Category Archives: VI. MURNIKAN TAUHID

CERAMAH PEMBAGIAN TAUHID HABIB RIZIEQ

CERAMAH PEMBAGIAN TAUHID HABIB RIZIEQ

Habib Rizieq (FPI) Ceramah Tauhid 3 (Rububiyah, Uluhiyah dan Asma’ wash Shifat)

Muslimedianews.com ~ Ceramah Habib Muhammad Rizieq bin Hussein Shihab, akrab disapa Habib Rizieq Syihab, dalam video “HABIB RIZIEQ FPI – TAUHID ISLAM & AGAMA LAEN 1” yang di upload di Youtube 14 Agustus 2008 cukup mengejutkan. Pasalnya, Habib Rizieq menjelaskan konsep Tauhid 3 : Rububiyyah, Uluhiyyah dan Asma’ wash Shifat, suatu konsep tauhid yang selama ini dikenal sebagai konsep tauhid ala Wahhabiyah.

Dalam video Youtube http://www.youtube.com/watch?v=MHxH1tCJuJ0 ini, Habib Rizieq menjelaskan tentang Tauhid yaitu Rububiyyah, Uluhiyyah, dan Asma’ wash Shifat.

Habib Rizieq juga menyatakan bahwa orang yang bertauhid Rububiyyah belum tentu bertauhid Uluhiyyah, dan lain sebagainya.

Berikut transkip ceramah Habib Rizieq :

Saya akan mencoba memaparkan syariat Islam dibagian pertama sebagai aturan aqidah, sebagai aturan yang mewajibkan setiap muslim untuk beriman dan percaya bahwa sanya Tuhan yang menciptakan alam semesta dan menjamin rizki seluruh penghuninya adalah tuhan yang Esa, Tuhan yang Satu, Tuhan yang tidak berbilang, tauhid semacam ini didalam Islam disebut Tauhidul Rububiyah, yaitu tauhid pengakuan ikrar keyakinan dan kepercayaan bahwasanya Tuhan yang menciptakan alam semesta dan seisinya menjamin rizki segenap makhluk yang ada didalamnya adalah Tuhan Yang Maha Esa.

Akan tetapi belum sempurna Iman dan Islam seorang muslim, kalau dia hanya memiliki tauhidul rububiyah saja, karena ternyata macam tauhidul rububiyah ini pun ada di agama lain, karena ternyata agama lain pun mengakui bahwa Tuhan yang menciptakan alama semesta adalah Tuhan yang Esa, yang Satu, tidak berbilang. Nah.. karena itu disamping Tauhidul Rububiyyah maka setiap muslim, didalam syariat Islam sebagai aturan aqidah, diwajibkan juga untuk mengimani percaya dan mengakui dengan sepenuhnya bahwasanya Tuhan sang Pecipta yang Maha Esa tadi, yang diakui dalam tauhidul rububiyah adalah satu-satunya Tuhan yang berhaq disembah, tidak ada Tuhan lain yang boleh disembah bersamanya, dan tidak boleh Tuhan Sang Pecipta yang Maha Esa tadi didalam penyembahan terhadapnya dipersekutukan oleh segala sesuatu apapun.

Nah… tauhid yang kedua ini, didalam Islam disebut Tauhidul Uluhiyah. Jadi ada Tauhidur Rububiyah dan ada Tauhidul Uluhiyyah.

Lalu apakah yang sedemikian rupa sudah sempurna iman islam seorang muslim karena memiliki kedua macam tauhid tadi? ternyata masih belum sempurna. Kenapa? ternyata di agama lain pun masih ada yang mengklaim kalau mereka juga memiliki Tauhidul Uluhiyyah, dimana sesungguhnya mereka menurut persepsi dalam tafsiran mereka tetap menyembah Tuhan Yang Satu.

Nah karena itu didalam ajaran Islam untuk menyempurnakan iman islam seorang muslim maka dia wajib untuk menyakini dan percaya bahwasanya Tuhan Sang Pecipta yang Esa tadi yang diyakini dalam Tauhidul Rububiyah dan Tuhan yang satu-satunya Tuhan yang berhak disembah sebagaimana diyakini dalam Tauhidul Uluhiyah tadi adalah Tuhan yang Maha Mulya, Yang Maha Suci dari segala sifa-sifat tercela, hina, yang tidak layak untuk dinisbatkan kepada Tuhan, dan dia harus menyakini bahwa Sang Pecipta yang Esa tadi sebagai satu-satunya yang berhak disembah adalah Tuhan yang memiliki nama-nama indah dan sifat-sifat yang Maha Mulya.

