Tag Archives: langit

ALLAH DI ATAS LANGIT/‘ARSY MENURUT EMPAT IMAM MADZHAB DAN IJMA’ PARA ULAMA

ALLAH DI ATAS LANGIT/‘ARSY MENURUT EMPAT IMAM MADZHAB DAN IJMA’ PARA ULAMA

Beriku perkata’an empat Imam madzhab tentang keberada’an Allah diatas Langit/’Arsy.

1. Imam Abu Hanifah (80-150 H).

– Imam Abu Hanifah mengatakan dalam Fiqhul Akbar :

مِنْ أَنْكَرُ أَنَّ اللهَ تَعَالَى فِي السَّمَاءِ فَقَدْ كفر

“Barangsiapa yang mengingkari keberadaan Allah di atas langit, maka ia kafir”.

(Itsbatu Shifatul ‘Uluw, Ibnu Qudamah Al Maqdisi, hal. 116-117, Darus Salafiyah, Kuwait, cetakan pertama, 1406 H).

– Dari Abu Muthi’ Al Hakam bin Abdillah Al Balkhiy pemilik kitab Al Fiqhul Akbar, beliau berkata,

سَأَلْتُ أَبَا حنيفة عَمَّنْ يَقُولُ لَا أَعْرِفُ رَبِّي فِي السَّمَاءِ أَوْ فِي الأَرْضِ فَقَالَ قَدَّ كُفْرٍ لِأَنَّ اللهَ تَعَالَى يَقُولُ الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى (٥) وَعَرْشِهِ فَوْقَ سَمَوَاتِهُ فَقُلْتُ إِنَّهُ يَقُولُ أَقُولُ عَلَى العَرْشِ أُسْتُوِيَ وَلَكِنْ قَالَ لَا يَدْرِي العَرْشُ فِي السَّمَاءِ أَوْ فِي الأَرْضِ قَالَ إِذَا أَنْكَرَ أَنَّهُ فِي السَّمَاءِ فَقَدْ كُفْرٌ رَوَاهَا صَاحِبُ الفاروق بِإِسْنَادٍ عَنْ أَبِي بَكْرٍ بِنْ نَصِيرُ بِنْ يَحْيَى عَنْ الحُكْمِ

Aku bertanya pada Abu Hanifah mengenai perkataan seseorang yang menyatakan, “Aku tidak mengetahui di manakah Rabbku, di langit ataukah di bumi ?” Imam Abu Hanifah lantas mengatakan, “Orang tersebut telah kafir karena Allah Ta’ala sendiri berfirman :

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

“Allah menetap tinggi di atas ‘Arsy”. (QS. Thaha: 5) Dan ‘Arsy-Nya berada di atas langit”. Orang tersebut mengatakan lagi, “Aku berkata bahwa Allah memang menetap di atas ‘Arsy” Akan tetapi orang ini tidak mengetahui di manakah ‘Arsy, di langit ataukah di bumi. Abu Hanifah lantas mengatakan, “Jika orang tersebut mengingkari Allah di atas langit, maka dia kafir”. (Lihat Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghofar, Adz Dzahabi, hal. 135-136, Maktab Adhwaus Salaf, Riyadh, cetakan pertama, 1995).

2. Imam Malik bin Anas (93-179 H).

– Imam Malik bin Anas berkata,

اللهُ فِي السَّمَاءِ وَعَلَمِهِ فِي كُلِّ مَكَانٍ لَا يَخْلُو مِنْهُ شَيْءٌ

“Allah berada di atas langit. Sedangkan ilmu-Nya berada di mana-mana, segala sesuatu tidaklah lepas dari ilmu-Nya”. (Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar, hal. 138).

– Diriwayatkan dari Yahya bin Yahya At Taimi, Ja’far bin ‘Abdillah, dan sekelompok ulama lainnya, mereka berkata,

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى مَالِكٍ فَقَالَ يَا أَبَا عَبْد الله الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى كَيْفَ أُسْتُوِيَ قَالَ فَمَا رَأَيْتُ مَالِكًا وَجَدّْ مِنْ شَيْءِ كموجدته مِنْ مَقَالَتِهِ وَعَلَّاهُ الرحضاء يَعْنِي العَرَقُ وَأَطْرُقُ القَوْمَ فَسِرِّي عَنْ مَالِكٍ وَقَالَ الكيف غَيْرُ مَعْقُولٍ وَالاِسْتِوَاءُ مِنْهُ غَيْرُ مَجْهُولٍ وَالإِيمَانُ بِهِ وَاجِبٌ وَالسُّؤَالُ عَنْهِ بِدْعَةٌ وَإِنَّي أَخَافُ أَنْ تَكُونَ ضَالًّا وَأَمَرَّ بِهِ فَأَخْرُجُ

“Suatu sa’at ada yang mendatangi Imam Malik, ia berkata, “Wahai Abu ‘Abdillah (Imam Malik), Allah Ta’ala berfirman :

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

“Allah menetap tinggi di atas ‘Arsy” (Q.S Thaha: 5). Lalu bagaimana Allah beristiwa’ (menetap tinggi) ?” Dikatakan, “Aku tidak pernah melihat Imam Malik melakukan sesuatu (artinya beliau marah) sebagaimana yang ditemui pada orang tersebut. Urat beliau pun naik dan orang tersebut pun terdiam.” Kecemasan beliau pun pudar, lalu beliau berkata,

الكَيْفُ غَيْرُ مَعْقُوْلٍ وَالإِسْتِوَاءُ مِنْهُ غَيْرُ مَجْهُوْلٍ وَالإِيْمَانُ بِهِ وَاجِبٌ وَالسُّؤَالُ عَنْهُ بِدْعَةٌ وَإِنِّي أَخَافُ أَنْ تَكُوْنَ ضَالاًّ

“Hakekat dari istiwa’ tidak mungkin digambarkan, namun istiwa’ Allah diketahui maknanya. Beriman terhadap sifat istiwa’ adalah suatu kewajiban. Bertanya mengenai (hakekat) istiwa’ adalah bid’ah. Aku khawatir engkau termasuk orang sesat.” Kemudian orang tersebut diperintah untuk keluar”. (Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghofar, hal. 378).

3. Imam Asy-Syafi’i (150-204 H).

Abu Abdillah Muhammad bin Idris Asy Syafi’i (Imam Syafi’i) berkata,

قَالَ وَآنُ اللهُ عَلَى عَرْشِهِ فِي سَمَائِهِ يُقَرِّبُ مِنْ خُلْقِهِ كَيْفَ شَاءَ وَآنٌ اللهُ تَعَالَى يَنْزِلُ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا كَيْفَ شَاءَ

Imam Asy Syafi’i berkata, “Sesungguhnya Allah berada di atas ‘Arsy-Nya yang berada di atas langit-Nya, namun walaupun begitu Allah pun dekat dengan makhluk-Nya sesuai yang Dia kehendaki. Allah Ta’ala turun ke langit dunia sesuai dengan kehendak-Nya”. (Itsbatu Shifatul ‘Uluw, hal. 123-124 dan Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghofar, hal.165).

4. Imam Ahmad bin Hambal (164-241H).

– Imam Ahmad bin Hambal pernah ditanya, apa makna firman Allah,

وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ

“Dan Allah bersama kamu di mana saja kamu berada”. (QS. Al-Hadiid: 4).

Dan Firman Allah Ta’ala,

مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ

“Tiada pembicara’an rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah keempatnya”. (Q.S Al Mujadilah: 7).

Imam Ahmad bin Hanbal menjawab,

عَلَّمَهُ عَالَمَ الغَيْبِ وَالشَّهَادَةَ عِلْمَهُ مُحِيطٌ بِكُلِّ شَيْءِ شَاهِدِ علام الغيوب يَعْلَمُ الغَيْبُ رَبَّنَا عَلَى العَرْشِ بِلَا حَدٍّ وَلَا صَفُّهُ وَسَّعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ

“Yang dimaksud dengan kebersama’an tersebut adalah ilmu Allah. Allah mengetahui yang ghoib dan yang nampak. Ilmu Allah meliputi segala sesuatu yang nampak dan yang tersembunyi. Namun Rabb kita tetap menetap tinggi di atas ‘Arsy, tanpa dibatasi dengan ruang, tanpa dibatasi dengan bentuk. Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Kursi-Nya pun meliputi langit dan bumi”. (Itsbat Sifatil ‘Uluw, hal. 116).

