Tag Archives: akidah

ALLAH MEMPUNYAI WAJAH MATA DAN TANGAN MENURUT AL-IMAM ABU HASAN AL-ASY’ARY

ALLAH MEMPUNYAI WAJAH MATA DAN TANGAN MENURUT AL-IMAM ABU HASAN AL-ASY’ARY

Al-Imam Abul-Hasan Al-Asy’ariy bersaksi bahwa ciri ahlus sunnah adalah sebagai berikut: “Berkata Ahlus sunnah dan Ashhab al-Hadits: “Dia bukan jisim, tidak menyerupai apapun, Dia ada di atas Arsy seperti yang Dia kabarkan (Thaha: 5).

Kita tidak melancangi Allah dalam ucapan, tetapi kita katakan: istawa tanpa kaif. Dia adalah Nur (pemberi cahaya) sebagaimana firmann-Nya (an-Nur: 35), Dia memiliki wajah sebagaimana firman-Nya (al-Rahman: 27), Dia memiliki Yadain (dua tangan) sebagaimana firman-Nya (Shad: 75), dia memiliki dua ‘ain (mata) sebagaimana firmanNya (al-Qamar: 14), Dia akan datang pada hari kiamat Dia dan para malaikat-Nya sebagaiman firman-Nya (al-Fajr: 22), dia turun ke langit terendah sebagaimana dalam hadits.

Mereka tidak mengatakan apapun kecuali apa yang mereka dapatkan dalam al-Qur`an atau yang datang keterangannya dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.” [Al Maqalat: 136].

===============

Advertisements

APAKAH PEMBAGIAN TAUHID MENJADI TIGA MERUPAKAN BID’AH ?

APAKAH PEMBAGIAN TAUHID MENJADI TIGA MERUPAKAN BID’AH ?

Pembagian Tauhid menjadi tiga, yaitu :

1. Rububiyah
2. Uluhiyah
3. Asmaa dan Sifaat

– Tauhid ar-Rubuubiyah artinya : Mengesakan Allah dalam hal pencipta’an, pemilikan dan pengaturan. Yaitu meyakini bahwa Allah Maha Esa dan tidak ada dzat lain yang turut membantu Allah dalam hal penciptaan, penguasaan, dan pengaturan.

– Tauhid al-Uluhiyah : Mengesakan Allah dalam peribadatan hamba kepadaNya. Artinya Allah Maha Esa dalam penyembahan, maka tidak ada dzat lain yang boleh disembah disamping penyembahan terhadap Allah

– Tauhid al-Asmaa wa as-Sifaat : Mengesakan Allah dalam nama-nama dan sifat-sifatnya. Artinya tidak ada dzat lain yang menyamai sifat-sifat Allah yang maha sempurna.

Jika kita bertanya kepada kaum muslimin tentang tiga makna tauhid di atas, maka secara umum tidak ada yang menolak, karena Allah memang Maha Esa dalam ketiga hal di atas.

Apa yang dilakukan oleh para ulama akidah dalam soal pembagian tauhid menjadi tiga istilah, hal itu bukan akal-akalan mereka, bukan kreasi mereka, bukan ciptaan mereka. Mereka hanyalah membuat sebutan untuk suatu hakikat yang sudah ada. Logikanya, seperti seorang ilmuwan Botani yang menemukan tumbuhan. Lalu tumbuhan itu dinamai dengan nama dia. Penamaan ini bukan lantaran tumbuhan itu tadinya tidak ada, lalu menjadi ada. Tumbuhan itu sudah ada, tetapi belum ada istilahnya. Maka pembuatan istilah ini, hanya untuk memudahkan saja.

Hakikat Tauhid Rububiyyah, Tauhid Uluhiyyah, Tauhid Asma Wa Shifat, semua itu sudah ada, hanya istilahnya belum dikenal. Maka sebagian ulama perlu membuat istilah tertentu untuk menamai sesuatu yang sudah ada tersebut.

• Dalilnya surat An-Naas

Mungkin ada pertanyaan, “Apa buktinya bahwa semua itu sudah ada, hanya tinggal dicarikan namanya saja ?”

Maka jawabnya sebagai berikut :

Baca Surat An Naas !

Disana ada kata “Bi Rabbin naas”, “Malikin naas”, “Ilahin naas”.

Disini Allah menyebutkan diri-Nya dengan tiga sebutan : Ar Rabb, Al Malik, Al Ilah.

• Istilah Rububiyah, Uluhiyah dan Asmaa wa Sifaat sudah ada didalam Al-Qur’an dan hadits Nabi

Al Qur’an sendiri sudah menyebutkan adanya istilah-istilah itu.

Kalau kita ingin memahami Allah Ta’ala secara sempurna, maka kita harus memasuki ilmu tauhid melalui pintu-pintunya.

Dan pintu ilmu tauhid itu bukan hanya satu saja. Pintu-pintu itu terbuka sesuai jalan-jalan yang Allah ajarkan kepada manusia untuk mengenal-Nya.

Contohnya sangat mudah. Perhatikan doa-doa yang Allah ajarkan melalui Al Qur’an dan As Sunnah.

Ada kalanya Allah mengajarkan doa yang dimulai dengan kalimat “Rabbana” (Tuhan Kami) atau “Rabbi” (Tuhanku). Doa-doa Al Qur’an umumnya dengan istilah ini.

Kemudian ada istilah lain “Allahumma” (Ya Allah). Istilah ini sering disebut dalam doa-doa Sunnah. Kemudian ada doa yang menyebut nama-nama Allah seperti “Ya Hayyu” (wahai yang Maha Hidup), “Ya Qayyum” (wahai yang Berdiri Sendiri), “Ya Malik”, “Ya Quddus”, “Ya Dzal Jalali Wal Ikram”, dan lain-lain.