Karena itu, kepada segenap hadirin dan hadirat, semoga senantiasa kita semua mendapat petunjuk dari Allah SWT. Maka dengan ketiga macam tauhid yang telah kita jelaskan tadi, yang disempurnakan dengan tauhid yang ke-3 yaitu yang disebut dengan Tauhidul Asma’ wash Shifat.

Lewat tauhid ini, maka setiap muslim berkeyakinan dengan sepenuhnya keyakinan bahwasanya Tuhan Sang Pecipta Yang Esa sebagai satu-satunya Tuhan yang berhak disembah mustahil memiliki sifat-sifata tercela, hina dan rendah bagi kesucian Tuhan itu sendiri seperti sifat menyesal, bosan, letih, lapar, haus, tidur, tamak, tersiksa, mati, kalah, bersyahwat, beranak, atau menjelma menjadi manusia. Setiap muslim menyatakan bahwa sifat-sifat sedemikian rupa, mustahil dinisbatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa sebagai Sang Pecipta dan Tuhan Yang Maha Esa sebagai satu-satunya Tuhan yang berhak disembah.

_____________

Advertisements

ALLAH MEMPUNYAI WAJAH MATA DAN TANGAN MENURUT AL-IMAM ABU HASAN AL-ASY’ARY

ALLAH MEMPUNYAI WAJAH MATA DAN TANGAN MENURUT AL-IMAM ABU HASAN AL-ASY’ARY

Al-Imam Abul-Hasan Al-Asy’ariy bersaksi bahwa ciri ahlus sunnah adalah sebagai berikut: “Berkata Ahlus sunnah dan Ashhab al-Hadits: “Dia bukan jisim, tidak menyerupai apapun, Dia ada di atas Arsy seperti yang Dia kabarkan (Thaha: 5).

Kita tidak melancangi Allah dalam ucapan, tetapi kita katakan: istawa tanpa kaif. Dia adalah Nur (pemberi cahaya) sebagaimana firmann-Nya (an-Nur: 35), Dia memiliki wajah sebagaimana firman-Nya (al-Rahman: 27), Dia memiliki Yadain (dua tangan) sebagaimana firman-Nya (Shad: 75), dia memiliki dua ‘ain (mata) sebagaimana firmanNya (al-Qamar: 14), Dia akan datang pada hari kiamat Dia dan para malaikat-Nya sebagaiman firman-Nya (al-Fajr: 22), dia turun ke langit terendah sebagaimana dalam hadits.

Mereka tidak mengatakan apapun kecuali apa yang mereka dapatkan dalam al-Qur`an atau yang datang keterangannya dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.” [Al Maqalat: 136].

===============

APAKAH PEMBAGIAN TAUHID MENJADI TIGA MERUPAKAN BID’AH ?

APAKAH PEMBAGIAN TAUHID MENJADI TIGA MERUPAKAN BID’AH ?

Pembagian Tauhid menjadi tiga, yaitu :

1. Rububiyah
2. Uluhiyah
3. Asmaa dan Sifaat

– Tauhid ar-Rubuubiyah artinya : Mengesakan Allah dalam hal pencipta’an, pemilikan dan pengaturan. Yaitu meyakini bahwa Allah Maha Esa dan tidak ada dzat lain yang turut membantu Allah dalam hal penciptaan, penguasaan, dan pengaturan.

– Tauhid al-Uluhiyah : Mengesakan Allah dalam peribadatan hamba kepadaNya. Artinya Allah Maha Esa dalam penyembahan, maka tidak ada dzat lain yang boleh disembah disamping penyembahan terhadap Allah

– Tauhid al-Asmaa wa as-Sifaat : Mengesakan Allah dalam nama-nama dan sifat-sifatnya. Artinya tidak ada dzat lain yang menyamai sifat-sifat Allah yang maha sempurna.

Jika kita bertanya kepada kaum muslimin tentang tiga makna tauhid di atas, maka secara umum tidak ada yang menolak, karena Allah memang Maha Esa dalam ketiga hal di atas.

