINYA

– Asy-Syibli berkata dalam majelis ilmunya : “Sesungguhnya Allah mempunyai hamba-hamba. Jika mereka meludah di atas Jahannam, maka Jahannam pasti padam”. (Al-Luma’, Ath-Thusi, hal. 491).

– Asy-Syibli berkata : “Jika terlintas di benakku bahwa neraka dan apinya membakar sehelai rambutku, maka aku musyrik.” (Ibid, hal. 490).

Suatu ketika Asy-Syibli mendengar seseorang membaca ayat :

“Allah Ta’ala berfirman : “Tinggallah kalian dengan hina di dalamnya dan janganlah kalian berbicara dengan Aku.” (Al-Mukminin: 108).

– Lalu Asy-Syibli berkata : “Ah, seandainya aku menjadi salah seorang di antara mereka.” (Ibid, hal. 490).

– Abu Hazim Al-Madani berkata : “Aku malu kepada Tuhanku jika aku menyembah-Nya karena takut siksa. Kalau begitu, aku seperti orang jahat yang jika tidak takut, maka ia tidak akan… beramal. Aku juga malu kepada-Nya jika aku menyembah-Nya karena mengharap pahala-Nya, karena jika aku menyembah-Nya karena mengharap pahala-Nya maka dengan cara seperti itu aku seperti buruh yang jahat yang jika tidak diberi gaji maka ia tidak mau bekerja, namun aku menyembah-Nya karena cinta kepada-Nya.” (Ghautsu Al-Mawahibi Al-Aliyyati, AN-Nafzi Ar-Randi, Jilid I, hal. 242. Juga Qutu Al-Qulubi, Abu Thalib Al-Makki, Jilid II, hal. 56).

[Semua perkata’an di atas dikutip dari kitab Dirasat fi At-Tasawuf, Dr. Ihsan Ilahi Dhahir, Edisi Indonesia Darah Hitam Tasawuf, penerbit Darul Falah, Jakarta].

• ORANG YANG DI KATAKAN HINA OLEH ORANG SUFI

– Tokoh sufi Muhammad bin Sa’id Az-Zanji pernah ditanya, siapa sebenarnya yang dinamakan ORANG HINA itu ? Ia menjawab, Yaitu orang yang menyembah Allah karena takut dan berharap.” (Nafahatu Al-Unsi, Al-Jami, hal. 38).

Orang yang beribadah karena takut akan siksa neraka, dan beribadah karena ingin masuk surga, adalah orang-orang yang hina menurut orang sufi.

Maka perhatikan berikut ini :

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

“Aku adalah orang yang paling tahu di antara kalian tentang Allah, karena itu aku adalah orang yang paling takut di antara kalian kepada-Nya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

• PERINTAH UNTUK TAKUT KEPADA ALLAH

Allah Ta’ala memerintahkan agar orang-orang yang beriman takut kepada-Nya.

– Allah Ta’ala berfirman :

وَإِيَّايَ فَارْهَبُونِ

“Dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut.” (Al-Baqarah: 40).

– Allah Ta’ala berfirman :

يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلا يَشْفَعُونَ إِلا لِمَنِ ارْتَضَى وَهُمْ مِنْ خَشْيَتِهِ مُشْفِقُونَ

“Allah mengetahui segala sesuatu yang di hadapan mereka (malaikat) dan yang di belakang mereka, dan mereka tiada memberi syafa’at melainkan kepada orang yang diridai Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya.” (Al-Anbiyaa’: 28).

– Allah Ta’ala berfirman :

وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ

“Dan bagi orang yang takut akan sa’at menghadap Tuhannya ada dua surga.” (Ar-Rahman: 46).

• PERINTAH SUPAYA BERDO’A DENGAN RASA TAKUT DAN HARAP

Allah Ta’ala yang memerintahkan kepada orang-orang yang beriman, agar berdo’a dengan rasa takut dan harap.

– Allah Ta’ala berfirman :

وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا إِنَّ رَحْمَةَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ

“Dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan harapan.” (Al-A’raaf: 56).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah manusia yang paling mengenal Allah dan paling takut kepada-Nya, lalu mengapa orang-orang sufi mengatakan tidak takut kepada Allah ?