– Diriwayatkan dari Yusuf bin Musa Al Ghadadiy, beliau berkata,

قِيلَ لِأَبِي عَبْد الله أَحْمَدُ بِنْ سَوْفَ نَبُلُّ اللهَ عِزٌّ وَ جُلٌّ فَوْقَ السَّمَاءِ السَّابِعَةِ عَلَى عَرْشِهِ بَائِنٌ مِنْ خُلْقِهِ وَقُدْرَتِهِ وَعَلَمِهِ بِكُلِّ مَكَانٍ قَالَ نِعَمَ عَلَى العَرْشِ وَ لِأَيَخْلُو مِنْهُ مَكَانٌ

Imam Ahmad bin Hambal pernah ditanya, “Apakah Allah ‘azza wa jalla berada di atas langit ketujuh, di atas ‘Arsy-Nya, terpisah dari makhluk-Nya, sedangkan kemampuan dan ilmu-Nya di setiap tempat (di mana-mana) ?” Imam Ahmad pun menjawab, “Betul sekali. Allah berada di atas ‘Arsy-Nya, setiap tempat tidaklah lepas dari ilmu-Nya”. (Itsbat Sifatil ‘Uluw, hal. 116).

– Imam Ahmad bin Hambal menceritakan dari Ibnul Mubarok ketika ada yang bertanya padanya,

كيف نعرف ربنا

“Bagaimana kami bisa mengetahui Rabb kami ?” Ibnul Mubarok menjawab,

فِي السَّمَاءِ السَّابِعَةِ عَلَى عَرْشِهِ

“Allah di atas langit yang tujuh, di atas ‘Arsy-Nya”. Imam Ahmad lalu berkata :

هَكَذَا هُوَ عُنِّدْنَ

“Begitu juga keyakinan kami”. (Itsbat Sifatil ‘Uluw, hal. 118 ).

Itulah perkataan empat Imam Madzhab yang jelas-jelas perkata’an mereka meyakini bahwa Allah berada di atas langit/’Arsy di atas seluruh makhluk-Nya.

IJMA’ PARA ULAMA

Keberada’an Allah diatas Langit/’Arsy juga sebagai Ijma’ (konsesus) para Ulama.

– Ishaq bin Rohuwyah berkata, “Allah Ta’ala berfirman :

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

“Allah menetap tinggi di atas ‘Arsy” (Q.S Thaha: 5). Para ulama sepakat (berijma’) bahwa Allah berada di atas ‘Arsy dan beristiwa’ (menetap tinggi) di atas-Nya. Namun Allah Maha Mengetahui segala sesuatu yang terjadi di bawah-Nya, sampai di bawah lapis bumi yang ketujuh”. (Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghofar, hal. 179. Lihat Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 194).

Imam Adz Dzahabi rahimahullah (673-748 H), ketika membawakan perkataan Ishaq di atas mengatakan,

أَسْمَعَ وَيَحُكُّ إِلَى هَذَا الإِمَامِ كَيْفَ نَقُلْ الإِجْمَاعَ عَلَى هَذِهِ المَسْأَلَةِ كَمَا نَقُلْهُ فِي زَمَانِهِ قُتَيْبَةَ المَذْكُورِ

“Dengarkanlah perkata’an Imam yang satu ini. Lihatlah bagaimana beliau menukil adanya ijma’ (kesepakatan ulama) mengenai masalah ini. Sebagaimana pula ijma’ ini dinukil oleh Qutaibah di masanya”. (Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghofar, hal. 179. Lihat Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 194).

– ‘Utsman bin Sa’id Ad-Darimi Al-Hafizh (280 H).

قَالَ عُثمَانُ الدارمي فِي كِتَابِ النَّقْضِ عَلَى بَشَرِ المريسي وَهُوَ مُجَلَّدٌ سَمِعْنَاهُ مِنْ أَبِي حفص بِنْ القواس فَقَالَ قَدْ اِتَّفَقَتْ الكَلِمَةُ مِنْ المُسْلِمِينَ أَنَّ اللهَ فَوْقَ عَرْشِهِ فَوْقَ سَمَوَاتِهُ وَقَالَ أَيْضًا إِنَّ اللهَ تَعَالَى فَوْقَ عَرْشِهِ يَعْلَمُ وَيَسْمَعُ مِنْ فَوْقِ العَرْشِ لَا تُخْفَى عَلَيْهِ خَافِيَةٌ مِنْ خُلْقِهِ وَلَا يَحْجُبُهُمْ عَنْهِ شَيْءٌ

‘Utsman Ad Darimi berkata dalam kitabnya “An Naqdu ‘ala basyr Al Marisi” dan kitab tersebut sudah berjilid, kami mendengarnya dari Abu Hafsh bin Al Qowus, ia berkata, “Para ulama kaum muslimin telah sepakat bahwa Allah berada di atas ‘Arsy-Nya, di atas langit. ” Beliau pun berkata, “Allah berada di atas ‘Arsy-Nya. Namun Allah Maha Mengetahui dan Maha Mendengar (segala sesuatu) dari atas ‘Arsy-Nya, tidak ada satu pun makhluk yang samar bagi Allah, dan tidak ada sesuatu pun yang terhalangi dari-Nya”. (Al ‘Uluw, hal. 194 dan Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 213).

Diringkas dari :

https://rumaysho.com/933-di-manakah-allah-4.html

————————-

Advertisements

ALLAH BERADA DIATAS, DI LANGIT DI ATAS ARSYI’-NYA

ALLAH BERADA DIATAS, DI LANGIT DI ATAS ARSYI’-NYA

Keberada’an Allah Ta’ala di Atas, di Langit, di atas ‘Arsy-nya ditunjukkan dengan beberapa dalil berikut ini.

1. Dalil dari Al-Qur’an yang menyebutkan keberada’an Allah di atas.
2. Para Malaikat dan Jibril naik ke atas menghadap Allah Ta’ala.
3. Perkata’an-perkata’an baik dan do’a naik ke atas.
4. Nabi Isa diangkat ke atas.
5. Di turunkannya Al-Kitab dari sisi-Nya.
6. Allah Ta’ala turun ke langit dunia di setiap malam.
7. Kisah isra’ mi’rajnya Nabi

1. Dalil dari Al-Qur’an yang menyebutkan keberada’an Allah di atas.

– Allah Ta’ala berfirman :

يَخَافُونَ رَبَّهُم مِن فَوْقِهِمْ‎

“Mereka takut kepada Rabb mereka yang (berada) di atas mereka”. (QS. An Nahl: 50).

– Allah Ta’ala berfirman :

وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ

“Dan Dialah yang berkuasa berada di atas hamba-hambaNya”. (QS. Al An’am: 61).

Ayat pertama yang menyatakan Allah berada di atas (dengan menggunakan kata fawqo [فَوْقَ] diawali huruf min).

Ayat ke dua yang menyatakan Allah berada di atas (dengan menggunakan kata fawqo [فَوْقَ], tanpa diawali huruf min).

Secara bahasa perbeda’an antara fawqo [فوق] pertama dan kedua, kalau yang menggunakan [من], maka maknanya tidak bisa ditakwil (dialihkan dari makna awal) dan ia hanya bermakna diatas dari segi posisi, bukan derajat. Dan gaya bahasa seperti ini banyak dalam Al-Qur’an, misalnya :

Pada Firman Allah Ta’ala :

فَخَرَّ عَلَيْهِم السَّقْفُ مِنْ فَوْقِهِمْ

“lalu atap (rumah itu) jatuh menimpa mereka dari atas”. (Q.S An-Nahl: 26).

Dan pada Firman Allah Ta’ala :

يَوْمَ يَغْشَاهُمُ الْعَذَابُ مِنْ فَوْقِهِمْ وَمِنْ تَحْتِ أَرْجُلِهِمْ

“Pada hari mereka ditutup oleh azab dari atas mereka dan dari bawah kaki-kaki mereka” (Q.S Al-‘Ankabut: 55).

Adapun yang tidak menggunakan [من] maka bisa ditakwil kepada makna diatas dari segi derajat, semisal ucapan [الذهب فوق الفضة] emas diatas perak, bisa jadi maknanya emas posisinya ditaruh diatas perak atau bisa juga bermakna emas lebih mahal dari perak (diatas dari segi harga/derajat).

Akan tetapi hukum asal untuk kalimat jenis kedua ini adalah dipahami secara dzohir (berada diatas) terlebih lagi jika dinisbahkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Selain itu kalaupun dimaknakan sebagai ketinggian kemuliaan Allah maka masih banyak dalil-dalil lain yang menunjukkan ketinggian posisi dzat Allah.

2. Para Malaikat dan Jibril naik ke atas menghadap Allah Ta’ala.

– Allah Ta’ala berfirman :

تَعْرُجُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ إِلَيْهِ

“Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Rabbnya”. (QS. Al Ma’arij: 4).

– Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

يُتَعَاقَبُونَ فِيكُمْ مَلَائِكَةٌ بِاللَّيْلِ وَمَلَائِكَةٌ بِالنَّهَارِ وَيَجْتَمِعُونَ فِي صَلَاةِ الصبح وَصَلَاةُ العَصْرِ ثُمَّ يُعَرَّجُ الَّذَيْنِ بَاتُوا فِيكُمْ فَيَسْأَلُهُمْ اللهُ – وَهُوَ أَعْلَمَ بِهِمْ – كَيْفَ تَرَكْتُمْ عُبَّادَي؟ فَيَقُولُونَ تَرَكْنَاهُمْ وَهُوَ يَصِلُونَ

“Para Malaikat di malam dan siang hari silih berganti mengawasi kalian, dan mereka berkumpul pada saat shalat Subuh dan shalat Ashar, kemudian para malaikat yang mengawasi kalian semalam suntuk naik (ke langit). Allah menanyakan kepada mereka, padahal Dia lebih mengetahui dari mereka, “Dalam keadaan apakah kalian tinggalkan hamba-hamba-Ku ?” Mereka menjawab, “Kami tinggalkan mereka dalam keadaan mengerjakan shalat” (Muttafaqun ‘alaihi).

Naik kepada-Nya (menghadap Allah) dalam ayat al-Qur’an dan hadits di atas, dengan menggunakan kata [عرج] dan kata [يعرج] pecahan dari kata [عرج].

3. Perkata’an-perkata’an baik dan do’a naik ke atas.

– Allah Ta’ala berfirman :

إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ

“Kepada-Nyalah naik perkata’an-perkata’an yang baik”. (QS. Fathir: 10).

– Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

اِتَّقُوْا دَعْوَةَ المَظْلُوْمِ فَإِنَّهَا تَصْعُدُ إِلَى اللهِ كَأَنَّهَا شَرَارَةٌ

“Berhati-hatilah terhadap do’a orang yang terzholimi. Do’anya akan naik (dihadapkan) pada Allah bagaikan percikan api” (HR. Hakim).

Yang dimaksud dengan ‘bagaikan percikan api’ adalah cepat sampainya (cepat terkabul) karena do’a ini adalah do’a orang yang dalam keada’an mendesak. (Faidul Qodir Syarh Al Jaami’ Ash Shogir, Al Munawi, 1/184).

Kata-kata yang baik dan do’a naik kepada-Nya dalam ayat dan hadits diatas dengan menggunakan kata [صعد] dan pecahannya [يَصْعَدُ] dan [تَصْعُدُ].

4. Nabi Isa diangkat ke atas.

Allah Ta’ala berfirman :

بَلْ رَفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ

“Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat ‘Isa kepada-Nya .. ” (QS. An Nisa’: 158).

Allah Ta’ala berfirman :

إِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ إِلَيَّ

“(Ingatlah), ketika Allah berfirman : “Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku”. (QS. Ali Imron: 55).

Nabi Isa diangkat kepada-Nya dengan menggunakan kata [رفع]. Sesuatu yang diangkat kepada Allah, maka menunjukkan bahwa Allah berada di atas.

5. Di turunkannya Al-Kitab dari sisi-Nya

– Allah Ta’ala berfirman :

تَنْزِيلُ الْكِتَابِ مِنَ اللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ

“Kitab (Al Qur’an ini) diturunkan oleh Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS. Az Zumar: 1).

– Allah Ta’ala berfirman :

تَنْزِيلُ الْكِتَابِ مِنَ اللَّهِ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ

“Diturunkan Kitab ini (Al Quran) dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui”. (QS. Ghafir: 2).

– Allah Ta’ala berfirman :

تَنْزِيلٌ مِنَ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

“Diturunkan dari Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”. (QS. Fushshilat: 2).

– Allah Ta’ala berfirman :

تَنْزِيلٌ مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ

“Yang diturunkan dari Rabb Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji”. (QS. Fushshilat: 42).

– Allah Ta’ala berfirman :

قُلْ نَزَّلَهُ رُوحُ الْقُدُسِ مِنْ رَبِّكَ بِالْحَقِّ

“Katakanlah: “Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al Quran itu dari Tuhanmu dengan benar”. (QS. An-Nahl: 102).

– Allah Ta’ala berfirman :

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ

“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan”. (QS. Ad-Dukhan: 3).

Sesuatu yang diturunkan maka sudah pasti dari atas ke bawah.

6. Allah Ta’ala turun ke langit dunia di setiap malam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ

“Rabb kami, Tabaroka wa Ta’ala turun setiap malamnya ke langit dunia. Hingga ketika tersisa sepertiga malam terakhir, Allah berfirman, ‘Siapa saja yang berdo’a pada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkannya. Siapa saja yang meminta pada-Ku, niscaya Aku akan memberinya. Siapa saja yang memohon ampunan pada-Ku, niscaya Aku akan mengampuninya”. (H.R Bukhari no. 1145 dan Imam Muslim no. 758).

Artinya turun yang di sebutkan dalam hadits diatas, adalah dari atas ke bawah.

7. Kisah isra’ mi’rajnya Nabi

Bertemunya Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan Allah di atas langit ke tujuh dalam peristiwa Isra’ Mi’raj adalah suatu kebenaran. Hanya saja Nabi tidak melihat Allah disebabkan hijab cahaya yang menghalanginya antara dirinya dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ini sebagaimana dijelaskan Imam Ibnu Abil ‘Izz al-Hanafi rahimahullah (Wafat: 792 H) dalam Syarah ath-Thahawiyah-nya.

Dalam peristiwa ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berulang kali menemui Allah untuk menerima syari’at shalat lima waktu sehari semalam. Naiknya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bertemu Allah di langit menjadi satu dalil dan penjelasan akan shahihnya i’tiqad Ahli Sunnah Wal-Jama’ah bahwa Allah itu istiwa’ di atas langit di atas ‘Arsy-Nya.

Dengan dasar inilah sehingga para Imam Madzhab termasuk Imam Syafi’i, menganut bahwa Allah di atas ‘Arsy.

Imam asy-Syafi’i rahimahullah (Wafat: 204 H) berkata, “Sunnah yang aku anut adalah sebagaimana yang dipegang (dianut) oleh Sufyan at-Tsauri, Imam Malik bin Anas dan selain keduanya yang merupakan pengakuan dengan syahadah (kesaksian) bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah (dengan benar) melainkan Allah dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah,

وَآنُ اللهُ عَلَى عَرْشِهِ فِي سَمَائِهِ يُقَرِّبُ مِنْ خُلْقِهِ كَيْفَ شَاءَ وَآنٌ اللهُ تَعَالَى يَنْزِلُ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا كَيْفَ شَاءَ

Dan sesungguhnya Allah di atas ‘Arsy-Nya di langit-Nya. Dia dekat dengan makhluk-Nya sebagaimana yang Dia kehendaki, dan turun ke langit dunia sebagaimana yang Dia kehendaki”. (Al-‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar, no. 443).

Apa yang diikrarkan oleh Imam asy-Syafi’i ini sesuai dengan pegangan para ulama Ahli Sunnah Wal-Jama’ah lainnya bermula dari para sahabat, para ulama tabi’in, dan seterusnya termasuklah Abu Hanifah, Malik, Ahmad, dan Imam Abu Hasan al-Asy’ari yang menjadi ikutan kelompok mahzab al-Asya’irah.

Itulah beberapa dalil yang menunjukkan keberada’an Allah Ta’ala di Atas, di Langit di atas ‘Arsy

____________

MARAHNYA IMAM MALIK KEPADA ORANG YANG BERTANYA BAGAIMANA CARANYA ALLAH BERSEMAYAM DIATAS ARSY

MARAHNYA IMAM MALIK KEPADA ORANG YANG BERTANYA BAGAIMANA CARANYA ALLAH BERSEMAYAM DIATAS ARSY

Telah masyhur riwayat Al-Imam Maalik bin Anas rahimahullah sebagai berikut :

ذكره علي بن الربيع التميمي المقري قال ثنا عبد الله ابن أبي داود قال ثنا سلمة بن شبيب قال ثنا مهدي بن جعفر عن جعفر بن عبد الله قال جاء رجل إلى مالك بن أنس فقال يا أبا عبد الله الرحمن على العرش استوى كيف استوى قال فما رأيت مالكا وجد من شيء كموجدته من مقالته وعلاه الرحضاء يعني العرق قال واطرق القوم وجعلوا ينتظرون ما يأتي منه فيه قال فسرى عن مالك فقال الكيف غير معقول والاستواء منه غير مجهول والإيمان به واجب والسؤال عنه بدعة فإني أخاف أن تكون ضالا وامر به فأخرج

Telah menyebutkan kepadanya ‘Aliy bin Ar-Rabii’ At-Tamimiy Al-Muqri’, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Abi Dawud, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Salamah bin Syabiib, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Mahdiy bin Ja’far, dari Ja’far bin ‘Abdillah, ia berkata : Datang seorang laki-laki kepada Malik bin Anas. Ia berkata : “Wahai Abu ‘Abdillah, ‘Ar-Rahman yang beristiwaa’ (bersemayam) di atas ‘Arsy’; bagaimana Allah beristiwaa’ ?”. Perawi berkata : “Belum pernah aku melihat beliau (Malik) marah sedemikian rupa seperti marahnya beliau kepada orang itu. Tubuhnya berkeringat, orang-orang pun terdiam. Mereka terus menantikan apa yang akan terjadi. Maka keadaan Al-Imam Malik kembali normal, beliau berkata : “Kaifiyah-nya tidaklah dapat dinalar, istiwaa’ sendiri bukan sesuatu yang majhul, beriman kepadanya adalah wajib, dan bertanya tentangnya adalah bid’ah. Dan sesungguhnya aku khawatir kamu berada dalam kesesatan”. Kemudian beliau memerintahkan orang tersebut untuk dikeluarkan dari majelisnya. [Syarh Ushuulil-I’tiqad Ahlis-Sunnah wal-Jama’ah, hal. 398, tahqiq : Ahmad bin Mas’ud bin Hamdaan; desertasi S3].

