Tag Archives: jahmiyah

DIMANA ALLAH BERADA SEBELUM DI CIPTAKANNYA ‘ARSY ?

DIMANA ALLAH BERADA SEBELUM DI CIPTAKANNYA ‘ARSY ?
.
Diantara kesesatan jahmiyah atau orang-orang yang terpengaruh faham jahmiyah adalah mempertanyakan keberada’an Allah Ta’ala sebelum di ciptakannya ‘Arsy.
.
Mereka bertanya, “Sebelum di ciptakan ‘Arsy Allah berada di mana ?”
.
Atau mereka bertanya, “Apa mungkin Allah berpindah tempat ?”
.
Itulah diantara pertanya’an-pertanya’an yang biasa di lontarkan orang-orang yang terpengaruh kesesatan faham jahmiyah.
.
“Dimana keberada’an Allah sebelum Allah Ta’ala menciptakan ‘Arsy ?”, “Apa mungkin Allah berpindah tempat ?”
.
PERTANYA’AN-PERTANYA’AN DI ATAS TIMBUL AKIBAT KESALAHAN BERFIKIR SANGAT FATAL, YAITU AKIBAT DARI SIKAP MENYERUPAKAN ALLAH DENGAN MAKHLUK.
.
Padahal Allah Ta’ala sudah menjelaskan dalam Firman-Nya :
.
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ
.
“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia . .” (Q.S Asy-Syuro: 11).
.
Terhadap makhluk kita boleh punya pemikiran atau pertanya’an, bagaimana, dari mana, mau kemana dan lainnya.
.
Misalnya, suatu sa’at kita melihat seekor angsa di depan rumah. Kemudian kita bertanya-tanya
.
Dari mana angsa itu ?
.
Pertanya’an di atas tidak ada yang salah, Karena makhluk terikat oleh hukum-hukum Sunnatullah yang berlaku atasnya. Tetapi untuk Allah Ta’ala, Dia terbebas dari semua ikatan-ikatan hukum yang berlaku sebagaimana pada makhluk-Nya.
.
Keberada’an Allah Ta’ala sebelum diciptakannya ‘Arsy, juga bagaimana keberada’an-Nya di atas ‘Arsy adalah termasuk perkara ghaib yang tidak di terangkan dalam Kitab-Nya. Dan kita tidak di wajibkan untuk mengetahui perkara-perkara yang tidak di terangkan oleh Allah dan Rasul-Nya.
.
Dalam sebuah riwayat disebutkan, bahwa ada kalanya dalam diri manusia timbul pikiran-pikiran aneh karena bisikan syaitan. Misalnya kita berpikir, bahwa alam semesta ini diciptakan oleh Allah. Lalu siapa yang menciptakan Allah ?
.
Nabi menasehatkan : Kalau ada bisikan-bisikan seperti itu, seorang Muslim cukup mengatakan, “Amantu billahi wa bi Rusulihi” (aku beriman kepada Allah dan kepada Rasul-rasul-Nya). (HR. Imam Ahmad).
.
Para Ulama sering mengatakan “Tafakkaruu fi khalqillah wa laa tafakkaruu fi dzatillah” (pikirkanlah tentang cipta’an Allah, namun jangan berpikir tentang Dzat-Nya).
.
ISTIWA’ TANPA TAKYIF, TAMTSIL DAN TASYBIH
.
Keimanan kita kepada Istiwa’ (bersemayam)-nya Allah di atas ‘Arsy/Langit tanpa melakukan takyif (menyatakan hakekat sifat tersebut), tanpa tamtsil (memisalkannya dengan makhluk) dan tanpa tasybih (menyerupakannya dengan makhluk).
.
Abu Nu’aim Al Ash-bahani (334 H-430 H) rahimahullah, penulis kitab Al Hilyah berkata : “Metode kami (dalam menetapkan sifat Allah) adalah jalan hidup orang yang mengikuti Al Kitab, As Sunnah dan ijma’ (konsensus para ulama). Di antara i’tiqod (keyakinan) yang dipegang oleh mereka (para ulama) bahwasanya hadits-hadits yang shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkan Allah berada di atas ‘Arsy dan mereka meyakini bahwa Allah beristiwa’ (menetap tinggi) di atas ‘Arsy-Nya. Mereka menetapkan hal ini tanpa melakukan takyif (menyatakan hakekat sifat tersebut), tanpa tamtsil (memisalkannya dengan makhluk) dan tanpa tasybih (menyerupakannya dengan makhluk). Allah sendiri terpisah dari makhluk dan makhluk pun terpisah dari Allah. Allah tidak mungkin menyatu dan bercampur dengan makhluk-Nya. Allah menetap tinggi di atas ‘Arsy-Nya di langit sana dan bukan menetap di bumi ini bersama makhluk-Nya”.
.
(Dinukil dari Majmu’ Al Fatawa, Ahmad bin Abdul Halim Al Haroni, 5/60, Darul Wafa’, cetakan ketiga, 1426 H).
.
ALLAH DIATAS ARSYI BUKAN BERARTI ALLAH MEMBUTUHKAN TEMPAT
.
Imam Abu Ja’far Ahmad bin Muhammad Ath Thahawi rahimahullah [wafat tahun 321 H]. Beliau berkata: “Allah tidak membutuhkan ‘Arsy dan apa yang ada dibawahnya. Allah menguasai segala sesuatu dan apa yang ada diatasnya. Dan Dia tidak memberi kemampuan kepada makhluk-Nya untuk mengetahui segala sesuatu.” Beliau menjelaskan bahwa Allah menciptakan ‘Arsy dan bersemayam di atasnya, bukanlah karena Allah membutuhkan ‘Arsy tetapi Allah memiliki hikmah tersendiri tentang hal itu. Bahkan sebaliknya, sekalian makhluk termasuk ‘Arsy bergantung kepada Allah Jalla wa ‘Ala.” [Lihat Imam al-Qadhi ‘Ali bin ‘Ali bin Muhammad bin ‘Abdil ‘Izz ad-Dimasyqi dalam Syarh ‘Aqidah at-Thahâwiyah, (hal. 372)].
.
.
.
با رك الله فيكم
.
By : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί
.
https://agussantosa39.wordpress.com/category/01-islam-dakwah-tauhid/01-islam-sudah-sempurna/
.
.
=====================

