Category Archives: – Benarkah orang tua Nabi hidup di masa fatrah

BENARKAH KEDUA ORANG TUA NABI HIDUP DI MASA FATRAH ?

BENARKAH KEDUA ORANG TUA NABI HIDUP DI MASA FATRAH ?

Ada sebagian pihak yang menyebutkan bahwa ke dua orang tua Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hidup dan mati di masa fatrah, sehingga mereka menolak keterangan dari Al-Qur’an dan hadits Nabi, dan juga perkata’an para Ulama yang menyebutkan bahwa ke dua orang tua Rasulullah mati dalam kekafiran.

• Pengertian fatrah

Fatrah menurut bahasa, kelemahan dan penurunan (Lisaanul-’Arab oleh Ibnul-Mandhur 5/43).

Adapun pengertian fatrah secara istilah (terminologi), bermakna tenggang waktu antara dua orang Rasul, dimana ia tidak mendapati Rasul pertama dan tidak pula menjumpai Rasul kedua” (Jam’ul-Jawaami’ 1/63).

Hal ini seperti selang waktu antara Nabi Nuh dan Idris ’alaihimas salam serta seperti selang waktu antara Nabi ’Isa ’alaihis salaam dan Nabi Muhammad shallallaahu ’alaihi wasallam.

Definisi ini dikuatkan oleh firman Allah ta’ala :

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ قَدْ جَاءَكُمْ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ عَلَى فَتْرَةٍ مِنَ الرُّسُلِ أَنْ تَقُولُوا مَا جَاءَنَا مِنْ بَشِيرٍ وَلا نَذِيرٍ

Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepada kamu Rasul Kami, menjelaskan (syariat Kami) kepadamu ketika terputus (pengiriman) rasul-rasul, agar kamu tidak mengatakan, “Tidak datang kepada kami baik seorang pembawa berita gembira maupun seorang pemberi peringatan”. (QS. Al-Maaidah : 19).

• Pembagian ahli fatrah

Ahli fatrah terbagi menjadi dua macam :

1. Yang telah sampai kepadanya ajaran Nabi.

2. Yang tidak atau belum sampai kepadanya ajaran / dakwah Nabi.

Golongan pertama (yang telah sampai kepadanya ajaran Nabi) dibagi menjadi dua, yaitu :

(1) Yang sudah sampai kepadanya dakwah Nabi, dan dia bertauhid serta tidak berbuat syirik. Maka mereka dihukumi seperti ahlul-islam / ahlul-iman. Seperti : Waraqah bin Naufal, Qus bin Saa’idah, Zaid bin ’Amr bin Naufal, dan yang lainnya.

(2) Yang sudah sampai kepadanya dakwah Nabi, namun ia merubah ajaran dan berbuat syirik. Golongan ini tidaklah disebut sebagai ahlul-islam / ahlul iman. Tidak ada perselisihan di antara ulama bahwa mereka merupakan ahli neraka. Contohnya seperti : ’Amr bin Luhay, Abdullah bin Ja’dan, shahiibul-mihjan, kedua orang tua Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam, dan yang lainnya.

2. Yang tidak atau belum sampai kepadanya ajaran / dakwah Nabi.

Kepada golongan ke yang dua ini, maka mereka akan diuji oleh Allah kelak di hari kiamat.

Nabi shallallahu ’alaihi Wasallam bersabda :

يَكُونُ يَوْمُ القِيَامَةِ رَجُلٌ أَصَمُّ لَا يَسْمَعُ شَيْئًا، وَرَجُلٌ أَحْمَقُ، وَرَجُلٌ هَرِمٌ وَرَجُلٌ مَاتَ فِي فَتْرَةٍ فَأُمًّا الأَصَمُّ فَيَقُولُ: رُبَّ لَقَدْ جَاءَ الإِسْلَامَ وَمَا أَسْمَعَ شَيْئًا، وَأُمًّا الأَحْمَقُ فَيَقُولُ: رُبَّ لَقَدْ جَاءَ الإِسْلَامَ وَالصِّبْيَانُ يَحْذِفُونَنِي بِالبَعْرِ، وَأُمًّا الهَرَمِ فَيَقُولُ: رُبَّ لَقَدْ جَاءَ الإِسْلَامَ وَمَا أَعْقِلُ شَيْئًا، وَأُمًّا الَّذِي مَاتَ فِي الفَتْرَةِ فَيَقُولُ: رُبَّ مَا أُتَأَنَّى لَكَ رَسُولٌ، فَيَأْخُذُ مَوَاثِيقَهُمْ لَيُطِيعَنَّهُ، فَيُرْسِلُ إِلَيْهُمْ أَنْ أَدْخَلُوا النَّارَ، قَالَ: فوالذي نَفْسُ مُحَمَّدٌ بِيَدِهِ لَوْ دَخَلُوهَا لَكَانَتْ عَلَيْهُمْ بُرُدًا وَسَلَامًا

