Tag Archives: neraka

CELA’AN IMAM SYAFI’I KEPADA ORANG-ORANG SUFI

CELA’AN IMAM SYAFI’I KEPADA ORANG-ORANG SUFI

Ketika Imam Syâfi’i rahimahullah memasuki negeri Mesir pada tahun 199 H, Imam Syafi’i berkata :

خَلَفْتُ بِالْعِرَاقِ شَيْئًا أَحْدَثَهُ الزَّناَدِقَةُ يُسَمُّوْنَـهُ التَّـغْبِيْرَ يُشْغِلُوْنَ بِهِ النَّاسَ عَنِ الْقُرْآنِ

“Aku tinggalkan di (negeri) Irak sesuatu yang diada-adakan oleh kaum zindiq yang mereka sebut dengan taghbiir. Dengan itu, mereka melalaikan orang-orang dari al-Qur`ân”. (Manâqibu asy-Syâfi’i , karya al-Baihaqi 1/173).

Dalam riwayat lain, Imam Syafi’i berkata :

تَرَكْتُ بَغْدَادَ وَقَدْ أَحْدَثَ الزَّناَدِقَةُ فِيْهَا شَيْئًا يُسَمُّوْنَـهُ السَّمَاعَ

“Aku tinggalkan (kota) Baghdad, sedang orang-orang zindiq (waktu itu) telah mengadakan sesuatu yang baru (dalam agama) yang mereka sebut dengan istilah samâ’”.

Makna zindiq adalah orang yang sudah rusak agamanya. Dan orang-orang zindiq yang beliau maksud adalah kalangan mutashawwifah (para penganut Tasawuf). Sementara yang beliau maksud dengan taghbîr atau samâ` ialah nyanyian dan senandung yang mereka dendangkan.

– Imam Syâfi’i rahimahullah juga berkata :

أَسَاسُ التَّصَوَّفِ الْكَسَلُ

“Asas tasawuf adalah kemalasan”. (Al-Hilyah karya Abu Nu’aim al-Ashbahâni 9/136-137).

Dan Imam Syafi’i juga berkata :

لاَ يَكُوْنُ الصُّوْفِيُّ صُوْفِياًّ حَـتَّى يَكُوْنُ فِيْهِ أَرْبَعُ خِصَالٍ : كَسُولٌ أَكُوْلٌ شَؤُوْمٌ كثَيْرُ الْفُضُولِ

“Seseorang tidak akan menjadi Sufi (tulen) kecuali setelah empat perkara ada padanya: sangat malas, banyak makan, sangat pesimis, dan banyak melakukan hal yang tidak perlu”. (Manâqibu asy-Syâfi’i karya al-Baihaqi 2/207).

Imam Syafi’i juga berkata :

لَوْ أَنَّ رَجُلاً تَـصَوَّفَ مِنْ أَوَّلِ النَّهَارِ لَمْ يَأْتِ عَلَيْهِ الظُّهْرُ إِلاَّ وَجَدْتَـهُ أَحْمَقَ

“Kalau ada orang menjadi Sufi di pagi hari, maka tidaklah datang waktu Zhuhur kecuali orang tersebut akan engkau jumpai menjadi manusia yang dungu”. (Manâqib Syâfi’i karya Imam al-Baihaqi 2/207).

____________________

Advertisements

SHIRDI BABA, TOKOH SUFI DARI INDIA

SHIRDI BABA, TOKOH SUFI DARI INDIA

Shirdi Baba adalah tokoh sufi yang sesat, lahir pada tanggal 28 September 1838 di Shirdi, India dan meninggal pada tanggal 15 Oktober 1918. Sebagaimana tokoh sufi lainnya, Shirdi Baba juga banyak pengikutnya.

• Kesesatan Shirdi Baba

Diantara dari sekian banyak kesesatan Shirdi Baba adalah memadukan ajaran hindu dengan ajaran Islam.

Semasa hidupnya ia banyak tinggal di Masjid Dwarakamayi di Desa Shirdi, Distrik Ahmednagar, Maharashtra, India.

