Category Archives: – Pengaruh ajaran yahudi ke dalam ajaran tasauf

PENGARUH AJARAN YAHUDI KEDALAM AJARAN TASAUF

Ada beberapa ajaran Sufi yang di adopsi dari ajaran Yahudi diantaranya dalam metode dan gaya berdzikir yang dilagukan serta diiringi oleh berbagai alat musik. Seperti rebana, gambus, kecapi, guitar, seruling, gendang dan lain-lain.

Sebagaimana yang dianjurkan dalam kitab “Perjanjian Lama” milik kaum Yahudi, “Biarkan orang-orang zionis bergembira dengan kekuasan mereka. Hendaklah mereka memuji-Nya dengan bergoyang dan memukul rebana …Haliluyaa… pujilah Tuhan dalam kesuciannya. Pujilah Dia dengan gambus dan kecapi. Pujilah Dia dengan memukul rebana dan bergoyang. Pujilah Dia dengan gitar dan seruling. Pujilah Dia dengan berbagai warna sorak-sorai”. (Mazmûr, hlm. 149-150).

Disebutkan pula diantara sebab muasal penamaan pengikut nabi Musa ’alaihissalam dari orang-orang Bani Israil dinamakan Yahudi adalah karena kebiasaan mereka ketika membaca Taurat mengangguk-anggukkan kepala. Hal ini dapat kita saksikan sendiri bagaimana orang-orang Yahudi ketika beribadah di depan Dinding Ratapan (tempat ibadah mereka) yang terdapat di masjid Aqsha.

Abu Bakar Tharthûsy mengatakan : “Bergoyang dalam berzikir dan berusaha agar pingsan, yang pertama sekali melakukannya adalah pengikut Samiri ketika mengajak mereka untuk menyembah ‘Ijil (anak sapi). Mereka bergoyang-goyang disekelilingnya dan pura-pura pingsan. Maka ia adalah agama para penyembah ‘Ijil. Barangsiapa menyerupai mereka berarti mereka termasuk golongan mereka”. (Tahrîmus Samâ’, hlm. 269-270, Tafsîr Qurtubi,10/366, 11/238).

Apa yang disebutkan oleh Abu Bakar Tharthûsy benar-benar di kisahkan dalam kitab suci orang Yahudi pada lembaran Khuruj ayat 32. (An-Nahyu ‘Anirraqshi was Samâ’, 2/559).

Dalam ajaran sufi ada berbagai acara yang mereka anggap ibadah yang pelaksanaannya sama persis dengan cara beribadah orang-orang Yahudi yang kita sebutkan di atas. Ada acara yang disebut dengan zikir jamâ’i, duba’an, rajaban, manaqiban, salawatan dan maulidan.

Dalam acara-cara tersebut akan kita dapati alat-alat pujian yang digunakan orang-orang Yahudi dalam ibadah mereka. Seperti gambus, rebana, kadang-kadang dilengkapi dengan guitar dan seruling sambil berteriak-teriak dalam mengucapkan kalimat-kalimat pujian kepada Allâh Ta’âla dan Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam.

Kemudian hampir semua para Sufi, kita dapatkan ketika berzikir, kepalanya digoyang kekanan dan kekiri. Bahkan ada yang benar-benar bergoyang sambil berdiri seperti dalam acara-acara sepesial mereka. Perbuatan tersebut mereka anggap sebagai ibadah yang dapat mendekatkan diri kepada Allâh Ta’âla.

Ajaran tasawuf seperti yang diatas tidak hanya terdapat di masa sekarang saja akan tetapi sudah berjalan lama ditengah-tengah umat ini. Salah seorang Ulama telah mengupas permasalahan ini dalam sebuah karyanya dan menjelaskan tentang berbagai sisi kemungkaran dan kebatilan yang terdapat dalam ajaran Sufi tersebut.

Alhamdulillah penulis sendiri yang meneliti manuskrip kitab tersebut. Judul kitab tersebut adalah Annahyu ‘Anirraqshi was Samâ’ karya al Imam al Hafizh Abu Muhammad Ad Dasyty wafat tahun 665H. Kitab tersebut dicetak dalam dua jilid oleh percetakan Wakaf Salam Riyadh-Saudi Arabia.

