Category Archives: 01. Benarkah Orang Tua Nabi kafir ?

BENARKAH KEDUA ORANG TUA NABI MATI DALAM KEADA’AN KAFIR ?

BENARKAH KEDUA ORANG TUA NABI MATI DALAM KEADA’AN KAFIR ?

Keturunan Nabi adalah nasab yang mulia dalam Islam. Akan tetapi hal itu bukanlah jaminan bahwa mereka akan dimasukkan ke dalam surga dan selamat dari api neraka. Allah Ta’ala hanya akan menilai seseorang, termasuk mereka yang mengaku memiliki nasab mulia (keturunan Nabi) dari amalnya.

Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam bersabda :

وَمَنْ بَطَأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ

“Barangsiapa yang lambat amalnya, maka kemulia’an nasabnya tidak bisa mempercepatnya”. (HR. Muslim, Arba’un Nawawiyyah no. 36).

Tidak dipungkiri bahwa kedudukan para Nabi dan Rasul itu tinggi di mata Allah. Namun hal itu bukanlah sebagai jaminan bahwa seluruh keluarga Nabi dan Rasul mendapatkan petunjuk dan keselamatan serta aman dari ancaman siksa neraka karena keterkaitan hubungan keluarga dan nasab.

NASAB TIDAK MENYELAMATKAN

• Kekafiran anak Nabi Nuh

Allah telah berfirman tentang kekafiran anak Nabi Nuh ‘alaihis-salaam yang akhirnya termasuk orang-orang yang ditenggelamkan Allah bersama orang-orang kafir :

وَقِيلَ يَأَرْضُ ابْلَعِي مَآءَكِ وَيَسَمَآءُ أَقْلِعِي وَغِيضَ الْمَآءُ وَقُضِيَ الأمْرُ وَاسْتَوَتْ عَلَى الْجُودِيّ وَقِيلَ بُعْداً لّلْقَوْمِ الظّالِمِينَ * وَنَادَى نُوحٌ رّبّهُ فَقَالَ رَبّ إِنّ ابُنِي مِنْ أَهْلِي وَإِنّ وَعْدَكَ الْحَقّ وَأَنتَ أَحْكَمُ الْحَاكِمِينَ * قَالَ يَنُوحُ إِنّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ إِنّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ فَلاَ تَسْأَلْنِـي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنّيَ أَعِظُكَ أَن تَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ

Dan difirmankan: “Hai bumi telanlah airmu, dan hai langit (hujan) berhentilah,” dan airpun disurutkan, perintahpun diselesaikan dan bahtera itupun berlabuh di atas bukit Judi, dan dikatakan: “Binasalah orang-orang yang zalim“. Dan Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya”. Allah berfirman: “Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatan)nya perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakekat)nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan”. (QS. Huud : 44-46).

• Kekafiran bapak Nabi Ibrahim

Allah juga berfirman tentang keingkaran Azar ayah Nabi Ibrahim ’alaihis-salaam :

وَمَا كَانَ اسْتِغْفَارُ إِبْرَاهِيمَ لأبِيهِ إِلاّ عَن مّوْعِدَةٍ وَعَدَهَآ إِيّاهُ فَلَمّا تَبَيّنَ لَهُ أَنّهُ عَدُوّ للّهِ تَبَرّأَ مِنْهُ إِنّ إِبْرَاهِيمَ لأوّاهٌ حَلِيمٌ

“Dan perminta’an ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka, tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri dari padanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun”. (QS. At-Taubah : 114).

• Kekafiran istri Nabi Luth

Dan Allah pun berfirman tentang istri Nabi Luth sebagai orang yang dibinasakan oleh adzab Allah :

فَأَنجَيْنَاهُ وَأَهْلَهُ إِلاّ امْرَأَتَهُ كَانَتْ مِنَ الْغَابِرِينَ

“Kemudian Kami selamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali isterinya, dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan)”. (Q.S. Al-A’raf : 83).

KAFIRKAH KEDUA ORANG TUA RASULULLAH ?