Advertisements

FIR’AUN MENGINGKARI ALLAH DI ATAS ‘ARSY

FIR’AUN MENGINGKARI ALLAH DI ATAS ‘ARSY
.
Pengingkaran keberada’an Allah Ta’ala di atas ‘Arsy bukan saja datang dari sekte sesat jahmiyah dan para pengekornya. Tapi jauh-jauh sebelumnya, keberada’an Allah Ta’ala di atas ‘Arsy di ingkari oleh Fir’aun. Karena kedurhaka’annya menolak dakwah Nabi Musa ‘alaihis salam, lalu Allah Ta’ala menenggelamkan Fir’aun ke dasar laut.
.
Pengingkaran Fir’aun terhadap keberada’an Allah Ta’ala di atas ‘Arsy, Allah abadikan di dalam Al-Qur’an.
.
Allah Ta’ala berfirman :
.
وَقالَ فِرْعَوْنُ يا هامانُ ابْنِ لي صَرْحاً لَعَلِّي أَبْلُغُ الْأَسْبابَ أَسْبابَ السَّماواتِ فَأَطَّلِعَ إِلى إِلهِ مُوسى وَ إِنِّي لَأَظُنُّهُ كاذِباً وَ كَذلِكَ زُيِّنَ لِفِرْعَوْنَ سُوءُ عَمَلِهِ وَ صُدَّ عَنِ السَّبيلِ وَ ما كَيْدُ فِرْعَوْنَ إِلاَّ في تَبابٍ
.
“Dan berkatalah Firaun, Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu, (yaitu) pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Tuhan Musa dan sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta.” Demikianlah dijadikan Fir’aun memandang baik perbuatan yang buruk itu, dan dia dihalangi dari jalan (yang benar), dan tipu daya Fir’un itu tidak lain hanyalah membawa kerugian”. (QS.Ghafir/Al Mu’min: 36-37).
.
Ayat di atas menceritakan tentang kesombongan dan kebodohan Fir’aun yang minta di buatkan sebuah bangunan tinggi yang tujuannya untuk melihat Allah yang di katakan oleh Nabi Musa berada di atas langit.
.
Terkait ayat di atas, seorang Ulama Ahli Tafsir Imam Al-Thabari rahimahullah (w. 310 H) berkata :

وقوله: (وَإِنِّي لأظُنُّهُ كَاذِبًا) يقول: وإني لأظنّ موسى كاذبا فيما يقول ويدّعي من أن له في السماء ربا أرسله إلينا.

“Dan firman-Nya (berkena’an kata-kata Fir’aun), “Dan sesungguhnya aku percaya Musa itu seorang pendusta !”, maksud perkata’an (Fir’aun) adalah, “Dan sesungguhnya aku percaya Musa ini pendusta terhadap apa yang dia katakan BAHWA MUSA MEMPUNYAI TUHAN DI LANGIT YANG MENGUTUSNYA”.

(Tafsir al-Thabari, 21/387, Tahqiq: Ahmad Syakir, cet Muassasah al-Risalah, cet Pertama, lihat juga: Tafsir ayat 38 Surah al-Qhasas).
.
Imam Abul Hasan al-Asy’ari rahimahullah (w. 324 H) dalam kitab beliau, Al-Ibanah terkait ayat di atas berkata :