Apa yang dilakukan oleh para ulama akidah dalam soal pembagian tauhid menjadi tiga istilah, hal itu bukan akal-akalan mereka, bukan kreasi mereka, bukan ciptaan mereka. Mereka hanyalah membuat sebutan untuk suatu hakikat yang sudah ada. Logikanya, seperti seorang ilmuwan Botani yang menemukan tumbuhan. Lalu tumbuhan itu dinamai dengan nama dia. Penamaan ini bukan lantaran tumbuhan itu tadinya tidak ada, lalu menjadi ada. Tumbuhan itu sudah ada, tetapi belum ada istilahnya. Maka pembuatan istilah ini, hanya untuk memudahkan saja.

Hakikat Tauhid Rububiyyah, Tauhid Uluhiyyah, Tauhid Asma Wa Shifat, semua itu sudah ada, hanya istilahnya belum dikenal. Maka sebagian ulama perlu membuat istilah tertentu untuk menamai sesuatu yang sudah ada tersebut.

• Dalilnya surat An-Naas

Mungkin ada pertanyaan, “Apa buktinya bahwa semua itu sudah ada, hanya tinggal dicarikan namanya saja ?”

Maka jawabnya sebagai berikut :

Baca Surat An Naas !

Disana ada kata “Bi Rabbin naas”, “Malikin naas”, “Ilahin naas”.

Disini Allah menyebutkan diri-Nya dengan tiga sebutan : Ar Rabb, Al Malik, Al Ilah.

• Istilah Rububiyah, Uluhiyah dan Asmaa wa Sifaat sudah ada didalam Al-Qur’an dan hadits Nabi

Al Qur’an sendiri sudah menyebutkan adanya istilah-istilah itu.

Kalau kita ingin memahami Allah Ta’ala secara sempurna, maka kita harus memasuki ilmu tauhid melalui pintu-pintunya.

Dan pintu ilmu tauhid itu bukan hanya satu saja. Pintu-pintu itu terbuka sesuai jalan-jalan yang Allah ajarkan kepada manusia untuk mengenal-Nya.

Contohnya sangat mudah. Perhatikan doa-doa yang Allah ajarkan melalui Al Qur’an dan As Sunnah.

Ada kalanya Allah mengajarkan doa yang dimulai dengan kalimat “Rabbana” (Tuhan Kami) atau “Rabbi” (Tuhanku). Doa-doa Al Qur’an umumnya dengan istilah ini.

Kemudian ada istilah lain “Allahumma” (Ya Allah). Istilah ini sering disebut dalam doa-doa Sunnah. Kemudian ada doa yang menyebut nama-nama Allah seperti “Ya Hayyu” (wahai yang Maha Hidup), “Ya Qayyum” (wahai yang Berdiri Sendiri), “Ya Malik”, “Ya Quddus”, “Ya Dzal Jalali Wal Ikram”, dan lain-lain.

Sebagian shalihin ada yang menggunakan doa “Ya Ilahi” atau “Ya Ilahana”. Sebutan-sebutan dalam doa ini menjelaskan adanya pintu-pintu berbeda untuk sampai kepada Allah. Hal ini membuktikan bahwa Allah ingin dikenal (dimakrifati) oleh Hamba-Nya dari beberapa jalan yang Dia ajarkan.

Kalau hanya ada tauhid Rububiyyah saja, mungkin doa-doa itu seluruhnya akan dimulai dengan kata “Rabbana” atau “Rabbi”.

• Istilah Rabb dan Ilah memiliki arti yang berbeda

Dalam bahasa Arab, istilah Rabb dan Ilah itu memiliki pengertian berbeda.

RABB secara umum diartikan sebagai : Pengatur, pendidik, atau pemelihara.

Orang-orang yang memberi pengajaran ilmu sering disebut sebagai Murabbi. Sedangkan ilmu pengajarannya dikenal sebagai Tarbiyyah.

Sedangkan ILAH maknanya adalah sesembahan.

Siapapun dan apapun yang disembah, ia adalah ilah. Sebagian ulama menjelaskan, ilah adalah segala sesuatu yang mendominasi kehidupan, dicintai, menjadi tujuan penghambaan manusia.

Kalau RABB berbicara tentang posisi Allah sebagai pencipta, pemelihara, pengatur, penjaga, serta penguasa alam semesta.

Maka ILAH berbicara tentang posisi Allah sebagai pihak satu-satunya yang berhak diibadahi manusia.