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

“Aku adalah orang yang paling tahu di antara kalian tentang Allah, karena itu aku adalah orang yang paling takut di antara kalian kepada-Nya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Notes:

Kita berbaik sangka kepada tokoh-tokoh dimana orang-orang sufi menukil ucapan dan perbuatan dari mereka, serta membersihkan mereka dari apa saja yang dialamatkan kepada mereka, seperti Rabi’ah al-Adawiyah, al-Junaid al-Baghdadi, Abdul Qadir al-Jailani, dan tokoh-tokoh lain.

http://faisalchoir.blogspot.com/2012/07/di-antara-bukti-kesesatan-sufi-tidak.html?m=1

__________

AJARAN IBNU ARABI

Di antara tokoh sufi yang mashur adalah Ibnu Arabi, nama lengkapnya Abu Bakar Muhammad ibn Ali Muhyiddin Al-Hatimi At-Thai Al-Andalusi, dikenal dengan Ibnu Arabi (bukan Ibnul Arabi yang ahli tafsir).

Ibnu Arabi dianggap sebagai tokoh tasawuf falsafi, lahir di Murcia Spanyol, 17 ramadhan 560 H/28 Juli 1165 M, dan mati di Damaskus, Rabi’ul Tsani 638 H/Oktober 1240 M.

Inti ajarannya didasarkan atas teori wihdatul wujud (satunya wujud, semua wujud di alam ini adalah cerminan Allah) yang menghasilkan wihdatul adyan (satunya agama, tauhid maupun syirik).

Di antara ajaran Ibnu Arabi adalah :

– “Hamba adalah Tuhan”. (tercantum dalam kitab Ibnu Arabi, Fushush Al-Hikam, 92-93).

– “Neraka adalah surga itu sendiri”. (Fushush Al-Hikam, 93-94).

– “Perbuatan hamba adalah perbuatan Allah itu sendiri”. (Fushush Al-Hikam, 143).

– “Fir’aun adalah mu’min dan terbebas dari siksa neraka”. (Fushush Al-Hikam, 181).

– “Wanita adalah Tuhan”. (Fushush Al-Hikam, 216).

– “Fir’aun adalah Tuhan Musa”. (Fushush Al-Hikam, 209).

– “Semua ini adalah Allah, tidak ada nabi/rasul atau malaikat. Allah adalah manusia besar”. (Fushush Al-Hikam, 48).

– “Allah membutuhkan pertolongan makhluk”. (Fushush Al-Hikam, 58-59).

Karena begitu sesatnya penyimpangan yang ditampilkan Ibnu Arabi, maka 37 ulama telah mengkafirkannya atau memurtadkannya. Di antara yang mengkafirkan Ibnu Arabi itu adalah ulama-ulama besar yang dikenal sampai kini :

•Ibnu Daqieq Al-‘Ied (w 702 H).
•Ibnu Taimiyah (w 728 H).
•Ibnu Qayyim Al-Jauziah (w 751 H).
•Qadhi ‘Iyadh (w 744 H).
•Al-‘Iraqi (w 826 H).
•Ibnu Hajar Al-Asqalani (w 852 H).
•Al-Jurjani (w 814 H).
•Izzuddin bin Abdis Salam (w 660 H).
•An-Nawawi (w 676 H).
•Adz-Dzahabi (w 748 H).
•Al-Bulqini (w 805 H).

(Lihat Tasawuf Belitan Iblis, Darul Falah, Jakarta, 2001, hlm. 72-73).

http://faisalchoir.blogspot.com/2012/07/di-antara-bukti-kesesatan-sufi-tidak.html?m=1

_______________________

TARIAN & NYANYIAN BAGIAN DARI IBADAH ORANG-ORANG SUFI

Penulis Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah al Fauzan

Termasuk Bagian dari ‘Agama’ Shufi Adalah Mereka Beribadah Kepada Allah Dengan Nyanyian dan Tarian.

Mereka katakan bahwa semua itu adalah ibadah kepada Allah. Dr. Sobir Tu’aimah berkata dalam kitabnya, As-Sufiah Mu’taqadan wa Maslakan (Tasawuf, keyakinan dan jalan hidupnya) : “Tarian sufi telah menjadi ciri khas pada sebagian besar tarekat-tarekat tasawuf dalam berbagai kesempatan peringatan kelahiran tokoh-tokoh mereka, yaitu dengan berkumpulnya para pengikut tarekat tersebut untuk mendengarkan alunan suara musik yang keluar dari sekitar dua ratus orang pemusik, baik laki maupun wanita, sementara para pembesar duduk-duduk sambil menghisap berbagai macam rokok dan para pemimpin mereka serta para pengikutnya melakukan baca’an atas sebagian khurofat yang berkaitan orang-orang mati dikalangan mereka. Setelah berbagai penelitian, kami sampai pada kesimpulan bahwa penggunaan musik di kalangan tarekat tasawuf masa kini merujuk kepada apa yang disebut sebagai “Nyanyian kristiani hari Minggu“.

”Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menjelaskan tentang awal mula timbulnya tasawuf serta sikap para ulama tentang hal tersebut dan apa saja yang mereka perbuat. “Ketahuilah bahwa hal tersebut bukan muncul pada kurun tiga abad pertama yang terkenal utama, tidak di Hijaz [1] tidak juga di Syam [2], tidak di Yaman tidak juga di Mesir, tidak di Maroko tidak juga di Irak, tidak juga di Khurasan. Di negri-negri tersebut tidak ada–pada waktu itu, orang alim, shaleh, zuhud dan ahli ibadah yang berkumpul untuk mendengarkan tepuk tangan dan suara bersiul, dengan rebana atau dengan telapak tangan, tidak juga dengan potongan kayu. Akan tetapi semua itu terjadi di akhir abad ke tiga. Dan ketika para imam melihatnya, merekapun mengingkarinya. Imam Syafi’i rahimahullah berkata : “Ketika saya meninggalkan Baghdad ada sesuatu yang dibuat-buat oleh orang-orang zindiq yang mereka namakan Taghbir (nyanyian sufi) yang menghalangi orang dari Al Quran”.

Yazid bin Harun berkata : “Tidak ada yang melakukan nyanyian sufi kecuali orang yang fasiq, entah kapan hal itu berawal ?”.

Imam Ahmad ditanya tentang hal tersebut, maka dia menjawab : “Saya tidak menyukainya, itu adalah perkara yang diada-adakan. Ada yang bertanya, Apakah kita boleh duduk bersama mereka, Beliau menjawab : “Jangan.

Begitu juga semua imam agama membencinya, para pembesar masyaikh tidak menghadirinya, Ibrahim bin Adham tidak menghadirinya tidak juga Fudhail bin Iyadh, tidak juga Ma’ruf Al Karkhi, tidak Abu Sulaiman Ad-Daariny, tidak juga Ahmad bin Abilhawary, Sirry Saqty dan yang semacam mereka.

Sedangkan sejumlah ulama terhormat yang sempat menghadiri acara-acara mereka, pada akhirnya meninggalkannya, tokoh-tokoh ulama mencela pelaku-pelakunya sebagaimana yang dilakukan oleh Abdul Qadir dan Syaikh Abul Bayan dan lain-lainnya.

Sedangkan Imam Syafi’i yang menyatakan bahwa hal tersebut bersumber dari orang-orang zindiq, beliau adalah seorang imam dan ahli dalam Ushululislam (kaidah dasar-dasar Islam).

Disamping karena hal tersebut tidak didengar kecuali oleh mereka yang dituduh zindiq seperti Ibnu Ruwandi, Al-Farabi dan Ibnu Sina serta yang semacam mereka.

Sedangkan orang-orang yang hanif pengikut Ibrahim alaihissalam yang Allah jadikan dia sebagai imam dan penganut agama Islam yang tidak menerima dari seorangpun agama selainnya dan mengikuti syariat Rasul terakhir Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Maka tidak ada pada mereka orang yang menyukainya dan menyerukan kepada perbuatan semacam itu. Mereka (yang dimaksud orang Islam) adalah pengikut Al Quran, keimanan dan petunjuk dan kebahagiaan, cahaya dan kemenangan, ahli ma’rifah, ilmu dan keyakinan serta keikhlasan kepada Allah, mencintai-Nya, tawakkal kepada-Nya, takut dan kembali kepada-Nya.

Sedangkan bagi mereka yang memiliki pengetahuan tentang hakekat agama ini, keada’an hati, ma’rifahnya, seleranya serta perasa’annya segera mengetahui bahwa mendengarkan orang yang bersiul dan bertepuk tangan tidaklah mendatangkan manfaat bagi hati dan kemaslahatan, tetapi justru mengandung kemudharatan dan bahaya yang lebih parah, hal tersebut bagi ruh seperti khamar bagi jasad, karena mengakibatkan pelakunya mabuk melebihi mabuknya seseorang dari khamar sehingga mereka merasakan kelezaran tanpa dapat membedakan, sebagaimana yang di rasakan orang yang mabuk karena minum khamar, bahkan dapat terjadi lebih banyak dan lebih besar dari peminum khamar, mencegah mereka dari zikir kepada Allah dan dari shalat melebihi apa yang dapat mencegah mereka karena minum khamar. Mendatangkan kepada mereka pertikaian dan permusuhan lebih besar dari apa yang didapatkan dari khamar”.