Kekafiran anak Nabi Nuh, kafirnya bapak Nabi Ibrahim juga kafirnya istri Nabi Luth begitu pula kafirnya kedua orang tua Rasullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah kehendak kauni Allah ta’ala, mereka mati dalam keada’an kafir.

KEKAFIRAN KEDUA ORANG TUA RASULULLAH MENURUT AL-QUR’AN, HADITS NABI DAN KETERANGAN PARA ULAMA

Kekafiran kedua orang tua Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di terangkan di dalam al-Qur’an dan hadits Nabi juga menurut keterangan para Ulama sebagai berikut,

• Keterangan dari al-Qur’an

Allah Ta’ala berfirman :

مَا كَانَ لِلنّبِيّ وَالّذِينَ آمَنُوَاْ أَن يَسْتَغْفِرُواْ لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوَاْ أُوْلِي قُرْبَىَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيّنَ لَهُمْ أَنّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

“Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam”. (Q.S At-Taubah : 113).

Asbabun nuzul (sebab turunnya) ayat ini adalah berkaitan dengan permohonan Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam kepada Allah ta’ala untuk memintakan ampun ibunya (namun kemudian Allah tidak mengijinkannya) – (Lihat Tafsir Ath-Thabari dan Tafsir Ibnu Katsir QS. At-Taubah : 113).

• Keterangan dari hadits Nabi

عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَجُلًا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيْنَ أَبِي قَالَ فِي النَّارِ فَلَمَّا قَفَّى دَعَاهُ فَقَالَ إِنَّ أَبِي وَأَبَاكَ فِي النَّارِ

Dari Anas radliyallaahu ‘anhu, Bahwasannya ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, “Wahai Rasulullah, dimanakah tempat ayahku (yang telah meninggal) sekarang berada ?”. Beliau menjawab : “Di neraka”. Ketika orang tersebut berlalu, maka beliau memanggilnya lalu berkata : “Sesungguhnya ayahku dan ayahmu di neraka”. (HR. Muslim no. 203, Abu Dawud no. 4718, Ahmad no. 13861, Ibnu Hibban no. 578, Al-Baihaqi dalam Al-Kubraa no. 13856, Abu ‘Awanah no. 289, dan Abu Ya’la no. 3516).

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata : “Di dalam hadits tersebut [yaitu hadits :

إِنَّ أَبِي وَأَبَاكَ فِي النَّارِ

”Sesungguhnya ayahku dan ayahmu di neraka”] terdapat pengertian bahwa orang yang meninggal dunia dalam keada’an kafir, maka dia akan masuk neraka. Dan kedekatannya dengan orang-orang yang mendekatkan diri (dengan Allah) tidak memberikan manfa’at kepadanya. Selain itu, hadits tersebut juga mengandung makna bahwa orang yang meninggal dunia pada masa dimana bangsa Arab tenggelam dalam penyembahan berhala, maka diapun masuk penghuni neraka. Hal itu bukan termasuk pemberian siksa’an terhadapnya sebelum penyampaian dakwah, karena kepada mereka telah disampaikan dakwah Ibrahim dan juga para Nabi yang lain shalawaatullaah wa salaamuhu ‘alaihim”. (Syarah Shahih Muslim oleh An-Nawawi juz 3 hal. 79 melalui perantara Naqdu Masaalikis-Suyuthi fii Waalidayil-Musthafaa oleh Dr. Ahmad bin Shalih Az-Zahrani hal. 26, Cet. 1425 H).

Hadits Nabi lainnya,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم اسْتَأْذَنْتُ رَبِّي أَنْ أَسْتَغْفِرَ لِأُمِّي فَلَمْ يُؤْذَنْ لِي وَاسْتَأْذَنْتُهُ أَنْ أَزُورَ قَبْرَهَا فَأُذِنَ لِي

Dari Abi Hurairah radliyallaahu ’anhu ia berkata, Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam : ”Sesungguhnya aku telah memohon ijin Rabb-ku untuk memintakan ampun ibuku, dan Ia tidak mengijinkanku. Namun Ia mengijinkan aku untuk menziarahi kuburnya”. (H.R Muslim no. 976, Abu Dawud no. 3234, An-Nasa’i dalam Ash-Shughraa no. 2034, Ibnu Majah no. 1572, dan Ahmad no. 9686).