Sebagian shalihin ada yang menggunakan doa “Ya Ilahi” atau “Ya Ilahana”. Sebutan-sebutan dalam doa ini menjelaskan adanya pintu-pintu berbeda untuk sampai kepada Allah. Hal ini membuktikan bahwa Allah ingin dikenal (dimakrifati) oleh Hamba-Nya dari beberapa jalan yang Dia ajarkan.

Kalau hanya ada tauhid Rububiyyah saja, mungkin doa-doa itu seluruhnya akan dimulai dengan kata “Rabbana” atau “Rabbi”.

• Istilah Rabb dan Ilah memiliki arti yang berbeda

Dalam bahasa Arab, istilah Rabb dan Ilah itu memiliki pengertian berbeda.

RABB secara umum diartikan sebagai : Pengatur, pendidik, atau pemelihara.

Orang-orang yang memberi pengajaran ilmu sering disebut sebagai Murabbi. Sedangkan ilmu pengajarannya dikenal sebagai Tarbiyyah.

Sedangkan ILAH maknanya adalah sesembahan.

Siapapun dan apapun yang disembah, ia adalah ilah. Sebagian ulama menjelaskan, ilah adalah segala sesuatu yang mendominasi kehidupan, dicintai, menjadi tujuan penghambaan manusia.

Kalau RABB berbicara tentang posisi Allah sebagai pencipta, pemelihara, pengatur, penjaga, serta penguasa alam semesta.

Maka ILAH berbicara tentang posisi Allah sebagai pihak satu-satunya yang berhak diibadahi manusia.

Seperti tercermin dalam kalimat, “Laa ilaha illa Allah.” Dua makna, Rabb dan Ilah ini, menjelaskan posisi yang berbeda, meskipun keduanya ada pada Dzat yang sama, yaitu Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Akan semakin lengkap ketika kita juga memahami Nama-nama Allah dalam Asma’ul Husna. Siapapun yang memahami hal-hal ini, mereka tidak akan heran dengan sebutan Rububiyyah, Uluhiyyah dan Asma Wa Shifat.

• Orang musyrik percaya adanya Allah

Dalam Al Qur’an banyak dijelaskan tentang perilaku orang-orang musyrik. Mereka itu kerap kali kalau ditanya, “Siapa pencipta langit dan bumi?” Mereka menjawab, “Allah!”.

Ayat-ayat demikian disinggung dalam banyak tempat, antara lain : Surat Yunus ayat 31, Al Mu’minuun ayat 84-89, Al Ankabuut ayat 61 dan 63, Luqman ayat 25, Az Zunar ayat 38, Az Zukhruf ayat 87.

Berikut salah satu contoh ayat-ayat tersebut :

“Katakanlah, “Siapa yang memiliki bumi dengan segala isinya, jika kalian orang-orang yang berakal?” Mereka akan menjawab, “Milik Allah.” Katakanlah, “Apakah kalian tidak mengambil pelajaran?” Katakanlah, “Siapakah Rabb pemilik langit-langit yang tujuh dan Rabb penguasa Arasy yang besar?” Mereka akan menjawab, “Milik Allah.” Katakanlah, “Apakah kalian tidak merasa takut (kepada Allah)?” Katakanlah, “Siapakah yang di Tangan-Nya terdapat kekuasaan atas segala sesuatu; Dia melindungi, tetapi tidak ada yang terlindungi (dari adzab-Nya), jika kalian benar-benar mengetahui?” Mereka akan menjawab, “Milik Allah.” Katakanlah, “(Jika demikian) bagaimana kalian bisa tertipu?” (Al Mu’minuun, 84-89).

Ayat-ayat ini menjadi bukti bahwa orang-orang Arab jahiliyah di masa lalu memang mempercayai Allah. Mereka percaya Allah sebagai Rabb alam semesta. Hal ini dibuktikan dengan kebiasaan bangsa Arab jahiliyyah melaksanakan “ritual haji” di sekitar Ka’bah. Mereka meyakini bahwa Ka’bah itu adalah Baitullah (Rumah Allah). Untuk membangun Ka’bah ketika mengalami kerusakan di masa Nabi masih muda, orang Arab jahiliyyah memakai uang halal sepenuhnya, tidak dicampur uang haram. Hal ini membuktikan, bahwa mereka memuliakan Ka’bah itu. Mereka sadar, bahwa untuk urusan membangun Ka’bah tidak boleh memakai uang haram. Begitu juga saat terjadi peristiwa “pasukan gajah” di bawah pimpinan Raja Abrahah. Sebagai kuncen Ka’bah, Abdul Muthalib (kakek Rasulullah Saw) hanya ingin menyelamatkan ternaknya dari amukan pasukan gajah. Ketika ditanya, mengapa hanya ingin menyelamatkan ternak saja? Dia menjawab, Ka’bah itu sudah ada yang memiliki; maka Pemilik Ka’bah (yaitu Allah) akan melindungi situs tersebut. Jawaban Abdul Muthalib ini terbukti. Pasukan gajah Abrahah hancur oleh burung Ababil yang membawa batu-batu panas. Lihatlah dalam catatan sejarah yang terkenal itu, sosok Abdul Muthalib pun meyakini Allah sebagai Rabb (Pelindung Ka’bah).

• Pengakuan orang musyrik tentang adanya Allah bukan omong kosong

Seorang yang menamakan dirinya Syaikh Idahram mengatakan, pengakuan orang-orang musyrik itu hanya “omong kosong di mulut saja”, padahal hati mereka sejatinya kufur.