Pada awal perkembanganya, banyak umat Hindu dan Muslim menjadi pengikutnya. Pengikut Shirdi Baba menganggapnya sebagai seorang awatara/avatar, yakni sebutan untuk ke ilahian yang muncul di dunia untuk menuntun umat manusia pada kebenaran, dalam sejarah agama-agama dunia biasa disebut sebagai santo ataupun seorang Budha. Namun, jika Tuhan sendiri yang muncul kedunia secara fisik, ia disebut sebagai Purna Avatar.

Shirdi Baba mendorong pengikutnya untuk berdo’a atas nama Hindu dan Islam.

Shirdi bersama para anggotanya menyanyikan nama-nama Tuhan yang manapun, membaca Al-Fatihah, mempelajari kitab suci Al-Quran sekaligus memadukannya dengan teks-teks Hindu seperti Ramayana, Wisnu Sahasranam (Seribu Nama Wishnu), Bhagavad Gita, Yoga Wasista. Oleh karena itu ia menegaskan bahwa ajarannya adalah perpaduan Tauhid dan Advaita Vedanta.

Begitulah orang-orang sufi yang ajarannya di bangun diatas hawa nafsu dan kebodohan.

Maka pantaslah jika para Ulama banyak mencela orang-orang sufi, diantaranya Imam Syafi’i.

CELA’AN IMAM SYAFI’I KEPADA ORANG-ORANG SUFI

Ketika Imam Syâfi’i rahimahullah memasuki negeri Mesir pada tahun 199 H, Imam Syafi’i berkata :

خَلَفْتُ بِالْعِرَاقِ شَيْئًا أَحْدَثَهُ الزَّناَدِقَةُ يُسَمُّوْنَـهُ التَّـغْبِيْرَ يُشْغِلُوْنَ بِهِ النَّاسَ عَنِ الْقُرْآنِ

“Aku tinggalkan di (negeri) Irak sesuatu yang diada-adakan oleh kaum zindiq yang mereka sebut dengan taghbiir. Dengan itu, mereka melalaikan orang-orang dari al-Qur`ân”. (Manâqibu asy-Syâfi’i , karya al-Baihaqi 1/173).

Dalam riwayat lain, Imam Syafi’i berkata :

تَرَكْتُ بَغْدَادَ وَقَدْ أَحْدَثَ الزَّناَدِقَةُ فِيْهَا شَيْئًا يُسَمُّوْنَـهُ السَّمَاعَ

“Aku tinggalkan (kota) Baghdad, sedang orang-orang zindiq (waktu itu) telah mengadakan sesuatu yang baru (dalam agama) yang mereka sebut dengan istilah samâ’”.

Makna zindiq adalah orang yang sudah rusak agamanya. Dan orang-orang zindiq yang beliau maksud adalah kalangan mutashawwifah (para penganut tasawuf). Sementara yang beliau maksud dengan taghbîr atau samâ` ialah nyanyian dan senandung yang mereka dendangkan.

– Imam Syâfi’i rahimahullah juga berkata :

أَسَاسُ التَّصَوَّفِ الْكَسَلُ

“Asas tasawuf adalah kemalasan”. (Al-Hilyah karya Abu Nu’aim al-Ashbahâni 9/136-137).

Dan Imam Syafi’i juga berkata :

لاَ يَكُوْنُ الصُّوْفِيُّ صُوْفِياًّ حَـتَّى يَكُوْنُ فِيْهِ أَرْبَعُ خِصَالٍ : كَسُولٌ أَكُوْلٌ شَؤُوْمٌ كثَيْرُ الْفُضُولِ

“Seseorang tidak akan menjadi Sufi (tulen) kecuali setelah empat perkara ada padanya: sangat malas, banyak makan, sangat pesimis, dan banyak melakukan hal yang tidak perlu”. (Manâqibu asy-Syâfi’i karya al-Baihaqi 2/207).