Al-Imam Al-Baihaqi rahimahullah berkata :

وَأَبَوَاهُ كَانَا مشركين، بِدَلِيلٍ مَا أَخْبَرْنَ

”Sesungguhnya kedua orang tua Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam adalah musyrik dengan dalil apa yang telah kami khabarkan….”. Kemudian beliau membawakan dalil hadits dalam Shahih Muslim di atas (no. 203 dan 976) di atas. (Lihat As-Sunanul-Kubraa juz 7 Bab Nikaahi Ahlisy-Syirk wa Thalaaqihim). [1].

Al-’Allamah Syamsul-Haq ’Adhim ’Abadi berkata :

فلم يأذن لي :‏‏ لأنها كافرة والاستغفار للكافرين لا يجوز

”Sabda beliau shallallaahu ’alaihi wasallam : ”Dan Ia (Allah) tidak mengijinkanku” adalah disebabkan Aminah adalah seorang yang kafir, sedangkan memintakan ampun terhadap orang yang kafir adalah tidak diperbolehkan”. (’Aunul-Ma’bud Syarh Sunan Abi Dawud, Kitaabul-Janaaiz, Baab Fii Ziyaaratil-Qubuur). [2]

Hadits Nabi lainnya,

عَنْ اِبْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ “جَاءَ أَبِنَا مليكة – وَهُمَا مِنْ الأَنْصَارِ – فَقَالَا: يَا رَسُولَ اللهِ إنَ أمَنَا كَانَتْ تَحْفَظُ عَلَى البَعْلِ وَتُكَرِّمُ الضَيْفَ، وَقَدٌّ وئدت فِي الجَاهِلِيَّةِ فَأَيْنَ أُمُّنَا؟ فَقَالَ: أُمُّكُمَا فِي النَّارِ. فَقَامَا وَقَدْ شَقَّ ذَلِكَ عَلَيْهِمَا، فَدَعَاهُمَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَجَعَا، فَقَالَ: أَلَّا أَنَ أُمِّي مَعَ أُمِّكُمَا

Dari Ibnu Mas’ud radliyallaahu ‘anhu ia berkata, Datang dua orang anak laki-laki Mulaikah, mereka berdua dari kalangan Anshar, lalu berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibu kami semasa hidupnya memelihara onta dan memuliakan tamu. Dia dibunuh di jaman Jahiliyyah. Dimana ibu kami sekarang berada ?”. Maka beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam menjawab : “Di neraka”. Lalu mereka berdiri dan merasa berat mendengar perkata’an beliau. Lalu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam memanggil keduanya lalu berkata : “Bukankah ibuku bersama ibu kalian berdua (di neraka) ?” (Lihat Tafsir Ad-Durrul-Mantsur juz 4 halaman 298 – Diriwayatkan oleh Ahmad no. 3787, Thabarani dalam Al-Kabiir 10/98-99 no. 10017, Al-Bazzar 4/175 no. 3478, dan yang lainnya, shahih).

• Kekafiran ke dua orang tua Nabi menurut para Ulama (ijma’ Ulama).

– Al-Imam Ibnul Jauzi berkata :

وَأُمَّا عَبْد الله فَإِنَّهُ مَاتَ وَرَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَمْلٌ وَلَا خِلَافَ أَنَّهُ مَاتَ كَافِرًا، وَكَذَلِكَ آمِنَةُ مَاتَتْ وَلِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سِتَّ سِنِينَ

”Adapun ’Abdullah (ayah Nabi), ia mati ketika Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam masih berada dalam kandungan, dan ia mati dalam keada’an kafir tanpa ada khilaf. Begitu pula Aminah (tentang kekafirannya tanpa ada khilaf), dimana ia mati ketika Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam berusia enam tahun”. (Al-Maudlu’aat juz 1 hal. 283).