كذب موسى عليه السلام في قوله: إن الله سبحانه فوق السماوات

“Dia (Fir’aun) mendustakan Musa ‘alaihi salam tentang perkata’an Musa : Bahwa ALLAH subhanahu wa Ta’ala berada DI ATAS LANGIT”.
.
Ahmad bin Abdul Halim Al Haroni mengatakan,
.
كَذَّبَ مُوسَى فِي قَوْلِهِ إنَّ اللَّهَ فَوْقَ السَّمَوَاتِ
.
“Fir’aun mengingkari Musa, di mana Musa mengatakan bahwa Allah berada di atas langit”. (Majmu’ Al Fatawa, 3/225).
.
• Yang mengingkari Allah Ta’ala di atas ‘Arsy adalah pengikut Fir’aun.
.
Ibnu Abil ‘Izz mengatakan, “Barangsiapa yang mendustakan ketinggian Dzat Allah di atas langit yaitu dari golongan Jahmiyah, maka mereka termasuk pengikut Fir’aun. Sedangkan yang menetapkan ketinggian Dzat Allah di atas langit, merekalah pengikut Musa dan pengikut Muhammad.” (Syarh Al ‘Aqidah Ath Thohawiyah, 2/441).
.
Itulah diantara ke durhaka’an Fir’aun yang mengingkari keberada’an Allah Ta’ala di atas langit akibat dari kesombongan dan kebodohannya.
.
Namun yang sangat mengherankan, ke durhaka’an Fir’aun tersebut justru malah di ikuti oleh sekte sesat jahmiyah dan orang-orang yang mengikuti kesesatannya sampai sa’at ini. Pengingkaran mereka terhadap keberada’an Allah Ta’ala di atas ‘Arsy adalah akibat dari menyerupakan Allah Ta’ala dengan makhluk. Padahal sifat Allah berbeda dengan sifat yang di miliki oleh makhluk.
.
Mereka itulah orang-orang yang mengingkari Allah Ta’ala di atas ‘Arsyi, sekte sesat jahmiyah dan para pengekornya yang sebenarnya musyabihah (yang menyerupakan Allah dengan makhluk).
.
.
با رك الله فيكم
.
By : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί
.
https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/
.
.
================

