Tag Archives: Islam

BENARKAH HABIB ITU WALI ALLAH ?

BENARKAH HABIB ITU WALI ALLAH ?

Ketika mendengar kata habib, maka yang langsung terbayang dalam benak kita adalah seorang keturunan Rasulullah yang memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki orang lainnya dan merupakan seorang wali Allah. Itulah yang dapat ditangkap dari pemahaman masyarakat sebagian masyarakat terhadap habib. Lalu siapakah wali Allah yang sebenarnya ? Apakah benar setiap habib adalah wali Allah ?

• Definisi Wali

Secara bahasa (etimologi), kata wali adalah lawan dari ‘aduwwu (musuh) dan muwaalah adalah lawan dari muhaadah (permusuhan). Maka wali Allah adalah orang yang mendekat dan menolong (agama) Allah atau orang yang didekati dan ditolong Allah. Definisi ini semakna dengan pengertian wali dalam terminologi Al-Qur’an, sebagaimana Allah berfirman,

أَلآ إِنَّ أَوْلِيَآءَ اللهِ لاَخَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَهُمْ يَحْزَنُونَ {62} الَّذِينَ ءَامَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ {63}

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang beriman dan selalu bertakwa.”(QS. Yunus: 62–63).

Dari ayat tersebut, wali adalah orang yang beriman kepada Allah dan apa yang datang dari-Nya yang termaktub dalam Alquran dan terucap melalui lisan Rasul-Nya, memegang teguh syariatnya lahir dan batin, lalu terus menerus memegangi itu semua dengan dibarengi muroqobah (merasa diawasi oleh Allah), kontinyu dengan sifat ketakwaan dan waspada agar tidak jatuh ke dalam hal-hal yang dimurkai-Nya berupa kelalaian menunaikan kewajiban dan melakukan hal yang diharamkan. (Lihat Muqoddimah Karomatul Auliya’, Al-Lalika’i, Dr. Ahmad bin Sa’d Al-Ghomidi, 5:8).

Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan, “Allah Ta’ala menginformasikan bahwa para wali Allah adalah orang-orang yang beriman dan bertakwa. Siapa saja yang bertakwa ,maka dia adalah wali Allah.” (Tafsir Ibnu Katsir, 2:384).

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah juga menjelaskan dalam Syarah Riyadhus Shalihin no.96, bahwa wali Allah adalah orang-orang yang beriman dan bertakwa. Mereka merealisasikan keimanan di hati mereka terhadap semua yang wajib diimani, dan mereka merealisasikan amal sholih pada anggota badan mereka, dengan menjauhi semua hal-hal yang diharamkan seperti meninggalkan kewajiban atau melakukan perkara yang haram. Mereka mengumpulkan pada diri mereka kebaikan batin dengan keimanan dan kebaikan lahir dengan ketakwaan, merekalah wali Allah.

• Wali Allah Adalah yang Beriman Kepada Rasulullah shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitabnya yang berjudul Al Furqon Baina Auliya’ir Rohman wa Auliya’us Syaithon Hal.34 mengatakan, “Wali Allah hanyalah orang yang beriman kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beriman dengan apa yang dibawanya, dan mengikutinya secara lahir dan batin. Barangsiapa yang mengaku mencintai Allah dan wali-Nya, namun tidak mengikuti beliau maka tidak termasuk wali Allah bahkan jika dia menyelisihinya dan berbuat bid’ah, maka termasuk musuh Allah dan wali setan.

Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ

“Katakanlah : ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu’.” (QS. Ali Imran: 31)

Hasan Al Bashri berkata, “Suatu kaum mengklaim mencintai Allah, lantas Allah turunkan ayat ini sebagai ujian bagi mereka.”

Allah sungguh telah menjelaskan dalam ayat tersebut, barangsiapa yang mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Allah akan mencintainya. Namun siapa yang mengklaim mencintai-Nya tapi tidak mengikuti beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam maka tidak termasuk wali Allah. Walaupun banyak orang menyangka dirinya atau selainnya sebagai wali Allah, tetapi kenyataannya mereka bukan wali-Nya.