Al-Imam Ibnul Jauzi berkata ketika berhujjah dengan hadits ”Sesungguhnya aku telah memohon ijin Rabb-ku untuk memintakan ampun ibuku”, yaitu berdasarkan kenyataan bahwa Aminah bukanlah seorang wanita mukminah”. (Al-Maudlu’aat juz 1 hal. 284).

– Al ’Allamah ’Ali bin Muhammad Sulthan Al-Qaari menyebutkan adanya ijma’ tentang kafirnya kedua orang tua Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam dengan perkata’annya :

وَأَمَّا الإِجْمَاعُ فَقَدْ أُتُّفِقَ السِّلْفُ وَالخَلْفُ مِنْ الصحابة وَالتَّابِعِينَ وَالأَئِمَّةِ الأَرْبَعَةِ وَسَائِرٌ المُجْتَهِدِينَ عَلَى ذَلِكَ مِنْ غَيْرِ إِظْهَارِ خِلَافٍ لَمَّا سَوْفَ نَأْلُكَ وَالخِلَافُ مِنْ اللَّاحِقِ لَا يَقْدَحُ فِي الإِجْمَاعِ السَّابِقِ سَوَاءٍ يَكُونُ مِنْ جِنْسِ المُخَالِفِ أَوْ صَنَّفَ الموافق

”Adapun ijma’, maka sungguh ulama salaf dan khalaf dari kalangan shahabat, tabi’in, imam empat, serta seluruh mujtahidin telah bersepakat tentang hal tersebut (kafirnya kedua orang tua Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam) tanpa adanya khilaf. Jika memang terdapat khilaf setelah adanya ijma’, maka tidak mengurangi nilai ijma’ yang telah terjadi sebelumnya. Sama saja apakah hal itu terjadi pada orang-orang menyelisihi ijma’ (dimasa setelahnya) atau dari orang-orang yang telah bersepakat (yang kemudian ia berubah pendapat menyelisihi ijma’). (Adilltaul-Mu’taqad Abi Haniifah hal. 7 – download dari http://www.alsoufia.com).

– Imam Abu Hanifah rahimahullah berkata :

وَوَالِدَا رَسُولِ اللهِ مَاتَ عَلَى الكفر

”Dan kedua orang tua Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam mati dalam keadaan kafir” [Al-Adillatul-Mu’taqad Abi Haniifah hal. 1 – download dari http://www.alsoufia.com].

– Imam Ath-Thabari rahimahullah berkata dalam tafsirnya ketika menjelaskan QS. Al-Baqarah, 119 :

فَإِنَّ فِي اِسْتِحَالَةِ الشَّكِّ مِنْ الرَّسُولِ عَلَيْهِ السَلَامُ فِي أَنْ أَهَّلَ الشَّرَكَ مِنْ أَهْلِ الجَحِيمِ، وَأَنَّ أَبَوَيْهُ كَانَا مِنْهُمْ

”Semua ini berdasar atas keyakinan dari Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam bahwa orang-orang musyrik itu akan masuk neraka jahim dan kedua orang tua Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam termasuk bagian dari mereka”.

– Kekafiran kedua orang tua Rasulullah menurut para Imam Ahli Hadits

Beberapa imam ahli hadits memasukkan hadits-hadits tentang kafirnya kedua orang tua Nabi dalam Bab-bab yang tegas menunjukkan fiqh (pemahaman) dan i’tiqad mereka tentang kekafiran kedua orang tua Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam.

– Imam Muslim memasukkannya dalam Bab,

[بَيَانٌ أَنْ مَنْ مَاتَ عَلَى الكُفْرِ فَهُوَ فِي النَّارِ وَلَا تَنَالُهُ شفاعة وَلَا تَنْفَعُهُ قَرَابَةٌ المُقَرَّبِينَ]

“Penjelasan bahwasannya siapa saja
meninggal dalam kekafiran maka ia berada di neraka dan ia akan memperoleh syafa’at dan tidak bermanfaat baginya hubungan kekerabatan”.