Imam Syafi’i juga berkata :

لَوْ أَنَّ رَجُلاً تَـصَوَّفَ مِنْ أَوَّلِ النَّهَارِ لَمْ يَأْتِ عَلَيْهِ الظُّهْرُ إِلاَّ وَجَدْتَـهُ أَحْمَقَ

“Kalau ada orang menjadi Sufi di pagi hari, maka tidaklah datang waktu Zhuhur kecuali orang tersebut akan engkau jumpai menjadi manusia yang dungu”. (Manâqib Syâfi’i karya Imam al-Baihaqi 2/207).

By : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί

____________________

BENARKAH KEDUA ORANG TUA NABI HIDUP DI MASA FATRAH ?

BENARKAH KEDUA ORANG TUA NABI HIDUP DI MASA FATRAH ?

Ada sebagian pihak yang menyebutkan bahwa ke dua orang tua Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hidup dan mati di masa fatrah, sehingga mereka menolak keterangan dari Al-Qur’an dan hadits Nabi, dan juga perkata’an para Ulama yang menyebutkan bahwa ke dua orang tua Rasulullah mati dalam kekafiran.

• Pengertian fatrah

Fatrah menurut bahasa, kelemahan dan penurunan (Lisaanul-’Arab oleh Ibnul-Mandhur 5/43).

Adapun pengertian fatrah secara istilah (terminologi), bermakna tenggang waktu antara dua orang Rasul, dimana ia tidak mendapati Rasul pertama dan tidak pula menjumpai Rasul kedua” (Jam’ul-Jawaami’ 1/63).

Hal ini seperti selang waktu antara Nabi Nuh dan Idris ’alaihimas salam serta seperti selang waktu antara Nabi ’Isa ’alaihis salaam dan Nabi Muhammad shallallaahu ’alaihi wasallam.

Definisi ini dikuatkan oleh firman Allah ta’ala :

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ قَدْ جَاءَكُمْ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ عَلَى فَتْرَةٍ مِنَ الرُّسُلِ أَنْ تَقُولُوا مَا جَاءَنَا مِنْ بَشِيرٍ وَلا نَذِيرٍ

Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepada kamu Rasul Kami, menjelaskan (syariat Kami) kepadamu ketika terputus (pengiriman) rasul-rasul, agar kamu tidak mengatakan, “Tidak datang kepada kami baik seorang pembawa berita gembira maupun seorang pemberi peringatan”. (QS. Al-Maaidah : 19).

• Pembagian ahli fatrah

Ahli fatrah terbagi menjadi dua macam :

1. Yang telah sampai kepadanya ajaran Nabi.

2. Yang tidak atau belum sampai kepadanya ajaran / dakwah Nabi.

Golongan pertama (yang telah sampai kepadanya ajaran Nabi) dibagi menjadi dua, yaitu :

(1) Yang sudah sampai kepadanya dakwah Nabi, dan dia bertauhid serta tidak berbuat syirik. Maka mereka dihukumi seperti ahlul-islam / ahlul-iman. Seperti : Waraqah bin Naufal, Qus bin Saa’idah, Zaid bin ’Amr bin Naufal, dan yang lainnya.

(2) Yang sudah sampai kepadanya dakwah Nabi, namun ia merubah ajaran dan berbuat syirik. Golongan ini tidaklah disebut sebagai ahlul-islam / ahlul iman. Tidak ada perselisihan di antara ulama bahwa mereka merupakan ahli neraka. Contohnya seperti : ’Amr bin Luhay, Abdullah bin Ja’dan, shahiibul-mihjan, kedua orang tua Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam, dan yang lainnya.

2. Yang tidak atau belum sampai kepadanya ajaran / dakwah Nabi.

Kepada golongan ke yang dua ini, maka mereka akan diuji oleh Allah kelak di hari kiamat.