Seperti tercermin dalam kalimat, “Laa ilaha illa Allah.” Dua makna, Rabb dan Ilah ini, menjelaskan posisi yang berbeda, meskipun keduanya ada pada Dzat yang sama, yaitu Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Akan semakin lengkap ketika kita juga memahami Nama-nama Allah dalam Asma’ul Husna. Siapapun yang memahami hal-hal ini, mereka tidak akan heran dengan sebutan Rububiyyah, Uluhiyyah dan Asma Wa Shifat.

• Orang musyrik percaya adanya Allah

Dalam Al Qur’an banyak dijelaskan tentang perilaku orang-orang musyrik. Mereka itu kerap kali kalau ditanya, “Siapa pencipta langit dan bumi?” Mereka menjawab, “Allah!”.

Ayat-ayat demikian disinggung dalam banyak tempat, antara lain : Surat Yunus ayat 31, Al Mu’minuun ayat 84-89, Al Ankabuut ayat 61 dan 63, Luqman ayat 25, Az Zunar ayat 38, Az Zukhruf ayat 87.

Berikut salah satu contoh ayat-ayat tersebut :

“Katakanlah, “Siapa yang memiliki bumi dengan segala isinya, jika kalian orang-orang yang berakal?” Mereka akan menjawab, “Milik Allah.” Katakanlah, “Apakah kalian tidak mengambil pelajaran?” Katakanlah, “Siapakah Rabb pemilik langit-langit yang tujuh dan Rabb penguasa Arasy yang besar?” Mereka akan menjawab, “Milik Allah.” Katakanlah, “Apakah kalian tidak merasa takut (kepada Allah)?” Katakanlah, “Siapakah yang di Tangan-Nya terdapat kekuasaan atas segala sesuatu; Dia melindungi, tetapi tidak ada yang terlindungi (dari adzab-Nya), jika kalian benar-benar mengetahui?” Mereka akan menjawab, “Milik Allah.” Katakanlah, “(Jika demikian) bagaimana kalian bisa tertipu?” (Al Mu’minuun, 84-89).

Ayat-ayat ini menjadi bukti bahwa orang-orang Arab jahiliyah di masa lalu memang mempercayai Allah. Mereka percaya Allah sebagai Rabb alam semesta. Hal ini dibuktikan dengan kebiasaan bangsa Arab jahiliyyah melaksanakan “ritual haji” di sekitar Ka’bah. Mereka meyakini bahwa Ka’bah itu adalah Baitullah (Rumah Allah). Untuk membangun Ka’bah ketika mengalami kerusakan di masa Nabi masih muda, orang Arab jahiliyyah memakai uang halal sepenuhnya, tidak dicampur uang haram. Hal ini membuktikan, bahwa mereka memuliakan Ka’bah itu. Mereka sadar, bahwa untuk urusan membangun Ka’bah tidak boleh memakai uang haram. Begitu juga saat terjadi peristiwa “pasukan gajah” di bawah pimpinan Raja Abrahah. Sebagai kuncen Ka’bah, Abdul Muthalib (kakek Rasulullah Saw) hanya ingin menyelamatkan ternaknya dari amukan pasukan gajah. Ketika ditanya, mengapa hanya ingin menyelamatkan ternak saja? Dia menjawab, Ka’bah itu sudah ada yang memiliki; maka Pemilik Ka’bah (yaitu Allah) akan melindungi situs tersebut. Jawaban Abdul Muthalib ini terbukti. Pasukan gajah Abrahah hancur oleh burung Ababil yang membawa batu-batu panas. Lihatlah dalam catatan sejarah yang terkenal itu, sosok Abdul Muthalib pun meyakini Allah sebagai Rabb (Pelindung Ka’bah).

• Pengakuan orang musyrik tentang adanya Allah bukan omong kosong

Seorang yang menamakan dirinya Syaikh Idahram mengatakan, pengakuan orang-orang musyrik itu hanya “omong kosong di mulut saja”, padahal hati mereka sejatinya kufur.

Pendapat Idahram ini sangat aneh. Bagaimana ada “ritual haji” setiap tahun di Makkah, kalau mereka tak percaya Allah ? Bagaimana mereka membangun Ka’bah yang rusak dengan uang halal, karena hati mereka tidak meyakini sama sekali Kemuliaan Allah ? Bagaimana Abdul Muthalib menyerahkan keselamatan Ka’bah kepada Allah, kalau dia tak mengimani Allah ? Bahkan, bagaimana bisa Abdul Muthalib menamakan ayah Rasulullah dengan “Abdullah” kalau dia tak percaya Allah ?