Dari uraian di atas, terlihat bahwa cakupan definisi wali ini begitu luas, mencakup setiap orang yang memiliki keimanan dan ketakwaan. Maka wali Allah yang paling utama adalah para nabi. Para nabi yang paling utama adalah para rasul. Para Rasul yang paling utama adalah ‘ulul azmi. Sedang ‘ulul azmi yang paling utama adalah Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dengan demikian sangat salah suatu pemahaman yang berkembang di masyarakat kita saat ini, bahwa wali itu hanya monopoli orang-orang tertentu, semisal ulama, habib, kyai, apalagi hanya terbatas pada orang yang memiliki ilmu yang aneh-aneh dan sampai pada orang yang meninggalkan kewajiban syariat yang dibebankan padanya.

Kalau pun benar seseorang merupakan keturunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka hal itu hanya keistimewaan dari segi nasab saja, apabila ia tidak beriman dan beramal sholih sesuai tuntunan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam keistimewaan itu akan terkubur sia-sia dan tidak akan berarti.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Wahai kaum Quraisy : Selamatkanlah jiwa kalian sesungguhnya aku tidak bisa menolong kalian sama sekali. Wahai bani Abdu Manaf, aku sama sekali tidak bisa menolong kalian. Wahai Abbas bin Abdilmuttholib, aku tidak bisa menolongmu sama sekali. Wahai Sofiyah bibinya Rasululllah, aku sama sekali tidak bisa menolongmu. Wahai Fatimah putri Muhammad, mintalah kepadaku apa yang engkau kehendaki dari hartaku, aku sama sekali tidak bisa menolongmu”. (HR. Al-Bukhari, no. 4771).

Maksudnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi dirinya dan keluarganya juga beliau tidak mampu menolak kemudharatan dari dirinya dan keluarganya serta tidak mampu mencegah adzab Allah yang akan menimpanya jika mereka bermaksiat kepada Allah.

______

Advertisements

HADITS TENTANG KEISLAMAN ORANG TUA NABI DAN SELAMATNYA MEREKA DARI API NERAKA

HADITS TENTANG KEISLAMAN ORANG TUA NABI DAN SELAMATNYA MEREKA DARI API NERAKA

• Hadits pertama,

عن عائشة قالت : «حج بنا رسول الله صلى الله عليه وسلم حجة الوداع ، فمرّ بي على عقبة الحجون وهو باكٍ حزين مغتم فنزل فمكث عني طويلاً ثم عاد إلي وهو فرِحٌ مبتسم ، فقلت له فقال : ذهبت لقبر أمي فسألت الله أن يحييها فأحياها فآمنت بي وردها الله »

Dari ‘Aisyah ia berkata : “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah melaksanakan haji bersama kami saat haji wada’. Lalu beliau bersamaku melintasi tempat yang bernama Hajuun dalam keadaan menangis dan sedih. Beliau pun turun (dari kendaraannya) dan menjauh dariku dalam waktu yang lama, kemudian kembali kepadaku dalam keadaan gembira dan tersenyum. Aku tanyakan kepada beliau (apa yang terjadi), dan beliau menjawab : “Aku tadi pergi ke kubur ibuku dan berdoa kepada Allah agar Ia menghidupkannya kembali hingga ia (ibuku) beriman kepadaku. Maka Allah pun mengembalikannya ke dunia ini lagi”.

✔ Status hadits : Maudlu’ (palsu).

Hadits ini dibawakan oleh As-Suyuthi dalam Al-Haawiy lil-Fataawaa 2/278. Diriwayatkan oleh Al-Jurqaaniy dalam Al-Abaathil wal-Manaakir (no. 207), Ibnu Syaahin dalam An-Naasikh wal-Mansuukh (no. 656), dan Ibnul-Jauziy dalam Al-Maudluu’aat (1/283-284) dari beberapa jalan, dari Muhammad bin Yahya Az-Zuhriy Abu Ghaziyyah, dari ‘Abdul-Wahhaab bin Musa, dari Abuz-Zinaad (dalam sanad lain : dari Ibnu Abiz-Zinaad), dari Hisyaam bin ‘Urwah, (dari ayahnya), dari ‘Aisyah radliyallaahu ‘anhaa.

