Category Archives: 02. Allah Ta’ala di Atas, di Langit, di atas ‘Arsy-Nya.

ALLAH BERADA DIATAS, DI LANGIT DI ATAS ARSYI’-NYA

ALLAH BERADA DIATAS, DI LANGIT DI ATAS ARSYI’-NYA

Keberada’an Allah Ta’ala di Atas, di Langit, di atas ‘Arsy-nya ditunjukkan dengan beberapa dalil berikut ini.

1. Dalil dari Al-Qur’an yang menyebutkan keberada’an Allah di atas.
2. Para Malaikat dan Jibril naik ke atas menghadap Allah Ta’ala.
3. Perkata’an-perkata’an baik dan do’a naik ke atas.
4. Nabi Isa diangkat ke atas.
5. Di turunkannya Al-Kitab dari sisi-Nya.
6. Allah Ta’ala turun ke langit dunia di setiap malam.
7. Kisah isra’ mi’rajnya Nabi

1. Dalil dari Al-Qur’an yang menyebutkan keberada’an Allah di atas.

– Allah Ta’ala berfirman :

يَخَافُونَ رَبَّهُم مِن فَوْقِهِمْ‎

“Mereka takut kepada Rabb mereka yang (berada) di atas mereka”. (QS. An Nahl: 50).

– Allah Ta’ala berfirman :

وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ

“Dan Dialah yang berkuasa berada di atas hamba-hambaNya”. (QS. Al An’am: 61).

Ayat pertama yang menyatakan Allah berada di atas (dengan menggunakan kata fawqo [فَوْقَ] diawali huruf min).

Ayat ke dua yang menyatakan Allah berada di atas (dengan menggunakan kata fawqo [فَوْقَ], tanpa diawali huruf min).

Secara bahasa perbeda’an antara fawqo [فوق] pertama dan kedua, kalau yang menggunakan [من], maka maknanya tidak bisa ditakwil (dialihkan dari makna awal) dan ia hanya bermakna diatas dari segi posisi, bukan derajat. Dan gaya bahasa seperti ini banyak dalam Al-Qur’an, misalnya :

Pada Firman Allah Ta’ala :

فَخَرَّ عَلَيْهِم السَّقْفُ مِنْ فَوْقِهِمْ

“lalu atap (rumah itu) jatuh menimpa mereka dari atas”. (Q.S An-Nahl: 26).

Dan pada Firman Allah Ta’ala :

يَوْمَ يَغْشَاهُمُ الْعَذَابُ مِنْ فَوْقِهِمْ وَمِنْ تَحْتِ أَرْجُلِهِمْ

“Pada hari mereka ditutup oleh azab dari atas mereka dan dari bawah kaki-kaki mereka” (Q.S Al-‘Ankabut: 55).

Adapun yang tidak menggunakan [من] maka bisa ditakwil kepada makna diatas dari segi derajat, semisal ucapan [الذهب فوق الفضة] emas diatas perak, bisa jadi maknanya emas posisinya ditaruh diatas perak atau bisa juga bermakna emas lebih mahal dari perak (diatas dari segi harga/derajat).

Akan tetapi hukum asal untuk kalimat jenis kedua ini adalah dipahami secara dzohir (berada diatas) terlebih lagi jika dinisbahkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Selain itu kalaupun dimaknakan sebagai ketinggian kemuliaan Allah maka masih banyak dalil-dalil lain yang menunjukkan ketinggian posisi dzat Allah.

2. Para Malaikat dan Jibril naik ke atas menghadap Allah Ta’ala.

– Allah Ta’ala berfirman :

تَعْرُجُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ إِلَيْهِ

“Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Rabbnya”. (QS. Al Ma’arij: 4).

– Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

يُتَعَاقَبُونَ فِيكُمْ مَلَائِكَةٌ بِاللَّيْلِ وَمَلَائِكَةٌ بِالنَّهَارِ وَيَجْتَمِعُونَ فِي صَلَاةِ الصبح وَصَلَاةُ العَصْرِ ثُمَّ يُعَرَّجُ الَّذَيْنِ بَاتُوا فِيكُمْ فَيَسْأَلُهُمْ اللهُ – وَهُوَ أَعْلَمَ بِهِمْ – كَيْفَ تَرَكْتُمْ عُبَّادَي؟ فَيَقُولُونَ تَرَكْنَاهُمْ وَهُوَ يَصِلُونَ

“Para Malaikat di malam dan siang hari silih berganti mengawasi kalian, dan mereka berkumpul pada saat shalat Subuh dan shalat Ashar, kemudian para malaikat yang mengawasi kalian semalam suntuk naik (ke langit). Allah menanyakan kepada mereka, padahal Dia lebih mengetahui dari mereka, “Dalam keadaan apakah kalian tinggalkan hamba-hamba-Ku ?” Mereka menjawab, “Kami tinggalkan mereka dalam keadaan mengerjakan shalat” (Muttafaqun ‘alaihi).

Naik kepada-Nya (menghadap Allah) dalam ayat al-Qur’an dan hadits di atas, dengan menggunakan kata [عرج] dan kata [يعرج] pecahan dari kata [عرج].

3. Perkata’an-perkata’an baik dan do’a naik ke atas.

– Allah Ta’ala berfirman :

إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ

“Kepada-Nyalah naik perkata’an-perkata’an yang baik”. (QS. Fathir: 10).

– Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

اِتَّقُوْا دَعْوَةَ المَظْلُوْمِ فَإِنَّهَا تَصْعُدُ إِلَى اللهِ كَأَنَّهَا شَرَارَةٌ

“Berhati-hatilah terhadap do’a orang yang terzholimi. Do’anya akan naik (dihadapkan) pada Allah bagaikan percikan api” (HR. Hakim).