Makna “istiwaa’ itu bukan sesuatu yang majhuul” adalah bahwa istiwaa’ itu diketahui maknanya secara hakiki sebagaimana dhahir bahasa Arab yang jelas.

==========================

JANGAN DISAMAKAN ANTARA TEMPAT DAN ARAH

JANGAN DISAMAKAN ANTARA TEMPAT DAN ARAH

Adapun penjelasan maksud dari aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah bahwasanya Allah berada di atas, maka melalui point-point berikut ini :

Ketinggian itu ada dua :

1. Ketinggian relatif
2. Ketinggian mutlaq

– Ketinggan relatif, maka sebagaimana bila kita katakan bahwasanya lantai empat lebih tinggi daripada lantai satu, akan tetapi hal ini relatif, karena ternyata lantai empat lebih rendah daripada lantai enam.

– Ketinggian mutlak adalah ketinggian kearah atas.

Semua manusia di atas muka bumi ini bersepakat bahwasanya semakin sesuatu ke arah atas maka semakin tinggilah sesuatu tersebut. Maka jadilah poros bumi sebagai titik nol pusat kerendahan, dan semakin ke arah atas (yaitu ke arah langit) maka berarti semakin kearah yang tinggi.

Oleh karenanya sering juga kita mendengar perkataan para fisikawan “Tinggi gunung ini dari permuka’an tanah…. atau dari permukaan air laut..”.

Oleh karenanya kita harus paham bahwasanya langit senantiasa letaknya di atas. Taruhlah jika kita sedang berada di bagian bumi bagian selatan, maka langit pada bagian bumi selatan adalah di atas kita, demikian juga langit pada bagian bumi utara juga berada di atas kita, demikian juga langit pada bagian bumi barat dan langit pada bagian bumi timur.

Apa yang ada dalam alam wujud ini hanyalah ada dua :

1. Allah (kholiq/pencipta)
2. Alam semesta (makhluk/cipta’an Allah).

Bagian alam yang paling tinggi adalah langit yang ke tujuh, dan Allah berada di atas langit yang ketujuh, yaitu Allah berada di luar alam.

Jangan di bayangkan bahwa setelah langit yang ke tujuh ada ruang hampa tempat Allah berada, karena ruang hampa juga merupakan alam. Intinya kalau dianggap ada yang lebih tinggi dari langit ketujuh dan merupakan penghujung alam semesta dan yang tertinggi maka Allah berada di balik (di luar) hal itu, dan lebih tinggi dari hal itu. Sehingga tidak ada suatu tempat (yang tempat merupakan makhluk Allah) yang meliputi Allah, karena Allah di luar alam semesta.

Dari penjelasan di atas, maka jika Ahlus Sunnah mengatakan bahwa Allah di jihah (di arah) atas maka bukanlah maksudnya Allah berada di suatu tempat yang merupakan makhluk. Akan tetepi Allah berada di luar alam, dan berada di arah atas alam. Dan jihah tersebut bukanlah jihah yang berwujud akan tetapi jihah yang tidak berwujud karena di luar alam. (lihat penjelasan Ibnu Rusyd Al-Hafiid dalam kitabnya Al-Kasyf ‘an Manhaj Al-Adillah hal 145-147).

____________

DIMANA ALLAH TINGGAL SEBELUM DI CIPTAKAN LANGIT ?

DIMANA ALLAH TINGGAL SEBELUM DI CIPTAKAN LANGIT ?

Orang yang tidak percaya Allah di atas langit bertanya :

Sebelum langit di ciptakan, Allah berada di mana ?????

Apa mungkin Allah berpindah tempat ?

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Tanggapan :

“KERUWETAN AKAL MEMBAWA KERUWETAN JIWA”.

1. Dalil yang menyatakan bahwa Allah itu ada di atas Arasy setidaknya ada 7 ayat dalam Al Qur’an yang secara qath-i menjelaskan hal itu

(1). Surat Al A’raaf ayat 54
(2). Yunus ayat 3
(3). Ar Ra’du ayat 2
(4). Thaha ayat 5
(5). Al Furqan ayat 59
(6). As Sajadah ayat 4
(7). Al Hadid ayat 4

Bahkan dalam Surat Al Baqarah ayat 29 disebutkan : “Tsumma istawa ilas sama’i fasauwahunna sab’a samawaat” (kemudian Dia istiwa menuju ke langit, lalu Dia ciptakan 7 tingkat langit).

Sebagai orang Muslim, sebelum kita berpikir masuk akal atau tidak, semestinya harus mengimani ayat-ayat ini. Kalau tidak demikian, berarti kita membuat syarat-syarat dalam keimanan kita.

Misalnya, kalau masuk akal diimani, kalau tak masuk akal ditolak. Janganlah demikian, sebab hal itu dianggap tidak tulus dalam beragama.

2. Dalam ajaran Islam banyak perkara yang bersifat ghaib

Ghaib bisa karena waktu, misalnya peristiwa-peristiwa di masa lalu, atau di masa depan. Ghaib bisa karena ruang, misalnya letaknya sangat jauh, atau sangat kecil, sehingga tak tampak oleh penglihatan normal. Ghaib juga bisa karena wujudnya tidak tampak, misalnya makhluk halus, seperti jin, Malaikat, ruh, dll. Padahal mereka ada dan eksis.

Di antara perkara ghaib itu ada yang Allah ajarkan, dan ada pula yang tidak Allah ajarkan.

Contoh :

Hanya sebagian saja dari ribuan Nabi dan Rasul yang disebutkan kisahnya dalam Kitabullah dan Sunnah.

Terhadap berita-berita yang Allah ceritakan, ya kita imani. Adapun yang tidak Allah ceritakan, kita menahan diri untuk tidak masuk ke wilayah itu, agar tidak menjadi sesat karenanya.

Na’udzubillah min dzalik.

Informasi atau ilmu tentang dimana posisi Allah Ta’ala sebelum Diri-Nya menciptakan langit dan Arasy, adalah termasuk hal-hal sangat ghaib yang tidak diceritakan dalam Kitab-Nya.

Kalau terhadap kisah Nabi-nabi tertentu yang tidak dikisahkan dalam Al Qur’an, kita mau menahan diri untuk tidak mengorek-ngorek kisah seperti itu.

Lalu bagaimana mungkin kita akan mempertanyakan posisi Allah sebelum Dia menciptakan langit dan Arasy ?

Apa perlunya ?

Kalau misalnya kita sudah tahu, apakah itu bisa meningkatkan keimanan, atau membuat akal justru semakin liberal dengan fantasi-fantasi ala Bani Israil lainnya ?

3. Dalam Al Qur’an atau Sunnah dijelaskan, bahwa Allah Ta’ala bersemayam di atas Arasy. Arasy itu ada di atas langit yang ke-7.

Bagaimana cara Allah bersemayam di atas Arasy, hal itu merupakan perkara ghaib.

Kita tidak boleh mengatakan, Allah disana “duduk”, “berdiri”, “menempel”, “mengambang”, dll.

Karena memang semua itu tidak dijelaskan oleh-Nya dan oleh Nabi-Nya Shallallah ‘Alaihi Wasallam.

Termasuk pertanya’an, apakah Arasy itu berupa ruang, udara kosong, dimensi nihil, atau apapun ?

Semua itu tidak perlu dipikirkan dan ditanyakan. Dengan sendirinya, jika Istiwa’ Allah di atas langit tidak usah ditanyakan, maka bagaimana keada’an Allah sebelum menciptakan langit, lebih tak perlu ditanyakan lagi.

4. Munculnya pertanya’an, dimana Allah sebelum Allah menciptakan langit dan Arasy, hal ini lahir karena kesalahan berpikir sangat fatal, yaitu sejak awal sudah mempersepsikan Allah seperti makhluk.