Dia juga berkata : “Adapun tarian, tidak diperintahkan oleh Allah, begitu juga Rasul-Nya, tidak juga salah seorang imam, akan tetapi Allah berfirman dalam kitab-Nya : “Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu”. (Luqman: 19).

“Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati”. (Al-Furqan: 63) maksudnya dengan tenang dan penuh wibawa, sedangkan ibadahnya orang beriman adalah ruku’ dan sujud”.

Bahkan rebana dan tarian tidak di perintahkan Allah dan Rasul-Nya, tidak pula oleh seseorang dari kalangan salaf umat ini.

Adapun perkata’an orang-orang bahwa hal tersebut adalah jaring yang digunakan untuk “menjaring” orang-orang awam adalah benar adanya, karena kebanyakan mereka menjadikan jaring tersebut untuk mendapatkan makanan atau roti di atas makanan. Allah Ta’ala berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan yang bathil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah”. (At-Taubah: 34).

Yang melakukan hal tersebut adalah tokoh-tokoh kesesatan yang dikatakan kepada pemimpin-pemimpin mereka : “Dan mereka berkata : “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menta’ati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). Ya Tuhan kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar”. (Al Ahzab 67-68)

Sedangkan jala yang dimaksud untuk menjaring massa, sesungguhnya adalah jala yang robek dimana buruannya keluar lagi jika telah masuk ke dalamnya, karena yang masuk untuk mendengar suara-suara bid’ah dalam tarekat sedang dia tidak memiliki landasan syari’at Allah dan Rasul-Nya, akan terwarisi dalam dirinya kondisi yang parah…. [3].

Kalangan tasawuf yang mendekatkan diri kepada Allah dengan nyanyian dan tarian, tepat bagi mereka firman Allah Ta’ala : “(Yaitu) orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau” (Al-A’raf: 51)

[Judul Asli Haqiqatushufiyyah wa Mauqifush Shufiyyah min Ushulil Ibadah wad Diin Edisi Indonesia Hakikat Sufi dan Sikap Kaum Sufi terhadap prinsip Ibadah dan Agama

Dinukil Dari http:// salafy.or.id%5D

http://sunniy.wordpress.com/2009/12/17/termasuk-bagian-dari-agama-shufi-adalah-mereka-beribadah-kepada-allah-dengan-nyanyian-dan-tarian/

————————

MEMBUJANG ALA SUFI

Salah satu ajaran sufi yang menonjol adalah tabattul (hidup membujang).

Diyakini oleh penganut sufi, dengan cara beragama seperti ini, mereka lebih bisa mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Benarkah ?

Di antara nikmat dan tanda kekuasa’an Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah disyariatkannya menikah, menikah mendatangkan banyak maslahat dan manfa’at bagi setiap individu dan masyarakat.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untuk kalian istri-istri dari jenis kalian sendiri, supaya kalian cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antara kalian rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (Ar-Rum: 21).

Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullahu berkata : “Nikah termasuk nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang agung. Allah Subhanahu wa Ta’ala syariatkan bagi hamba-Nya dan menjadikannya sebagai sarana serta jalan menuju kemaslahatan dan manfa’at yang tak terhingga.” (Dinukil dari Taudhihul Ahkam, 4/331).

Bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutnya dengan lafadz perintah dalam beberapa ayat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : “Dan jika kalian takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kalian menikahinya), maka nikahilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi, dua, tiga, atau empat. Namun jika kalian takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja, atau budak-budak yang kalian miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” (An-Nisa`: 3).

“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kalian, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahaya kalian yang lelaki dan hamba-hamba sahaya yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberikan kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (An-Nur: 32).

Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian telah mampu untuk menikah hendaknya menikah, karena itu akan lebih menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Barangsiapa yang tidak mampu, hendaknya berpuasa karena itu adalah pemutus syahwatnya.”

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata kepada Sa’id bin Jubair rahimahullahu :
“Menikahlah, karena orang terbaik di umat ini adalah yang paling banyak istrinya.” (Dibawakan oleh Al-Bukhari rahimahullahu dalam Shahihnya).

