Tag Archives: ‘Arsy

DIMANA ALLAH BERADA SEBELUM DI CIPTAKANNYA ‘ARSY ?

DIMANA ALLAH BERADA SEBELUM DI CIPTAKANNYA ‘ARSY ?
.
Diantara kesesatan jahmiyah atau orang-orang yang terpengaruh faham jahmiyah adalah mempertanyakan keberada’an Allah Ta’ala sebelum di ciptakannya ‘Arsy.
.
Mereka bertanya, “Sebelum di ciptakan ‘Arsy Allah berada di mana ?”
.
Atau mereka bertanya, “Apa mungkin Allah berpindah tempat ?”
.
Itulah diantara pertanya’an-pertanya’an yang biasa di lontarkan orang-orang yang terpengaruh kesesatan faham jahmiyah.
.
“Dimana keberada’an Allah sebelum Allah Ta’ala menciptakan ‘Arsy ?”, “Apa mungkin Allah berpindah tempat ?”
.
PERTANYA’AN-PERTANYA’AN DI ATAS TIMBUL AKIBAT KESALAHAN BERFIKIR SANGAT FATAL, YAITU AKIBAT DARI SIKAP MENYERUPAKAN ALLAH DENGAN MAKHLUK.
.
Padahal Allah Ta’ala sudah menjelaskan dalam Firman-Nya :
.
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ
.
“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia . .” (Q.S Asy-Syuro: 11).
.
Terhadap makhluk kita boleh punya pemikiran atau pertanya’an, bagaimana, dari mana, mau kemana dan lainnya.
.
Misalnya, suatu sa’at kita melihat seekor angsa di depan rumah. Kemudian kita bertanya-tanya
.
Dari mana angsa itu ?
.
Pertanya’an di atas tidak ada yang salah, Karena makhluk terikat oleh hukum-hukum Sunnatullah yang berlaku atasnya. Tetapi untuk Allah Ta’ala, Dia terbebas dari semua ikatan-ikatan hukum yang berlaku sebagaimana pada makhluk-Nya.
.
Keberada’an Allah Ta’ala sebelum diciptakannya ‘Arsy, juga bagaimana keberada’an-Nya di atas ‘Arsy adalah termasuk perkara ghaib yang tidak di terangkan dalam Kitab-Nya. Dan kita tidak di wajibkan untuk mengetahui perkara-perkara yang tidak di terangkan oleh Allah dan Rasul-Nya.
.
Dalam sebuah riwayat disebutkan, bahwa ada kalanya dalam diri manusia timbul pikiran-pikiran aneh karena bisikan syaitan. Misalnya kita berpikir, bahwa alam semesta ini diciptakan oleh Allah. Lalu siapa yang menciptakan Allah ?
.
Nabi menasehatkan : Kalau ada bisikan-bisikan seperti itu, seorang Muslim cukup mengatakan, “Amantu billahi wa bi Rusulihi” (aku beriman kepada Allah dan kepada Rasul-rasul-Nya). (HR. Imam Ahmad).
.
Para Ulama sering mengatakan “Tafakkaruu fi khalqillah wa laa tafakkaruu fi dzatillah” (pikirkanlah tentang cipta’an Allah, namun jangan berpikir tentang Dzat-Nya).
.
ISTIWA’ TANPA TAKYIF, TAMTSIL DAN TASYBIH
.
Keimanan kita kepada Istiwa’ (bersemayam)-nya Allah di atas ‘Arsy/Langit tanpa melakukan takyif (menyatakan hakekat sifat tersebut), tanpa tamtsil (memisalkannya dengan makhluk) dan tanpa tasybih (menyerupakannya dengan makhluk).
.
Abu Nu’aim Al Ash-bahani (334 H-430 H) rahimahullah, penulis kitab Al Hilyah berkata : “Metode kami (dalam menetapkan sifat Allah) adalah jalan hidup orang yang mengikuti Al Kitab, As Sunnah dan ijma’ (konsensus para ulama). Di antara i’tiqod (keyakinan) yang dipegang oleh mereka (para ulama) bahwasanya hadits-hadits yang shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkan Allah berada di atas ‘Arsy dan mereka meyakini bahwa Allah beristiwa’ (menetap tinggi) di atas ‘Arsy-Nya. Mereka menetapkan hal ini tanpa melakukan takyif (menyatakan hakekat sifat tersebut), tanpa tamtsil (memisalkannya dengan makhluk) dan tanpa tasybih (menyerupakannya dengan makhluk). Allah sendiri terpisah dari makhluk dan makhluk pun terpisah dari Allah. Allah tidak mungkin menyatu dan bercampur dengan makhluk-Nya. Allah menetap tinggi di atas ‘Arsy-Nya di langit sana dan bukan menetap di bumi ini bersama makhluk-Nya”.
.
(Dinukil dari Majmu’ Al Fatawa, Ahmad bin Abdul Halim Al Haroni, 5/60, Darul Wafa’, cetakan ketiga, 1426 H).
.
ALLAH DIATAS ARSYI BUKAN BERARTI ALLAH MEMBUTUHKAN TEMPAT
.
Imam Abu Ja’far Ahmad bin Muhammad Ath Thahawi rahimahullah [wafat tahun 321 H]. Beliau berkata: “Allah tidak membutuhkan ‘Arsy dan apa yang ada dibawahnya. Allah menguasai segala sesuatu dan apa yang ada diatasnya. Dan Dia tidak memberi kemampuan kepada makhluk-Nya untuk mengetahui segala sesuatu.” Beliau menjelaskan bahwa Allah menciptakan ‘Arsy dan bersemayam di atasnya, bukanlah karena Allah membutuhkan ‘Arsy tetapi Allah memiliki hikmah tersendiri tentang hal itu. Bahkan sebaliknya, sekalian makhluk termasuk ‘Arsy bergantung kepada Allah Jalla wa ‘Ala.” [Lihat Imam al-Qadhi ‘Ali bin ‘Ali bin Muhammad bin ‘Abdil ‘Izz ad-Dimasyqi dalam Syarh ‘Aqidah at-Thahâwiyah, (hal. 372)].
.
.
.
با رك الله فيكم
.
By : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί
.
https://agussantosa39.wordpress.com/category/01-islam-dakwah-tauhid/01-islam-sudah-sempurna/
.
.
=====================