JAHMIYAH MEYAKINI ALLAH BERADA DI SETIAP TEMPAT

JAHMIYAH MEYAKINI ALLAH BERADA DI SETIAP TEMPAT
.
Diantara keyakinan sesat jahmiyah ialah, mereka mengingkari keberada’an Allah Ta’ala di atas ‘Arsy dan meyakini bahwa Allah Ta’ala berada di setiap tempat, Allah Ta’ala ada di mana-mana.
.
– Imam Abul-Hasan Al-Asy’ariy (260 – 324 H) rahimahullah di dalam kitabnya berkata :
.
وقد قال قائلون من المعتزلة والجهمية والحرورية : إن معنى استوى إستولى وملك وقهر، وأنه تعالى في كل مكان، وجحدوا أن يكون على عرشه، كما قال أهل الحق
.
“Dan telah berkata orang-orang dari kalangan mu’tazillah, jahmiyyah, dan haruriyyah (khawarij) : ‘Sesungguhnya makna istiwaa’ adalah : menguasai (istilaa’), memiliki, dan mengalahkan. ALLAH TA’ALA BERADA DI SETIAP TEMPAT. MEREKA MENGINGKARI KEBERADA’AN ALLAH DI ATAS ‘ARSY-NYA, sebagaimana yang dikatakan oleh Ahlul-Haq (Ahlus-Sunnah)”. (Al-Ibaanah, hal. 34-37).
.
– Imam al-Zahabi (673–748 H) berkata :
.
وَمَقَالَةُ الْجَهْمِيَّةِ أَنَّ اللهَ تَبَارَكَ وَتعَالَى فِيْ جَمِيْعِ الأَمْكِنَةِ تَعَالَى اللهُ عَنْ قَوْلِهِمْ
.
“Adapun perkata’an Jahmiyyah (bahwa) ‘Allah Tabāraka wa Ta‘ālaada BERADA DI SEMUA TEMPAT, Maha Tinggi Allah dari perkata’an (rendahan) mereka itu”. (Al-‘Uluww hlm. 143).
.
– Al Hafizh Abu Ja’far Muhammad bin ‘Utsman bin Muhammad bin Abi Syaibah Al ‘Abasi, muhaddits Kufah di masanya, di mana beliau telah menulis tentang masalah ‘Arsy dalam seribu kitab, beliau berkata,
.
وأنكروا العرش وأن يكون الله فوقه وقالوا إنه في كل مكان
.
“Jahmiyah mengingkari ‘Arsy dan mengingkari keberada’an Allah di atas ‘Arsy. JAHMIYAH KATAKAN BAHWA ALLAH BERADA DI SETIAP TEMPAT”. (Al ‘Uluw, hal. 220 dan Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 220-221).
.
Keyakinan sesat jahmiyah yang mengingkari keberada’an Allah Ta’ala di atas ‘Arsy dan meyakini Allah Ta’ala berada di setiap tempat, maka konsekuensinya Allah Ta’ala berarti berada di tempat-tempat kotor dan juga tempat-tempat najis.
.
Imam Abu Hasan Al-Asy’ariy rahimahullah berkata :
.
وَزَعَمَتِ الْمُعْتَزِلَةُ وَالْحَرُوْرِيَّةُ وَالْجَهْمِيَّةُ أَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، فَلَزِمَهُمْ أَنَّهُ فِيْ بَطْنِ مَرْيَمَ وَفِيْ الْحُشُوْشِ وَالأَخْلِيَةِ، وَهَذَا خِلَافُ الدِّيْنِ، تَعَالَى اللهُ عَنْ قَوْلِهِمْ
.
“Dan kaum Mu‘tazilah, Haruriyyah, dan jahmiyah beranggapan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala BERADA DI SETIAP TEMPAT. HAL INI MELAZIMKAN MEREKA BAHWA ALLAH BERADA DI PERUT MARYAM, TEMPAT SAMPAH DAN WC. PAHAM INI MENYELISIHI AGAMA. Maha Tinggi Allah dari perkataan (rendahan) mereka”. (Al-Ibānah fi Uṣūl Diyānah hlm. 26).
.
Maha suci Allah Ta’ala dari keyakinan rusak dan perkata’an buruk orang-orang jahmiyah. Maka pantas apabila di sebutkan sekte jahmiyah lebih buruk daripada yahudi dan nasrani.
.
Sa’id bin ‘Amir Adh Dhuba’i (122-208 H) Ulama Bashroh berkata :
.
هم شر قولا من اليهود والنصارى قد إجتمع اليهود والنصارى وأهل الأديان مع المسلمين على أن الله عزوجل على العرش وقالوا هم ليس على شيء
.
“Jahmiyah lebih jelek dari yahudi dan nashrani. Telah diketahui bahwa yahudi dan nashrani serta agama lainnya bersama kaum muslimin bersepakat bahwa Allah ‘azza wa jalla menetap tinggi di atas ‘Arsy. Sedangkan Jahmiyah, mereka katakan bahwa Allah tidak di atas sesuatu pun”. (Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar, hal. 157 dan Mukhtashor Al ‘Uluw hal. 168).
.
YANG DIMAKSUD ALLAH BERADA DI SETIAP TEMPAT ADALAH ILMUNYA
.
Menurut para Ulama Shalaf, yang dimaksud Allah berada di setiap tempat, Allah ada dimana-mana adalah ilmunya.
.
– Imam Ibnu Katsir rahimahullah (w 774 H) ketika menafsirkan surat Al Hadiid ayat 4 berkata :
.
“Dia bersama kamu” IALAH ILMU-NYA, PENGAWASAN-NYA, PENJAGA’AN-NYA bersama kamu, sedang Dzat Allah di atas ‘Arsy di langit”. (Tafsir Qur`anil Azhim: 4/317).
.
– Imam Malik bin Anas (93-179 H) berkata :
.
الله في السماء، وعلمه في كل مكان، لا يخلو منه شيء.
.
“Allah berada di atas langit, DAN ILMUNYA BERADA DI SETIAP TEMPAT. Tidak ada terlepas dari-Nya sesuatu”. (Mukhtashar Al-‘Ulluw, hal. 140 no. 130].
.
– Imam Ahmad bin Hambal (164-241 H) pernah ditanya,
.
ما معنى قوله وهو معكم أينما كنتم و ما يكون من نجوى ثلاثه الا هو رابعهم
.
Apa makna firman Allah, “Dan Allah bersama kamu di mana saja kamu berada” (QS. Al Hadiid: 4) dan “Tiada pembicara’an rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah keempatnya” (Q.S Al Mujadilah: 7) ?
.
Imam Ahmad bin Hambal menjawab :
.
قال علمه عالم الغيب والشهاده علمه محيط بكل شيء شاهد علام الغيوب يعلم الغيب ربنا على العرش بلا حد ولا صفه وسع كرسيه السموات والأرض
.
Yang dimaksud dengan kebersama’an tersebut adalah ILMU ALLAH. Allah mengetahui yang ghoib dan yang nampak. ILMU ALLAH MELIPUTI SEGALA SESUATU YANG NAMPAK DAN YANG TERSEMBUNYI. NAMUN RABB KITA TETAP MENETAP TINGGI DI ATAS ‘ARSY, tanpa dibatasi dengan ruang, tanpa dibatasi dengan bentuk. Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Kursi-Nya pun meliputi langit dan bumi”. (Itsbat Sifatil ‘Uluw, hal. 116).
.
– Adh-Dhahhaak berkata :
.
هو على العرش وعلمه معهم
.
“Allah berada di atas ‘Arsy, DAN ILMU-NYA BERSAMA MEREKA”. (As-Sunnah oleh ‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal hal. 80).
.
– Ibnul Mubarok bertanya pada Sufyan Ats Tsauri mengenai firman Allah ‘azza wa jalla,
.
وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ
.
“Dia (Allah) bersama kalian di mana saja kalian berada.” (QS. Al Hadid: 4).
.
روى غير واحد عن معدان الذي يقول فيه ابن المبارك هو أحد الأبدال قال سألت سفيان الثوري عن قوله عزوجل وهو معكم أينما كنتم قال علمه
.
Sufyan Ats Tsauri menyatakan BAHWA YANG DI MAKSUDKAN ADALAH ILMU ALLAH (yang berada bersama kalian, bukan dzat Allah)”. (Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar, 137-138).
.
– Imam Abul Hasan Al-’Asy’ari rahimahullah [260 – 324 H] dalam kitabnya Risaalah ila Ahli Ats-Tsagr berkata : Dan Allah mengetahui yang tersembunyi dan yang lebih samar dari yang tersembunyi, tidak ada sesuatupun di langit maupun di bumi yang tersembunyi bagi Allah, hingga seakan-akan Allah senantiasa hadir bersama segala sesuatu. Hal ini telah ditunjukan oleh Allah Azza wa Jalla dengan firmanNya,
.
وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ
.
Dia bersama kamu dimana saja kamu berada (QS Al-Hadiid : 4).
.
Para ahlul ilmi menafsirkan hal ini dengan ta’wil yaitu BAHWASANYA ILMU ALLAH MELIPUTI MEREKA DI MANA SAJA MEREKA BERADA”. (Risaalah ilaa Ahli Ats-Tsagr 231-234).
.
.
با رك الله فيكم
.
By : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί
.
https://agussantosa39.wordpress.com/category/01-islam-dakwah-tauhid/01-islam-sudah-sempurna/
.
.
____________________