– Imam Ibnu Majah memasukkannya dalam Bab,

[مَا جَاءَ فِي زِيَارَةِ قُبُورٍ المشركين]

”Apa-Apa yang datang mengenai ziarah ke kubur orang-orang musyrik”.
– Imam An-Nasa’i memasukkannya dalam Bab, [زِيَارَةٌ قَبَرَ المشرك] ”Ziyarah ke Kubur Orang-Orang Musyrik.

Dan yang lainnya.

Keterangan dari Al-Qur’an dan hadits dan juga keterangan para Ulama diatas adalah hujjah yang sangat jelas yang menunjukkan kekafiran kedua orang tua Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam.

BEBERAPA SUBHAT DAN BANTAHANNYA

1. Kedua orang tua Nabi termasuk ahli fatrah sehingga mereka dima’afkan.

Bantahan :

Pengertian fatrah menurut bahasa kelemahan dan penurunan (Lisaanul-’Arab oleh Ibnul-Mandhur 5/43).

Adapun pengertian fatrah secara istilah, bermakna tenggang waktu antara dua orang Rasul, dimana ia tidak mendapati Rasul pertama dan tidak pula menjumpai Rasul kedua” (Jam’ul-Jawaami’ 1/63).

Hal ini seperti selang waktu antara Nabi Nuh dan Idris ’alaihimas salaam serta seperti selang waktu antara Nabi ’Isa ’alaihis salaam dan Nabi Muhammad shallallaahu ’alaihi wasallam. Definisi ini dikuatkan oleh firman Allah ta’ala :

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ قَدْ جَاءَكُمْ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ عَلَى فَتْرَةٍ مِنَ الرُّسُلِ أَنْ تَقُولُوا مَا جَاءَنَا مِنْ بَشِيرٍ وَلا نَذِيرٍ

Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepada kamu Rasul Kami, menjelaskan (syariat Kami) kepadamu ketika terputus (pengiriman) rasul-rasul, agar kamu tidak mengatakan, “Tidak datang kepada kami baik seorang pembawa berita gembira maupun seorang pemberi peringatan”. (QS. Al-Maaidah : 19).

Ahli fatrah terbagi menjadi dua macam :

1. Yang telah sampai kepadanya ajaran Nabi.

2. Yang tidak sampai kepadanya ajaran / dakwah Nabi dan dia dalam keadaan lalai.

Golongan pertama di atas dibagi menjadi dua, yaitu :

Pertama, Yang sampai kepadanya dakwah dan dia bertauhid serta tidak berbuat syirik. Maka mereka dihukumi seperti ahlul-islam / ahlul-iman. Contohnya adalah Waraqah bin Naufal, Qus bin Saa’idah, Zaid bin ’Amr bin Naufal, dan yang lainnya.

Kedua, Yang tidak sampai kepadanya dakwah namun ia merubah ajaran dan berbuat syirik. Golongan ini tidaklah disebut sebagai ahlul-islam / ahlul iman. Tidak ada perselisihan di antara ulama bahwa mereka merupakan ahli neraka. Contohnya adalah ’Amr bin Luhay [3], Abdullah bin Ja’dan, shahiibul-mihjan, kedua orang tua Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam, dan yang lainnya.

Golongan kedua, maka mereka akan diuji oleh Allah kelak di hari kiamat.

Kedua orang tua Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam memang termasuk ahli fatrah, namun telah sampai kepada mereka dakwah Nabi Ibrahim ’alaihis-salaam. Maka, mereka tidaklah dima’afkan akan kekafiran mereka sehingga layak sebagai ahli neraka.

2. Ada hadits-hadits yang menceritakan tentang dihidupkannya kembali kedua orang tua Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam ke dunia, lalu mereka beriman kepada ajaran beliau.