ALLAH TA’ALA DIATAS ‘ARSY MENURUT SYAIKH ABDUL QADIR JAILANI

ALLAH TA’ALA DIATAS ‘ARSY MENURUT SYAIKH ABDUL QADIR JAILANI
.
Syaikh Abdul Qadir Jailani (470-561 H) adalah seorang ulama Ahlus Sunnah ahli fiqih bermadzhab hanbali yang sangat dihormati.
.
Sebagaimana para Ulama Ahlus Sunnah lainnya, Syaikh Abdul Qadir Jailani memiliki aqidah bahwa Allah Ta’ala berada di atas ‘Arsy. Hal ini bisa kita perhatikan di dalam kitabnya.
.
Syaikh Abdul Qadir Jailani berkata :
.
وهو بجهة العلو مستو، على العرش محتو على الملك محيط علمه بالأشياء
.
“Dia (Allah) beristiwa di atas. Dia di atas Arsy, Dia menguasai semua keraja’an, ilmu-Nya meliputi segala sesuatu”. (Abdul Qadir al-Jailani, al-Ghunyah, 1/71).
.
Lebih lanjut Syaikh Abdul Qadir Jailani menjelaskan tentang istawaa’-Nya Allah Ta’ala di atas ‘Arsy, yaitu memaknai istawaa’ sebagaimana teksnya tanpa ditakwil, juga tidak di maknai duduk atau menempel sebagaimana yang di maknai oleh orang-orang mujassimah atau sebagaimana yang di katakan oleh orang-orang dari pengekor Asy’ariyah. Syaikh Abdul Qadir Jailani juga menjelaskan kata istawaa’ tidak boleh dimaknai menguasai, sebagaimana aqidah Mu’tazilah.
.
Berikut keterangan Syaikh Abdul Qadir Jailani :
.
وينبغي إطلاق صفة الاستواء من غير تأويل، وأنه استواء الذات على العرش لا على معنى القعود والمماسة كما قالت المجسمة والكرامية، ولا على معنى العلو والرفعة كما قالت الأشعرية، ولا معنى الاستيلاء والغلبة كما قالت المعتزلة، لأن الشرع لم يرد بذلك ولا نقل عن أحد من الصحابة والتابعين من السلف الصالح من أصحاب الحديث ذلك.
.
“Selayaknya memahami istiwa Allah sesuai makna tekstualnnya, tanpa ditakwil. Dia bersemayam secara dzat di atas ‘Arsy, tidak kita maknai duduk dan menempel di Arsy, sebagaimana perkata’an Mujassimah dan Karramiyah, tidak pula dimaknai berada di atas, sebagaimana perkata’an Asy’ariyah. Tidak boleh dimaknai menguasai, sebagaimana aqidah Mu’tazilah. Karena syariat tidak menyebutkan semua makna itu, dan tidak dinukil satupun keterangan dari sahabat, maupun tabi’in di kalangan Salaf, para pembawa hadits”. (Abdul Qadir al-Jailani, al-Ghunyah, 1/74).
.
Syaikh Abdul Qadir Jailani juga mengatakan bahwa Allah Ta’ala turun ke langit terendah.
.
Syaikh Abdul Qadir Jailani berkata :