Muhammad bin Yahya Az-Zuhriy. Ad-Daaruquthniy berkata : “Matruk”. Ia juga berkata : “Dari ‘Abdil-Wahhaab bin Musa, ia telah memalsukan (hadits)”. Al-Azdiy berkata : “Dla’iif” [lihat Miizaanul-I’tidaal 4/62 no. 8299, Al-Mughni fidl-Dlu’afaa’ 2/642 no. 6071, dan Adl-Dlu’afaa wal-Matrukiin lid-Daaruquthniy hal. 219 no. 483].

Berikut komentar para ulama tentang hadits tersebut :

– Ibnul-Jauziy berkata : “Hadits palsu tanpa ada keraguan” [Al-Maudluu’aat, 1/283].

– Abul-Fadhl bin Naashir berkata : “Hadits ini palsu” [idem].

– Ad-Daaruquthniy berkata : “Isnad dan matannya baathil” [Lisaanul-Miizaan, hal. 479 no. 5300 – biografi ‘Aliy bin Ahmad Al-Ka’biy].

– Al-Jurqaaniy berkata : “Hadits ini baathil” [Al-Abaathil wal-Manaakir hal. 123 no. 207].

– Adz-Dzahabiy berkata : “Hadits dusta” [Miizaanul-I’tidaal, 2/684 no. 5326 – biografi ‘Abdul-Wahhaab bin Musa].

– Ibnu Katsir berkata : “Sangat munkar (munkarun jiddan) para perawinya tidak diketahui (majhul)” [Adillatul-Mu’taqad Abi Haniifah oleh ‘Ali Al-Qaariy – yang dicetak dalam ‘Aqiidatul-Muwahhidiin oleh ‘Abdullah bin Sa’diy Al-Ghaamidiy Al-‘Abdaliy hal. 481].

• Hadits ke dua,

عن عمران بن حصين عن النّبيّ صلى الله عليه وسلم قال : « سألت ربّي عزّوجل أن لا يدخل أحداً من أهل بيتي النّار فأعطانيها»

Dari ‘Imraan bin Hushain, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : “Aku memohon kepada Rabb-ku ‘azza wa jalla untuk tidak memasukkan satupun dari keluarga (ahlul-bait)-ku ke neraka. Maka Allah pun mengabulkannya”.

✔ Status hadits : Maudlu’ (palsu).

Diriwayatkan oleh Ibnu Basyraan dalam Al-Amaaliy (56/1) : Telah mengkhabarkan kepada kami Abu Sahl Ahmad bin Muhammad bin ‘Abdillah bin Ziyaad Al-Qaththaan : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yunus : Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Aliy Al-Hanafiy : Telah menceritakan kepada kami Israaiil, dari Abu Hamzah Ats-Tsamaaliy, dari Abu Rajaa’, dari ‘Imraan bin Hushain secara marfu’.
Abu Hamzah Ats-Tsamaaliy, ia bernama Tsaabit bin Abi Shafiyyah. Ahmad dan Ibnu Ma’iin berkata : “Tidak ada apa-apanya (laisa bi-syai’)”.

– Abu Zur’ah berkata : “Layyin (lemah)”.

– Abu Haatim berkata : “Layyinul-hadiits, ditulis haditsnya, namun tidak dipakai sebagai hujjah”.

– Al-Jauzajaaniy berkata : “Waahiyul-hadiits”.

– An-Nasa’iy berkata : “Tidak tsiqah”.

– Ad-Daaruquthniy berkata : “Matruk”.

– Ibnu Hajar berkata : “Dla’iif, orang Raafidlah”. [lihat Siyaru A’laamin-Nubalaa’ 1/363 no. 1358, Tahdzibut-Tahdziib 2/7-8 no. 10, dan Taqriibut-Tahdziib hal. 185 no. 826].