Kalau kita ambil dari tahun kehidupan Imam ad Dasyty berarti ajaran Sufi seperti yang kita sebutkan di atas sudah berjalan sejak sekitar delapan abad yang lalu. Namun, bila kita membaca kitab Imam ad Dasyty tersebut, justru para Ulama sebelumnya sudah banyak mengingkari perbuatan tersebut. Bahkan sudah ada pada masa Imam Syâfi’i rahimahullâh, karena imam ad Dasyty dalam kitabnya tersebut menyebutkan kecaman Imam Syâfi’i rahimahullâh dan ulama-ulama lain terhadap komunitas Sufi yang ada pada masa mereka.

Kala itu komunitas Sufi hanya melakukan dzikir atau membaca syair-syair zuhud dengan suara-suara yang sendukan. Imam Syâfi’i rahimahullâh menyebut mereka sebagai orang Zindiq. Bagaimana jika seandainya Imam Syâfi’i dan para ulama tersebut menyasikan acara-acara komunitas Sufi yang ada sekarang ini ?

Ketika Imam Syâfi’i menyebut tentang hukum at-Taghbîr, “Itu adalah rekayasa orang-orang Zindiq untuk melalaikan manusia dari al-Qur’ân”. (An-Nahyu ‘Anirraqshi was Samâ’, 2/556).

Dalam salah satu ungkapan, Beliau berkata, “Aku meninggalkan sesuatu di Baghdad yang disebut dengan Taghbîr. Hasil rekayasa orang-orang Zindiq, agar bisa menjauhkan manusia dari al-Qur’ân”. (Hilyatul Auliyâ, Abu Nu’aim”: 9/146).

Ibnu Khaldun rahimahullâh menjelaskan dalam kitabnya al Muqaddimah (hal: 427).“Taghbîr adalah berdendang, jika dengan syair-syair disebut nyanyi, dan apabila dengan tahlilan disebut Taghbîr”.

Demikian pula Imam Azhari rahimahullâh menjelaskan dalam kitabnya Tahdzîbullughah [hal: 8/122], “Bila mendengar dzikir dan doa yang dilagukan mereka itu bergoyang, maka dari sini mereka dinamakan kaum Mughabbirah”.

Dalam masyarakat Sufi mendengar lantunan syair-syair yang diiringi dengan gendang dan rebana serta alat musik lainnya lebih meresap dalam hati mereka dari pada mendengarkan al-Qur’ân. Dan yang lebih mengherankan adalah biasanya acara-acara tersebut lebih ramai dari pada shalat berjamâah di masjid.

Kalau berzikir, salawatan, duba’an dan rajaban mereka lakukan berjama’ah akan tetapi kalau shalat dilaksanakan sendiri-sendiri, bahkan banyak diantara mereka yang melalaikan shalat. Apalagi kalau acara-acara tersebut pelaksanaannya sampai larut malam maka saat waktu shalat subuh masuk mereka mengantuk dan tidur nyenyak, lalu shalat Shubuhnya lewat. Na’ûzubillâh min dzalik.

Berikut kita sebutkan perkata’an para Ulama tentang Tahgbîr:

Yazîd bin Hârun rahimahullâh mengatakan : “Tahgbîr adalah bid’ah dhalalah, tiada yang melakukannya kecuali orang fasiq.” (Diriwayatkan oleh Khalâl dalam al Amr bil Ma’rûf, hlm. 107).

Salah seorang Ulama Syâfi’iyah Abu Thayib ath-Thobarit mengatakan, “Sesungguhnya apa yang diyakini oleh kelompok ini (Sufi) adalah menyelisihi ijmâ’ (kesepakatan) kaum Muslimin. Karena tidak ada diantara mereka yang menjadikan hal itu sebagai agama dan keta’atan. Menurut pandanganku hal tidak boleh dilakukan di masjid-masjid dan dijâmi’-jâmi’, karena tempat-tempat tersebut adalah tempat yang dimuliakan dan dihormati. Perbuatan kelompok ini adalah menyelisihi ijmâ’ para Ulama”(Lihat kitab beliau Jawâbus Samâ’ dalam bentuk manuskrip lembaran:2/b, dan kitab an Nahyu ‘Anirraqshi was Samâ’, 2/547).

Berkata Imam Abu Bakar Tharthûsyi rahimahullâh, “Kelompok ini (Sufi) telah menyelisihi jamâ’ah kaum Muslimin. Karena menjadikan nyanyi-nyanyian sebagai agama dan keta’atan. Dan mereka melakukannya di masjid-masjid dan tempat-tempat yang terhormat lainnya. Tidak ada seorangpun dari kalangan umat ini yang berpendapat membolehkannya.” (Lihat kitab beliau Tahrîmus Samâ’, hlm. 166-167 “ dalam bentuk manuskrib lembaran:2/b, dan an Nahyu ‘Anirraqshi was Samâ’, 2/548).