Yang dimaksud dengan ‘bagaikan percikan api’ adalah cepat sampainya (cepat terkabul) karena do’a ini adalah do’a orang yang dalam keada’an mendesak. (Faidul Qodir Syarh Al Jaami’ Ash Shogir, Al Munawi, 1/184).

Kata-kata yang baik dan do’a naik kepada-Nya dalam ayat dan hadits diatas dengan menggunakan kata [صعد] dan pecahannya [يَصْعَدُ] dan [تَصْعُدُ].

4. Nabi Isa diangkat ke atas.

Allah Ta’ala berfirman :

بَلْ رَفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ

“Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat ‘Isa kepada-Nya .. ” (QS. An Nisa’: 158).

Allah Ta’ala berfirman :

إِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ إِلَيَّ

“(Ingatlah), ketika Allah berfirman : “Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku”. (QS. Ali Imron: 55).

Nabi Isa diangkat kepada-Nya dengan menggunakan kata [رفع]. Sesuatu yang diangkat kepada Allah, maka menunjukkan bahwa Allah berada di atas.

5. Di turunkannya Al-Kitab dari sisi-Nya

– Allah Ta’ala berfirman :

تَنْزِيلُ الْكِتَابِ مِنَ اللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ

“Kitab (Al Qur’an ini) diturunkan oleh Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS. Az Zumar: 1).

– Allah Ta’ala berfirman :

تَنْزِيلُ الْكِتَابِ مِنَ اللَّهِ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ

“Diturunkan Kitab ini (Al Quran) dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui”. (QS. Ghafir: 2).

– Allah Ta’ala berfirman :

تَنْزِيلٌ مِنَ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

“Diturunkan dari Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”. (QS. Fushshilat: 2).

– Allah Ta’ala berfirman :

تَنْزِيلٌ مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ

“Yang diturunkan dari Rabb Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji”. (QS. Fushshilat: 42).

– Allah Ta’ala berfirman :

قُلْ نَزَّلَهُ رُوحُ الْقُدُسِ مِنْ رَبِّكَ بِالْحَقِّ

“Katakanlah: “Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al Quran itu dari Tuhanmu dengan benar”. (QS. An-Nahl: 102).

– Allah Ta’ala berfirman :

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ

“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan”. (QS. Ad-Dukhan: 3).

Sesuatu yang diturunkan maka sudah pasti dari atas ke bawah.

6. Allah Ta’ala turun ke langit dunia di setiap malam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ

“Rabb kami, Tabaroka wa Ta’ala turun setiap malamnya ke langit dunia. Hingga ketika tersisa sepertiga malam terakhir, Allah berfirman, ‘Siapa saja yang berdo’a pada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkannya. Siapa saja yang meminta pada-Ku, niscaya Aku akan memberinya. Siapa saja yang memohon ampunan pada-Ku, niscaya Aku akan mengampuninya”. (H.R Bukhari no. 1145 dan Imam Muslim no. 758).

Artinya turun yang di sebutkan dalam hadits diatas, adalah dari atas ke bawah.

7. Kisah isra’ mi’rajnya Nabi

Bertemunya Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan Allah di atas langit ke tujuh dalam peristiwa Isra’ Mi’raj adalah suatu kebenaran. Hanya saja Nabi tidak melihat Allah disebabkan hijab cahaya yang menghalanginya antara dirinya dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ini sebagaimana dijelaskan Imam Ibnu Abil ‘Izz al-Hanafi rahimahullah (Wafat: 792 H) dalam Syarah ath-Thahawiyah-nya.

Dalam peristiwa ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berulang kali menemui Allah untuk menerima syari’at shalat lima waktu sehari semalam. Naiknya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bertemu Allah di langit menjadi satu dalil dan penjelasan akan shahihnya i’tiqad Ahli Sunnah Wal-Jama’ah bahwa Allah itu istiwa’ di atas langit di atas ‘Arsy-Nya.

Dengan dasar inilah sehingga para Imam Madzhab termasuk Imam Syafi’i, menganut bahwa Allah di atas ‘Arsy.

Imam asy-Syafi’i rahimahullah (Wafat: 204 H) berkata, “Sunnah yang aku anut adalah sebagaimana yang dipegang (dianut) oleh Sufyan at-Tsauri, Imam Malik bin Anas dan selain keduanya yang merupakan pengakuan dengan syahadah (kesaksian) bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah (dengan benar) melainkan Allah dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah,

وَآنُ اللهُ عَلَى عَرْشِهِ فِي سَمَائِهِ يُقَرِّبُ مِنْ خُلْقِهِ كَيْفَ شَاءَ وَآنٌ اللهُ تَعَالَى يَنْزِلُ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا كَيْفَ شَاءَ

Dan sesungguhnya Allah di atas ‘Arsy-Nya di langit-Nya. Dia dekat dengan makhluk-Nya sebagaimana yang Dia kehendaki, dan turun ke langit dunia sebagaimana yang Dia kehendaki”. (Al-‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar, no. 443).

Apa yang diikrarkan oleh Imam asy-Syafi’i ini sesuai dengan pegangan para ulama Ahli Sunnah Wal-Jama’ah lainnya bermula dari para sahabat, para ulama tabi’in, dan seterusnya termasuklah Abu Hanifah, Malik, Ahmad, dan Imam Abu Hasan al-Asy’ari yang menjadi ikutan kelompok mahzab al-Asya’irah.

Itulah beberapa dalil yang menunjukkan keberada’an Allah Ta’ala di Atas, di Langit di atas ‘Arsy

____________

Advertisements