– Muhammad bin Yunus, ia adalah Ibnu Musa bin Sulaiman bin ‘Ubaid bin Rabii’ah bin Kudaim As-Saamiy Al-Kudaimiy, Abul-‘Abbaas Al-Bashriy. Ad-Daruquthniy memasukkan dalam kitabnya Adl-Dlu’afaa. As-Sahmiy berkata : Aku mendengar Ad-Daaruquthniy berkata : “Al-Kudaimiy dituduh memalsukan hadits”. Al-Aajurriy berkata : “Aku mendengar Abu Dawud membicarakan Muhammad bin Sinan dan Muhammad bin Yunus, memutlakkan pada (hadits)-nya kedustaan”.

– Ibnu Hibbaan berkata : “Ia memalsukan hadits dari orang-orang tsiqah”.

– Adz-Dzahabiy berkata : “Haalik (orang yang binasa)”.

[lihat selengkapnya pada Al-Mughniy fidl-Dlu’afaa 2/646 no. 6109, Adl-Dlu’afaa wal-Matruukiin hal. 221 no. 488, Al-Jaami’ fil-Jarh wat-Ta’diil 3/106-107 no. 4233, dan Tahdzibut-Tahdziib 9/539-544 no. 886].

• Hadits ke tiga

عن ابن عمر رضي الله عنه عن النّبيّ صلى الله عليه وسلم أنّه قال : « إذا كان يوم القيامة شفعت لأبي وأمّي وعمّي أبو طالب وأخ لي كان في الجاهليّة »

Dari Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhu, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : “Pada hari kiamat nanti, aku akan memberi syafa’at kepada ayahku, ibuku, pamanku Abu Thaalib, dan saudaraku semasa Jahiliyyah”.

✔ Status hadits : Maudlu’ (palsu).

Diriwayatkan oleh Tammaam dalam Fawaaid-nya (2/45) : Telah menceritakan kepada kami Abul-Haarits Ahmad bin Muhammad bin ‘Ammaarah bin Abil-Khaththaab Al-Laitsiy dan Muhammad bin Harun bin Syu’aib bin ‘Abdillah, mereka berdua berkata : Telah memberitakan kepada kami Abu ‘Abdil-Malik Ahmad bin Ibrahim Al-Qurasyiy : Telah menceritakan kepada kami Abu Sulaiman Ayyuub Al-Mukattib : Telah menceritakan kepada kami Al-Waliid bin Salamah, dari ‘Ubaidullah bin ‘Umar, dari Naafi’, dari Ibnu ‘Umar radliyalaahu ‘anhuma, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam.
Al-Waliid bin Salamah, ia adalah Ath-Thabaraniy Al-Ardaniy.

– Imam Ad-Daaruquthniy berkata : “Matruukul-hadiits”. Ia juga berkata : “Dzaahibul-hadiits (orang yang ditingalkan haditsnya)”.

– Abu Haatim berkata : “Dzaahibul-hadiits”.

– Al-Haakim berkata : “Ia memalsukan hadits dari orang-orang tsiqah”.

– Adz-Dzahabiy berkata : “Al-Waliid bin Salamah Ath-Thabaraniy Al-Ardaniy dari ‘Ubaidullah bin ‘Umar, telah didustakan oleh Duhaim dan Al-Haakim”.

[lihat Al-Mughniy fidl-Dlu’afaa’ 3/772 no. 6857 dan Miizaanul-I’tidaal 4/339 no. 9372].

– Al-Kinaaniy berkata dalam Tanziihusy-Syarii’ah (1/322) saat mengkritik Tammaam yang hanya mengomentari status Al-Waliid dengan munkarul-hadiits : “Bahkan ia (Al-Waliid bin Salamah) adalah pendusta (kadzdzaab) sebagaimana dikatakan oleh banyak huffaadh. Dan aku mengira ini termasuk dari kebathilannya”.