Pendapat Idahram ini sangat aneh. Bagaimana ada “ritual haji” setiap tahun di Makkah, kalau mereka tak percaya Allah ? Bagaimana mereka membangun Ka’bah yang rusak dengan uang halal, karena hati mereka tidak meyakini sama sekali Kemuliaan Allah ? Bagaimana Abdul Muthalib menyerahkan keselamatan Ka’bah kepada Allah, kalau dia tak mengimani Allah ? Bahkan, bagaimana bisa Abdul Muthalib menamakan ayah Rasulullah dengan “Abdullah” kalau dia tak percaya Allah ?

Jadi, kufurnya bangsa Quraisy di Makkah, bukan karena mereka atheis. Tetapi karena mereka MUSYRIK, yaitu membuat tandingan-tandingan dalam penghambaan mereka kepada Allah. Mereka percaya kepada Allah, tetapi juga percaya kepada ilah-ilah selain Allah.

Ketika Islam mengajarkan konsep SATU ILAH (yaitu Allah saja), mereka menolak keras keyakinan seperti itu. Mereka percaya Allah, tetapi juga percaya ilah-ilah lainnya.

Ketika Islam mengajarkan konsep SATU TUHAN, seketika orang-orang musyrik merasa heran. Mereka berkata, “Aja’alal alihah ilahan wahidan ? Inna hadza la syai’un ‘ujab” (mengapa dia jadikan tuhan-tuhan itu menjadi Tuhan yang satu saja ? Sungguh semua ini adalah perkara yang sangat mengherankan). [Shaad: 5].

Jadi kaum musyrikan Makkah disebut musyrik bukan karena tidak percaya Allah, tetapi mereka tidak mau hanya memiliki SATU TUHAN saja. Mereka ingin ada “tuhan kolektif”.

Apa yang dikatakan Syaikh Idahram hanyalah cerminan sikap menolak ayat-ayat Allah dan fakta sejarah.

Dalam Al Qur’an dijelaskan juga, orang-orang musyrik, kalau mereka tertimpa badai di tengah lautan, mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan hanya kepada-Nya.

Artinya, “Jika mereka naik perahu di lautan, mereka berdoa dengan memurnikan ketaatan kepada Allah. Namun jika Kami selamatkan mereka sampai ke darat, mereka pun melakukan perbuatan orang-orang musyrik.” (Al Ankabuut: 65).

Jadi secara fitrahnya, orang musyrikin pun mengesakan Allah. Tetapi hal itu dalam momen-momen ketika keadaan mereka genting. Jika kondisi sudah aman, mereka berbuat kemusyrikan kembali. Hal ini menjadi bukti tambahan bahwa orang musyrikin bisa membedakan antara Allah sebagai Ilah dan sebagai Rabb. Rabb adalah keyakinan umum mereka, namun Ilah adalah terkait dengan hak-hak Allah untuk diibadahi (seperti dimintai doa).

Demikianlah dapat disimpulkan bahwa konsep Tauhid Rububiyyah, Tauhid Uluhiyyah, dan Asma Wa Shifat, semua itu bukan bid’ah, bukan sesat-menyesatkan, bukan akal-akalan, tetapi ia adalah ajaran Syar’i dalam Islam. Silahkan di baca surat An-Naas.

• Dusta yang dituduhkan kepada Syaikh Ibnu Taimiyyah

Ternyata kita dapati para ulama terdahulu jauh sebelum Ibnu Taimiyyah telah membagi tauhid menjadi tiga. Hal ini jelas membantah pernyataan mereka bahwa pembagian tauhid menjadi tiga adalah kreasi Ibnu Taimiyyah rahimahullah di abad ke 8 hijriyah.

Syaikh Abdurrozzaq hafizohulloh telah menukil perkata’an para ulama salaf jauh sebelum Ibnu Taimiyyah yang membagi tauhid menjadi tiga. Diantara para ulama tersebut adalah :

(1) Al-Imam Abu Abdillah ‘Ubaidullahi bin Muhammad bin Batthoh al-‘Akburi yang wafat pada tahun 387 H, dalam kitabnya Al-Ibaanah.

(2) Al-Imam Ibnu Mandah yang wafat pada tahun 395 Hijriyah dalam kitabnya “At-Tauhid”.

(3) Al-Imam Abu Yusuf yang wafat pada tahun 182 H (silahkan merujuk kembali kitab al-qoul as-sadiid).

• Asyaa’iroh membagi tauhid menjadi tiga

Ternyata kita dapati ahlul bid’ah juga telah membagi tauhid menjadi tiga.

Kaum Asyaa’iroh juga membagi tauhid menjadi 3, mereka menyatakan bahwa wahdaniah (keesa’an) Allah mencakup tiga perkara, ungkapan mereka adalah :

إن الله واحد في ذاته لا قسيم له وواحد في صفاته لا نظير له، وواحد في أفعاله لا شريك له

“Sesungguhnya Allah (1) maha satu pada dzatnya maka tidak ada pembagian dalam dzatNya, (2) Maha esa pada sifat-sifatNya maka tidak ada yang menyerupai sifat-sifatnya, dan (3) Maha esa pada perbuatan-perbuatanNya maka tidak ada syarikat bagiNya.

Salah seorang ulama terkemukan dari Asyaa’iroh yang bernama Ibrahim Al-Laqqooni berkata :

“Keesaan (ketauhidan) Allah meliputi tiga perkara yang dinafikan :

… “Keesaan” dalam istilah kaum (Asyaa’iroh) adalah ungkapan dari tiga perkara yang dinafikan :

“(1) Dinafikannya berbilang dari Dzat Allah, artinya Dzat Allah tidak menerima pembagian….