“Di hari kiamat ada seorang yang tuli, tidak mendengar apa-apa, ada orang yang idiot, ada orang yang pikun, ada yang mati pada masa fatrah. Orang yang tuli berkata: ‘Ya Rabb, ketika Islam datang saat itu aku tuli, tidak mendengar Islam sama sekali’. Orang yang idiot berkata: ‘Ya Rabb, ketika Islam datang, saat itu anak-anak nakal sedang memasung aku di dalam sumur’. Orang yang pikun berkata: ‘Ya Rabb, ketika Islam datang aku sedang hilang akal’. Orang yang mati pada masa fatrah berkata: ‘Ya Rabb, tidak ada utusan yang datang untuk mengajakku kepada Islam’. Lalu diuji kecenderungan hati mereka pada ketaatan. Diutus utusan untuk memerintahkan mereka masuk ke neraka. Nabi bersabda: ‘Demi Allah, jika mereka masuk ke dalamnya, mereka akan merasakan dingin dan mereka mendapat keselamatan‘” (HR. Ahmad no. 16344, Thabrani 2/79. Di-shahih-kan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah no. 1434)

Terdapat juga hadits semisal yang diriwayatkan dari Abu Hurairah, namun lafadz akhirnya berbunyi :

فَمِنْ دَخْلِهَا كَانَتْ عَلَيْهِ بُرُدًا وَسَلَامًا، وَمِنْ لَمٌّ يَدْخُلُهَا سَحْبٌ إِلَيْهَا

“Diantara mereka yang patuh memasuki neraka akan merasakan dingin dan akhirnya selamat. Sedangkan yang enggan memasukinya justru akan diseret ke dalamnya”. (HR. Ahmad no. 16345).

ORANG TUA NABI MEMANG TERMASUK AHLI FATRAH, NAMUN SUDAH SAMPAI KEPADA MEREKA DAKWAH NABI IBRAHIM

Kedua orang tua Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam memang termasuk ahli fatrah, namun telah sampai kepada mereka dakwah Nabi Ibrahim ’alaihis-salaam. Maka, mereka tidaklah dima’afkan akan kekafirannya.

Berikut keterangan Imam Nawawi yang menerangkan keada’an orang-orang jahiliyah sebelum di utusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

Imam An Nawawi rahimahullah berkata, Di dalam hadits tersebut (yaitu hadits : ”Sesungguhnya ayahku dan ayahmu di neraka”), terdapat pengertian bahwa orang yang meninggal dunia dalam keada’an kafir, maka dia akan masuk neraka. Dan kedekatannya dengan orang-orang yang mendekatkan diri (dengan Allah) tidak memberikan manfa’at kepadanya. Selain itu, haditst tersebut juga mengandung makna, BAHWA ORANG YANG MENINGGAL DUNIA PADA MASA DIMANA BANGSA ARAB TENGGELAM DALAM BERHALA, MAKA DIAPUN MASUK PENGHUNI NERAKA. Hal itu bukan termasuk pemberian siksa’an terhadapnya sebelum penyampaian dakwah, KARENA KEPADA MEREKA TELAH DI SAMPAIKAN DAKWAH IBRAHIM dan juga para Nabi yang lain shalawaatullaah wa salaamuhu ‘alaihim”. (Syarah Shahih Muslim oleh An-Nawawi juz 3 hal. 79 melalui perantara Naqdu Masaalikis-Suyuthi fii Waalidayil-Musthafaa oleh Dr. Ahmad bin Shalih Az-Zahrani hal. 26, Cet. 1425 H).

Berikut hadits yang dimaksud Imam Nawawi selengkapnya,

عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَجُلًا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيْنَ أَبِي قَالَ فِي النَّارِ فَلَمَّا قَفَّى دَعَاهُ فَقَالَ إِنَّ أَبِي وَأَبَاكَ فِي النَّارِ

Dari Anas radliyallaahu ‘anhu, Bahwasannya ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, “Wahai Rasulullah, dimanakah tempat ayahku (yang telah meninggal) sekarang berada ?”. Beliau menjawab : “Di neraka”. Ketika orang tersebut berlalu, maka beliau memanggilnya lalu berkata : “Sesungguhnya ayahku dan ayahmu di neraka”. (HR. Muslim no. 203, Abu Dawud no. 4718, Ahmad no. 13861, Ibnu Hibban no. 578, Al-Baihaqi dalam Al-Kubraa no. 13856, Abu ‘Awanah no. 289, dan Abu Ya’la no. 3516).

Keterangan Imam Nawawi di atas menyebutkan, bahwa ORANG YANG MENINGGAL DUNIA PADA MASA DIMANA BANGSA ARAB TENGGELAM DALAM BERHALA, MAKA DIAPUN MASUK PENGHUNI NERAKA. KARENA KEPADA MEREKA TELAH DI SAMPAIKAN DAKWAH IBRAHIM.