ALLAH TA’ALA DIATAS ‘ARSY MENURUT SYAIKH ABDUL QADIR JAILANI

ALLAH TA’ALA DIATAS ‘ARSY MENURUT SYAIKH ABDUL QADIR JAILANI
.
Syaikh Abdul Qadir Jailani (470-561 H) adalah seorang ulama Ahlus Sunnah ahli fiqih bermadzhab hanbali yang sangat dihormati.
.
Sebagaimana para Ulama Ahlus Sunnah lainnya, Syaikh Abdul Qadir Jailani memiliki aqidah bahwa Allah Ta’ala berada di atas ‘Arsy. Hal ini bisa kita perhatikan di dalam kitabnya.
.
Syaikh Abdul Qadir Jailani berkata :
.
وهو بجهة العلو مستو، على العرش محتو على الملك محيط علمه بالأشياء
.
“Dia (Allah) beristiwa di atas. Dia di atas Arsy, Dia menguasai semua keraja’an, ilmu-Nya meliputi segala sesuatu”. (Abdul Qadir al-Jailani, al-Ghunyah, 1/71).
.
Lebih lanjut Syaikh Abdul Qadir Jailani menjelaskan tentang istawaa’-Nya Allah Ta’ala di atas ‘Arsy, yaitu memaknai istawaa’ sebagaimana teksnya tanpa ditakwil, juga tidak di maknai duduk atau menempel sebagaimana yang di maknai oleh orang-orang mujassimah atau sebagaimana yang di katakan oleh orang-orang dari pengekor Asy’ariyah. Syaikh Abdul Qadir Jailani juga menjelaskan kata istawaa’ tidak boleh dimaknai menguasai, sebagaimana aqidah Mu’tazilah.
.
Berikut keterangan Syaikh Abdul Qadir Jailani :
.
وينبغي إطلاق صفة الاستواء من غير تأويل، وأنه استواء الذات على العرش لا على معنى القعود والمماسة كما قالت المجسمة والكرامية، ولا على معنى العلو والرفعة كما قالت الأشعرية، ولا معنى الاستيلاء والغلبة كما قالت المعتزلة، لأن الشرع لم يرد بذلك ولا نقل عن أحد من الصحابة والتابعين من السلف الصالح من أصحاب الحديث ذلك.
.
“Selayaknya memahami istiwa Allah sesuai makna tekstualnnya, tanpa ditakwil. Dia bersemayam secara dzat di atas ‘Arsy, tidak kita maknai duduk dan menempel di Arsy, sebagaimana perkata’an Mujassimah dan Karramiyah, tidak pula dimaknai berada di atas, sebagaimana perkata’an Asy’ariyah. Tidak boleh dimaknai menguasai, sebagaimana aqidah Mu’tazilah. Karena syariat tidak menyebutkan semua makna itu, dan tidak dinukil satupun keterangan dari sahabat, maupun tabi’in di kalangan Salaf, para pembawa hadits”. (Abdul Qadir al-Jailani, al-Ghunyah, 1/74).
.
Syaikh Abdul Qadir Jailani juga mengatakan bahwa Allah Ta’ala turun ke langit terendah.
.
Syaikh Abdul Qadir Jailani berkata :

وأنه ينزل في كل ليلة إلى السماء الدنيا كيف شاء لا بمعنى نزول الرحمة وثوابه على ما ادعت المعتزلة والأشعرية…

“Dan sungguh Dia (Allah) juga turun ke langit terendah dengan cara yang Dia kehendaki, bukan bermakna turun rahmat-Nya atau pahala-Nya sebagaimana yang dikatakan oleh Mu’tazilah dan Asya’irah . .”. (Abdul Qadir al-Jailani, al-Ghunyah Li Thalibi `l-Haq, 56-57).
.
Perkata’an Syaikh Abdul Qadir Jailani di atas berdasarkan kepada hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
.
يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِيْنَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ اْلآخِرِ، فَيَقُوْلُ: مَنْ يَدْعُوْنِي فَأَسْتَجِيْبَ لَهُ، وَمَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ، وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ. حتى ينفجر الفجر

“Rabb kita tabaraka wa ta’ala turun ke langit dunia setiap sepertiga malam akhir. Ia lalu berkata: ‘Barangsiapa yang berdoa, akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku akan Aku beri. Siapa yang memohon ampun kepada-Ku, akan Aku ampuni. Hingga terbit fajar‘ ” (HR. Bukhari 1145, Muslim 758).
.
Ketika menerangkan keberada’an Allah Ta’ala di atas ‘Arsy, Syaikh Abdul Qadir Jailani membawawakan hadits jaariyah sebagai dalilnya.
.
Syaikh Abdul Qadir Jailani berkata :
.
وأنه بجهة العلو مستو، على العرش محتو، وأن النبي شهد بإسلام الجارية لما سألها: أي الله؟ فأشارت إلى السماء، وأن عرش الرحمن فوق الماء، والله تعالى على العرش ودونه سبعون ألف حجاب من نور وظلمة، وأن للعرض حد يعلمه الله.