وأنه ينزل في كل ليلة إلى السماء الدنيا كيف شاء لا بمعنى نزول الرحمة وثوابه على ما ادعت المعتزلة والأشعرية…

“Dan sungguh Dia (Allah) juga turun ke langit terendah dengan cara yang Dia kehendaki, bukan bermakna turun rahmat-Nya atau pahala-Nya sebagaimana yang dikatakan oleh Mu’tazilah dan Asya’irah . .”. (Abdul Qadir al-Jailani, al-Ghunyah Li Thalibi `l-Haq, 56-57).
.
Perkata’an Syaikh Abdul Qadir Jailani di atas berdasarkan kepada hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
.
يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِيْنَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ اْلآخِرِ، فَيَقُوْلُ: مَنْ يَدْعُوْنِي فَأَسْتَجِيْبَ لَهُ، وَمَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ، وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ. حتى ينفجر الفجر

“Rabb kita tabaraka wa ta’ala turun ke langit dunia setiap sepertiga malam akhir. Ia lalu berkata: ‘Barangsiapa yang berdoa, akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku akan Aku beri. Siapa yang memohon ampun kepada-Ku, akan Aku ampuni. Hingga terbit fajar‘ ” (HR. Bukhari 1145, Muslim 758).
.
Ketika menerangkan keberada’an Allah Ta’ala di atas ‘Arsy, Syaikh Abdul Qadir Jailani membawawakan hadits jaariyah sebagai dalilnya.
.
Syaikh Abdul Qadir Jailani berkata :
.
وأنه بجهة العلو مستو، على العرش محتو، وأن النبي شهد بإسلام الجارية لما سألها: أي الله؟ فأشارت إلى السماء، وأن عرش الرحمن فوق الماء، والله تعالى على العرش ودونه سبعون ألف حجاب من نور وظلمة، وأن للعرض حد يعلمه الله.

“Dia (Allah) berada di atas, beristiwa’ di atas Arsy, meliputi segala kerajaan-Nya. Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam telah menyaksikan ke Islaman budak wanita ketika beliau bertanya kepadanya : “Di mana Allah ?” Maka dia (budak wanita) menunjuk ke atas. Dan bahwasanya Arsy Allah itu di atas air. Allah beristiwa’ di atasnya, sebelumnya (di bawahnya) adalah 70.000 hijab dari cahaya dan kegelapan. Dan bahwa arsy itu memiliki batasan yang di ketahui oleh Allah”. (Abdul Qadir al-Jailani, al-Ghunyah Li Thalibi `l-Haq, 56-57).
.
Itulah aqidah Syaikh Abdul Qadir Jailani yang memiliki pendapat yang bagus dalam masalah tauhid dan sifat-sifat Allah yang sesuai dengan pemahaman Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
.
Imam Ibnu Rajab berkata :

وللشيخ عبد القادر رحمه الله تعالى كلام حسن في التوحيد، والصفات، والقدر، وفي علوم المعرفة موافق للسنة،
.
“Syeikh Abdul Qadir Al Jailani rahimahullah memiliki pendapat yang bagus dalam masalah tauhid, sifat-sifat Allah, takdir, dan ilmu-ilmu ma’rifat yang sesuai dengan sunnah”. (Adz Dzail ‘Ala Thabaqil Hanabilah, Imam Ibnu Rajab).
.
.
_____________________

ISTIWA’ TANPA TAKYIF, TAMTSIL DAN TASYBIH

ISTIWA’ TANPA TAKYIF, TAMTSIL DAN TASYBIH

Keimanan kita kepada Istiwa’ (bersemayam)-nya Allah di atas ‘Arsy/Langit tanpa melakukan takyif (menyatakan hakekat sifat tersebut), tanpa tamtsil (memisalkannya dengan makhluk) dan tanpa tasybih (menyerupakannya dengan makhluk).