Misalnya, suatu sa’at kita melihat seekor burung hinggap di pohon depan rumah. Maka pikiran logis kita akan segera bergerak :

Dari mana nih burung ?

Kok pagi-pagi sudah nongol di depan rumah ?

Nah, untuk makhluk, kita bisa berpikir seperti itu, karena makhluk terikat oleh hukum-hukum Sunnatullah yang berlaku atasnya.

Dalam masalah makhluk kita selalu berpikir “darimana ini”, “akan kemana”, “nanti menjadi apa”, “prosesnya bagaimana”, dll.

Tetapi untuk Allah Ta’ala, Dia terbebas dari semua ikatan-ikatan hukum yang berlaku pada makhluk-Nya.

Kalau manusia memanjat dia akan menjadi tinggi, kalau terjun ke bawah akan menjadi rendah, kalau berlari akan menjadi cepat, kalau diam dia tidak bergerak, kalau kehujanan akan kedinginan, kalau kena sinar matahari akan kepanasan.

Manusia atau makhluk terikat hukum-hukum demikian. Tetapi Allah Ta’ala tidak terikat semua itu. Dia bisa berbuat apapun yang Dia inginkan, sehingga ada ayat Al Qur’an yang berbunyi : “Idza arada syai’an an yaqula lahu kun fa yakun” (kalau Dia menginginkan sesuatu, tinggal mengatakan “kun” maka jadilah apa yang Dia inginkan itu).

Bersemayamnya Allah di atas Arasy atau langit adalah bagian dari kehendak-Nya.

Allah ingin apapun dan bagaimanapun, itu hak Allah sebagai pencipta alam semesta dan kehidupan. Kita sebagai manusia tidak punya hak mencampuri urusan Rububiyyah-Nya.

Misalnya :

Sebelum menciptakan langit dan Arasy, Allah berkehendak demikian dan demikian, maka semua itu hak-Nya belaka. Kita tak bisa menolak atau mencampuri. Bila makhluk terikat oleh dimensi-dimensi, maka Allah tak terikat apapun. Dia mandiri dan independen. “Allahus Shamad” (Allah, bergantung kepada-Nya semua makhluk).

5. Dalam sebuah riwayat disebutkan, bahwa ada kalanya dalam diri manusia timbul pikiran-pikiran aneh karena bisikan syaitan.

Misalnya dia berpikir, bahwa alam semesta ini diciptakan oleh Allah. Lalu siapa yang menciptakan Allah ?

Nabi menasehatkan : Kalau ada bisikan-bisikan seperti itu, seorang Muslim cukup mengatakan, “Amantu billahi wa bi Rusulihi” (aku beriman kepada Allah dan kepada Rasul-rasul-Nya). (HR. Imam Ahmad).

Dzat Allah sangat berbeda dengan makhluk-Nya. Allah menciptakan, tetapi tidak membutuhkan diciptakan. Allah adalah Awal, tetapi tanpa diawali. Dia ada, tanpa diadakan. Dia adalah Akhir, tetapi tanpa diakhiri. Allah bisa membolak-balikkan siang dan malam, gelap dan terang, panas dan dingin, sesuka diri-Nya.

Jadi kita tidak perlu bertanya, “Siapa yang menciptakan Allah ?”

Sebab logika demikian hanya berlaku bagi makhluk-Nya. Allah Ta’ala ada tanpa diadakan, Dia kuasa tanpa diberi kekuasaan, Dia mencipta tanpa pernah terciptakan. Dia bisa membolak-balikkan dimensi-dimensi tanpa berkurang sedikit pun Kemuliaan dan Keagungan-Nya. Dia Tinggi tanpa ada yang lebih tinggi dari-Nya, Dia bisa turun tanpa menjadi lebih rendah. Allah tidak terikat sifat-sifat makhluk-Nya.

Kalau manusia mencari hal-hal di luar semua itu, ingin menerobos hakikat-hakikat seputar Sifat Rubibiyyah Allah demi memuaskan hawa nafsu akalnya, jelas dia akan binasa.

Na’udzubillah min dzalik . .

Ketahuilah, akal manusia dibatasi oleh hukum-hukum yang berlaku di alam semesta (universe). Sedangkan Allah bebas dari semua hukum-hukum itu. Sekali-kali, jangan memahami Allah dengan ukuran-ukuran makhluk-Nya.

6. Logika sesat

Ada logika yang diyakini sebagian orang :

– Kalau Allah di atas Arasy, lalu dimana Dia sebelum Arasy itu diciptakan ?

– Apakah Allah sebelumnya berada di suatu “tempat”, kemudian pindah ke atas Arasy ?

Mungkinkah Dzat Allah berpindah-pindah ?

Sungguh mustahil . . ! !

Logika demikian kan sangat kelihatan kalau si penanya berpikir dalam dimensi makhluk. Dia ingin memahami Allah dengan persepsi makhluk.

Sebenarnya, Allah mau mengambil “posisi” dimanapun, itu hak Dia. Andaikan Allah tidak menunjuki diri-Nya di atas Arasy, tidak ada masalah bagi-Nya.

Tetapi karena kasih-sayang Allah, di atas Kegaiban-Nya, Dia ingin memudahkan manusia memahami kegaiban itu, maka Dia berkehendak istiwa’ di atas Arasy.

Dengan demikian, manusia mendapati satu kemudahan ketika ditanya “aina Allah” (dimana Allah). Maka kita bisa menjawab secara pasti : Fis sama’i ‘alal Arsy (di langit, di atas Arasy).

Mungkinkah Allah berpindah-pindah dari satu posisi ke posisi lain ?

Mula-mula, Anda harus bebaskan Dzat Allah dari ikatan-ikatan yang berlaku atas makhluk-Nya. Makhluk dibatasi oleh dimensi-dimensi, sedangkan Allah bebas dari semua itu.

Kemudian, ingat selalu bahwa Allah memiliki Sifat Iradah (Maha Berkehendak). Kalau Allah berkehendak berbuat sesuatu, tidak ada satu pun yang mampu menghalangi-Nya.

Seperti sebuah do’a yang diajarkan oleh Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam :

“Allahumma laa mani’a li maa a’thaita, wa laa mu’thiya li maa mana’ta” (ya Allah, tidak ada yang sanggup menolak apa yang Engkau berikan, dan tidak ada yang bisa menerima apa yang Engkau tolak).

Jika demikian, lalu bagaimana insan-insan yang lemah, otak-otak yang bodoh, dan hawa nafsu yang meluap-luap, hendak menolak Sifat-sifat Allah, jika Dia berkehendak terhadap sesuatu.

Itulah bahayanya, cara-cara takwil yang nantinya kerap kali menjadi jalan untuk mengingkari Sifat-sifat Allah.

Mulanya Takwil, lama-lama menjadi Jahmiyyah atau Zindiqah (atheis).

Na’udzubillah wa na’udzubillah min kulli dalik . . .

7. Para Ulama sering mengatakan “tafakkaruu fi khalqillah wa laa tafakkaruu fi dzatillah” (silahkan berpikir tentang cipta’an Allah, namun jangan berpikir tentang Dzat-Nya).

Ungkapan seperti ini tidak mengada-ada. Bukannya manusia tak boleh berpikir tentang Allah, tetapi otaknya tak akan bisa memahami Dzat Allah dengan segala Sifat-Nya.

Dalam Surat Al A’raaf ayat 143, Musa ‘Alaihissalam pernah meminta ingin melihat Dzat Allah. Kemudian Allah berkata kepada Musa, “Lan taraniy” (engkau tak akan sanggup melihat-Ku). Lalu Allah memperlihatkan diri-Nya kepada gunung, seketika itu gunung tersebut hancur berkeping-keping karena takut kepada Allah. Melihat gunung hancur, Musa langsung pingsan.

Hal itu merupakan batas demarkasi sifat kebebasan manusia dalam mendayagunakan potensi dan kekuatan nalarnya. Manusia tak boleh melebihi ambang demarkasi itu, agar otak dan kehidupannya tidak menjadi binasa.

Nas’alullah al ‘afiyah . .

Kesimpulan :

Dimana kedudukan Allah sebelum menciptakan langit dan Arasy, semua itu adalah keghaiban belaka. Sama ghaibnya dengan bagaimana keada’an Allah beristiwa’ di atas Arasy.

Kita tidak dibebani kewajiban untuk menelisik masalah-masalah seperti itu. Akal kita tak akan sampai pada kebenaran hakiki dalam hal seperti ini, kecuali kelak kita bisa tanyakan semua itu kepada Allah Ta’ala di Akhirat nanti (dengan syarat, harus masuk syurga dulu).

Dalam pertanya’an seperti itu tidak ada penjelasan yang bisa memuaskan akal secara sempurna, kecuali akal orang-orang beriman yang rela mengimani Kitabullah dan As Sunnah. Serta tidak menjadikan otak-nya sebagai hukum dan agama, dalam kehidupan ini.