“Dia (Allah) berada di atas, beristiwa’ di atas Arsy, meliputi segala kerajaan-Nya. Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam telah menyaksikan ke Islaman budak wanita ketika beliau bertanya kepadanya : “Di mana Allah ?” Maka dia (budak wanita) menunjuk ke atas. Dan bahwasanya Arsy Allah itu di atas air. Allah beristiwa’ di atasnya, sebelumnya (di bawahnya) adalah 70.000 hijab dari cahaya dan kegelapan. Dan bahwa arsy itu memiliki batasan yang di ketahui oleh Allah”. (Abdul Qadir al-Jailani, al-Ghunyah Li Thalibi `l-Haq, 56-57).
.
Itulah aqidah Syaikh Abdul Qadir Jailani yang memiliki pendapat yang bagus dalam masalah tauhid dan sifat-sifat Allah yang sesuai dengan pemahaman Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
.
Imam Ibnu Rajab berkata :

وللشيخ عبد القادر رحمه الله تعالى كلام حسن في التوحيد، والصفات، والقدر، وفي علوم المعرفة موافق للسنة،
.
“Syeikh Abdul Qadir Al Jailani rahimahullah memiliki pendapat yang bagus dalam masalah tauhid, sifat-sifat Allah, takdir, dan ilmu-ilmu ma’rifat yang sesuai dengan sunnah”. (Adz Dzail ‘Ala Thabaqil Hanabilah, Imam Ibnu Rajab).
.
.
_____________________

ALLAH TURUN KE LANGIT DUNIA

ALLAH TURUN KE LANGIT DUNIA

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ : يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِيْنَ يَبْقَى ثُلُثُ الأَخِيْرِ يَقُوْلُ : مَنْ يَدْعُوْنِيْ فَأَسْتَجِيْبَ لَهُ, مَنْ يَسْأَلُنِيْ فَأُعْطِيَهُ, مَنْ يَسْتَغْفِرُنِيْ فَأَغْفِرَ لَهُ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Rabb kita Tabaraka wa Ta’ala turun ke langit dunia pada setiap malam yaitu ketika sepertiga malam terakhir, (kemudian) Dia berfirman, ‘Barang siapa berdoa kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan, barang siapa meminta kepada-Ku, niscaya akan Aku berikan, dan barang siapa memohon ampun kepada-Ku, niscaya akan Aku ampuni.’”

PENJELASAN :

Turunnya Allah Tabaraka wa Ta’ala ke langit dunia merupakan salah satu dari sekian banyak sifat-sifat fi’liyah yang dimiliki-Nya. Sifat fi’liyah adalah sifat-sifat Allah yang berkaitan dengan kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala, seperti turun, istiwa, tertawa, murka, ridha, dan selainnya. Sifat-sifat tersebut telah ada sejak dahulu (qadim) jika dilihat dari segi jenisnya. Artinya sejak dulu Allah mampu untuk turun, tertawa, murka, ridha, berbicara dst.

Sementara jika dilihat dari kasus terjadinya maka semua sifat di atas adalah satu hal yang baru, yang bisa muncul jika Allah berkehendak untuk melakukannya.Ketika Allah berkehendak maka Dia akan melakukan hal tersebut, namun ketika Allah tidak berkehendak maka Dia tidak melakukannya. [Lihat Mukhtashar Al-Ajwibah Al-Ushuliyyah (hal. 30) dan Syarh Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah (hal. 78-79)]

Hadits di atas menyebutkan dengan sangat jelas bahwa Rabb kita Tabaraka wa Ta’ala turun ke langit dunia pada setiap sepertiga malam terakhir untuk mengijabahi do’a hamba-Nya. Akan tetapi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menjelaskan kepada kita tentang bagaimana cara turunnya Allah ke langit dunia. Allah pun tidak mewahyukan bagaimana caranya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. [Lihat Syarh ‘Aqidah Al-Wasithiyyah, Khalil Harras (hal. 165)]

Untuk itu, selaku hamba sekaligus ummat yang taat, sudah sepatutnya kita menerima khabar ini tanpa menanyakan kaifiyat (cara) turunnya Allah, karena perkara tersebut berada diluar jangkauan nalar kita. Kalaupun kita hendak bersikap takalluf (memberat-beratkan diri) dengan mengkhayalkan bagaimana turunnya Allah, maka hakekatnya kita telah melakukan tasybih (menyerupakan Allah dengan makhlukNya).

Allah Ta’ala telah berfirman :

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَىْءٌۚ وَهُوَالسَّمِيْعُ الْبَصِيْر

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Allah, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Qs. Asy-Syura: 11)

Selain itu, kita juga tidak patut untuk mengubah hakikat sifat turunnya Allah dengan permisalan-permisalan yang tidak ada asal-usulnya. Contohnya mengatakan bahwa yang turun bukanlah Dzat Allah, tetapi yang turun adalah rahmat Allah. Orang yang memiliki keyakinan ini, berarti telah terjebak dalam tahrif (mengubah makna). Padahal sejatinya, kebiasaan seperti itu adalah kebiasaan buruk orang-orang Mu’tazilah dan Asy’airah yang zhahirnya adalah perilaku kaum Yahudi, sebagaimana difirmankan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala,

مِنَ الَّذِيْنَ هَادُوْا يَحَرِّفُوْنَ الْكَلِمَ عَنْ مَّوَاضِعِهِ …

Artinya: “Yaitu orang-orang Yahudi, mereka mengubah perkataan dari tempat-tempatnya…” (Qs. An-Nisa’: 46)