Jadi, kufurnya bangsa Quraisy di Makkah, bukan karena mereka atheis. Tetapi karena mereka MUSYRIK, yaitu membuat tandingan-tandingan dalam penghambaan mereka kepada Allah. Mereka percaya kepada Allah, tetapi juga percaya kepada ilah-ilah selain Allah.

Ketika Islam mengajarkan konsep SATU ILAH (yaitu Allah saja), mereka menolak keras keyakinan seperti itu. Mereka percaya Allah, tetapi juga percaya ilah-ilah lainnya.

Ketika Islam mengajarkan konsep SATU TUHAN, seketika orang-orang musyrik merasa heran. Mereka berkata, “Aja’alal alihah ilahan wahidan ? Inna hadza la syai’un ‘ujab” (mengapa dia jadikan tuhan-tuhan itu menjadi Tuhan yang satu saja ? Sungguh semua ini adalah perkara yang sangat mengherankan). [Shaad: 5].

Jadi kaum musyrikan Makkah disebut musyrik bukan karena tidak percaya Allah, tetapi mereka tidak mau hanya memiliki SATU TUHAN saja. Mereka ingin ada “tuhan kolektif”.

Apa yang dikatakan Syaikh Idahram hanyalah cerminan sikap menolak ayat-ayat Allah dan fakta sejarah.

Dalam Al Qur’an dijelaskan juga, orang-orang musyrik, kalau mereka tertimpa badai di tengah lautan, mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan hanya kepada-Nya.

Artinya, “Jika mereka naik perahu di lautan, mereka berdoa dengan memurnikan ketaatan kepada Allah. Namun jika Kami selamatkan mereka sampai ke darat, mereka pun melakukan perbuatan orang-orang musyrik.” (Al Ankabuut: 65).

Jadi secara fitrahnya, orang musyrikin pun mengesakan Allah. Tetapi hal itu dalam momen-momen ketika keadaan mereka genting. Jika kondisi sudah aman, mereka berbuat kemusyrikan kembali. Hal ini menjadi bukti tambahan bahwa orang musyrikin bisa membedakan antara Allah sebagai Ilah dan sebagai Rabb. Rabb adalah keyakinan umum mereka, namun Ilah adalah terkait dengan hak-hak Allah untuk diibadahi (seperti dimintai doa).

Demikianlah dapat disimpulkan bahwa konsep Tauhid Rububiyyah, Tauhid Uluhiyyah, dan Asma Wa Shifat, semua itu bukan bid’ah, bukan sesat-menyesatkan, bukan akal-akalan, tetapi ia adalah ajaran Syar’i dalam Islam. Silahkan di baca surat An-Naas.

• Dusta yang dituduhkan kepada Syaikh Ibnu Taimiyyah

Ternyata kita dapati para ulama terdahulu jauh sebelum Ibnu Taimiyyah telah membagi tauhid menjadi tiga. Hal ini jelas membantah pernyataan mereka bahwa pembagian tauhid menjadi tiga adalah kreasi Ibnu Taimiyyah rahimahullah di abad ke 8 hijriyah.

Syaikh Abdurrozzaq hafizohulloh telah menukil perkata’an para ulama salaf jauh sebelum Ibnu Taimiyyah yang membagi tauhid menjadi tiga. Diantara para ulama tersebut adalah :

(1) Al-Imam Abu Abdillah ‘Ubaidullahi bin Muhammad bin Batthoh al-‘Akburi yang wafat pada tahun 387 H, dalam kitabnya Al-Ibaanah.

(2) Al-Imam Ibnu Mandah yang wafat pada tahun 395 Hijriyah dalam kitabnya “At-Tauhid”.

(3) Al-Imam Abu Yusuf yang wafat pada tahun 182 H (silahkan merujuk kembali kitab al-qoul as-sadiid).

• Asyaa’iroh membagi tauhid menjadi tiga

Ternyata kita dapati ahlul bid’ah juga telah membagi tauhid menjadi tiga.

