Category Archives: 02. Kekafiran orang tua Nabi menurut para Ulama

ORANG TUA RASULULLAH MATI DALAM KEADA’AN KAFIR MENURUT KETERANGAN PARA ULAMA

ORANG TUA RASULULLAH MATI DALAM KEADA’AN KAFIR MENURUT KETERANGAN PARA ULAMA

1- Imam Al-Baihaqi rahimahullah berkata :

وَأَبَوَاهُ كَانَا مشركين، بِدَلِيلٍ مَا أَخْبَرْنَ

”Sesungguhnya kedua orang tua Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam adalah musyrik dengan dalil apa yang telah kami khabarkan . .”

Kemudian Imam Baihaqi membawakan hadits,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم اسْتَأْذَنْتُ رَبِّي أَنْ أَسْتَغْفِرَ لِأُمِّي فَلَمْ يُؤْذَنْ لِي وَاسْتَأْذَنْتُهُ أَنْ أَزُورَ قَبْرَهَا فَأُذِنَ لِي

Dari Abi Hurairah radliyallaahu ’anhu ia berkata, Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam : ”Sesungguhnya aku telah memohon ijin Rabb-ku untuk memintakan ampun ibuku, dan Ia tidak mengijinkanku. Namun Ia mengijinkan aku untuk menziarahi kuburnya”. (Shahih Muslim, no. 203 dan 976). (Lihat As-Sunanul-Kubraa juz 7 Bab Nikaahi Ahlisy-Syirk wa Thalaaqihim).

2- Imam Ibnul Jauzi berkata :

وَأُمَّا عَبْد الله فَإِنَّهُ مَاتَ وَرَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَمْلٌ وَلَا خِلَافَ أَنَّهُ مَاتَ كَافِرًا، وَكَذَلِكَ آمِنَةُ مَاتَتْ وَلِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سِتَّ سِنِينَ

”Adapun ’Abdullah (ayah Nabi), ia mati ketika Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam masih berada dalam kandungan, dan ia mati dalam keada’an kafir tanpa ada khilaf. Begitu pula Aminah (tentang kekafirannya tanpa ada khilaf), dimana ia mati ketika Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam berusia enam tahun”. (Al-Maudlu’aat juz 1 hal. 283).

Imam Ibnul Jauzi berkata ketika berhujjah dengan hadits ”Sesungguhnya aku telah memohon ijin Rabb-ku untuk memintakan ampun ibuku”, yaitu berdasarkan kenyataan bahwa Aminah bukanlah seorang wanita mukminah”. (Al-Maudlu’aat juz 1 hal. 284).

3- Imam Abu Hanifah rahimahullah berkata :

وَوَالِدَا رَسُولِ اللهِ مَاتَ عَلَى الكفر

”Dan kedua orang tua Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam mati dalam keadaan kafir”. (Al-Adillatul-Mu’taqad Abi Haniifah hal. 1) – [download dari http://www.alsoufia.com].

4- Imam Ath Thabari rahimahullah berkata dalam tafsirnya ketika menjelaskan QS. Al-Baqarah, 119 :

فَإِنَّ فِي اِسْتِحَالَةِ الشَّكِّ مِنْ الرَّسُولِ عَلَيْهِ السَلَامُ فِي أَنْ أَهَّلَ الشَّرَكَ مِنْ أَهْلِ الجَحِيمِ، وَأَنَّ أَبَوَيْهُ كَانَا مِنْهُمْ

”Semua ini berdasar atas keyakinan dari Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam bahwa orang-orang musyrik itu akan masuk neraka jahim dan kedua orang tua Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam termasuk bagian dari mereka”.

5- Al ’Allamah ’Ali bin Muhammad Sulthan Al-Qaari menyebutkan adanya ijma’ tentang kafirnya kedua orang tua Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam dengan perkata’annya :

وَأَمَّا الإِجْمَاعُ فَقَدْ أُتُّفِقَ السِّلْفُ وَالخَلْفُ مِنْ الصحابة وَالتَّابِعِينَ وَالأَئِمَّةِ الأَرْبَعَةِ وَسَائِرٌ المُجْتَهِدِينَ عَلَى ذَلِكَ مِنْ غَيْرِ إِظْهَارِ خِلَافٍ لَمَّا سَوْفَ نَأْلُكَ وَالخِلَافُ مِنْ اللَّاحِقِ لَا يَقْدَحُ فِي الإِجْمَاعِ السَّابِقِ سَوَاءٍ يَكُونُ مِنْ جِنْسِ المُخَالِفِ أَوْ صَنَّفَ الموافق

”Adapun ijma’, maka sungguh ulama salaf dan khalaf dari kalangan shahabat, tabi’in, imam empat, serta seluruh mujtahidin telah bersepakat tentang hal tersebut (kafirnya kedua orang tua Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam) tanpa adanya khilaf. Jika memang terdapat khilaf setelah adanya ijma’, maka tidak mengurangi nilai ijma’ yang telah terjadi sebelumnya. Sama saja apakah hal itu terjadi pada orang-orang menyelisihi ijma’ (dimasa setelahnya) atau dari orang-orang yang telah bersepakat (yang kemudian ia berubah pendapat menyelisihi ijma’)”. (Adilltaul-Mu’taqad Abi Haniifah hal. 7). – [download dari http://www.alsoufia.com].

6- Al ’Allamah Syamsul Haq ’Adhim ’Abadi berkata, Sabda Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam :

فَلَمْ يَأْذَنْ لِي: لِأَنَهَا كَافِرَةٌ وَالاِسْتِغْفَارُ لِلكَافِرِينَ لَا يَجُوزُ

”Dan Ia (Allah) tidak mengijinkanku” adalah disebabkan Aminah adalah seorang yang kafir, sedangkan memintakan ampun terhadap orang yang kafir adalah tidak diperbolehkan”. (’Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abi Dawud, Kitaabul Janaaiz, Baab Fii Ziyaaratil Qubuur).

• Kekafiran kedua orang tua Rasulullah menurut para Imam Ahli Hadits

Beberapa imam ahli hadits memasukkan hadits-hadits tentang kafirnya kedua orang tua Nabi dalam Bab-bab yang tegas menunjukkan fiqh (pemahaman) dan i’tiqad mereka tentang kekafiran kedua orang tua Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam.

– Imam Muslim memasukkannya dalam Bab,

[بَيَانٌ أَنْ مَنْ مَاتَ عَلَى الكُفْرِ فَهُوَ فِي النَّارِ وَلَا تَنَالُهُ شفاعة وَلَا تَنْفَعُهُ قَرَابَةٌ المُقَرَّبِينَ]

“Penjelasan bahwasannya siapa saja meninggal dalam kekafiran maka ia berada di neraka dan ia akan memperoleh syafa’at dan tidak bermanfaat baginya hubungan kekerabatan”.

– Imam Ibnu Majah memasukkannya dalam Bab,

[مَا جَاءَ فِي زِيَارَةِ قُبُورٍ المشركين]

”Apa-Apa yang datang mengenai ziarah ke kubur orang-orang musyrik”. – Imam An-Nasa’i memasukkannya dalam Bab, [زِيَارَةٌ قَبَرَ المشرك] ”Ziyarah ke Kubur Orang-Orang Musyrik”.

_________________

Advertisements