Para ulama menyatakan, seorang yang khawatir terjatuh dalam zina maka dia wajib menikah. Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan berkata : “Nikah menjadi wajib atas seorang yang khawatir terjatuh dalam zina jika meninggalkannya. Karena, itu adalah jalan bagi dia untuk menjaga diri dari perbuatan haram. Dalam keada’an seperti ini, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu berkata : “Jika seseorang telah perlu menikah dan khawatir terjatuh dalam kenistaan jika meninggalkannya, maka harus dia dahulukan dari amalan haji yang wajib.” (Mulakhkhash Al-Fiqhi, 2/258).

Seorang yang menikah dengan niat menjaga kehormatan dijamin oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Diriwayatkan dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Tiga golongan yang Allah akan menolong mereka, budak yang hendak menebus dirinya, seorang yang menikah untuk menjaga kehormatannya, dan seorang yang berjihad di jalan Allah.” (HR. An-Nasa`i, Kitabun Nikah, Bab Ma’unatullah An- Nakih Al-Ladzi Yuridul ‘Afaf, no. 3166)

Janganlah seseorang meninggalkan pernikahan karena mengikuti bisikan setan, dengan dibayangi kesulitan ekonomi, padahal dia telah sangat ingin menikah serta takut terjatuh dalam maksiat. Bertawakallah dengan disertai ikhtiar. Allah Subhanahu wa Ta’ala menjamin orang yang benar-benar bertawakal kepada-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : “Barangsiapa yang bertawakal kepada-Nya pasti Dia akan mencukupkanya.” (Ath-thalaq 3).

http://asantosa30.wordpress.com/

————————-

KESESATAN AJARAN TASAUF

Di antara sekian banyak kesesatan ajaran Tasawuf adalah :

1. WIHDATUL WUJUD

Yakni keyakinan bahwa Allah Ta’ala menyatu dengan segala sesuatu yang ada di alam semesta ini. Demikian juga Al-Hulul, yakni keyakinan bahwa Allah Ta’ala dapat masuk ke dalam makhluk-Nya.

– Al-Hallaj, seorang tokoh sufi, berkata : “Kemudian Dia (Allah) menampakkan diri kepada makhluk-Nya dalam bentuk orang (yang sedang) makan dan minum.” (Dinukil dari Firaq Al- Mua’shirah, karya Dr. Ghalib bin ‘Ali Iwaji, 2/600).

– Ibnu ‘Arabi, tokoh sufi lainnya, berkata : “Seorang hamba adalah Rabb dan Rabb adalah hamba. Duhai kiranya, siapakah yang diberi kewajiban beramal ? Jika engkau katakan hamba, maka ia adalah Rabb. Atau engkau katakan Rabb, kalau begitu siapa yang diberi kewajiban?” (Al-Futuhat Al- Makkiyyah dinukil dari Firaq Al- Mu’ashirah, hal. 601).

– Muhammad Sayyid At-Tijani meriwayatkan (secara dusta, pen) dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bahwasanya beliau bersabda : “Aku melihat Rabbku dalam bentuk seorang pemuda.” (Jawahirul Ma’ani, karya ‘Ali Harazim, 1/197, dinukil dari Firaq Mu’ashirah, hal. 615).

Padahal Allah Ta’ala berfirman : “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Allah, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Asy-Syura: 11).

“Berkatalah Musa : ‘Wahai Rabbku nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat-Mu.’ Allah berfirman: ‘Kamu sekali-kali tidak akan sanggup melihatku’…”1 (Al-A’raf: 143)

2. ORANG YANG MENYETUBUHI ISTRINYA, TIDAK LAIN IA MENYETUBUHI ALLAH.

Ibnu ‘Arabi berkata : “Sesungguhnya seseorang ketika menyetubuhi istrinya tidak lain (ketika itu) ia menyetubuhi Allah!” (Fushushul Hikam).

Betapa kufurnya kata-kata ini…, tidakkah orang-orang Sufi sadar akan kesesatan tokoh sufi ini ?

3. ALLAH ADALAH MAKHLUK DAN MAKHLUK ADALAH ALLAH, MASING-MASING SALING MENYEMBAH

Ibnu ‘Arabi berkata : “Maka Allah memujiku dan aku pun memuji-Nya. Dia menyembahku dan aku pun menyembah- Nya.” (Al-Futuhat Al-Makkiyyah)

Padahal Allah Ta’ala telah berfirman : “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (Adz- Dzariyat: 56).

“Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Allah Yang Maha Pemurah dalam keadaan sebagai hamba.” (Maryam: 93).

4. SEMUA AGAMA SAMA

– Ibnu ‘Arabi berkata : “Sebelumnya aku mengingkari kawanku yang berbeda agama denganku. Namun kini hatiku bisa menerima semua keada’an, tempat gembala rusa dan gereja pendeta, tempat berhala dan Ka’bah, lembaran-lembaran Taurat dan Mushaf Al Qur’an.” (Al-Futuhat Al-Makkiyyah).

– Jalaluddin Ar-Rumi, seorang tokoh sufi yang sangat kondang, berkata : “Aku seorang muslim, tapi aku juga seorang Nashrani, Brahmawi, dan Zaradasyti. Bagiku, tempat ibadah adalah sama… masjid, gereja, atau tempat berhala- berhala.” (Dinukil dari Ash-Shufiyyah Fi Mizanil Kitabi Was Sunnah karya Asy-Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu, hal.24-25).

Padahal Allah ta’ala berfirman : “Dan barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya. Dan dia di akhirat termasuk orang- orang yang merugi.” (Ali Imran: 85).

5. BOLEH MENOLAK HADITS YANG JELAS SHAHIH

Ibnu ‘Arabi berkata : “Kadangkala suatu hadits shahih yang diriwayatkan oleh para perawinya, tampak hakikat keadaannya oleh seseorang mukasyif (Sufi yang mengetahui ilmu ghaib dan batin).

Ia bertanya kepada Nabi secara langsung : “Apakah engkau mengatakannya ?” Maka beliau mengingkari seraya berkata : “Aku belum pernah mengatakannya dan belum pernah menghukuminya dengan shahih.”

Maka diketahui dari sini lemahnya hadits tersebut dan tidak bisa diamalkan sebagaimana keterangan dari Rabbnya walaupun para ulama mengamalkan berdasarkan isnadnya yang shahih.” (Al- Futuhat Al-Makkiyah). (Dinukil dari Ash-Shufiyyah Fi Mizanil Kitabi Was Sunnah karya Asy-Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu, hal. 23).

6. MEMBAGI ILMU MENJADI SYARI’AT DAN HAKIKAT

Apabila seseorang telah sampai pada tingkatan hakikat berarti ia telah mencapai martabat keyakinan yang tinggi kepada Allah Ta’ala.

Oleh karena itu, menurut keyakinan Sufi, gugur baginya segala kewajiban dan larangan dalam agama ini. Mereka berdalil dengan firman Allah ta’ala dalam Al Qur’an Surat Al-Hijr ayat 99 :

Mereka terjemahkan sebagai berikut : “Dan beribadahlah kepada Rabbmu hingga datang kepadamu keyakinan.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata : “Tidak diragukan lagi oleh ahlul ilmi dan iman, bahwa perkata’an tersebut termasuk sebesar-besar kekafiran dan yang paling berat. Ia lebih jahat dari perkataan Yahudi dan Nashrani karena Yahudi dan Nashrani beriman dengan sebagian isi Al Kitab dan mengkufuri sebagian lainnya. Sedangkan mereka adalah orang-orang kafir yang sesungguhnya (karena mereka berkeyakinan dengan sampainya kepada martabat hakikat tidak lagi terkait dengan kewajiban dan larangan dalam agama ini, pen).” (Majmu’ Fatawa, 11/401).

Beliau juga berkata : “Adapun pendalilan mereka dengan ayat tersebut, maka justru merupakan bumerang bagi mereka.

Al-Hasan Al-Bashri berkata : “Sesungguhnya Allah tidak menjadikan batas akhir beramal bagi orang-orang beriman selain kematian, kemudian beliau membaca Al Qur’an Surat Al-Hijr ayat 99, yang artinya : Dan beribadahlah kepada Rabbmu hingga datang kepadamu kematian’.”

Beliau melanjutkan : “Dan bahwasanya ‘Al-Yaqin’ di sini bermakna kematian dan setelahnya, dengan kesepakatan ulama kaum muslimin.” (Majmu Fatawa, 11/418).

7. IBADAH KEPADA ALLAH BUKAN KARENA TAKUT NERAKA JUGA BUKAN KARENA INGIN MASUK SURGA

Mereka mengatakan bahwa ibadah kepada Allah itu bukan karena takut dari adzab Allah (neraka) dan bukan pula mengharap jannah Allah.