Diantara hadits-hadits tersebut adalah,

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: حَجَّ بِنَا رَسُولُ اللهِ حُجَّةَ الوَدَاعِ، فَمَرَّ بِي عَلَى عَقَبَةِ الحجون وَهُوَ بَاكٍ حَزِينٌ مُغْتَمٌّ فَنُزِّلَ فَمَكَثَ عَنِّي طَوِيلًا ثُمَّ عَادَ إِلَيَّ وَهُوَ فَرِحٌ مُبْتَسِمٌ، فَقُلْتُ لَهُ فَقَالَ: ذَهَبْتُ لِقَبْرٍ أُمِّيٍّ فَسَأَلْتُ اللهَ أَنْ يُحَيِّيَهَا فَأَحْيَاهَا فَآمَنَتْ بِي وَرْدُهَا الله

Dari ’Aisyah radliyallaahu ’anhaa ia berkata : ”Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam melakukan haji bersama kami dalam haji wada’. Beliau melewati satu tempat yang bernama Hajun dalam keadaan menangis dan sedih. Lalu beliau shallallaahu ’alaihi wasallam turun dan menjauh lama dariku kemudian kembali kepadaku dalam keadaan gembira dan tersenyum. Maka akupun bertanya kepada beliau (tentang apa yang terjadi), dan beliau pun menjawab : ”Aku pergi ke kuburan ibuku untuk berdoa kepada Allah agar Ia menghidupkannya kembali. Maka Allah pun menghidupkannya dan mengembalikan ke dunia dan beriman kepadaku” [Diriwayatkan oleh Ibnu Syahin dalam An-Nasikh wal-Mansukh no. 656, Al-Jauzaqaani dalam Al-Abaathil 1/222, dan Ibnul-Jauzi dalam Al-Maudlu’aat 1/283-284].

Bantahan :

Hadits ini tidak shahih karena perawi yang bernama Muhammad bin Yahya Az-Zuhri dan Abu Zinaad.

Tentang Muhammad bin Yahya Az-Zuhri,

Imam Ad-Daruquthni berkata : ”Matruk”. Ia juga berkata : ”Munkarul-Hadits, ia dituduh memalsukan hadits”. (lihat selengkapnya dalam Lisaanul-Miizaan 4/234).

Adapun tentang Abu Zinaad,

– Maka telah berkata Yahya bin Ma’in : Ia bukanlah orang yang dijadikan hujjah oleh Ashhaabul-Hadiits, tidak ada apa-apanya”.

– Ahmad berkata : ”Orang yang goncang haditsnya (mudltharibul-hadiits)”.

– Berkata Ibnul-Madiinii : ”Menurut para shahabat kami ia adalah seorang yang dla’if”. Ia juga berkata pula : ”Aku melihat Abdurrahman bin Mahdi menulis haditsnya”.

– Imam An-Nasa’i berkata : ”Haditsnya tidak boleh dijadikan hujjah”.

– Ibnu ’Adi berkata : ”Ia termasuk orang yang ditulis haditsnya”.

(silakan lihat selengkapnya dalam Tahdzibut-Tahdzib).

Ringkasnya, Abu Zinaad, ia termasuk perawi yang ditulis haditsnya namun riwayatnya sangat lemah jika ia bersendirian.

Dengan melihat kelemahan itu, maka status hadits diatas, para ahli hadits menyimpulkan sebagai berikut :

– Ibnul-Jauzi dalam Al-Maudlu’aat (1/284) berkata : ”Palsu tanpa ragu lagi”.

– Imam Ad-Daruquthni dalam Lisaanul Mizan (biografi ’Ali bin Ahmad Al-Ka’by) : ”Munkar lagi bathil”.

– Ibnu ’Asakir dalam Lisanul-Mizan (4/111) : ”Hadits munkar”.

– Adz-Dzahabi berkata (dalam biografi ’Abdul-Wahhab bin Musa) : ”Hadits ini adalah dusta”.

Hadits lainnya,

عَنْ اِبْنٍ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : قَالَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِذَا كَانَ يَوْمَ القِيَامَةِ شَفَعَتْ لِأَبِي وَأُمَّي وَعَمَّي أَبِي طَالِبٌ وَاخِ لِي كَانَ فِي الجاهلية

Dari Ibnu ’Umar radliyallaahu ’anhuma ia berkata, Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam : ”Pada hari kiamat nanti aku akan memberi syafa’at kepada ayahku, ibuku, pamanku Abu Thalib, dan saudaraku di waktu Jahiliyyah” (Diriwayatkan oleh Tamam Ar-Razi dalam Al-Fawaaid 2/45).