• Hadits ke empat

عن ابن عبّاس قال : سمعت النّبيّ صلى الله عليه وسلم يقول : «شفعت في هؤلاء النّفر : في أبي وعمّي أبي طالب وأخي من الرّضاعة ـ يعني ابن السّعديّة ـ ليكونوا من بعد البعث هباء»

Dari Ibnu ‘Abbaas ia berkata : Aku mendengar Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Aku memberi syafa’at kepada beberapa orang ini : ayahku, pamanku Abu Thaalib, saudara sepersusuanku, yaitu Ibnus-Sa’diyyah, dimana mereka akan menjadi debu setelah hari kebangkitan”.

✔ Status hadits : Maudlu’ (palsu).

Diriwayatkan oleh Al-Khathiib dalam Taariikh Baghdaad (4/271), Al-Jurqaaniy dalam Al-Abaathil wal-Manaakir (hal. 128 no. 217), dan Ibnul-Jauziy dalam Al-Maudluu’aat (1/284-285), yang kesemuanya dari jalan : Abu Nu’aim, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Faaris, ia berkata : Telah menceritakan kepadaku Khaththaab bin ‘Abdid-Daaim Al-Arsuufiy : Telah menceritakan kepada kami Yahyaa bin Al-Mubaarak, dari Syariik, dari Manshuur, dari Laits, dari Mujaahid, dari Ibnu ‘Abbas secara marfu’.

Muhammad bin Faaris adalah Ibnu Hamdaan bin ‘Abdirrahman bin Muhammad bin Shabiih bin Muhammad bin ‘Abdirrahman bin ‘Abdirrazzaaq bin Ma’bad, Abu Bakr Al-‘Athasyiy Al-Ma’badiy. Al-Khathiib berkata : “Aku berkata kepada Abu Nu’aim tentangnya, lalu ia berkata : ‘Ia seorang Raafidliy yang ekstrim dalam bid’ah Rafidlahnya. Ia juga lemah dalam hadits”.

– Al-Khathiib juga berkata : “Ia tidak tsiqah”.

– Abul-Hasan Muhammad bin Al-‘Abbas bin Furaat berkata : “Abu Bakr Muhammad bin Faaris bin Hamdaan Al-Ma’badiy wafat pada bulan Dzulhijjah tahun 361 H. Ia bukan seorang yang tsiqah, tidak pula terpuji madzhabnya”

[lihat Taariikh Baghdaad 4/271, Lisaanul-Miizaan 7/436 no. 7298, Al-Maudluu’aat 1/284, dan Al-Abaathil wal-Manaakir hal. 128-129].

– Tentang Khaththaab bin ‘Abdid-Daaim Al-Arsuufiy, Al-Jurqaaniy berkata : “Khaththaab ini, seorang yang lemah (dla’iif) dan ma’ruf dengan riwayat-riwayat yang diingkari dari Yahya bin Al-Mubaarak Asy-Syaamiy” [lihat Al-Abaathil wal-Manaakir hal. 128]. Adz-Dzahabiy memasukkannya dalam Adl-Dlu’afaa’ 1/210 no. 1917].

– Al-Jurqaaniy berkata : “Hadits ini baathil, tidak ada asalnya. Laits bin Abi Sulaim adalah seorang yang lemah haditsnya. Manshuur bin Mu’tamir tidak mendengar satu pun riwayat dari Laits dan tidak pernah meriwayatkannya darinya karena kedla’ifannya. Yahya bin Al-Mubaarak ini adalah Syaamiy (orang Syaam) Shan’aaniy (orang Shan’a, Yaman). Seorang yang majhuul” [Al-Abaathil wal-Manaakir hal. 128].

– Ibnul-Jauziy berkata : “Hadits ini maudlu’ (palsu) tanpa keraguan. Adapun Laits, ia dla’iif. Manshuur tidak meriwayatkan darinya satu riwayatpun karena kedlaifannya. Yahya bin Al-Mubaarak ini adalah Syaamiy (orang Syaam) Shan’aaniy (orang Shan’a, Yaman), majhuul. Dan Al-Khaththaab adalah dla’iif” [Al-Maudluu’aat, 1/284].