(2) Dinafikannya sesuatu yang serupa dengan Allah, maksudnya tidak ada perbilangan dalam dzat atau salah satu sifat dari sifat-sifatNya…

(3) Dinafikannya penyamaan Allah dengan makhluk-makhluk yang baru…”

(Hidaayatul Muriid Li Jauharot At-Tauhiid, Ibraahim Al-Laqqooni. 1/336-338)

Ulama besar Asya’iroh yang lain yaitu Al-Baajuuri rahimahullah berkata :

“Kesimpulannya bawhasanya wahdaniah/keesaan/ketauhidan Allah yang mencakup (1) Keesa’an pada Dzat, (2) Keesa’an pada sifat-sifat Allah, dan (3) Keesa’an pada perbuatan-perbuatanNya…”.

(Hasyiat Al-Imam Al-Baijuuri ‘alaa Jauharot At-Tauhiid, hal 114).

• Ulah seorang jahmiyah

Pernyataan bahwasanya pembagian tauhid menjadi tiga sama dengan trinitas digembar-gemborkan oleh seorang yang bernama Hasan ‘Alawi As-Saqqoof, seorang pengikut faham Jahmiyah dalam kitabnya,

التَّنْدِيْدُ بِمَنْ عَدَّدَ التَّوْحِيْدَ، إِبْطَالُ مُحَاوَلَةِ التَّثْلِيْثِ فِي التَّوْحِيْدِ وَالْعَقِيْدَةِ الإِسْلاَمِيَّةِ

(artinya : Pengungkapan kebatilan orang yang membagi tauhid, pembatalan usaha trinitas dalam tauhid dan aqidah Islamiyah)

Beliau ini dikenal tukang dusta, terlalu banyak dusta yang ia sampaikan, bahkan berdusta dihadapan khalayak ramai (di stasiun televisi), silahkan baca (http://www.saaid.net/Doat/Zugail/303.htm), demikian juga tidak amanahnya Hasan As-Saqqoof terhadap kitab-kitab para ulama sebagaimana dibongkar oleh Muhammad Sa’id Al-Katsiiri dalam kitabnya عَبَثُ أَهْلِ الأَهْوَاءِ بِتُرَاثِ الأُمَّةِ وَوَقَيْعَتُهُمْ فِي عُلَمَائِنَا نَظْرَةٌ تَطْبِيْقِيَّةٌ فِي كُتُبِ حَسَن بْنِ عَلِي السَّقَّافِ (inti buku ini adalah menunjukkan contoh praktek-praktek nyata ketidak amanahan Hasan As-Saqqof terhadap buku-buku para ulama, dan sikapnya yang menjatuhkan para ulama : silahkan di download di http://ia700302.us.archive.org/22/items/waq85152/85152.pdf), buku ini diberi pengantar oleh Syaikh yang alim yang juga berasal dari satu suku dengan Hasan As-Saqqoof, yaitu syaikh yang bernama Abdul Qoodir ‘Alawi As-Saqqoof hafizohulloh).

Di sunting dari berbagai sumber :

http://firanda.com/index.php/artikel/aqidah/403-pembagian-tauhid-menjadi-tiga-adalah-trinitas

https://abisyakir.wordpress.com/2011/12/02/apakah-pembagian-tauhid-merupakan-bidah/

_____________

JANGAN DISAMAKAN ANTARA TEMPAT DAN ARAH

JANGAN DISAMAKAN ANTARA TEMPAT DAN ARAH

Adapun penjelasan maksud dari aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah bahwasanya Allah berada di atas, maka melalui point-point berikut ini :

Ketinggian itu ada dua :

1. Ketinggian relatif
2. Ketinggian mutlaq

– Ketinggan relatif, maka sebagaimana bila kita katakan bahwasanya lantai empat lebih tinggi daripada lantai satu, akan tetapi hal ini relatif, karena ternyata lantai empat lebih rendah daripada lantai enam.

– Ketinggian mutlak adalah ketinggian kearah atas.

Semua manusia di atas muka bumi ini bersepakat bahwasanya semakin sesuatu ke arah atas maka semakin tinggilah sesuatu tersebut. Maka jadilah poros bumi sebagai titik nol pusat kerendahan, dan semakin ke arah atas (yaitu ke arah langit) maka berarti semakin kearah yang tinggi.

Oleh karenanya sering juga kita mendengar perkataan para fisikawan “Tinggi gunung ini dari permuka’an tanah…. atau dari permukaan air laut..”.

Oleh karenanya kita harus paham bahwasanya langit senantiasa letaknya di atas. Taruhlah jika kita sedang berada di bagian bumi bagian selatan, maka langit pada bagian bumi selatan adalah di atas kita, demikian juga langit pada bagian bumi utara juga berada di atas kita, demikian juga langit pada bagian bumi barat dan langit pada bagian bumi timur.

Apa yang ada dalam alam wujud ini hanyalah ada dua :

1. Allah (kholiq/pencipta)
2. Alam semesta (makhluk/cipta’an Allah).

Bagian alam yang paling tinggi adalah langit yang ke tujuh, dan Allah berada di atas langit yang ketujuh, yaitu Allah berada di luar alam.

Jangan di bayangkan bahwa setelah langit yang ke tujuh ada ruang hampa tempat Allah berada, karena ruang hampa juga merupakan alam. Intinya kalau dianggap ada yang lebih tinggi dari langit ketujuh dan merupakan penghujung alam semesta dan yang tertinggi maka Allah berada di balik (di luar) hal itu, dan lebih tinggi dari hal itu. Sehingga tidak ada suatu tempat (yang tempat merupakan makhluk Allah) yang meliputi Allah, karena Allah di luar alam semesta.