Bantahan :

Hadits ini adalah palsu karena rawi yang bernama Al-Waliid bin Salamah. “Ia adalah pemalsu lagi ditinggalkan haditsnya”. (lihat Al-Majruhiin oleh Ibnu Hibban 3/80 dan Mizaanul-I’tidaal oleh Adz-Dzahabi 4/339).

Hadits lainnya,

عَنْ عَلَيَّ مَرْفُوعًا: “هَبَطَ جِبْرِيلُ عَلَيَّ فَقَالَ إِنَّ اللهَ يقرئك السَّلَامُ وَيَقُولُ إِنَّي حَرَمْتُ النَّارَ عَلَى صُلُبٍ أَنْزِلُكَ وَبَطْنٍ حَمْلِكَ وَحَجَرٍ كَفُلِّكَ”

Dari ’Ali radliyallaahu ’anhu secara marfu’ : ”Jibril turun kepadaku dan berkata : ’Sesungguhnya Allah mengucapkan salaam dan berfirman : Sesungguhnya Aku haramkan neraka bagi tulang rusuk yang telah mengeluarkanmu (yaitu Abdullah), perut yang mengandungmu (yaitu Aminah), dan pangkuan yang merawatmu (yaitu Abu Thalib)”. (Diriwayatkan oleh Al-Jauzaqaani dalam Al-Abaathil 1/222-223 dan Ibnul-Jauzi dalam Al-Maudlu’aat 1/283).

Bantahan :

Hadits ini adalah palsu (maudlu’) tanpa ada keraguan sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ibnul-Jauzi dalam Al-Maudlu’aat (1/283) dan Imam Adz-Dzahabi dalam Ahaadiitsul-Mukhtarah no. 67.

Dan hadits lain yang senada yang tidak lepas dari status sangat lemah, munkar, atau palsu.

3. Hadits-hadits yang menjelaskan tentang kafirnya kedua orang tua Nabi shallallaahu ’alaihi wa sallam dinasakh (dihapus) oleh hadits-hadits yang menjelaskan tentang berimannya kedua orang tua beliau.

Bantahan :

Klaim nasakh (di hapus) hanyalah diterima bila hadits nash naasikh (penghapus) berderajat shahih.

Namun, ternyata kedudukan haditsnya yang dianggap naasikh (penghapus) adalah sangat lemah, munkar, atau palsu.

Maka bagaimana bisa diterima hadits shahih di nasakh (di hapus) oleh hadits yang kedudukannya sangat jauh di bawahnya ?

Itu yang pertama.

Adapun yang kedua, Nasakh (di hapus sebuah hadits oleh hadits lainnya) hanyalah ada dalam permas’alahan hukum, bukan dalam permas’alahan khabar.

Walhasil, anggapan nasakh (hadits di atas di hapus oleh hadits lainnya) adalah anggapan yang sangat lemah.

Kesimpulannya : Orang-orang yang menolak kafirnya kedua orang tua Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, berhujjah dengan dalil-dalil yang sangat lemah.

Penyelisihan dalam perkara ini bukan termasuk khilaf yang diterima dalam Islam (karena tidak didasari oleh hujjah yang kuat).

PIHAK YANG MENOLAK KEKAFIRAN ORANG TUA NABI

Sebagian orang-orang yang datang belakangan menolak tentang kekafirannya kedua orang tua Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka menyelisihi setelah adanya ijma’ (tentang kekafiran kedua orang tua Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam). Mereka mengklaim bahwa kedua orang tua Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk ahli surga. Yang paling menonjol dalam membela pendapat ini adalah Al-Haafidh As-Suyuthi. Ia menulis beberapa judul khusus yang membahas tentang status kedua orang tua Nabi seperti : Masaalikul-Hunafaa fii Waalidayal-Musthafaa, At-Ta’dhiim wal-Minnah fii Anna Abawai Rasuulillah fil-Jannah, As-Subulul Jaliyyah fil Aabaail ’Aliyyah, dan lain-lain.

