Tag Archives: aqidah

ILMU FILSAFAT PERUSAK AQIDAH ISLAM

ILMU FILSAFAT PERUSAK AQIDAH ISLAM

Sebagian ahlul ahwa wal bida’ mengklaim bahwa ilmu-ilmu Ilahi (aqidah) itu masih Ghamidhah (kabur dan tak terpahami).
Menurut mereka, tidak mungkin dimengerti kecuali melalui jalan ilmu Mantiq dan Filsafat.

Bertolak dari sinilah kemudian mereka (kaum Mu’tazilah) sampai era sekarang mengadopsi ilmu filsafat untuk dijadikan sebagai perangkat pendukung untuk mendalami aqida Islam. [Tahaful Falasifah, 84. Nukilan dari Tanaquzhu Ahlil Ahwa wal Bida’ fil ‘Aqidah, 1/103. Penulis (Dr. ‘Afaf binti Hasan bin Muhammad Mukhtar) menyertakan ilmu filsafat sebagai sumber pengambilan hukum ke-8 oleh kalangan ahli bid’ah].

Ilmu Filsafat Tidak Ada Dalam Generasi Salaful Ummah. Al-Hafizh Ibnu Hajar Rahimahulloh (beliau adalah Ahmad bin Ali bin Muhammad Al-Kannani Al-Asqalani, Abu Al-Fadhl, Syihabuddin, Imam besar madzhab Syafi’iyyah, wafat 853H. Beografi lengkapnya lihat Thabaqaat Al-Huffadz, Sadzaraat Adz-Dzahab, dan Al-Badr Ath-Thali’) menceritakan : “Orang-orang yg muncul setelah tiga masa yg utama terlalu berlebihan dalam kebanyakan perkara yg di ingkari oleh tokoh-tokoh generasi Tabi’in dan generasi Tabi’ut Tabi’in. Orang-orang yg tidak merasa cukup dengan apa yg sudah dipegangi generasi sebelumnya sehingga mencampur adukkan perkara-perkara agama dengan teori-teori Yunani dan menjadikan pernyataan-pernyataan kaum Filosof sebagai sumber pijakan untuk meluruskan atsar yg berseberangan dengan Filsafat melalui penakwilan, meskipun itu tercela. Mereka tidak berhenti sampai disini, bahkan mereka mengklaim ilmu yg telah mereka susun adalah ilmu yg paling mulia dan sebaiknya dimengerti”. [Fathul Bari, 13/253 ].

Karena itulah, kaum Mu’tazilah dan golongan yg sepemikiran dengan mereka bertumpu kitab tafsir ma’tsur, hadits dan perkata’an Salaf. Perkataan al-Hafizh merupakan seruan yg tegas untuk berpegang teguh dengan petunjuk Salaf dan menjauhi perkara baru yg diluncurkan oleh generasi Khalaf yg bertentangan dengan petunjuk generasi Salaf. [Manhaj al-Hafizh Ibni Hajar fil ‘Aqidah, Muhammad Ishaq Kundu, 3/1446 ].

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahulloh mendudukkan, bahwa pengguna’an ilmu filsafat sebagai salah satu dasar pengambilan hukum adalah karakter orang-orang Mulhid dan ahli bid’ah. Karena itu, terdapat pernyataan Ulama Salaf yg menghimbau umat agar Iltizam dengan al-Qur’an dan as-Sunnah dan memperingatkan umat dari bid’ah dan ilmu filsafat (ilmu kalam). [Majmu’ Fatawa, 7/119].

ULAMA BICARA TENTANG ILMU FILSAFAT

Melalui ilmu filsafatlah, intervensi pemikiran asing masuk dalam Islam. Tidaklah muncul ideologi filsafat kecuali setelah umat Islam mengadopsi dan menerjemahkan ilmu-ilmu yg berasal dari Yunani melalui kebijakan pemerintah dibawah kendali al-Makmun masa itu.

Imam Ibnul Jauzi Rahimahulloh mengatakan : “Adapun sumber intervensi pemikiran dalam ilmu dan aqidah dari filsafat. Ada sejumlah orang dari kalangan ulama kita yg belum merasa puas dengan apa yg telah dipegangi oleh Rasululloh, yaitu merasa cukup dengan al-Qur’an dan as-Sunnah. Merekapun sibuk dengan mempelajari pemikiran-pemikiran kaum filsafat. Dan selanjutnya menyelami ilmu kalam yg menyeret mereja kepada pemikiran yg buruk yg pada gilirannya merusak aqidah”. [Shaidul Khathir, hlm.226].