Dari penjelasan di atas, maka jika Ahlus Sunnah mengatakan bahwa Allah di jihah (di arah) atas maka bukanlah maksudnya Allah berada di suatu tempat yang merupakan makhluk. Akan tetepi Allah berada di luar alam, dan berada di arah atas alam. Dan jihah tersebut bukanlah jihah yang berwujud akan tetapi jihah yang tidak berwujud karena di luar alam. (lihat penjelasan Ibnu Rusyd Al-Hafiid dalam kitabnya Al-Kasyf ‘an Manhaj Al-Adillah hal 145-147).

____________

DIMANA ALLAH TINGGAL SEBELUM DI CIPTAKAN LANGIT ?

DIMANA ALLAH TINGGAL SEBELUM DI CIPTAKAN LANGIT ?

Orang yang tidak percaya Allah di atas langit bertanya :

Sebelum langit di ciptakan, Allah berada di mana ?????

Apa mungkin Allah berpindah tempat ?

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Tanggapan :

“KERUWETAN AKAL MEMBAWA KERUWETAN JIWA”.

1. Dalil yang menyatakan bahwa Allah itu ada di atas Arasy setidaknya ada 7 ayat dalam Al Qur’an yang secara qath-i menjelaskan hal itu

(1). Surat Al A’raaf ayat 54
(2). Yunus ayat 3
(3). Ar Ra’du ayat 2
(4). Thaha ayat 5
(5). Al Furqan ayat 59
(6). As Sajadah ayat 4
(7). Al Hadid ayat 4

Bahkan dalam Surat Al Baqarah ayat 29 disebutkan : “Tsumma istawa ilas sama’i fasauwahunna sab’a samawaat” (kemudian Dia istiwa menuju ke langit, lalu Dia ciptakan 7 tingkat langit).

Sebagai orang Muslim, sebelum kita berpikir masuk akal atau tidak, semestinya harus mengimani ayat-ayat ini. Kalau tidak demikian, berarti kita membuat syarat-syarat dalam keimanan kita.

Misalnya, kalau masuk akal diimani, kalau tak masuk akal ditolak. Janganlah demikian, sebab hal itu dianggap tidak tulus dalam beragama.

2. Dalam ajaran Islam banyak perkara yang bersifat ghaib

Ghaib bisa karena waktu, misalnya peristiwa-peristiwa di masa lalu, atau di masa depan. Ghaib bisa karena ruang, misalnya letaknya sangat jauh, atau sangat kecil, sehingga tak tampak oleh penglihatan normal. Ghaib juga bisa karena wujudnya tidak tampak, misalnya makhluk halus, seperti jin, Malaikat, ruh, dll. Padahal mereka ada dan eksis.

Di antara perkara ghaib itu ada yang Allah ajarkan, dan ada pula yang tidak Allah ajarkan.

Contoh :

Hanya sebagian saja dari ribuan Nabi dan Rasul yang disebutkan kisahnya dalam Kitabullah dan Sunnah.

Terhadap berita-berita yang Allah ceritakan, ya kita imani. Adapun yang tidak Allah ceritakan, kita menahan diri untuk tidak masuk ke wilayah itu, agar tidak menjadi sesat karenanya.

Na’udzubillah min dzalik.

Informasi atau ilmu tentang dimana posisi Allah Ta’ala sebelum Diri-Nya menciptakan langit dan Arasy, adalah termasuk hal-hal sangat ghaib yang tidak diceritakan dalam Kitab-Nya.

Kalau terhadap kisah Nabi-nabi tertentu yang tidak dikisahkan dalam Al Qur’an, kita mau menahan diri untuk tidak mengorek-ngorek kisah seperti itu.

Lalu bagaimana mungkin kita akan mempertanyakan posisi Allah sebelum Dia menciptakan langit dan Arasy ?

Apa perlunya ?

Kalau misalnya kita sudah tahu, apakah itu bisa meningkatkan keimanan, atau membuat akal justru semakin liberal dengan fantasi-fantasi ala Bani Israil lainnya ?

3. Dalam Al Qur’an atau Sunnah dijelaskan, bahwa Allah Ta’ala bersemayam di atas Arasy. Arasy itu ada di atas langit yang ke-7.

Bagaimana cara Allah bersemayam di atas Arasy, hal itu merupakan perkara ghaib.

Kita tidak boleh mengatakan, Allah disana “duduk”, “berdiri”, “menempel”, “mengambang”, dll.

Karena memang semua itu tidak dijelaskan oleh-Nya dan oleh Nabi-Nya Shallallah ‘Alaihi Wasallam.

Termasuk pertanya’an, apakah Arasy itu berupa ruang, udara kosong, dimensi nihil, atau apapun ?

Semua itu tidak perlu dipikirkan dan ditanyakan. Dengan sendirinya, jika Istiwa’ Allah di atas langit tidak usah ditanyakan, maka bagaimana keada’an Allah sebelum menciptakan langit, lebih tak perlu ditanyakan lagi.

4. Munculnya pertanya’an, dimana Allah sebelum Allah menciptakan langit dan Arasy, hal ini lahir karena kesalahan berpikir sangat fatal, yaitu sejak awal sudah mempersepsikan Allah seperti makhluk.

Misalnya, suatu sa’at kita melihat seekor burung hinggap di pohon depan rumah. Maka pikiran logis kita akan segera bergerak :

Dari mana nih burung ?

Kok pagi-pagi sudah nongol di depan rumah ?

Nah, untuk makhluk, kita bisa berpikir seperti itu, karena makhluk terikat oleh hukum-hukum Sunnatullah yang berlaku atasnya.