• Hadits ke limam

عن علي بن أبي طالب قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ” هبط علي جبريل فقال يا محمد إن الله يقرئك السلام ويقول إني حرمت النار على صلب أنزلك وبطن حملك وحجر كفلك. فقال يا جبريل بين لى، فقال أما الصلب فعبد الله وأما البطن فآمنة بنت وهب، وأما الحجر فعبد يعنى عبدالمطلب وفاطمة بنت أسد “.

Dari ‘Aliy bin Abi Thaalib, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Jibril turun kepadaku dan berkata : ‘Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah mengucapkan salam kepadamu dan berfirman : Sesungguhnya aku telah mengharamkan neraka atas tulang sulbi yang telah mengeluarkanmu, perut yang mengandungmu, dan pangkuan yang telah memeliharamu’. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Wahai Jibril, terangkanlah kepadaku”. Ia (Jibril) berkata : “Adapun tulang sulbi, maka ia adalah ‘Abdullah. Adapun perut, maka ia adalah Aminah. Dan pangkuan, maka ia adalah ‘Abdul-Muthallib dan Faathimah binti Asad”.

✔ Status hadits : Maudu’ (palsu).

Diriwayatkan oleh Ibnul-Jauziy dalam Al-Maudluu’aat (1/283) dan Al-Jurqaaniy dalam Al-Abaathil wal-Manaakir (hal. 121-122 no. 206) dari jalan Abul-Husain Yahya bin Al-Husain bin Isma’il Al-‘Alawiy, ia berkata : Telah memberitakan kepada kami Abu ‘Abdillah Muhammad bin ‘Aliy bin Al-Husain Al-Hasaniy, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Zaid bin Haajib, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Ammaar Al-‘Aththaar, ia berkata : Telah menceritakan kepadaku ‘Aliy bin Muhammad bin Musa Al-Ghathaffaaniy, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Harun Al-‘Alawiy, ia berkata : Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin ‘Aliy bin Hamzah Al-‘Abbaasiy, ia berkata : Telah menceritakan kepadaku ayahku, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami ‘Aliy bin Musa bin Ja’far, ia berkata : Telah menceritakan kepadaku ayahku, dari Ja’far bin Muhammad, dari ayahnya, dari ‘Aliy bin Abi Thaalib secara marfu’.

– Al-Jurqaaniy berkata : “Hadits ini maudlu lagi baathil. Pada sanadnya terdapat lebih dari seorang perawi yang majhul.

– Telah berkata Abu Haatim Muhammad bin Hibbaan bin Ahmad Al-Bustiy Al-Haafidh : ‘Aliy bin Musa bin Ja’far Ar-Ridlaa meriwayatkan dari ayahnya banyak hal yang mengherankan (‘ajaaib).

Meriwayatkan darinya Abush-Shalt dan yang lainnya, seakan-akan dia ragu dan keliru. Aku bertanya kepada Al-Imam Muhammad bin Al-Hasan bin Muhammad perihal Abul-Husain Yahya bin Al-Husain bin Isma’il Al-Hasaniy Al-‘Alawiy. Ia berkata : ‘Ia seorang Rafidliy ekstrim…..” [Al-Abaathil wal-Manaakir hal. 122].

____________

ILMU FILSAFAT PERUSAK AQIDAH ISLAM

ILMU FILSAFAT PERUSAK AQIDAH ISLAM

Sebagian ahlul ahwa wal bida’ mengklaim bahwa ilmu-ilmu Ilahi (aqidah) itu masih Ghamidhah (kabur dan tak terpahami).
Menurut mereka, tidak mungkin dimengerti kecuali melalui jalan ilmu Mantiq dan Filsafat.

Bertolak dari sinilah kemudian mereka (kaum Mu’tazilah) sampai era sekarang mengadopsi ilmu filsafat untuk dijadikan sebagai perangkat pendukung untuk mendalami aqida Islam. [Tahaful Falasifah, 84. Nukilan dari Tanaquzhu Ahlil Ahwa wal Bida’ fil ‘Aqidah, 1/103. Penulis (Dr. ‘Afaf binti Hasan bin Muhammad Mukhtar) menyertakan ilmu filsafat sebagai sumber pengambilan hukum ke-8 oleh kalangan ahli bid’ah].