Ibnu Shalah Rahimahulloh memvonis ilmu filsafat sebagai biang ketololan, rusaknya aqidah, kesesatan, sumber kebingungan, kesesatan dan membangkitkan penyimpangan dan Zamdaqah (kekufuran)”. [Fatawa wa Rasail Ibnu ash Shalah, 1/209-212. Nukilan dari Asbabul Khatha’ fi Tafsir, 1/266].

Dan masih banyak ulama yg lain yg mencela ilmu filsafat.

Wallohu A’lam.

Sumber : Ustadz Abu Minhal Hafizhahulloh.

=========================

Advertisements

AQIDAH IMAM SYAFI’I : ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA ADA DI ATAS

AQIDAH IMAM SYAFI’I : ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA ADA DI ATAS

Oleh ; Syaikh Muhammad bin Mûsa Alu Nashr

Di antara pokok utama aqidah Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah, ialah meyakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala berada di langit (di atas langit), Allah Subhanahu wa Ta’ala berada di atas makhluk-makhluk-Nya dan ber-istiwâ` (bersemayam) di atas ‘Arsy sesuai dengan kesempurnaan dan keagungan-Nya, tidak seperti bersemayamnya seorang manusia. Akan tetapi, meskipun Allah Subhanahu wa Ta’alabersemayam di atas Arsy, ilmu-Nya ada di setiap tempat dan Dia lebih dekat dari urat leher seseorang. Tidak pula tersembunyi dari-Nya apa pun yang ada di langit dan di bumi, bahkan Dia mengetahui dan menyaksikan pembicaraan-pembicaraan rahasia.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَىٰ ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَىٰ مِنْ ذَٰلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا

“… Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia berada bersama mereka di manapun mereka berada ….” [al-Mujâdilah/58:7].

Tapi kebersamaan ini adalah kebersama’an pendengaran, ilmu, penguasaan dan rahmah, bukan kebersamaan secara fisik sebagaimana dikatakan Jahmiyah [1] dan Huluuliyah [2]. Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka katakan.

Sifat ‘Uluw (Tinggi) Allah Subhanahu wa Ta’ala, terbagi menjadi umum dan khusus. Umum ditinjau dari ketinggian-Nya atas seluruh makhluk; dan khusus, jika ditinjau dari bersemayamnya di atas ‘Arsy setelah penciptaan langit dan bumi.

Dari sini Ahlus-Sunnah menetapkan ketinggian Dzat Allah, Dzat-Nya yang Maha Suci. Dia ada sebelum penciptaan makhluk, sebelum penciptaan langit dan bumi, serta sebelum adanya waktu dan tempat.

Kemudian, setelah menciptakan ‘Arsy, Dia bersemayam di atasnya. Di sini bisa disimpulkan bahwa ketinggian adalah sifat dzatiyah [3] Allah. Sedangkan bersemayamnya Allah Subhanahu wa Ta’aladi atas ‘Arsy adalah sifat fi’liyah ikhtiyariyah[4], maka Allah bersemayam kapan saja dan dengan cara apa saja yang Dia kehendaki.

Al-Istiwâ` (bersemayam), al-‘uluw (tinggi) dan al-irtifa’ (ketinggian) mempunyai empat arti. Berarti ‘ala (di atas), irtafa’a (tinggi), sha’ada (naik), dan istaqarra (tetap) tanpa perlu ditanyakan bagaimananya.

Seperti jawaban Imam Mâlik ketika ditanya tentang istiwâ, beliau berkata: “Al-Istiwâ` tidaklah asing (yaitu bisa difahami) dan wujudnya tidak masuk akal (tidak mampu difahami akal), sedangkan mengimaninya wajib, dan bertanya tentangnya adalah bid’ah,” kemudian beliau memerintahkan untuk mengeluarkan si penanya dari masjid.

Oleh karena itu, Ahlus-Sunnah menetapkan ketinggian Dzat Allah dan sifat ‘uluw (tinggi) secara umum atas seluruh makhluk sebelum penciptaan serta sifat ‘uluw (tinggi) secara khusus, yaitu ketinggian dan bersemayam-Nya setelah penciptaan Arsy. Sehingga sifat ‘uluw (tinggi) yang umum melekat dengan Dzat-Nya, sedangkan sifat ‘uluw (tinggi) secara khusus berkenaan dengan kehendak dan pilihan-Nya.