Dalam masalah makhluk kita selalu berpikir “darimana ini”, “akan kemana”, “nanti menjadi apa”, “prosesnya bagaimana”, dll.

Tetapi untuk Allah Ta’ala, Dia terbebas dari semua ikatan-ikatan hukum yang berlaku pada makhluk-Nya.

Kalau manusia memanjat dia akan menjadi tinggi, kalau terjun ke bawah akan menjadi rendah, kalau berlari akan menjadi cepat, kalau diam dia tidak bergerak, kalau kehujanan akan kedinginan, kalau kena sinar matahari akan kepanasan.

Manusia atau makhluk terikat hukum-hukum demikian. Tetapi Allah Ta’ala tidak terikat semua itu. Dia bisa berbuat apapun yang Dia inginkan, sehingga ada ayat Al Qur’an yang berbunyi : “Idza arada syai’an an yaqula lahu kun fa yakun” (kalau Dia menginginkan sesuatu, tinggal mengatakan “kun” maka jadilah apa yang Dia inginkan itu).

Bersemayamnya Allah di atas Arasy atau langit adalah bagian dari kehendak-Nya.

Allah ingin apapun dan bagaimanapun, itu hak Allah sebagai pencipta alam semesta dan kehidupan. Kita sebagai manusia tidak punya hak mencampuri urusan Rububiyyah-Nya.

Misalnya :

Sebelum menciptakan langit dan Arasy, Allah berkehendak demikian dan demikian, maka semua itu hak-Nya belaka. Kita tak bisa menolak atau mencampuri. Bila makhluk terikat oleh dimensi-dimensi, maka Allah tak terikat apapun. Dia mandiri dan independen. “Allahus Shamad” (Allah, bergantung kepada-Nya semua makhluk).

5. Dalam sebuah riwayat disebutkan, bahwa ada kalanya dalam diri manusia timbul pikiran-pikiran aneh karena bisikan syaitan.

Misalnya dia berpikir, bahwa alam semesta ini diciptakan oleh Allah. Lalu siapa yang menciptakan Allah ?

Nabi menasehatkan : Kalau ada bisikan-bisikan seperti itu, seorang Muslim cukup mengatakan, “Amantu billahi wa bi Rusulihi” (aku beriman kepada Allah dan kepada Rasul-rasul-Nya). (HR. Imam Ahmad).

Dzat Allah sangat berbeda dengan makhluk-Nya. Allah menciptakan, tetapi tidak membutuhkan diciptakan. Allah adalah Awal, tetapi tanpa diawali. Dia ada, tanpa diadakan. Dia adalah Akhir, tetapi tanpa diakhiri. Allah bisa membolak-balikkan siang dan malam, gelap dan terang, panas dan dingin, sesuka diri-Nya.

Jadi kita tidak perlu bertanya, “Siapa yang menciptakan Allah ?”

Sebab logika demikian hanya berlaku bagi makhluk-Nya. Allah Ta’ala ada tanpa diadakan, Dia kuasa tanpa diberi kekuasaan, Dia mencipta tanpa pernah terciptakan. Dia bisa membolak-balikkan dimensi-dimensi tanpa berkurang sedikit pun Kemuliaan dan Keagungan-Nya. Dia Tinggi tanpa ada yang lebih tinggi dari-Nya, Dia bisa turun tanpa menjadi lebih rendah. Allah tidak terikat sifat-sifat makhluk-Nya.

Kalau manusia mencari hal-hal di luar semua itu, ingin menerobos hakikat-hakikat seputar Sifat Rubibiyyah Allah demi memuaskan hawa nafsu akalnya, jelas dia akan binasa.

Na’udzubillah min dzalik . .

Ketahuilah, akal manusia dibatasi oleh hukum-hukum yang berlaku di alam semesta (universe). Sedangkan Allah bebas dari semua hukum-hukum itu. Sekali-kali, jangan memahami Allah dengan ukuran-ukuran makhluk-Nya.

6. Logika sesat

Ada logika yang diyakini sebagian orang :

– Kalau Allah di atas Arasy, lalu dimana Dia sebelum Arasy itu diciptakan ?

– Apakah Allah sebelumnya berada di suatu “tempat”, kemudian pindah ke atas Arasy ?

Mungkinkah Dzat Allah berpindah-pindah ?

Sungguh mustahil . . ! !

Logika demikian kan sangat kelihatan kalau si penanya berpikir dalam dimensi makhluk. Dia ingin memahami Allah dengan persepsi makhluk.

Sebenarnya, Allah mau mengambil “posisi” dimanapun, itu hak Dia. Andaikan Allah tidak menunjuki diri-Nya di atas Arasy, tidak ada masalah bagi-Nya.

Tetapi karena kasih-sayang Allah, di atas Kegaiban-Nya, Dia ingin memudahkan manusia memahami kegaiban itu, maka Dia berkehendak istiwa’ di atas Arasy.

Dengan demikian, manusia mendapati satu kemudahan ketika ditanya “aina Allah” (dimana Allah). Maka kita bisa menjawab secara pasti : Fis sama’i ‘alal Arsy (di langit, di atas Arasy).

Mungkinkah Allah berpindah-pindah dari satu posisi ke posisi lain ?

Mula-mula, Anda harus bebaskan Dzat Allah dari ikatan-ikatan yang berlaku atas makhluk-Nya. Makhluk dibatasi oleh dimensi-dimensi, sedangkan Allah bebas dari semua itu.

Kemudian, ingat selalu bahwa Allah memiliki Sifat Iradah (Maha Berkehendak). Kalau Allah berkehendak berbuat sesuatu, tidak ada satu pun yang mampu menghalangi-Nya.