Semoga bermanfaat, berkenan, dan mendapat barakah dari Allah Ta’ala. Allahumma amin. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

Wallahu a’lam bisshawab.

[Abahnya Syakir].

https://abisyakir.wordpress.com/2011/12/19/dimana-allah-tinggal-sebelum-bersemayam-di-atas-arasy/

______________

DIHUKUMI KAFIR BAGI YANG TIDAK PERCAYA ALLAH DIATAS LANGIT

DIHUKUMI KAFIR BAGI YANG TIDAK PERCAYA ALLAH DIATAS LANGIT

Mereka yang tidak mengimani Allah diatas langit maka menurut para Ulama Salaf ; Mereka telah kafir kepada Rabbnya, berarti telah mengingkari Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam, tidak boleh dinikahi dan tidak boleh diwarisi, harus bertaubat jika mau bertaubat. Jika tidak mau bertaubat maka halal darahnya, dipenggal lehernya, dibuang jasadnya ke tempat pembuangan sampah.

1. Dari Abu Muthi’ Al Hakam bin Abdillah Al Balkhiy, pemilik kitab Al Fiqhul Akbar, beliau berkata :

سألت أبا حنيفة عمن يقول لا أعرف ربي في السماء أو في الأرض فقال قد كفر لأن الله تعالى يقول الرحمن على العرش استوى وعرشه فوق سمواته فقلت إنه يقول أقول على العرش استوى ولكن قال لا يدري العرش في السماء أو في الأرض قال إذا أنكر أنه في السماء فقد كفر رواها صاحب الفاروق بإسناد عن أبي بكر بن نصير بن يحيى عن الحكم

Aku bertanya pada Abu Hanifah mengenai perkataan seseorang yang menyatakan, “Aku tidak mengetahui di manakah Rabbku, di langit ataukah di bumi?”

Imam Abu Hanifah lantas mengatakan, “Orang tersebut telah kafir karena Allah Ta’ala berfirman ;

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

“Allah menetap tinggi di atas ‘Arsy”. [QS. Thaha: 5] Dan ‘Arsy-Nya berada di atas langit.”

Orang tersebut mengatakan lagi, “Aku berkata bahwa Allah memang menetap di atas ‘Arsy.”

Akan tetapi orang ini tidak mengetahui di manakah ‘Arsy, di langit ataukah di bumi.

Abu Hanifah lantas mengatakan, “Jika orang tersebut mengingkari Allah di atas langit, maka dia kafir.”

[Lihat Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghofar, Adz Dzahabi, hal. 135-136, Maktab Adhwaus Salaf, Riyadh, cetakan pertama, 1995].

2. Wahb bin Jarir [meninggal tahun 206 H], Ulama Besar Bashroh,

محمد بن حماد قال سمعت وهب بن جرير يقول إياكم ورأي جهم فإنهم يحاولون أنه ليس شيء في السماء وما هو إلا من وحي إبليس ما هو إلا الكفر

Muhammad bin Hammad mengatakan bahwa ia mendengar Wahb bin Jarir berkata, “Waspadalah dengan pemikiran Jahmiyam. Sesungguhnya mereka memalingkan makna bahwa di atas langit sesuatu pun (berarti Allah tidak di atas langit, pen). Sesungguhnya pemikiran semacam ini hanyalah wahyu dari Iblis. Perkataan semacam tidak lain hanyalah perkataan kekufuran.” [Lihat Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar, hal. 159. Atsar ini dishahihkan oleh Ibnul Qayyim dalam Al Juyusy. Lihat Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 170].

3. Abbad bin Al ‘Awwam [hidup sekitar tahun 185 H], Muhaddits (Pakar Hadits) dari Daerah Wasith.

قال عباد بن العوام كلمت بشرا المريسي وأصحابه فرأيت آخر كلامهم ينتهي إلى أن يقولوا ليس في السماء شيء أرى أن لا يناكحوا ولا يوارثوا

‘Abbad bin Al ‘Awwam mengatakan, “Aku pernah berkata Basyr Al Murosi dan pengikutnya, aku pun melihat bahwa mereka mengatakan, “Di atas langit tidak ada sesuatu pun. Aku menilai bahwa orang semacam ini tidak boleh dinikahi dan diwarisi.” [ Lihat Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar, 151].

4. ‘Abdurrahman bin Mahdi [hidup pada tahun 125-198 H], Seorang Imam Besar.

ابن مهدي قال إن الجهمية أرادوا أن ينفوا أن يكون الله كلم موسى وأن يكون على العرش أرى أن يستتابوا فإن تابوا وإلا ضربت أعناقهم

‘Abdurrahman bin Mahdi mengatakan bahwa Jahmiyah menginginkan agar dinafikannya pembicaraan Allah dengan Musa, dinafikannya kebereda’an Allah menetap tinggi di atas ‘Arsy. Orang seperti ini mesti dimintai taubat. Jika tidak, maka lehernya pantas dipenggal. [Lihat Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar, hal. 159. Dikeluarkan pula oleh Abdullah (hal. 10-11) dari jalannya, disebutkan secara ringkas. Ibnul Qayyim menshahihkan riwayat ini dalam Al Juyusy. Lihat Mukhtashor Al ‘Uluw hal. 170].

5. Al Imam Adz Dzahabi rahimahullah [Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Utsman bin Qaimaz bin Abdullah adz-Dzahabi al-Fariqi. Tahun 673 H – 748 H]. Beliau berkata mengomentari hadits budak jariyah, “Demikianlah kita melihat setiap orang yang ditanya: Dimana Allah? Niscaya dia akan menjawab dengan fitrahnya: Allah diatas langit. Dalam hadits ini terdapat dua masalah : Pertama, disyariatkannya pertanyaan kepada seorang muslim: Dimana Allah?, Kedua, jawaban orang yang ditanya pertanyaan tersebut: Di atas langit. Barangsiapa yang mengingkari dua masalah ini, maka berarti dia mengingkari Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam.” [Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Azhim, (Mukhtasar al ‘Uluw, Albani, hal. 81)].

6. Berkata Muhammad bin Ishaq ibnu Khuzaimah: “Barangsiapa yang tidak mengatakan bahwa Allah Azza wa Jalla di atas ‘Arsy-Nya, tinggi di atas tujuh lapis langit, maka dia kafir kepada Rabb-nya; halal darahnya, diminta taubat kalau mau bertaubat; kalau tidak mau bertaubat, maka dipenggal lehernya, dibuang jasadnya ke tempat-tempat pembuangan sampah agar tidak mengganggu kaum muslimin dan para mu’ahad dengan busuknya bau bangkai mereka. Hartanya menjadi fa’i (rampasan perang untuk baitul maal). Tidak boleh mewarisinya seorang pun dari kaum muslimin, karena seorang muslim tidak mewarisi dari seorang kafir sebagaimana ucapan Nabi yang diriwayatkan dari Usamah bin Zaid :
“Orang muslim tidak mewarisi dari orang kafir dan orang kafir tidak mewarisi dari orang muslim”. (HR. Bukhari Muslim). [Aqidatus Salaf Ashabul Hadits, tahqiq Abul Yamin al-Manshuri, hal. 47].

========================

AQIDAH JAHMIYAH TIDAK MENGIMANI ALLAH BERSEMAYAM DIATAS LANGIT

AQIDAH JAHMIYAH TIDAK MENGIMANI ALLAH BERSEMAYAM DIATAS LANGIT

Jahmiyah adalah penganut paham Jahm bin Shofwan yang madzhabnya sesat. Madzhab mereka dalam masalah tauhid adalah menolak sifat-sifat Allah. Sedangkan madzhab mereka dalam masalah takdir adalah menganut paham Jabriyah. Paham Jabriyah menganggap bahwa manusia adalah makhluk yang terpaksa dan tidak memiliki pilihan dalam mengerjakan kebaikan dan keburukan. Adapun dalam masalah keimanan madzhab mereka adalah menganut paham Murji’ah yang menyatakan bahwa iman itu cukup dengan pengakuan hati tanpa harus diikuti dengan ucapan dan amalan. Sehingga konsekuensi dari pendapat mereka ialah pelaku dosa besar adalah seorang mukmin yang sempurna imannya. Wallahul musta’an.

Jahmiyah tidak mengimani Allah bersemayam diatas langit, sebagaimana dikatakan para Ulama Shalaf sebagai berikut :

1. Al-Imam Abul-Hasan Al-Asy’ariy rahimahullah berkomentar tentang ‘aqidah Jahmiyyah :

وقد قال قائلون من المعتزلة والجهمية والحرورية : إن معنى استوى إستولى وملك وقهر، وأنه تعالى في كل مكان، وجحدوا أن يكون على عرشه، كما قال أهل الحق، وذهبوا في الإستواء إلى القدرة، فلو كان كما قالوا كان لا فرق بين العرش وبين الأرض السابعة لأنه قادر على كل شيء، والأرض شيء، فالله قادر عليها وعلى الحشوش.
وكذا لو كان مستويا على العرش بمعنى الإستيلاء، لجاز أن يقال : هو مستو على الأشياء كلها ولم يجز عند أحد من المسلمين أن يقول : إن الله مستو على الأخلية والحشوش، فبطل أن يكون الإستواء [على العرش] : الإستيلاء.