Kaum Asyaa’iroh juga membagi tauhid menjadi 3, mereka menyatakan bahwa wahdaniah (keesa’an) Allah mencakup tiga perkara, ungkapan mereka adalah :

إن الله واحد في ذاته لا قسيم له وواحد في صفاته لا نظير له، وواحد في أفعاله لا شريك له

“Sesungguhnya Allah (1) maha satu pada dzatnya maka tidak ada pembagian dalam dzatNya, (2) Maha esa pada sifat-sifatNya maka tidak ada yang menyerupai sifat-sifatnya, dan (3) Maha esa pada perbuatan-perbuatanNya maka tidak ada syarikat bagiNya.

Salah seorang ulama terkemukan dari Asyaa’iroh yang bernama Ibrahim Al-Laqqooni berkata :

“Keesaan (ketauhidan) Allah meliputi tiga perkara yang dinafikan :

… “Keesaan” dalam istilah kaum (Asyaa’iroh) adalah ungkapan dari tiga perkara yang dinafikan :

“(1) Dinafikannya berbilang dari Dzat Allah, artinya Dzat Allah tidak menerima pembagian….

(2) Dinafikannya sesuatu yang serupa dengan Allah, maksudnya tidak ada perbilangan dalam dzat atau salah satu sifat dari sifat-sifatNya…

(3) Dinafikannya penyamaan Allah dengan makhluk-makhluk yang baru…”

(Hidaayatul Muriid Li Jauharot At-Tauhiid, Ibraahim Al-Laqqooni. 1/336-338)

Ulama besar Asya’iroh yang lain yaitu Al-Baajuuri rahimahullah berkata :

“Kesimpulannya bawhasanya wahdaniah/keesaan/ketauhidan Allah yang mencakup (1) Keesa’an pada Dzat, (2) Keesa’an pada sifat-sifat Allah, dan (3) Keesa’an pada perbuatan-perbuatanNya…”.

(Hasyiat Al-Imam Al-Baijuuri ‘alaa Jauharot At-Tauhiid, hal 114).

• Ulah seorang jahmiyah

Pernyataan bahwasanya pembagian tauhid menjadi tiga sama dengan trinitas digembar-gemborkan oleh seorang yang bernama Hasan ‘Alawi As-Saqqoof, seorang pengikut faham Jahmiyah dalam kitabnya,

التَّنْدِيْدُ بِمَنْ عَدَّدَ التَّوْحِيْدَ، إِبْطَالُ مُحَاوَلَةِ التَّثْلِيْثِ فِي التَّوْحِيْدِ وَالْعَقِيْدَةِ الإِسْلاَمِيَّةِ

(artinya : Pengungkapan kebatilan orang yang membagi tauhid, pembatalan usaha trinitas dalam tauhid dan aqidah Islamiyah)

Beliau ini dikenal tukang dusta, terlalu banyak dusta yang ia sampaikan, bahkan berdusta dihadapan khalayak ramai (di stasiun televisi), silahkan baca (http://www.saaid.net/Doat/Zugail/303.htm), demikian juga tidak amanahnya Hasan As-Saqqoof terhadap kitab-kitab para ulama sebagaimana dibongkar oleh Muhammad Sa’id Al-Katsiiri dalam kitabnya عَبَثُ أَهْلِ الأَهْوَاءِ بِتُرَاثِ الأُمَّةِ وَوَقَيْعَتُهُمْ فِي عُلَمَائِنَا نَظْرَةٌ تَطْبِيْقِيَّةٌ فِي كُتُبِ حَسَن بْنِ عَلِي السَّقَّافِ (inti buku ini adalah menunjukkan contoh praktek-praktek nyata ketidak amanahan Hasan As-Saqqof terhadap buku-buku para ulama, dan sikapnya yang menjatuhkan para ulama : silahkan di download di http://ia700302.us.archive.org/22/items/waq85152/85152.pdf), buku ini diberi pengantar oleh Syaikh yang alim yang juga berasal dari satu suku dengan Hasan As-Saqqoof, yaitu syaikh yang bernama Abdul Qoodir ‘Alawi As-Saqqoof hafizohulloh).

Di sunting dari berbagai sumber :

http://firanda.com/index.php/artikel/aqidah/403-pembagian-tauhid-menjadi-tiga-adalah-trinitas

https://abisyakir.wordpress.com/2011/12/02/apakah-pembagian-tauhid-merupakan-bidah/

_____________