Abu Nu’aim Al Ash-bahani (334 H-430 H) rahimahullah, penulis kitab Al Hilyah berkata : “Metode kami (dalam menetapkan sifat Allah) adalah jalan hidup orang yang mengikuti Al Kitab, As Sunnah dan ijma’ (konsensus para ulama). Di antara i’tiqod (keyakinan) yang dipegang oleh mereka (para ulama) bahwasanya hadits-hadits yang shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkan Allah berada di atas ‘Arsy dan mereka meyakini bahwa Allah beristiwa’ (menetap tinggi) di atas ‘Arsy-Nya. Mereka menetapkan hal ini tanpa melakukan takyif (menyatakan hakekat sifat tersebut), tanpa tamtsil (memisalkannya dengan makhluk) dan tanpa tasybih (menyerupakannya dengan makhluk). Allah sendiri terpisah dari makhluk dan makhluk pun terpisah dari Allah. Allah tidak mungkin menyatu dan bercampur dengan makhluk-Nya. Allah menetap tinggi di atas ‘Arsy-Nya di langit sana dan bukan menetap di bumi ini bersama makhluk-Nya”.

(Dinukil dari Majmu’ Al Fatawa, Ahmad bin Abdul Halim Al Haroni, 5/60, Darul Wafa’, cetakan ketiga, 1426 H).

————————-

ALLAH BERADA DIATAS, DI LANGIT DI ATAS ARSYI’-NYA

ALLAH BERADA DIATAS, DI LANGIT DI ATAS ARSYI’-NYA

Keberada’an Allah Ta’ala di Atas, di Langit, di atas ‘Arsy-nya ditunjukkan dengan beberapa dalil berikut ini.

1. Dalil dari Al-Qur’an yang menyebutkan keberada’an Allah di atas.
2. Para Malaikat dan Jibril naik ke atas menghadap Allah Ta’ala.
3. Perkata’an-perkata’an baik dan do’a naik ke atas.
4. Nabi Isa diangkat ke atas.
5. Di turunkannya Al-Kitab dari sisi-Nya.
6. Allah Ta’ala turun ke langit dunia di setiap malam.
7. Kisah isra’ mi’rajnya Nabi

1. Dalil dari Al-Qur’an yang menyebutkan keberada’an Allah di atas.

– Allah Ta’ala berfirman :

يَخَافُونَ رَبَّهُم مِن فَوْقِهِمْ‎

“Mereka takut kepada Rabb mereka yang (berada) di atas mereka”. (QS. An Nahl: 50).

– Allah Ta’ala berfirman :

وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ

“Dan Dialah yang berkuasa berada di atas hamba-hambaNya”. (QS. Al An’am: 61).

Ayat pertama yang menyatakan Allah berada di atas (dengan menggunakan kata fawqo [فَوْقَ] diawali huruf min).

Ayat ke dua yang menyatakan Allah berada di atas (dengan menggunakan kata fawqo [فَوْقَ], tanpa diawali huruf min).

Secara bahasa perbeda’an antara fawqo [فوق] pertama dan kedua, kalau yang menggunakan [من], maka maknanya tidak bisa ditakwil (dialihkan dari makna awal) dan ia hanya bermakna diatas dari segi posisi, bukan derajat. Dan gaya bahasa seperti ini banyak dalam Al-Qur’an, misalnya :

Pada Firman Allah Ta’ala :

فَخَرَّ عَلَيْهِم السَّقْفُ مِنْ فَوْقِهِمْ

“lalu atap (rumah itu) jatuh menimpa mereka dari atas”. (Q.S An-Nahl: 26).

Dan pada Firman Allah Ta’ala :

يَوْمَ يَغْشَاهُمُ الْعَذَابُ مِنْ فَوْقِهِمْ وَمِنْ تَحْتِ أَرْجُلِهِمْ

“Pada hari mereka ditutup oleh azab dari atas mereka dan dari bawah kaki-kaki mereka” (Q.S Al-‘Ankabut: 55).