• Syi’ah dan habaib

Orang-orang Syi’ah berada pada barisan terdepan dalam memperjuangkan pendapat bathil ini. Di susul kemudian sebagian habaaib (orang yang mengaku keturunan Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam) dimana mereka menginginkan atas pendapat itu agar orang berkeyakinan tentang kemulia’an kedudukan mereka sebagai keturunan Rasulullah. Hakekatnya, motif dua golongan ini adalah sama. Kultus individu.

Kesimpulan : Kedua orang tua Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam meninggal dalam keada’an kafir sangat jelas, berdasarkan al-Qur’an dan hadits Nabi juga menurut perkata’an para Ulama. Wallaahu a’lam.

__________________________

[1] Perkataan Imam Al-Baihaqi tentang kekafiran kedua orang tua Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam juga dapat ditemui dalam kitab Dalaailun-Nubuwwah juz 1 hal. 192, Daarul-Kutub, Cet. I, 1405 H, tahqiq : Dr. Abdul-Mu’thi Al-Qal’aji.

[2] Karena ibu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam termasuk orang-orang kafir. Maka Allah Ta’ala melarang Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam dan kaum mukminin secara umum untuk memintakan ampun orang-orang yang meninggal dalam keada’an kafir sebagaimana firman-Nya :

مَا كَانَ لِلنّبِيّ وَالّذِينَ آمَنُوَاْ أَن يَسْتَغْفِرُواْ لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوَاْ أُوْلِي قُرْبَىَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيّنَ لَهُمْ أَنّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

“Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam”. (QS. At-Taubah: 113).

[3] Dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu ia berkata :

قَالَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَيْتَ عَمْرٌو بِنْ عَامِرُ بِنْ لِحَيِّ الخزاعي يَجُرُّ قَصَبَهُ فِي النَّارِ وَكَانَ أَوَّلَ مَنْ سِيبَ السوائب

Telah berkata Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu, Telah bersabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam : “Aku melihat ‘Amru bin ‘Amir bin Luhay Al-Khuzaa’i menarik-narik ususnya di neraka. Dia adalah orang pertama yang melepaskan onta-onta (untuk dipersembahkan kepada berhala)”. (HR. Bukhari no. 3333 – tartib maktabah sahab, Muslim no. 2856).

Nisbah Al-Khuzaa’i merupakan nisbah kepada sebuah suku besar Arab, yaitu Bani Khuza’ah. Ibnu Katsir menjelaskan sebagai berikut :

عَمْرٌو هَذَا هُوَ اِبْنٌ لِحَيِّ بِنْ قمعة، أَحَدٌ رُؤَسَاءَ خزاعة الَّذِينَ وَلَّوْا البَيْتَ بَعْدَ جَرِّهِمْ وَكَانَ أَوَّلُ مِنْ غَيْرِ دِينِ إِبْرَاهِيمَ الخليل، فَأَدْخَلَ الأَصْنَامَ إِلَى الحِجَازِ، وَدَعَا الرُّعَاعُ مِنْ النَّاسِ إِلَى عِبَادَتِهَا والتقرب بِهَا، وَشَرَّعَ لَهُمْ هَذِهِ الشَّرَائِعَ الجَاهِلِيَّةُ فِي الأنعام وَغَيْرِهَا

“Amru bin ‘Amir bin Luhay Al-Khuza’i merupakan salah satu pemimpin Khuza’ah yang memegang kekuasa’an atas Ka’bah setelah Kabilah Jurhum. Ia adalah orang yang pertama kali mengubah agama Ibrahim (atas bangsa Arab). Ia memasukkan berhala-berhala ke Hijaz, lalu menyeru kepada beberapa orang jahil untuk menyembahnya dan bertaqarrub dengannya, dan ia membuat beberapa ketentuan jahiliyyah ini bagi mereka yang berkena’an dengan binatang ternak dan lain-lain . .” (lihat Tafsir Ibnu Katsir 2/148 QS. Al-Maidah ayat 103).

sumber: http://abul-jauzaa.blogspot.com/2008/06/kafirkah-kedua-orang-tua-nabi-sebuah.html

Video Penjelasan bahwa kedua orangtua nabi berada di neraka

______________