Mengingat pentingnya masalah ini, banyak diantara para ulama yang menulis risalah khusus tentang hal ini. Dan berikut ini adalah komentar mereka:

1. Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “Aqidah yang aku yakini dan diyakini oleh orang-orang yang pernah aku temui seperti Sufyan, Malik dan selainnya adalah menetapkan syahadat bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah Rasulullah dan bahwasanya Allah berada di atas ‘Arsy-Nya di langit-Nya, lalu mendekat kepada makhluk-Nya sesuai dengan apa yang Dia kehendaki, dan sesungguhnya Allah turun ke langit dunia sebagaimana yang Dia kehendaki.” [Lihat Ijtima’ul Juyusy Al-Islamiyyah (hal. 94 dan 122), Mukhtashar Al-‘Uluw (hal. 176), Majmu’ Fatawa (IV/181), dan ‘Aunul Ma’bud (XIII/41 dan 47)]

2. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyahrahimahullah berkata, “Sesungguhnya pendapat tentang turunnya Allah setiap malam, telah tersebar luas melalui Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Salafush Shalih serta para ulama dan ahli hadits telah sepakat membenarkannya dan menerimanya. Siapa yang berkeyakinan sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka perkataan itu adalah haq dan benar, kendati ia tidak mengetahui tentang hakikat dan kandungan serta makna-maknanya. Sebagaimana orang yang membaca Al-Qur’an sedang dia tidak memahami makna ayat yang dibacanya. Karena sebenar-benar kalam adalah Kalam Allah (Al-Qur’an) dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (as-sunnah).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan perkataan ini dan yang semisalnya secara umum, tidak mengistimewakan seseorang atas orang lain, dan tidak pula disembunyikannya dari seseorang. Sedangkan para Sahabat serta para Tabi’in menyebutkannya, menukilnya, menyampaikannya dan meriwayatkannya di majelis-majelis khusus dan umum pula, yang selanjutnya dimuat dalam kitab-kitab Islam yang dibaca di majelis-majelis khusus maupun umum, seperti Shahih Al-Bukhari, Shahih Muslim, Muwaththa’ Imam Malik, Musnad Imam Ahmad, Sunan Abi Dawud, Sunan At-Tirmidzi, Sunan An-Nasa’i, dan yang semisalnya.” [Lihat Majmu’ Fatawa (V/322-323) dan Syarah Hadits Nuzul(hal. 69)]

3. Abdul Ghani Al-Maqdisi rahimahullah berkata, “Hadits-hadits tentang turunnya Allah ke langit dunia setiap hari telah mencapai derajat mutawatir dan (sanadnya) shahih. Maka wajib bagi kita untuk mengimaninya, pasrah menerimanya, tidak menentangnya, menjalankannya tanpa takyif (menanyakan caranya) dan tamtsil (menyerupakan dengan makhluk) sertatakwil (menyelewengkan artinya) sehingga meniadakan hakikat turunnya Allah.” [Lihat Al-Iqtishad fil I’tiqad(hal. 100)]

4. Imam Al-Ajurri rahimahullah berkata, “Mengimaninya adalah wajib, tetapi tidak boleh bagi seorang muslim untuk bertanya, ‘Bagaimana cara Allah turun?’ Dan tidak ada yang mengingkari hal ini, kecuali golongan Mu’tazilah. Adapun ahlul haq, mereka mengatakan, “Mengimaninya adalah wajib tanpa takyif (menanyakan caranya), sebab telah datang hadits-hadits yang shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala turun ke langit dunia setiap malam. Orang-orang yang meriwayatkan hadits ini kepada kita, mereka pula yang meriwayatkan hadits-hadits tentang hukum halal haram, shalat, zakat, puasa, haji dan jihad. Maka seperti halnya para ulama dalam menerima semua itu, mereka (ahlul haq) juga menerima hadits-hadits ini, bahkan mereka menegaskan, ‘Barang siapa yang menolaknya maka dia sesat dan keji.’” Mereka (ahlul haq) bersikap waspada darinya (para penolak kebenaran itu) dan memperingatkan ummat dari penyimpangannya.”[Lihat Asy-Syari’ah(II/93) dan ‘Aqidatus Salaf Ash-habil Hadits (hal. 81)]

5. Imam Ash-Shabuni rahimahullah berkata, “Para ulama ahli hadits menetapkan turunnya Rabb ‘Azza wa Jalla ke langit terendah pada setiap malam tanpa menyerupakan turun-Nya Allah itu dengan turunnya makhluk (tasybih), tanpa memisalkan (tamtsil) dan tanpa menanyakan bagaimana sifat turun-Nya (takyif). Tetapi menetapkannya sesuai dengan apa yang ditetapkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mengakhiri perkataan padanya (tanpa ada komentar lagi), memperlakukan kabar shahih yang memuat hal itu sesuai dengan zhahirnya, serta menyerahkan ilmunya kepada Allah.” [Lihat ‘Aqidatus Salaf Ash-habil Hadits (hal. 75)]