Kalau kita lihat ajaran Islam, maka kita dapati bahwa Islam itu berseberangan dengan apa yang dilakukan oleh orang-orang Sufi tersebut.

Berikut ini kita coba kemukan beberapa dalil dari al-Qur’ân dan Sunnah serta perkata’an para Ulama mengenai metode dan gaya ibadah orang-orang sufi yang tersebut di atas.

Allâh Ta’âla berfirman :

“Dan pengaruhilah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan suaramu”. (QS. al-Isrâ/17:64).

Ayat di atas adalah sanggahan Allâh Ta’âla kepada Iblis yang enggan sujud, lalu Iblis meminta diberi tangguh sampai hari kiamat, maka Allâh Ta’âla memberi tangguh kepadanya dan mempersilakannya memperdaya anak Adam dengan berbagai cara, diantaranya adalah dengan suaranya.

Menurut Imam Mujâhid rahimahullâh salah seorang pakar tafsir dimasa Tâbi’iin mengatakan : “Bahwa yang dimaksud dengan suaramu dalam ayat di atas ialah, “Nyanyi-nyanyian dan seruling”. (Tafsîr Thabari, 15/118, Hilyatul Auliyâ, Abu Nu’aim”: 3/298).

Allâh Ta’âla berfirman :

“Sembahyang mereka di sekitar Baitullâh itu, tidak lain hanyalah siulan dan tepukan tangan”. (QS. al-Anfâl/8: 35).

Ayat tersebut adalah celaan bagi kaum musyrikin yang beribadah disekitar Ka’bah dengan bertepuk tangan dan bersorak-sorai.

Hal ini tidak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan oleh komunitas Sufi ketika mereka melakukan Diba’an atau yang semisalnya. Mereka bersorak sorai dan bertepuk tangan.

Allâh Ta’âla berfirman :

“Dan di antara manusia yang membeli ucapan yang melalaikan untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allâh Ta’âla tanpa ilmu, dan menjadikankannya sebagai bahan olok-olokan. Bagi mereka adalah azab yang menghinakan”. (QS. Luqmân/31: 6).

Hampir seluruh ahli Tafsir dari kalangan para Shahabat dan Tâbi’în mengatakan bahwa yang dimaksud dengan laghwal hadits (ucapan yang melalaikan) dalam ini adalah nyanyi-nyanyian. (lihat tafsir ayat tersebut dalam kitab-kitab tafsir para ulama).

Dalam ayat di atas terdapat cela’an dan ancaman bagi orang yang suka mendengarkan nyanyi-nyanyian. Apabila yang dinyanyikan itu bait-bait yang menyebut nama Allâh Ta’âla dan Rasul-Nya serta do’a dan zikir-zikir yang terdapat dalam al-Qur’ân maka ini adalah bagian dari memperolok-olok nama Allâh Ta’âla dan Rasul-Nya serta ayat-ayat-Nya. Maka baginya di akhirat kelak adalah azab yang menghinakan.

Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda :

وَلَكِنْ نَهَيْتُ صَوْتَيْنِ أَحْمَقَيْنِ فَاجِرَيْنِ صَوْتٍ عِنْدَ مُصِيْبَةٍ خَمْشِ وُخُوهٍ وَشَقِّ جُيُوبٍ وَرَنَّةِ شَيْطَانٍ

“Akan tetapi aku melarang dari dua suara yang bodoh dan durhaka, suara ketika ditimpa musibah, memukul muka dan merobek pakaian serta tangisan (seruling) setan.” (HR. Imam at-Tirmidzi, no (1005).

Berkata Ibnu Mas’ud radhiyallâhu ‘anhu, “Nyanyi itu menumbuhkan kemunafikan dalam hati” (Diriwayat oleh Imam Baihaqi dalam Syu’abil Imân, 4/278).

Fudhail Ibnu ‘Iyâdh rahimahullâh mengatakan, “Nyanyian adalah mantera zina, bila mantera zina telah berkumpul bersama pandangan dan sentuhan, maka sungguh telah sempurna sebab-sebabnya.” (Diriwayat oleh Ibnu Abi Dunya dalam Dzammil Malâhi, hlm. 55).

Imam Ahmad rahimahullâh pernah ditanya tentang kasidah (syair-syair zuhud yang dilagukan), beliau menjawab, “Itu adalah bid’ah, tidak boleh ikut duduk bersama mereka.” (Diriwayat oleh Khalâl dalam al Amr bil Ma’rûf, hlm. 105).