Ilmu Filsafat Tidak Ada Dalam Generasi Salaful Ummah. Al-Hafizh Ibnu Hajar Rahimahulloh (beliau adalah Ahmad bin Ali bin Muhammad Al-Kannani Al-Asqalani, Abu Al-Fadhl, Syihabuddin, Imam besar madzhab Syafi’iyyah, wafat 853H. Beografi lengkapnya lihat Thabaqaat Al-Huffadz, Sadzaraat Adz-Dzahab, dan Al-Badr Ath-Thali’) menceritakan : “Orang-orang yg muncul setelah tiga masa yg utama terlalu berlebihan dalam kebanyakan perkara yg di ingkari oleh tokoh-tokoh generasi Tabi’in dan generasi Tabi’ut Tabi’in. Orang-orang yg tidak merasa cukup dengan apa yg sudah dipegangi generasi sebelumnya sehingga mencampur adukkan perkara-perkara agama dengan teori-teori Yunani dan menjadikan pernyataan-pernyataan kaum Filosof sebagai sumber pijakan untuk meluruskan atsar yg berseberangan dengan Filsafat melalui penakwilan, meskipun itu tercela. Mereka tidak berhenti sampai disini, bahkan mereka mengklaim ilmu yg telah mereka susun adalah ilmu yg paling mulia dan sebaiknya dimengerti”. [Fathul Bari, 13/253 ].

Karena itulah, kaum Mu’tazilah dan golongan yg sepemikiran dengan mereka bertumpu kitab tafsir ma’tsur, hadits dan perkata’an Salaf. Perkataan al-Hafizh merupakan seruan yg tegas untuk berpegang teguh dengan petunjuk Salaf dan menjauhi perkara baru yg diluncurkan oleh generasi Khalaf yg bertentangan dengan petunjuk generasi Salaf. [Manhaj al-Hafizh Ibni Hajar fil ‘Aqidah, Muhammad Ishaq Kundu, 3/1446 ].

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahulloh mendudukkan, bahwa pengguna’an ilmu filsafat sebagai salah satu dasar pengambilan hukum adalah karakter orang-orang Mulhid dan ahli bid’ah. Karena itu, terdapat pernyataan Ulama Salaf yg menghimbau umat agar Iltizam dengan al-Qur’an dan as-Sunnah dan memperingatkan umat dari bid’ah dan ilmu filsafat (ilmu kalam). [Majmu’ Fatawa, 7/119].

ULAMA BICARA TENTANG ILMU FILSAFAT

Melalui ilmu filsafatlah, intervensi pemikiran asing masuk dalam Islam. Tidaklah muncul ideologi filsafat kecuali setelah umat Islam mengadopsi dan menerjemahkan ilmu-ilmu yg berasal dari Yunani melalui kebijakan pemerintah dibawah kendali al-Makmun masa itu.

Imam Ibnul Jauzi Rahimahulloh mengatakan : “Adapun sumber intervensi pemikiran dalam ilmu dan aqidah dari filsafat. Ada sejumlah orang dari kalangan ulama kita yg belum merasa puas dengan apa yg telah dipegangi oleh Rasululloh, yaitu merasa cukup dengan al-Qur’an dan as-Sunnah. Merekapun sibuk dengan mempelajari pemikiran-pemikiran kaum filsafat. Dan selanjutnya menyelami ilmu kalam yg menyeret mereja kepada pemikiran yg buruk yg pada gilirannya merusak aqidah”. [Shaidul Khathir, hlm.226].

Ibnu Shalah Rahimahulloh memvonis ilmu filsafat sebagai biang ketololan, rusaknya aqidah, kesesatan, sumber kebingungan, kesesatan dan membangkitkan penyimpangan dan Zamdaqah (kekufuran)”. [Fatawa wa Rasail Ibnu ash Shalah, 1/209-212. Nukilan dari Asbabul Khatha’ fi Tafsir, 1/266].

Dan masih banyak ulama yg lain yg mencela ilmu filsafat.

Wallohu A’lam.

Sumber : Ustadz Abu Minhal Hafizhahulloh.

=========================