Adapun yang tidak menggunakan [من] maka bisa ditakwil kepada makna diatas dari segi derajat, semisal ucapan [الذهب فوق الفضة] emas diatas perak, bisa jadi maknanya emas posisinya ditaruh diatas perak atau bisa juga bermakna emas lebih mahal dari perak (diatas dari segi harga/derajat).

Akan tetapi hukum asal untuk kalimat jenis kedua ini adalah dipahami secara dzohir (berada diatas) terlebih lagi jika dinisbahkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Selain itu kalaupun dimaknakan sebagai ketinggian kemuliaan Allah maka masih banyak dalil-dalil lain yang menunjukkan ketinggian posisi dzat Allah.

2. Para Malaikat dan Jibril naik ke atas menghadap Allah Ta’ala.

– Allah Ta’ala berfirman :

تَعْرُجُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ إِلَيْهِ

“Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Rabbnya”. (QS. Al Ma’arij: 4).

– Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

يُتَعَاقَبُونَ فِيكُمْ مَلَائِكَةٌ بِاللَّيْلِ وَمَلَائِكَةٌ بِالنَّهَارِ وَيَجْتَمِعُونَ فِي صَلَاةِ الصبح وَصَلَاةُ العَصْرِ ثُمَّ يُعَرَّجُ الَّذَيْنِ بَاتُوا فِيكُمْ فَيَسْأَلُهُمْ اللهُ – وَهُوَ أَعْلَمَ بِهِمْ – كَيْفَ تَرَكْتُمْ عُبَّادَي؟ فَيَقُولُونَ تَرَكْنَاهُمْ وَهُوَ يَصِلُونَ

“Para Malaikat di malam dan siang hari silih berganti mengawasi kalian, dan mereka berkumpul pada saat shalat Subuh dan shalat Ashar, kemudian para malaikat yang mengawasi kalian semalam suntuk naik (ke langit). Allah menanyakan kepada mereka, padahal Dia lebih mengetahui dari mereka, “Dalam keadaan apakah kalian tinggalkan hamba-hamba-Ku ?” Mereka menjawab, “Kami tinggalkan mereka dalam keadaan mengerjakan shalat” (Muttafaqun ‘alaihi).

Naik kepada-Nya (menghadap Allah) dalam ayat al-Qur’an dan hadits di atas, dengan menggunakan kata [عرج] dan kata [يعرج] pecahan dari kata [عرج].

3. Perkata’an-perkata’an baik dan do’a naik ke atas.

– Allah Ta’ala berfirman :

إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ

“Kepada-Nyalah naik perkata’an-perkata’an yang baik”. (QS. Fathir: 10).

– Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

اِتَّقُوْا دَعْوَةَ المَظْلُوْمِ فَإِنَّهَا تَصْعُدُ إِلَى اللهِ كَأَنَّهَا شَرَارَةٌ

“Berhati-hatilah terhadap do’a orang yang terzholimi. Do’anya akan naik (dihadapkan) pada Allah bagaikan percikan api” (HR. Hakim).

Yang dimaksud dengan ‘bagaikan percikan api’ adalah cepat sampainya (cepat terkabul) karena do’a ini adalah do’a orang yang dalam keada’an mendesak. (Faidul Qodir Syarh Al Jaami’ Ash Shogir, Al Munawi, 1/184).

Kata-kata yang baik dan do’a naik kepada-Nya dalam ayat dan hadits diatas dengan menggunakan kata [صعد] dan pecahannya [يَصْعَدُ] dan [تَصْعُدُ].

4. Nabi Isa diangkat ke atas.

Allah Ta’ala berfirman :

بَلْ رَفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ

“Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat ‘Isa kepada-Nya .. ” (QS. An Nisa’: 158).

Allah Ta’ala berfirman :

إِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ إِلَيَّ

“(Ingatlah), ketika Allah berfirman : “Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku”. (QS. Ali Imron: 55).

Nabi Isa diangkat kepada-Nya dengan menggunakan kata [رفع]. Sesuatu yang diangkat kepada Allah, maka menunjukkan bahwa Allah berada di atas.

5. Di turunkannya Al-Kitab dari sisi-Nya

– Allah Ta’ala berfirman :

تَنْزِيلُ الْكِتَابِ مِنَ اللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ

“Kitab (Al Qur’an ini) diturunkan oleh Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS. Az Zumar: 1).