• HUJJAH SUFI DALAM MEMBOLEHKAN
BERGOYANG SA’AT BERDZIKIR

Diantara hujjah mereka dalam memboleh bergoyang ketika berzikir, mereka berhujjah dengan kisah yang disebutkan dalam sebuah hadits tentang orang Habasyah yang melakukan permainan pedang di masjid Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam. (Shahîh Muslim, no 892).

Maka bantahannya adalah :

1. Permainan pedang yang dilakukan orang-orang Habasyah tersebut bukan bergoyang-goyang akan tetapi dalam bentuk atraksi perperangan. Seperti maju menyerang musuh sambil mengayunkan pedang atau mundur sambil menangkis pedang lawan. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Nawawi rahimahullâh dalam kitab beliau Syarah Shahîh Muslim. (Syarah Shahîh Muslim 6/186).

2. Orang-orang Habasyah melakukan itu sebagai sarana latihan ketangkasan dalam menghadapi musuh, bukan sekedar main-main belaka.

3. Tidak ada diantara mereka (orang-orang Habasyah) yang menganggap itu sebagai ibadah dan melakukan gerakan-gerakan serupa ketika mereka berzikir.

Diantara orang-orang Sufi ada pula yang berhujjah dalam menhentak-hentakkan kaki mereka saat bergoyang dengan kisah Nabi Ayyûb ‘alaihissalam ketika diperintahkan Allâh Ta’âla menghentakkah kakinya kebumi. (al-Qur’ân Surat Shâd, ayat ke-42).

Maka bantahannya adalah :

1. Nabi Ayyûb ’alaihissalam melakukan itu atas perintah Allâh Ta’âla agar keluar mata air dari bumi sebagai obat dari penyakit yang beliau derita.

Apakah orang-orang sufi menemukan perintah dari Allâh Ta’âla atau Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam dalam melakukan hal yang sama ketika berzikir. Apakah orang-orang Sufi memiliki penyakit seperti Nabi Ayyûb ’alaihissalam ?

2. Nabi Ayyûb ’alaihissalam melakukan itu bukan dalam rangka berzikir pada Allâh Ta’âla, atau memandang itu sarana beribadah kepada Allâh Ta’âla. Karena Nabi Ayyûb ’alaihissalam tidak pernah mengulangi melakukannya ketika beliau telah sembuh. Apalagi melakukannya dalam berzikir ?

3. Kisah Nabi Ayyûb ’alaihissalam telah diketahui oleh para Sahabat sebelum kita, namun tidak ada seorangpun diantara mereka yang menggambil pelajaran dari kisah tersebut dalam metode berzikir, atau mengajurkan hal serupa.

4. Ibnu ‘Uqail rahimahullâh berkata, “Jika orang-orang sufi berhujjah dengan kisah Nabi Ayyûb ’alaihissalam dalamn perbuatan mereka tersebut. Berarti kita juga boleh berhujjah dengan kisah Nabi Musa ’alaihissalam yang memukul batu dengan tongkat atas bolehnya memukul muka orang sufi dengan tongkat.” (Talbîs Iblîs, Ibnul Jauzi: 316).

5. Imam Ghazali mengatakan, “Bergoyang dalam berzikir adalah kebodohan yang ada di atas pundak seseorang, tidak mungkin ia tinggalkan kecuali dengan kesusahan”. (Talbîs Iblîs, Ibnul Jauzi: 318, Tafsîr Qurthubi, 10/263).

Di sini Imam Ghazali berpendapat bahwa kebiasaan bergoyang dalam berzikir adalah perbuatan orang yang bodoh dan sulit untuk ditinggal. Kenapa sulit ? Karena sudah kecanduan dan menganggapnya sebagai ibadah.

• HUJJAH SUFI DALAM MEMBOLEHKAN NYANYIAN

Diantara hujjah orang sufi dalam membolehkan bernyanyi dalam berzikir, mereka berhujjah dengan sebuah hadits yang menceritakan tentang dua anak kecil melagukan syair-syair tentang perang Bu’ats pada hari lebaran di rumah ‘Aisyah radhiyallâhu ‘anha. Tatkala Abu Bakar radhiyallâhu ‘anhu masuk, ia menegur kedua anak kecil tersebut. Lalu Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Abu bakar, “Biarkanlah mereka wahai Abu Bakar, karena setiap umat memiliki hari lebaran dan hari ini adalah hari lebaran kita”. (Shahîh al-Bukhâri, no (952).