Ahlus Sunnah wal Jama’ah telah bersepakat mengenai wajibnya mengimani turunnya Allah Tabaraka wa Ta’ala ke langit dunia pada setiap malam, karena khabar tentang hal ini telah shahih datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai penerima wahyu dan pembawa risalah. Dengan demikian, cukuplah bagi kita untuk mengimani bahwa Allah memang benar turun ke langit dunia pada setiap sepertiga malam, yang merupakan waktu paling baik untuk diijabahnya do’a-do’a, tanpa mempertanyakan kaifiyatnya (takyif), tanpa merubah maknanya (tahrif), tanpa menyerupakan cara turunnya Allah dengan cara turun makhluk (tasybih), tanpa membuat permisalan-permisalan yang tidak ada asal-usulnya (tamtsil), dan juga tanpa pengingkaran dalam bentuk apa pun (ta’thil). Itulah penjelasan dan pemahaman paling baik serta paling selamat –insya Allah– untuk permasalahan ini, karena demikianlah yang difahami oleh orang-orang dari generasi terbaik, dan mereka itulah orang-orang yang paling mengerti dengan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sebagaimana dikatakan oleh Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah, “Pendapat yang benar adalah pendapat Salafush Shalih, yaitu menyakini turunnya Allah dan memahami riwayat ini sebagaimana datangnya, tanpa takyif (mempertanyakan caranya) dan tanpa tamtsil (menyerupakan dengan makhluk). Inilah jalan yang paling benar, paling selamat, paling cocok, dan paling bijaksana. Pegangilah keyakinan ini dan gigitlah dengan gigi gerahammu serta waspadalah dari keyakinan-keyakinan yang menyelisihnya.” [Lihat Ta’liq Fathul Bari (III/30)]

___

PENGERTIAN TASYBIH (MENYERUPAKAN) YANG SEBENARNYA

PENGERTIAN TASYBIH (MENYERUPAKAN) YANG SEBENARNYA

Ishaq bin Rohuwyah rahimahullah mengatakan, “Yang disebut tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk), jika kita mengatakan, ‘Tangan Allah sama dengan tanganku atau pendengaran-Nya sama dengan pendengaranku.’ Inilah yang disebut tasybih. Namun jika kita mengatakan sebagaimana yang Allah katakan yaitu mengatakan bahwa Allah memiliki tangan, pendengaran dan penglihatan, dan kita tidak sebut, ‘Bagaimana hakikat tangan Allah, dsb ?’ dan tidak pula kita katakan, ‘Sifat Allah itu sama dengan sifat kita (yaitu tangan Allah sama dengan tangan kita)’, seperti ini tidaklah disebut tasybih. Karena ingatlah Allah Ta’ala berfirman :

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat”. (Q.S Asy Syuro: 11). (Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 67).

———————–

SIFAT BUSUK JAHMIYAH ADALAH MUDAH MENUDUH MUJASSIMAH ATAU MUSYABBIHAH

SIFAT BUSUK JAHMIYAH ADALAH MUDAH MENUDUH MUJASSIMAH ATAU MUSYABBIHAH

Menyatakan Allah beristiwa’ (menetap tinggi) di atas ‘Arsy, di atas langit ketujuh bukan berarti menyerupakan Allah dengan makhluk. Kita yakini sifat Allah jauh berbeda dengan makhluk-Nya, karena itulah perbeda’an Allah yang memiliki sifat kemuliaan dan makhluk yang selalu dipenuhi kehinaan.

Sifat busuk dari Jahmiyah adalah, serampangan menuduh. Bagi setiap orang yang menetapkan sifat Allah, maka dituduhlah mujassimah atau musyabbihah.

Jangan heran kalau di tuduh mujassimah atau musyabbihah oleh jahmiyah. Jauh-jauh hari, Ahmad bin Abdul Halim Al Haroni telah mengisyaratkan,

فَالمُعْتَزِلَةُ والجهمية وَنَحْوُهُمْ مِنْ نفاة الصِّفَاتُ يَجْعَلُونَ كُلًّ مَنْ أُثَبِّتُهَا مُجَسِّمًا مُشَبَّهًا وَمِنْ هَؤُلَاءِ مَنْ يَعُدُّ مِنْ المُجَسِّمَةِ وَالمُشَبَّهَةِ مِنْ الأَئِمَّةِ المَشْهُورِينَ كَمَالُكَ والشافعي وَأُحْمَدُ وَأَصْحَابِهِمْ كَمَا ذَكَرَ ذَلِكَ أَبُو حَاتِمُ صَاحِبُ كِتَابِ الزِّينَةِ وَغَيْرِهِ

“Mu’tazilah, Jahmiyah dan semacamnya yang menolak sifat Allah, mereka menyebut setiap orang yang menetapkan sifat bagi Allah sebagai mujassimah atau musyabbihah. Bahkan di antara mereka menyebut para Imam besar yang telah masyhur (seperti Imam Malik, Imam Asy Syafi’i, Imam Ahmad dan pengikut setia mereka) sebagai mujassimah atau musyabbihah (yang menyerupakan Allah dengan makhluk). Sebagaimana hal ini disebutkan oleh Abu Hatim, penulis kitab Az Zinah dan ulama lainnya”.

(Minhajus Sunnah Nabawiyah fii Naqdi Kalamisy Syi’ah wal Qodariyah, Ahmad bin Abdul Halim Al Haroni, 2/44, Muassasah Qurthubah, cetakan pertama, tahun 1406 H).

————————-