– Allah Ta’ala berfirman :

تَنْزِيلُ الْكِتَابِ مِنَ اللَّهِ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ

“Diturunkan Kitab ini (Al Quran) dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui”. (QS. Ghafir: 2).

– Allah Ta’ala berfirman :

تَنْزِيلٌ مِنَ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

“Diturunkan dari Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”. (QS. Fushshilat: 2).

– Allah Ta’ala berfirman :

تَنْزِيلٌ مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ

“Yang diturunkan dari Rabb Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji”. (QS. Fushshilat: 42).

– Allah Ta’ala berfirman :

قُلْ نَزَّلَهُ رُوحُ الْقُدُسِ مِنْ رَبِّكَ بِالْحَقِّ

“Katakanlah: “Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al Quran itu dari Tuhanmu dengan benar”. (QS. An-Nahl: 102).

– Allah Ta’ala berfirman :

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ

“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan”. (QS. Ad-Dukhan: 3).

Sesuatu yang diturunkan maka sudah pasti dari atas ke bawah.

6. Allah Ta’ala turun ke langit dunia di setiap malam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ

“Rabb kami, Tabaroka wa Ta’ala turun setiap malamnya ke langit dunia. Hingga ketika tersisa sepertiga malam terakhir, Allah berfirman, ‘Siapa saja yang berdo’a pada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkannya. Siapa saja yang meminta pada-Ku, niscaya Aku akan memberinya. Siapa saja yang memohon ampunan pada-Ku, niscaya Aku akan mengampuninya”. (H.R Bukhari no. 1145 dan Imam Muslim no. 758).

Artinya turun yang di sebutkan dalam hadits diatas, adalah dari atas ke bawah.

7. Kisah isra’ mi’rajnya Nabi

Bertemunya Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan Allah di atas langit ke tujuh dalam peristiwa Isra’ Mi’raj adalah suatu kebenaran. Hanya saja Nabi tidak melihat Allah disebabkan hijab cahaya yang menghalanginya antara dirinya dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ini sebagaimana dijelaskan Imam Ibnu Abil ‘Izz al-Hanafi rahimahullah (Wafat: 792 H) dalam Syarah ath-Thahawiyah-nya.

Dalam peristiwa ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berulang kali menemui Allah untuk menerima syari’at shalat lima waktu sehari semalam. Naiknya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bertemu Allah di langit menjadi satu dalil dan penjelasan akan shahihnya i’tiqad Ahli Sunnah Wal-Jama’ah bahwa Allah itu istiwa’ di atas langit di atas ‘Arsy-Nya.

Dengan dasar inilah sehingga para Imam Madzhab termasuk Imam Syafi’i, menganut bahwa Allah di atas ‘Arsy.

Imam asy-Syafi’i rahimahullah (Wafat: 204 H) berkata, “Sunnah yang aku anut adalah sebagaimana yang dipegang (dianut) oleh Sufyan at-Tsauri, Imam Malik bin Anas dan selain keduanya yang merupakan pengakuan dengan syahadah (kesaksian) bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah (dengan benar) melainkan Allah dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah,

وَآنُ اللهُ عَلَى عَرْشِهِ فِي سَمَائِهِ يُقَرِّبُ مِنْ خُلْقِهِ كَيْفَ شَاءَ وَآنٌ اللهُ تَعَالَى يَنْزِلُ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا كَيْفَ شَاءَ

Dan sesungguhnya Allah di atas ‘Arsy-Nya di langit-Nya. Dia dekat dengan makhluk-Nya sebagaimana yang Dia kehendaki, dan turun ke langit dunia sebagaimana yang Dia kehendaki”. (Al-‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar, no. 443).

Apa yang diikrarkan oleh Imam asy-Syafi’i ini sesuai dengan pegangan para ulama Ahli Sunnah Wal-Jama’ah lainnya bermula dari para sahabat, para ulama tabi’in, dan seterusnya termasuklah Abu Hanifah, Malik, Ahmad, dan Imam Abu Hasan al-Asy’ari yang menjadi ikutan kelompok mahzab al-Asya’irah.

Itulah beberapa dalil yang menunjukkan keberada’an Allah Ta’ala di Atas, di Langit di atas ‘Arsy

____________