“Dan telah berkata orang-orang dari kalangan Mu’tazillah, Jahmiyyah, dan Haruriyyah (Khawarij) : ‘Sesungguhnya makna istiwaa’ adalah menguasai (istilaa’), memiliki, dan mengalahkan. Allah ta’ala berada di setiap tempat’. Mereka mengingkari keberadaan Allah di atas ‘Arsy-Nya, sebagaimana yang dikatakan oleh Ahlul-Haq (Ahlus-Sunnah). Mereka (Mu’tazillah, Jahmiyyah, dan Haruriyyah) memalingkan (mena’wilkan) makna istiwaa’ kepada kekuasaan / kemampuan (al-qudrah). Jika saja hal itu seperti yang mereka katakan, maka tidak akan ada bedanya antara ‘Arsy dan bumi yang tujuh, karena Allah berkuasa atas segala sesuatu. Bumi adalah sesuatu, dimana Allah berkuasa atasnya dan atas rerumputan. Begitu juga apabila istiwaa’ di atas ‘Arsy itu bermakna menguasai (istilaa’), maka akan berkonsekuensi untuk membolehkan perkataan : ‘Allah ber-istiwaa’ di atas segala sesuatu’. Namun tidak ada seorang pun dari kaum muslimin yang membolehkan untuk berkata : ‘Sesungguhnya Allah ber-istiwaa’ di tanah-tanah kosong dan rerumputan’. Oleh karena itu, terbuktilah kebathilan perkataan bahwa makna istiwaa’ (di atas ‘Arsy) adalah istilaa’ (menguasai)”. [selengkapnya, silakan lihat Al-Ibaanah, hal. 34-37 – melalui perantaraan Mukhtashar Al-‘Ulluw lidz-Dzahabiy oleh Al-Albaaniy, hal. 239; Al-Maktab Al-Islamiy, Cet. 1/1401 H].

2. Sa’id bin ‘Amir Adh Dhuba’i [hidup pada tahun 122-208 H], Ulama Bashroh.

قال عبد الرحمن بن أبي حاتم حدثنا أبي قال حدثت عن سعيد ابن عامر الضبعي أنه ذكر الجهمية فقال هم شر قولا من اليهود والنصارى قد إجتمع اليهود والنصارى وأهل الأديان مع المسلمين على أن الله عزوجل على العرش وقالوا هم ليس على شيء

‘Abdurrahman bin Abi Hatim berkata, ayahku menceritakan kepada kami, ia berkata aku diceritakan dari Sa’id bin ‘Amir Adh Dhuba’I bahwa ia berbicara mengenai Jahmiyah. Beliau berkata, “Jahmiyah lebih jelek dari Yahudi dan Nashrani. Telah diketahui bahwa Yahudi dan Nashrani serta agama lainnya bersama kaum muslimin bersepakat bahwa Allah ‘azza wa jalla menetap tinggi di atas ‘Arsy. Sedangkan Jahmiyah, mereka katakan bahwa Allah tidak di atas sesuatu pun.” [Lihat Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar, hal. 157 dan Mukhtashor Al ‘Uluw hal. 168].

3. Al Qo’nabi [meninggal tahun 221 H], Ulama Besar di Masanya,

قال بنان بن أحمد كنا عند القعنبي رحمه الله فسمع رجلا من الجهمية يقول الرحمن على العرش استوى فقال القعنبي من لا يوقن أن الرحمن على العرش استوى كما يقر في قلوب العامة فهو جهمي أخرجهما عبد العزيز القحيطي في تصانيفه والمراد بالعامة عامة أهل العلم كما بيناه في ترجمة يزيد بن هارون إمام أهل واسط ولقد كان القعنبي من أئمة الهدى حتى لقد تغالى فيه بعض الحفاظ وفضله على مالك الإمام

Bunan bin Ahmad mengatakan, “Aku pernah berada di sisi Al Qo’nabi, ia mendengar seorang yang berpahaman Jahmiyah menyebutkan firman Allah,

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

“Ar Rahman (yaitu Allah) menetap tinggi di atas ‘Arsy.” [QS. Thoha: 5],

Al Qo’nabi lantas mengatakan, “Siapa yang tidak meyakini Ar Rahman (yaitu Allah) menetap tinggi di atas ‘Arsy sebagaimana diyakini oleh para ulama, maka ia adalah Jahmi.”

[Lihat Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar, hal. 166. Bunan bin Ahmad tidak mengapa, sejarah hidupnya disebutkan di Tarikh Bagdad. Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 178].

4. Al-Imam Al-Humaidiy rahimahullah juga berkata :

وما أشبه هذا من القرآن والحديث، لا نزيد فيه ولا نفسره. نقف على ما وقف عليه القرآن والسنة. ونقول : (الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى)، ومن زعم غير هذا فهو معطل جهمي.

“Dan ayat-ayat serta hadits-hadits yang serupa dengan ini (tentang Asma dan Shifat Allah), maka kami tidak menambah-nambahi dan tidak pula menafsirkannya (menta’wilkannya). Kami berhenti atas apa-apa yang Al-Qur’an dan As-Sunah berhenti padanya. Dan kami berkata : ‘(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas ‘Arsy’ (QS. Thaha : 5). Barangsiapa yang berpendapat selain itu, maka ia seorang Mu’aththil Jahmiy” [Ushuulus-Sunnah oleh Al-Humaidiy, hal. 42, tahqiq : Misy’aal Muhammad Al-Haddaadiy; Daar Ibn Al-Atsiir, Cet. 1/1418].

5. Abu Ma’mar Al Qutai’iy [meninggal tahun 236 H], Guru dari Imam Bukhari dan Imam Muslim.

نقل ابن أبي حاتم في تأليفه عن يحيى بن زكرياء عن عيسى عن أبي شعيب صالح الهروي عن أبي معمر إسماعيل بن إبراهيم أنه قال آخر كلام الجهمية أنه ليس في السماء إله

Dinukil dari Ibnu Abi Hatim dalam karyanya, dari Yahya bin Zakariya, dari ‘Isa, dari Abu Syu’aib Sholih Al Harowiy, dari Abu Ma’mar Isma’il bin Ibrohim, beliau berkata, “Akhir dari perkataan Jahmiyah: Di atas langit (atau di ketinggian) tidak ada Allah yang disembah.” [Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar, hal. 174-175. Lihat Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 188].

6. Hisyam bin ‘Ubaidillah Ar Rozi [meninggal tahun 221 H], Ulama Hanafiyah, murid dari Muhammad bin Al Hasan.

قال ابن أبي حاتم حدثنا علي بن الحسن بن يزيد السلمي سمعت أبي يقول سمعت هشام بن عبيد الله الرازي وحبس رجلا في التجهم فجيء به إليه ليمتحنه فقال له أتشهد أن الله على عرشه بائن من خلقه فقال لا أدري ما بائن من خلقه فقال ردوه فإنه لم يتب بعد

Ibnu Abi Hatim mengatakan, ‘Ali bin Al Hasan bin Yazid As Sulami telah menceritakan kepada kami, ia berkata, ayahku berkata, “Aku pernah mendengar Hisyam bin ‘Ubaidillah Ar Rozi ketika itu beliau menahan seseorang yang berpemikiran Jahmiyah, orang itu didatangkan pada beliau, lantas beliau pun mengujinya, Hisyam bertanya padanya, “Apakah engkau bersaksi bahwa Allah berada di atas ‘Arsy-Nya, terpisah dari makhluk-Nya.” Orang itu pun menjawab, “Aku tidak mengetahui apa itu terpisah dari makhluk-Nya.” Hisyam kemudian berkata, “Kembalikanlah ia karena ia masih belum bertaubat.” [Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar, hal. 169. Riwayat ini juga dikeluarkan oleh Al Haruwi dalam “Dzammul Kalam” (1/120). Lihat Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 181].

7. Yahya bin Mu’adz Ar Rozi [meninggal dunia tahun 258 H].

قال أبو إسماعيل الأنصاري في الفاروق بإسناد إلى محمد بن محمود سمعت يحيى بن معاذ يقول إن الله على العرش بائن من خلقه أحاط بكل شيء علما لا يشذ عن هذه المقالة إلا جهمي يمزج الله بخلقه

Abu Isma’il Al Anshori berkata dalam Al Faruq dengan sanad sampai ke Muhammad bin Mahmud, aku mendengar Yahya bin Mu’adz berkata, “Sesungguhnya Allah di atas ‘Arsy, terpisah dari makhluk-Nya. Namun ilmu Allah meliputi segala sesuatu. Tidak ada yang memiliki perkataan nyleneh selain Jahmiyah. Jahmiyah meyakini bahwa Allah bercampur dengan makhluk-Nya.” [Lihat Al ‘Uluw, hal. 190 dan Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 207-208].