• Bukti yang menunjukkan sudah sampainya dakwah para Nabi kepada musyrikin Qurais.

Bangunan ka’bah yang mereka jaga dan mereka muliakan, adalah sebagai bukti sudah sampainya kepada mereka dakwah Nabi Ibrahim ‘alaihis salam juga dakwah Nabi Isma’il ‘alaihis salam.

Semenjak dakwah Tauhid di sampaikan oleh Nabi Ibrahim mereka beribadah hanya kepada Allah Ta’ala. Namun seiring waktu berjalan kepercaya’an mereka menyimpang dan tersesat, selain mengimani adanya Allah Ta’ala, mereka pun mengagungkan (mengkeramatkan) berhala yang mereka yakini bisa menghubungkan antara mereka dengan Allah Ta’ala ketika mereka ada kebutuhan.

AWAL MULA RUSAKNYA KEPERCAYA’AN ORANG-ORANG ARAB JAHILIYAH

Berubah dan menyimpangnya kepercaya’an masyarakat Arab jahiliyah yang mulanya menganut kepercaya’an kepada Tauhid sebagai warisan dari ajaran Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, adalah semenjak kota Mekah dikuasai oleh Bani Khuza’ah.

Pada masa kota Makkah di kuasai Bani Khuza’ah, kemudian berhala yang mereka keramatkan di letakan di dalam dan sekitar Ka’bah.

Berhala tersebut di namakan “Hubal”. Menurut Ibnu Al-Kalbi, yang menyebabkan bangsa Arab akhirnya menyembah berhala dan batu, ialah setiap mereka akan pergi meninggalkan kota Makkah, selalu membawa sebuah batu yang diambilnya dari beberapa tempat di sekitar ka’bah, dengan maksud untuk menghormati Ka’bah, dan untuk memperlihatkan kecintaan mereka kepada Mekah. Kemudian batu-batu tersebut diletakan di tempat persinggahan atau tempat tinggal mereka. Mereka melakukan thawaf (mengelilingi) batu-batu itu. Layaknya orang melakukan thawaf waktu haji.

Dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu ia berkata,

قَالَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَيْتَ عَمْرٌو بِنْ عَامِرُ بِنْ لِحَيِّ الخزاعي يَجُرُّ قَصَبَهُ فِي النَّارِ وَكَانَ أَوَّلَ مَنْ سِيبَ السوائب

Telah bersabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam : “Aku melihat ‘Amru bin ‘Amir bin Luhay Al-Khuzaa’i menarik-narik ususnya di neraka. Dia adalah orang pertama yang melepaskan onta-onta (untuk dipersembahkan kepada berhala)”. (HR. Bukhari no. 3333 dan Muslim no. 2856).

Ibnu Katsir menjelaskan sebagai berikut :

عَمْرٌو هَذَا هُوَ اِبْنٌ لِحَيِّ بِنْ قمعة، أَحَدٌ رُؤَسَاءَ خزاعة الَّذِينَ وَلَّوْا البَيْتَ بَعْدَ جَرِّهِمْ وَكَانَ أَوَّلُ مِنْ غَيْرِ دِينِ إِبْرَاهِيمَ الخليل، فَأَدْخَلَ الأَصْنَامَ إِلَى الحِجَازِ، وَدَعَا الرُّعَاعُ مِنْ النَّاسِ إِلَى عِبَادَتِهَا والتقرب بِهَا، وَشَرَّعَ لَهُمْ هَذِهِ الشَّرَائِعَ الجَاهِلِيَّةُ فِي الأنعام وَغَيْرِهَا

“Amru bin ‘Amir bin Luhay Al-Khuza’i merupakan salah satu pemimpin Khuza’ah yang memegang kekuasa’an atas Ka’bah setelah Kabilah Jurhum. Ia adalah orang yang pertama kali mengubah agama Ibrahim (atas bangsa Arab). Ia memasukkan berhala-berhala ke Hijaz, lalu menyeru kepada beberapa orang jahil untuk menyembahnya dan bertaqarrub dengannya, dan ia membuat beberapa ketentuan jahiliyyah ini bagi mereka yang berkena’an dengan binatang ternak dan lain-lain . .” (lihat Tafsir Ibnu Katsir 2/148 QS. Al-Maidah ayat 103).

Selain menyembah berhala masyarakat jahiliyah juga menyembah malaikat dan jin.

Menjelang kelahiran agama Islam, ada sekelompok orang yang berusaha ingin melepaskan bangsanya dari kepercaya’an yang sesat, dan berusah mengembalikan kepercaya’an agama tahuhid (monotheisme) yang diajarkan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salam.

Mereka adalah Waraqah bin Naufal, Umayah bin Abi Shalt, Qus Saidah, Utsman bin Khuwairis, Abdullah bin Jahsy, dan Aainal bin Umar.

_____

Advertisements