Orang-orang Sufi menjadikan hadits ini sebagai hujjah untuk membolehkan nyanyi secara umum atau dalam berzikir secara khusus.

Jawaban para Ulama terhadap kekeliruan dalam memahami hadits tersebut :

1. Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam hanya memberi pengecualian kepada anak-anak kecil pada hari lebaran atau acara pernikahan saja. Adapun orang dewasa tidak ada dalil yang membolehkannya, atau diluar waktu yang disebutkan. Perbuatan itu sama sekali tidak dianggap sebagai sarana ibadah. Adapun orang-orang sufi melakukannya setiap saat dan dianggap sebagai sarana ibadah kepada Allâh Ta’âla. Ditambah lagi yang melakukannya orang-orang yang sudah dewasa. Dan tidak pernah seorangpun dari para Sahabat maupun para Ulama melakukannya apalagi menganjurkannya.

2. Jika nyanyi tersebut dilakukan sepanjang waktu berarti tidak ada artinya pengecualian yang terdapat dalam hadits tersebut.

3. Abu Bakar radhiyallâhu ‘anhu mengingkari perbuatan dua anak kecil tersebut karena ia mengetahui itu dilarang oleh Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam sekalipun anak kecil yang melakukannya, akan tetapi Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa hal itu dibolehkan pada hari lebaran bagi anak kecil. Ini membuktikan bahwa hal itu pada dasarnya terlarang.

4. Para Ulama juga menjelaskan bahwa syair yang dibolehkan pada hari lebaran khusus bagi anak kecil tersebut dengan syarat tidak mengandung unsur-unsur negatif. Seperti mengandung nilai-nilai kesyirikan, cela’an atau kata-kata yang memancing hawa nafsu.

5. Syair-syair yang dilagukan anak-anak kecil tersebut tidak seperti lagu-lagu yang ada di zaman sekarang yang diiringi dengan musik dan dengan suara yang mengiurkan. Bahkan sebelumnya dilakukan latihan berkali-kali.

6. Dalam lafazh hadits tersebut menyebutkan bahwa kedua anak kecil bukanlah penyanyi. Dijelaskan oleh para Ulama maksudnya bahwa keduanya tidak memiliki kebiasa’an menyanyi. Kemudian alasan Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam membolehkannya karena hari itu adalah hari lebaran sebagai saat untuk bergembira bagi anak-anak.

7. Jika orang-orang Sufi berhujjah dalam kebiasa’an mereka dengan perbuatan anak kecil yang terdapat dalam hadits tersebut. Berarti orang-orang Sufi suka mencontoh dan menyerupai perbuatan anak-anak kecil.

8. Berkata Ibnu Hajar al-Asqalâni rahimahullâh, “Sekelompok orang-orang Sufi berhujjah dengan hadits ini dalam membolehkan nyanyi dan mendengarkannya baik dibantu alat musik maupun tidak. Cukup untuk membantah paerkata’an mereka dengan ungkapan ‘Aisyah radhiyallâhu ‘anha dalam hadits tersebut “Keduanya bukanlah penyanyi”. Kemudian Ibnu Hajar rahimahullâh menukil perkataan Imam Qurthubi rahimahullâh, “Adapun bid’ah yang biasa dilakukan orang-orang Sufi adalah hal yang tidak ada perselisihan tentang keharamannya ….. bahkan mereka sampai kepada puncak kebodohan sehingga menjadikannya sebagai ibadah dan amal shaleh serta menganggap hal itu membuahkan kebaikan. Ini adalah peninggalan orang-orang zindiq”. (Fathul Bâri, 2/442).

Kemudian orang-orang Sufi juga berhujjah dalam perbuatan mereka tersebut dengan pengecualian yang dibolehkan oleh Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam pada saat walimah pernikahan. (Sunan Tirmizi, no. 1088; Sunan Nasa-i, no. 3369, 3370; dan Sunan Ibnu Mâjah, no. 1900).

Bantahannya adalah :

Adanya pengecualian pada sa’at walimah pernikahan itu menunjukkan bahwa di luar acara walimahan perbuatan itu terlarang. Kalau tidak, tentu tidak perlu dikecualikan kalau seandainya dibolehkan dalam setiap saat.

Disusun Oleh Ustadz Dr. Ali Musri Semja Putra, M.A

(Mabhats: Majalah As-Sunnah Edisi 07/Tahun XVI)

http://garibblog.wordpress.com/category/sufi-tasauf/beberapa-ajaran-sufi-yang-di-adopsi-dari-luar-islam/

____________________