Banyak kelompok telah menyelisihi Ahlus-Sunnah dalam penetapan sifat ‘uluw; di antaranya Jahmiyah, Hulûliyah Ittihadiyah, Mu’tazilah dan selain mereka. Mereka menafsirkan kata istiwâ` dengan istilâ` (menguasai, merebut). Ini merupakan penafsiran baru yang disusupkan ke dalam Islam, yang tidak pernah dikenal oleh generasi pertama umat ini, generasi umat yang terbaik. Kata istiwâ`, jika dibuat aktif dengan kata sambung (على), maka tidak punya arti kecuali ‘uluw (tinggi) dan fauqiyyah (ketinggian).

Allah Subhanahu wa Ta’alaberfirman:

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

“Yang Maha Pemurah, yang bersemayam di atas ‘Arsy”. [Thaha/20:5].

Sebenarnya, makna lainnya dari istiwâ` masih banyak, tetapi yang menjadi titik perbedaan antara Ahlus-Sunnah dengan kelompok-kelompok lain, ialah dalam bentuk aktif dengan kata sambung (على). Maka dalam firman Allah yang telah disebutkan tadi, makna (على) ialah di atas. Disinilah penyelisihan ahlul bid’ah terghadap Ahlus-Sunnah. Mereka bersikeras, makna istiwâ` ialah istaulâ`. Mereka berhujjah dengan sebuah bait syair palsu yang berbunyi :

اسْتَوَى بِشْرٌ عَلَى الْعِرَاقِ مِنْ غَيْرِ سَيْفٍ وَلاَ دَمٍ مِهْرَاقٍ

(Bisyr menguasai/merebut Iraq tanpa pedang dan darah yang mengalir).

Syair ini tidak diketahui siapa yang membuatnya. Ada yang mengatakan syair ini milik Akhtal an-Nashrani (seseorang yang beragama Nashara), tetapi tidak ditemukan dalam kumpulan syair-syairnya. Kalaupun perkataan ini benar, apakah kita akan mengatakan bahwa Akhtal yang beragama Nashrani lebih paham tentang makna-makna Al-Qur`ân dibandingkan para sahabat dan generasi pertama dari umat ini ? Padahal perkataan ini sangat jelas ketidakbenarannya. Bagaimana mereka sanggup menolak ayat-ayat Al- Qur`ân dan hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian mengambil hujjah dari syair yang dipalsukan, tidak jelas siapa yang mengatakannya? Sehingga Ahlus-Sunnah bisa dengan mudah mematahkan argumen mereka yang lemah ini dengan Al-Qur`ân dan Sunnah, bahkan melalui tinjauan bahasa sekalipun.

Telah banyak kisah dari ahli ilmu tentang bantahan ini, sebagaimana sebuah kisah dari seorang ahli bahasa Imam Ibnul-‘Arâbi. Suatu ketika ada yang bertanya kepada beliau : “Wahai Imam, apa makna firman Allah ( الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى) ?”

Beliau menjawab: “Maknanya ialah isti’lâ` (tinggi di atas)”.

Si penanya membantah : “Tidak, maknanya ialah istaula (menguasai/ merebut)”.

Beliau berkata : “Diam ! Orang Arab tidak memaknai istawâ` dengan pengertian istaulâ`, kecuali ketika ada perlawanan dan perselisihan. Siapakah yang mampu melawan kekuasaan Allah dan menentang-Nya ?”

Kemudian kalau kita mengatakan istawâ` bermakna istaulâ`, maka kita telah menetapkan kelemahan bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena berarti Arsy-Nya pernah dikuasai pihak lain selama beberapa waktu sehingga Allah perlu menguasainya kembali. Sehingga sangat jauh (tidak mungkin) hal ini terjadi terhadap Allah yang Maha Sempurna.

Ayat-ayat Al-Qur’ân yang menerangkan sifat ‘uluw (tinggi) bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala sangatlah banyak.

Di antaranya firman Allah Ta’ala :

أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الْأَرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ

“Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia menjungkirbalikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang”. [al-Mulk/67:16].

Maksud man fis sama, ialah ‘Dzat yang berada di dalam langit’ ialah Dzat yang berada di atas langit. Jadi, Allah Subhanahu wa Ta’ala berada di atas langit (bukan di dalamnya, Pent.). Lantaran jumlah langit adalah tujuh, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala berada di atas langit ke tujuh. Tempat ‘Arsy berada di atas langit tujuh. Maka, Allah Subhanahu wa Ta’ala bersemayam di atas Arsy tersebut sesuai dengan kesempurnaan-Nya, sedangkan ilmu-Nya meliputi segala tempat. Ini karena kata sambung (في, fii) pada ayat di atas mempunyai arti “di atas” (fauqiyyah dan ‘uluw), bukan sebagai zharfiyyah (keterangan tempat).

