Category Archives: – Pengaruh ajaran nasrani ke dalam ajaran tasauf

PENGARUH AJARAN NASRANI KEDALAM AJARAN TASAUF

Ajaran Sufi yang di adopsi dari ajaran Nasrani diantaranya adalah Tarbiyah Ruhiyah. Dalam agama Nasrani tarbiyah ruhiyah dilakukan dengan beberapa bentuk. Mulai dari menghindari segala kenikmatan dunia, seperti tidak mengkosumsi sesuatu yang enak dan lezat, tidak memakai pakaian bagus, menjauhi pernikahan sampai pada tinggkat bersemedi di gua-gua.

Sa’at mereka menganggap telah mencapai puncak kesucian jiwa, mereka meyakini bahwa Zat Allâh Ta’âla menyatu dengan diri mereka. Yang mereka sebut dalam istilah mereka : Menyatunya Lahût dengan Nasût. Hal serupa juga ditiru oleh orang-orang sufi dalam mentarbiyah dirinya untuk mencapai tingkat hakikat.

Bila mereka telah sampai pada tingkat hakikat, mereka akan dapat mengetahui hal-hal yang ghaib sekalipun. Bahkan yang lebih eksrim lagi mereka menganggap diri mereka telah bersatu dengan Tuhan.

Ketika itu mereka meyakini tidak perlu lagi menjalankan perintah-perintah agama. Menurut mereka perintah-perintah agama adalah bagi orang yang belum sampai pada tingkat hakikat.

Kemudian juga dalam referensi orang-orang sufi sering menukil cerita-cerita rahib Nasrani.

Kesama’an lain adalah tidak menikah dengan alasan agar lebih fokus beribadah demi mendapatkan surga. Ajaran ini terdapat dalam Injil Matius fasal 19 ayat 12, yang berbunyi : “Ada orang yang tidak kawin,… ia membuat dirinya demikian karena keraja’an surga. Barangsiapa yang dapat melakukan maka hendaklah ia melakukannya”. Dalam surat Paulus kepada penduduk Karnitus fasal 7 ayat 1, berbunyi : “Sangat baik bagi seorang lelaki untuk tidak menyentuh wanita”.

Berkata salah seorang tokoh sufi Abu Sulaiman ad-Dârâny, “Tiga hal barangsiapa yang mencarinya maka sesungguhnya ia telah condong pada dunia, mencari kebutuhan hidup, menikahi wanita dan menulis hadits”.

Jika kita bandingkan apa yang diungkapkan oleh tokoh Sufi ini dengan apa yang terdapat dalam ajaran Nasrani tidak jauh beda. Menurut orang sufi menyiksa diri dengan tidak makan dan minum serta tidak tidur adalah salah satu cara untuk menyucikan jiwa. Bahkan bila ia sampai mengalami kondisi tidak sadarkan diri, ia akan dibuka baginya hijab, lalu dari kondisi itu ia akan menerima ilham dan ilmu ladunni.

Bahkan ada diantara mereka yang meyakini akan menyatu dengan Tuhan. Diantaranya ajaran Injil Matius fasal 10 ayat 9 dan 10, berbunyi : “Janganlah kamu membawa emas atau perak atau tembaga dalam ikat pinggangmu. Janganlah kamu membawa bekal dalam perjalanan, janganlah kamu membawa baju dua helai, kasut atau tongkat”. Demikian bunyi ayat-ayat Injil Matius tentang anjuran meninggalkan segala hal yang dibutuhkan oleh seseorang dalam mempertahankan hidup dalam perjalanannya.

Hal yang sama akan kita dapatkan pula dari ungkapan-ungkapan tokoh sufi sebagaimana yang sudah sebutkan di atas.

Bagaimana pula aqidah hulûl dalam agama Nasrani ?

Mari kita simak apa yang terdapat dalam Injil Matius pada fasal 10 ayat 20 : “Karena bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Bapamu, Dia yang akan berkata-kata di dalam kamu”.

Artinya ruh Tuhan menyusup kedalam diri seorang rahib yang sudah layak untuk di masuki oleh Roh tersebut. Setelah melalui proses penyucian jiwa dengan metode seperti yang kita sebutkan sebelumnya.

Demikian pula orang sufi meyakini hal yang sama, bila seorang wali telah sampai pada tingkat hakikat maka sebahagian sifat Tuhan akan menyusup ke dirinya.

Menurut mereka dari situ seorang sufi akan memiliki atau mengalami hal-hal yang diluar kemampuan manusia yang mereka sebut sebagai karamah.

Jika kita membaca tentang biografi dan kisah orang-orang sufi kita akan mendapatkan cerita yang menggambarkan hal tersebut.

Bila hal di atas kita bandingkan dengan ajaran Islam akan terlihat hal yang sangat bertolak belakang. Islam memerintahkan untuk beramal akan tetapi juga melarang melupakan kenikmatan dunia yang menjadi bagian mereka.

Yang dilarang Islam adalah mendahulukan kesenangan dunia dan melalaikan kesenangan akhirat. Islam adalah agama yang seimbang dalam segala hal, baik dalam ideologi maupun ibadah dan akhlak. Firman Allâh Ta’âla, “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allâh Ta’âla kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah sebagaimana Allâh Ta’âla telah berbuat baik kepadamu”. (QS. al- Qashash/28:77)

Dalam ayat ini sangat jelas Allâh Ta’âla menyuruh kita untuk mencari karunia-Nya baik yang berhubungan dengan kebahagian akhirat maupun kenikmatan duniawi.

Dan firman Allâh Ta’âla : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa- apa yang baik yang telah Allâh Ta’âla halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allâh Ta’âla tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allâh Ta’âla telah rezekikan kepadamu”. (QS. Al- Maidah/5:87-88)

Dalam ayat ini, Allâh Ta’âla dengan jelas melarang kita melampaui batas yang telah ditentukan Allâh Ta’âla , seperti mengharamkan seseuatu yang dihalalkan Allâh Ta’âla, melakukan ibadah yang tidak pernah diperintahkan Allâh Ta’âla.

Diriwayatkan dalam sebuah hadits, ada tiga orang Sahabat mendatangi sebagian isteri Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam untuk bertanya tentang bagaimana ibadah beliau jika beliau berada di rumah beliau. Ketika mereka mendengar jawaban dari isteri Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam, mereka memandang bahwa ibadah mereka sangat sedikit sekali bila dibanding dengan ibadah Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam yang sudah diampuni dosanya yang berlalu dan yang akan datang. Lalu mereka ingin bersungguh-sungguh untuk beribadah.

Diantara mereka ada yang ingin shalat malam tanpa tidur, yang lain ingin berpuasa setiap hari, yang ketiga tidak mau menikah.

Sa’at berita itu sampai kepada Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam, beliau marah dan menasehati mereka bertiga secara langsung dan juga menasehati kaum Muslimin. Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Apakah kalian yang mengatakan begini-begini ? Demi Allâh saya adalah orang yang paling takut dan paling bertakwa kepada Allâh diantara kalian. Akan tetapi saya berpuasa juga berbuka, saya shalat malam numun juga tidur, dan saya mengawini wanita. Barangsiapa tidak suka pada sunnahku. Maka ia tidak termasuk golonganku”.

Bila kita lihat kehidupan Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam beliau juga makan daging, minum susu, menyisir rambut dan memakai wangi-wangian.

Ketika beliau ditanya tentang sesorang yang memakai pakaian bagus apakah itu termasuk kategori sombong ? Beliau menjawab tidak, kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.

garibblog.wordpress.com/

———————–