Seperti sebuah do’a yang diajarkan oleh Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam :

“Allahumma laa mani’a li maa a’thaita, wa laa mu’thiya li maa mana’ta” (ya Allah, tidak ada yang sanggup menolak apa yang Engkau berikan, dan tidak ada yang bisa menerima apa yang Engkau tolak).

Jika demikian, lalu bagaimana insan-insan yang lemah, otak-otak yang bodoh, dan hawa nafsu yang meluap-luap, hendak menolak Sifat-sifat Allah, jika Dia berkehendak terhadap sesuatu.

Itulah bahayanya, cara-cara takwil yang nantinya kerap kali menjadi jalan untuk mengingkari Sifat-sifat Allah.

Mulanya Takwil, lama-lama menjadi Jahmiyyah atau Zindiqah (atheis).

Na’udzubillah wa na’udzubillah min kulli dalik . . .

7. Para Ulama sering mengatakan “tafakkaruu fi khalqillah wa laa tafakkaruu fi dzatillah” (silahkan berpikir tentang cipta’an Allah, namun jangan berpikir tentang Dzat-Nya).

Ungkapan seperti ini tidak mengada-ada. Bukannya manusia tak boleh berpikir tentang Allah, tetapi otaknya tak akan bisa memahami Dzat Allah dengan segala Sifat-Nya.

Dalam Surat Al A’raaf ayat 143, Musa ‘Alaihissalam pernah meminta ingin melihat Dzat Allah. Kemudian Allah berkata kepada Musa, “Lan taraniy” (engkau tak akan sanggup melihat-Ku). Lalu Allah memperlihatkan diri-Nya kepada gunung, seketika itu gunung tersebut hancur berkeping-keping karena takut kepada Allah. Melihat gunung hancur, Musa langsung pingsan.

Hal itu merupakan batas demarkasi sifat kebebasan manusia dalam mendayagunakan potensi dan kekuatan nalarnya. Manusia tak boleh melebihi ambang demarkasi itu, agar otak dan kehidupannya tidak menjadi binasa.

Nas’alullah al ‘afiyah . .

Kesimpulan :

Dimana kedudukan Allah sebelum menciptakan langit dan Arasy, semua itu adalah keghaiban belaka. Sama ghaibnya dengan bagaimana keada’an Allah beristiwa’ di atas Arasy.

Kita tidak dibebani kewajiban untuk menelisik masalah-masalah seperti itu. Akal kita tak akan sampai pada kebenaran hakiki dalam hal seperti ini, kecuali kelak kita bisa tanyakan semua itu kepada Allah Ta’ala di Akhirat nanti (dengan syarat, harus masuk syurga dulu).

Dalam pertanya’an seperti itu tidak ada penjelasan yang bisa memuaskan akal secara sempurna, kecuali akal orang-orang beriman yang rela mengimani Kitabullah dan As Sunnah. Serta tidak menjadikan otak-nya sebagai hukum dan agama, dalam kehidupan ini.

Semoga bermanfaat, berkenan, dan mendapat barakah dari Allah Ta’ala. Allahumma amin. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

Wallahu a’lam bisshawab.

[Abahnya Syakir].

https://abisyakir.wordpress.com/2011/12/19/dimana-allah-tinggal-sebelum-bersemayam-di-atas-arasy/

______________

DIHUKUMI KAFIR BAGI YANG TIDAK PERCAYA ALLAH DIATAS LANGIT

DIHUKUMI KAFIR BAGI YANG TIDAK PERCAYA ALLAH DIATAS LANGIT

Mereka yang tidak mengimani Allah diatas langit maka menurut para Ulama Salaf ; Mereka telah kafir kepada Rabbnya, berarti telah mengingkari Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam, tidak boleh dinikahi dan tidak boleh diwarisi, harus bertaubat jika mau bertaubat. Jika tidak mau bertaubat maka halal darahnya, dipenggal lehernya, dibuang jasadnya ke tempat pembuangan sampah.

1. Dari Abu Muthi’ Al Hakam bin Abdillah Al Balkhiy, pemilik kitab Al Fiqhul Akbar, beliau berkata :

سألت أبا حنيفة عمن يقول لا أعرف ربي في السماء أو في الأرض فقال قد كفر لأن الله تعالى يقول الرحمن على العرش استوى وعرشه فوق سمواته فقلت إنه يقول أقول على العرش استوى ولكن قال لا يدري العرش في السماء أو في الأرض قال إذا أنكر أنه في السماء فقد كفر رواها صاحب الفاروق بإسناد عن أبي بكر بن نصير بن يحيى عن الحكم

Aku bertanya pada Abu Hanifah mengenai perkataan seseorang yang menyatakan, “Aku tidak mengetahui di manakah Rabbku, di langit ataukah di bumi?”

Imam Abu Hanifah lantas mengatakan, “Orang tersebut telah kafir karena Allah Ta’ala berfirman ;

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

“Allah menetap tinggi di atas ‘Arsy”. [QS. Thaha: 5] Dan ‘Arsy-Nya berada di atas langit.”

Orang tersebut mengatakan lagi, “Aku berkata bahwa Allah memang menetap di atas ‘Arsy.”

Akan tetapi orang ini tidak mengetahui di manakah ‘Arsy, di langit ataukah di bumi.

Abu Hanifah lantas mengatakan, “Jika orang tersebut mengingkari Allah di atas langit, maka dia kafir.”

[Lihat Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghofar, Adz Dzahabi, hal. 135-136, Maktab Adhwaus Salaf, Riyadh, cetakan pertama, 1995].