Padahal Allah berfirman : “Dan peliharalah diri kalian dari an-naar (api neraka) yang disediakan untuk orang-orang yang kafir.” (‘Ali Imran: 131).

“Dan bersegeralah kalian kepada ampunan dari Rabb kalian dan kepada jannah (surga) yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa.” (‘Ali Imran: 133).

8. DZIKIR ORANG-ORANG AWAM DAN DZIKIRNYA OORANG-ORANG KHUSUS

Dzikirnya orang-orang awam adalah Laa ilaha illallah, sedangkan dzikirnya orang- orang khusus dan paling khusus adalah “Allah / huwa (di baca: huu)”, atau “aah” saja.

Padahal Rasulullah bersabda : “Sebaik-baik dzikir adalah Laa ilaha illallah.” (HR. At-Tirmidzi, dari shahabat Jabir bin Abdullah). (Fiqhul Ad‘iyati Wal Adzkar, karya Asy-Syaikh Dr. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr, hal, 173).

Syaikhul Islam berkata : “Barangsiapa beranggapan bahwa Laa ilaha illallah adalah dzikirnya orang awam, sedangkan dzikirnya orang-orang khusus dan paling khusus adalah / Huwa, maka ia seorang yang sesat dan menyesatkan.” (Risalah Al-’Ubudiyah, hal. 117-118, dinukil dari Haqiqatut Tasawuf, hal. 13).

9. ILMU KASYAF

Keyakinan bahwa orang-orang Sufi mempunyai ilmu kasyaf (yang dapat menyingkap hal-hal yang tersembunyi) dan ilmu ghaib.

Mereka mendustakan firman Allah : “Katakanlah tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui hal-hal yang ghaib kecuali Allah.” (An-Naml, 65).

10. ROSULULLAH DI CIPTAKAN DARI CAHAYA

Keyakinan bahwa Allah menciptakan Nabi Muhammad dari nur/ cahaya-Nya, dan Allah ciptakan segala sesuatu dari cahaya Nabi Muhammad.

Padahal Allah Ta’ala berfirman : “Katakanlah (Wahai Muhammad), sesungguhnya aku hanyalah seorang manusia seperti kalian, kecuali yang diwahyukan kepadaku …” (Al-Kahfi: 110).

“(Ingatlah) ketika Rabbmu berfirman kepada para Malaikat : “Sesungguhnya Aku akan ciptakan manusia dari tanah liat.” (Shad: 71).

11. ALLAH CIPTAKAN DUNIA KARENA NABI MUHAMMAD.

Keyakinan bahwa Allah menciptakan dunia ini karena Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Padahal Allah berfirman : “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (Adz- Dzariyat: 56).

Demikianlah beberapa diantara dari sekian banyak ajaran Tasawuf, yang dari ini saja, nampak jelas kesesatannya.
Semoga Allah Ta’ala menjauhkan kita dari kesesatan-kesesatan tersebut.

Sumber : http://asysyariah.com/ mewaspadai-sufi.html

shirotholmustaqim.wordpress.com/2013/08/13/mewaspadai-ajaran-sufi/

————————

HADITS PALSU ILMU BATIN

Orang-orang Sufi terkadang berani memalsukan hadits atas nama Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, demi menguatkan ajaran mereka dan menipu orang-orang awam.

Di antara hadits-hadits yang mereka palsukan : “Ilmu batin adalah rahasia di antara rahasia-rahasia Allah dan hukum di antara hukum-hukum Allah, Allah melemparkannya ke dalam hati orang yang dikehendaki-Nya dari kalangan hamba-hamba-Nya.” [HR. Ad-Dailamy dalam Al-Firdaus (3/290 Az-Zuhar)]

Hadits ini palsu karena orang-orang yang meriwayatkannya tidak dikenal (majhul), terlebih lagi hadits ini hanya diriwayatkan oleh Ad-Dailamy.

Syaikh Al-Albaniy rahimahullah menghukumi hadits ini palsu dalam Dho’if Al-Jami’ (3724).

Sumber : Buletin Jum’at Al- Atsariyyah edisi 8 Tahun I.

Lihat: http://almakassari.com/artikel-islam/aqidah/ilmu-batin.html

http://asantosa30.wordpress.com/category/sufi-tasauf/ilmu-kebatinan/