8. Abdullah bin Az Zubair Al Qurosyi Al Asadi Al Humaidi [meninggal tahun 219 H, Ulama Besar Makkah, Murid dari Sufyan bin ‘Uyainah, Guru dari Imam Al Bukhari], mengatakan:

أصول السنة عندنا فذكر أشياء ثم قال وما نطق به القرآن والحديث مثل وقالت اليهود يد الله مغلولة غلت أيديهم ومثل قوله والسموات مطويات بيمينه وما أشبه هذا من القرآن والحديث لا نزيد فيه ولا نفسره ونقف على ما وقف عليه القرآن والسنة ونقول الرحمن على العرش استوى ومن زعم غير هذا فهو مبطل جهم

Aqidah yang paling pokok yang kami yakini (lalu beliau menyebutkan beberapa hal): Ayat atau hadits yang menyebutkan (misalnya tangan Allah, pen),

وَقَالَتِ الْيَهُودُ يَدُ اللَّهِ مَغْلُولَةٌ غُلَّتْ أَيْدِيهِمْ

“Orang-orang Yahudi berkata: “Tangan Allah terbelenggu”, sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu” [ QS. Al Maidah: 64].

Semisal pula firman Allah,

وَالسَّماوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ

“Dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya” [QS. Az Zumar: 67], dan juga ayat dan hadits yang semisal itu, kami tidak akan menambah dan kami tidak akan menafsirkan (bagaimanakah hakekat sifat tersebut).

Kami cukup berdiam diri sebagaimana yang dituntunkan Al Quran dan Hadits Nabawi (yang tidak menyebutkan hakekatnya).

Kami pun meyakini,

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

“Ar Rahman (yaitu Allah) menetap tinggi di atas ‘Arsy.” [ QS. Thoha: 5].

Barangsiapa yang tidak meyakini seperti ini, maka dialah Jahmiyah yang penuh kebatilan. [Lihat Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar, hal. 168. Ibnu Taimiyah telah menshahihkan atsar ini dari Al Humaidi dalam Kitabnya “Mufashol Al I’tiqod”. Lihat Mukhtashor Al ‘Uluw hal. 180].

9. Abdul Wahhab Al Warroq [meninggal dunia tahun 250 H].

حدث عبد الوهاب بن عبد الحكيم الوراق بقول ابن عباس ما بين السماء السابعة إلى كرسيه سبعة آلاف نور وهو فوق ذلك ثم قال عبد الوهاب من زعم أن الله ههنا فهو جهمي خبيث إن الله عزوجل فوق العرش وعلمه محيط بالدنيا والآخرة

‘Abdul Wahhab bin ‘Abdil Hakim Al Warroq menceritakan perkataan Ibnu ‘Abbas, “Di antara langit yang tujuh dan kursi-Nya terdapat 7000 cahaya. Sedangkan Allah berada di atas itu semua.” Kemudian ‘Abdul Wahhab berkata, “Barangsiapa yang mengklaim bahwa Allah itu di sini (di muka bumi ini), maka dialah Jahmiyah yang begitu jelek. Allah ‘azza wa jalla berada di atas ‘Arsy, sedangkan ilmu-Nya meliputi segala sesuatu di dunia dan akhirat.”
Adz Dzahabi menceritakan, bahwa pernah ditanya pada Imam Ahmad bin Hambal, “Alim mana lagi yang jadi tempat bertanya setelah engkau?” Lantas Imam Ahmad menjawab, “Bertanyalah pada ‘Abdul Wahhab bin Al Warroq”. Beliau pun banyak memujinya. [Lihat Al ‘Uluw, hal. 193 dan Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 212].

10. Syaikhul Islam Yazid bin Harun [hidup sebelum tahun 206 H],

قال الحافظ أبو عبد الرحمن بن الإمام أحمد في كتاب الرد على الجهمية حدثني عباس العنبري أخبرنا شاذ بن يحيى سمعت يزيد بن هارون وقيل له من الجهمية قال من زعم أن الرحمن على العرش استوى على خلاف ما يقر في قلوب العامة فهو جهمي

Al Hafizh Abu ‘Abdirrahman bin Al Imam Ahmad dalam kitab bantahan terhadap Jahmiyah, ia mengatakan, ‘Abbas Al Ambari telah menceritakan padaku, ia mengatakan, Syadz bin Yahya telah menceritakan pada kami bahwa ia mendengar Yazid bin Harun ditanya tentang Jahmiyah. Yazid mengatakan, “Siapa yang mengklaim bahwa Allah Yang Maha Pengasih menetap tinggi di atas ‘Arsy namun menyelisih apa yang diyakini oleh hati mayoritas manusia, maka ia adalah Jahmi.” [Lihat Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar, 157. Abdullah bin Ahmad mengeluarkan dalam As Sunnah (hal. 11-12).

11. Harb Al Karmaniy [meninggal dunia pada tahun 270-an H],

قال عبد الرحمن بن محمد الحنظلي الحافظ أخبرني حرب بن إسماعيل الكرماني فيما كتب إلي أن الجهمية أعداء الله وهم الذين يزعمون أن القرآن مخلوق وأن الله لم يكلم موسى ولا يرى في الآخرة ولا يعرف لله مكان وليس على عرش ولا كرسي وهم كفار فأحذرهم

‘Abdurrahman bin Muhammad Al Hanzholi Al Hafizh berkata, Harb bin Isma’il Al Karmani menceritakan padaku terhadap apa yang ia tulis padaku, “Sesungguhnya Jahmiyah benar-benar musuh Allah. Mereka mengklaim bahwa Al Qur’an itu makhluk. Allah tidak berbicara dengan Musa dan juga tidak dilihat di akhirat. Mereka sungguh tidak tahu tempat Allah di mana, bukan di atas ‘Arsy, bukan pula di atas kursi-Nya. Mereka sungguh orang kafir. Waspadalah terhadap pemikiran sesat mereka.”
Adz Dzahabi mengatakan bahwa Harb Al Karmani adalah seorang ulama besar di daerah Karman di zamannya. Ia mengambil ilmu dari Ahmad dan Ishaq. [Lihat Al ‘Uluw, hal. 194 dan Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 213].

12. Abu Ja’far Ibnu Abi Syaibah, Ulama Hadits di Negeri Kufah [meninggal tahun 297 H]. Al Hafizh Abu Ja’far Muhammad bin ‘Utsman bin Muhammad bin Abi Syaibah Al ‘Abasi, muhaddits Kufah di masanya, di mana beliau telah menulis tentang masalah ‘Arsy dalam seribu kitab, beliau berkata,

ذكروا أن الجهمية يقولون ليس بين الله وبين خلقه حجاب وأنكروا العرش وأن يكون الله فوقه وقالوا إنه في كل مكان ففسرت العلماء وهومعكم يعني علمه ثم تواترت الأخبار أن الله تعالى خلق العرش فاستوى عليه فهو فوق العرش متخلصا من خلقه بائنا منهم

Jahmiyah berkata bahwa antara Allah dan makhluk-Nya sama sekali tidak ada pembatas. Jahmiyah mengingkari ‘Arsy dan mengingkari keberadaan Allah di atas ‘Arsy. Jahmiyah katakan bahwa Allah berada di setiap tempat. Padahal para ulama menafsirkan ayat (وهومعكم), Allah bersama kalian, yang dimaksud adalah dengan ilmu Allah. Kemudian juga telah ada berbagai berita mutawatir (yang melalui jalan yang amat banyak) bahwa Allah menciptakan ‘Arsy, lalu beristiwa’ (menetap tinggi) di atasnya. Allah benar-benar di atas ‘Arsy, namun Allah terpisah atau tidak menyatu dengan makhluk-Nya. [Lihat Al ‘Uluw, hal. 220 dan Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 220-221].

13. Imam ‘Utsman bin Sa’id ad-Darimi berkata: “Hadits ini (tentang hadits Allah turun ke bumi) sangat pahit bagi kelompok Jahmiyah dan mematahkan faham mereka bahwa Allah tidak di atas arsy tetapi di bumi sebagaimana Dia juga di langit. Lantas bagaimanakah Allah turun ke bumi kalau memang Dia sendiri sudah di atas bumi? Sungguh lafazh hadits ini membantah faham mereka dan mematahkan argumen mereka”. [Naqdhu Utsman bin Sa’id ‘ala Al-Mirrisi Al-Jahmi Al-Anid hal. 285].

========================