Ketika kita mengatakan الماء في الكوز (air di dalam cangkir), dalam perkataan ini (في) menjadi keterangan tempat (zharfiyyah), sehingga diartikan “di dalam”. Seperti halnya kita mengatakan الطُّلاَّبُ فِيْ الْقَاعَة (murid-murid di dalam kelas). Karena kelas mengelilingi mereka, maka diartikan murid-murid “di dalam” kelas. Tetapi hal ini tidak mungkin terjadi pada Allah, dimana langit mengelilingi-Nya. Maka kita artikan (في) dengan “di atas”, karena ini juga salah satu makna (في).

Di antara dalil bahwa (في) bermakna “di atas” juga adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’alaketika menceritakan perkataan Fir’aun kepada para penyihirnya:

قَالَ آمَنْتُمْ لَهُ قَبْلَ أَنْ آذَنَ لَكُمْ إِنَّهُ لَكَبِيرُكُمُ الَّذِي عَلَّمَكُمُ السِّحْرَ فَلَأُقَطِّعَنَّ أَيْدِيَكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ مِنْ خِلافٍ وَلَأُصَلِّبَنَّكُمْ فِي جُذُوعِ النَّخْلِ وَلَتَعْلَمُنَّ أَيُّنَا أَشَدُّ عَذَاباً وَأَبْقَى

Berkata Fir’aun: “Apakah kamu telah beriman kepadanya (Musa) sebelum aku beri izin kepadamu sekalian. Sesungguhnya ia adalah pemimpinmu yang mengajarkan sihir kepadamu sekalian. Maka sesungguhnya aku akan memotong tangan dan kaki kamu sekalian dengan bersilang secara bertimbal-balik, dan sesungguhnya aku akan menyalib kamu sekalian di atas pohon kurma, dan sesungguhnya kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya”. [Thâhâ/20:71].

Dalam ayat ini Fir’aun mengancam para penyihir yang beriman dengan kenabian Musa. Mereka diancam akan disalib di atas pohon kurma. Apakah mungkin orang yang berakal mengatakan makna (في) dalam ayat tersebut adalah “di dalam”? Lalu apa gunanya ancaman Fir’aun ini kalau para penyihir disalib di dalam pohon kurma? Bukankah Fir’aun melakukan ancaman ini supaya yang lain takut dengan kekejamannya? Bagaimana yang lain akan takut kalau tidak bisa melihat apa yang terjadi?

Ayat lain yang menerangkan (في) bermakana “di atas”, yaitu firman Allah :

قُلْ سِيرُوا فِي الْأَرْضِ ثُمَّ انْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ

Katakanlah : “Berjalanlah di atas bumi, kemudian perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu”. [al-An’âm/6:11].

Apakah pengertian “berjalan di dalam bumi” yang termaktub dalam ayat di atas berarti menelusuri goa-goa di perut bumi yang gelap? Apakah mengarungi air bak? Apa yang dapat disaksikan? (Tidak ada, Pent.).

Jadi, maksud dari “berjalan di dalam bumi”, ialah berjalan di atasnya untuk merenungi ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta ini untuk mengantarkan kepada rasa takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Demikian, aqidah Imam Syafi’i rahimahullah yang terangkum dalam pernyataan beliau berikut ini : “Konsep ajaran Islam yang aku pegangi dan dipegangi orang-orang yang aku ketahui, semisal Sufyan (ats-Tsauri), (Imam) Mâlik dan lain-lain, (ialah) pengakuan terhadap persaksian bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah, dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah. Sesungguhnya Allah di atas ‘Arsy, mendekati makhluk-makhluk-Nya sesuai dengan kehendak-Nya, dan turun ke langit bumi sesuai dengan kehendak-Nya”. (Mukhtashar ‘Uluw)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun XII/1429/2008M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]

_______

Footnote

*). Diterjemahkan oleh Ustad Muhammad Taufik Badri.
[1]. Golongan menyimpang produk Jahm bin Shafwân. Di antara pokok penyimpangannya, yaitu keyakinan bahwa AllahSubhanahu wa Ta’alal tidak mempunyai sifat-sifat.
[2]. Golongan menyimpang yang menyatakan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menyatu dengan makhluk-Nya atau Allah berada dimana-mana.
[3]. Sifat-sifat yang tidak terpisahkan dengan Dzat Allah Subhanahu wa Ta’ala .
[4]. Perbuatan-perbuatan (sifat-sifat) yang tergantung pada kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah melakukannya ketika berkehendak saja.

http://almanhaj.or.id/content/3343/slash/0/aqidah-imam-syfii-allah-subhanahu-wa-taala-ada-di-atas/

http://rumaysho.com/aqidah/di-manakah-allah-4-933

_________________