2. Wahb bin Jarir [meninggal tahun 206 H], Ulama Besar Bashroh,

محمد بن حماد قال سمعت وهب بن جرير يقول إياكم ورأي جهم فإنهم يحاولون أنه ليس شيء في السماء وما هو إلا من وحي إبليس ما هو إلا الكفر

Muhammad bin Hammad mengatakan bahwa ia mendengar Wahb bin Jarir berkata, “Waspadalah dengan pemikiran Jahmiyam. Sesungguhnya mereka memalingkan makna bahwa di atas langit sesuatu pun (berarti Allah tidak di atas langit, pen). Sesungguhnya pemikiran semacam ini hanyalah wahyu dari Iblis. Perkataan semacam tidak lain hanyalah perkataan kekufuran.” [Lihat Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar, hal. 159. Atsar ini dishahihkan oleh Ibnul Qayyim dalam Al Juyusy. Lihat Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 170].

3. Abbad bin Al ‘Awwam [hidup sekitar tahun 185 H], Muhaddits (Pakar Hadits) dari Daerah Wasith.

قال عباد بن العوام كلمت بشرا المريسي وأصحابه فرأيت آخر كلامهم ينتهي إلى أن يقولوا ليس في السماء شيء أرى أن لا يناكحوا ولا يوارثوا

‘Abbad bin Al ‘Awwam mengatakan, “Aku pernah berkata Basyr Al Murosi dan pengikutnya, aku pun melihat bahwa mereka mengatakan, “Di atas langit tidak ada sesuatu pun. Aku menilai bahwa orang semacam ini tidak boleh dinikahi dan diwarisi.” [ Lihat Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar, 151].

4. ‘Abdurrahman bin Mahdi [hidup pada tahun 125-198 H], Seorang Imam Besar.

ابن مهدي قال إن الجهمية أرادوا أن ينفوا أن يكون الله كلم موسى وأن يكون على العرش أرى أن يستتابوا فإن تابوا وإلا ضربت أعناقهم

‘Abdurrahman bin Mahdi mengatakan bahwa Jahmiyah menginginkan agar dinafikannya pembicaraan Allah dengan Musa, dinafikannya kebereda’an Allah menetap tinggi di atas ‘Arsy. Orang seperti ini mesti dimintai taubat. Jika tidak, maka lehernya pantas dipenggal. [Lihat Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar, hal. 159. Dikeluarkan pula oleh Abdullah (hal. 10-11) dari jalannya, disebutkan secara ringkas. Ibnul Qayyim menshahihkan riwayat ini dalam Al Juyusy. Lihat Mukhtashor Al ‘Uluw hal. 170].

5. Al Imam Adz Dzahabi rahimahullah [Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Utsman bin Qaimaz bin Abdullah adz-Dzahabi al-Fariqi. Tahun 673 H – 748 H]. Beliau berkata mengomentari hadits budak jariyah, “Demikianlah kita melihat setiap orang yang ditanya: Dimana Allah? Niscaya dia akan menjawab dengan fitrahnya: Allah diatas langit. Dalam hadits ini terdapat dua masalah : Pertama, disyariatkannya pertanyaan kepada seorang muslim: Dimana Allah?, Kedua, jawaban orang yang ditanya pertanyaan tersebut: Di atas langit. Barangsiapa yang mengingkari dua masalah ini, maka berarti dia mengingkari Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam.” [Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Azhim, (Mukhtasar al ‘Uluw, Albani, hal. 81)].

6. Berkata Muhammad bin Ishaq ibnu Khuzaimah: “Barangsiapa yang tidak mengatakan bahwa Allah Azza wa Jalla di atas ‘Arsy-Nya, tinggi di atas tujuh lapis langit, maka dia kafir kepada Rabb-nya; halal darahnya, diminta taubat kalau mau bertaubat; kalau tidak mau bertaubat, maka dipenggal lehernya, dibuang jasadnya ke tempat-tempat pembuangan sampah agar tidak mengganggu kaum muslimin dan para mu’ahad dengan busuknya bau bangkai mereka. Hartanya menjadi fa’i (rampasan perang untuk baitul maal). Tidak boleh mewarisinya seorang pun dari kaum muslimin, karena seorang muslim tidak mewarisi dari seorang kafir sebagaimana ucapan Nabi yang diriwayatkan dari Usamah bin Zaid :
“Orang muslim tidak mewarisi dari orang kafir dan orang kafir tidak mewarisi dari orang muslim”. (HR. Bukhari Muslim). [Aqidatus Salaf Ashabul Hadits, tahqiq Abul Yamin al-Manshuri, hal. 47].

========================

ALLAH DIATAS ARSYI BUKAN BERARTI ALLAH MEMBUTUHKAN TEMPAT

ALLAH DIATAS ARSYI BUKAN BERARTI ALLAH MEMBUTUHKAN TEMPAT

Imam Abu Ja’far Ahmad bin Muhammad Ath Thahawi rahimahullah [wafat tahun 321 H]. Beliau berkata: “Allah tidak membutuhkan ‘Arsy dan apa yang ada dibawahnya. Allah menguasai segala sesuatu dan apa yang ada diatasnya. Dan Dia tidak memberi kemampuan kepada makhluk-Nya untuk mengetahui segala sesuatu.” Beliau menjelaskan bahwa Allah menciptakan ‘Arsy dan bersemayam di atasnya, bukanlah karena Allah membutuhkan ‘Arsy tetapi Allah memiliki hikmah tersendiri tentang hal itu. Bahkan sebaliknya, sekalian makhluk termasuk ‘Arsy bergantung kepada Allah Jalla wa ‘Ala.” [Lihat Imam al-Qadhi ‘Ali bin ‘Ali bin Muhammad bin ‘Abdil ‘Izz ad-Dimasyqi dalam Syarh ‘Aqidah at-Thahâwiyah, (hal. 372)].

=======================