Nabi shallallahu ’alaihi Wasallam bersabda :

يَكُونُ يَوْمُ القِيَامَةِ رَجُلٌ أَصَمُّ لَا يَسْمَعُ شَيْئًا، وَرَجُلٌ أَحْمَقُ، وَرَجُلٌ هَرِمٌ وَرَجُلٌ مَاتَ فِي فَتْرَةٍ فَأُمًّا الأَصَمُّ فَيَقُولُ: رُبَّ لَقَدْ جَاءَ الإِسْلَامَ وَمَا أَسْمَعَ شَيْئًا، وَأُمًّا الأَحْمَقُ فَيَقُولُ: رُبَّ لَقَدْ جَاءَ الإِسْلَامَ وَالصِّبْيَانُ يَحْذِفُونَنِي بِالبَعْرِ، وَأُمًّا الهَرَمِ فَيَقُولُ: رُبَّ لَقَدْ جَاءَ الإِسْلَامَ وَمَا أَعْقِلُ شَيْئًا، وَأُمًّا الَّذِي مَاتَ فِي الفَتْرَةِ فَيَقُولُ: رُبَّ مَا أُتَأَنَّى لَكَ رَسُولٌ، فَيَأْخُذُ مَوَاثِيقَهُمْ لَيُطِيعَنَّهُ، فَيُرْسِلُ إِلَيْهُمْ أَنْ أَدْخَلُوا النَّارَ، قَالَ: فوالذي نَفْسُ مُحَمَّدٌ بِيَدِهِ لَوْ دَخَلُوهَا لَكَانَتْ عَلَيْهُمْ بُرُدًا وَسَلَامًا

“Di hari kiamat ada seorang yang tuli, tidak mendengar apa-apa, ada orang yang idiot, ada orang yang pikun, ada yang mati pada masa fatrah. Orang yang tuli berkata: ‘Ya Rabb, ketika Islam datang saat itu aku tuli, tidak mendengar Islam sama sekali’. Orang yang idiot berkata: ‘Ya Rabb, ketika Islam datang, saat itu anak-anak nakal sedang memasung aku di dalam sumur’. Orang yang pikun berkata: ‘Ya Rabb, ketika Islam datang aku sedang hilang akal’. Orang yang mati pada masa fatrah berkata: ‘Ya Rabb, tidak ada utusan yang datang untuk mengajakku kepada Islam’. Lalu diuji kecenderungan hati mereka pada ketaatan. Diutus utusan untuk memerintahkan mereka masuk ke neraka. Nabi bersabda: ‘Demi Allah, jika mereka masuk ke dalamnya, mereka akan merasakan dingin dan mereka mendapat keselamatan‘” (HR. Ahmad no. 16344, Thabrani 2/79. Di-shahih-kan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah no. 1434)

Terdapat juga hadits semisal yang diriwayatkan dari Abu Hurairah, namun lafadz akhirnya berbunyi :

فَمِنْ دَخْلِهَا كَانَتْ عَلَيْهِ بُرُدًا وَسَلَامًا، وَمِنْ لَمٌّ يَدْخُلُهَا سَحْبٌ إِلَيْهَا

“Diantara mereka yang patuh memasuki neraka akan merasakan dingin dan akhirnya selamat. Sedangkan yang enggan memasukinya justru akan diseret ke dalamnya”. (HR. Ahmad no. 16345).

ORANG TUA NABI MEMANG TERMASUK AHLI FATRAH, NAMUN SUDAH SAMPAI KEPADA MEREKA DAKWAH NABI IBRAHIM

Kedua orang tua Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam memang termasuk ahli fatrah, namun telah sampai kepada mereka dakwah Nabi Ibrahim ’alaihis-salaam. Maka, mereka tidaklah dima’afkan akan kekafirannya.

Berikut keterangan Imam Nawawi yang menerangkan keada’an orang-orang jahiliyah sebelum di utusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

Imam An Nawawi rahimahullah berkata, Di dalam hadits tersebut (yaitu hadits : ”Sesungguhnya ayahku dan ayahmu di neraka”), terdapat pengertian bahwa orang yang meninggal dunia dalam keada’an kafir, maka dia akan masuk neraka. Dan kedekatannya dengan orang-orang yang mendekatkan diri (dengan Allah) tidak memberikan manfa’at kepadanya. Selain itu, haditst tersebut juga mengandung makna, BAHWA ORANG YANG MENINGGAL DUNIA PADA MASA DIMANA BANGSA ARAB TENGGELAM DALAM BERHALA, MAKA DIAPUN MASUK PENGHUNI NERAKA. Hal itu bukan termasuk pemberian siksa’an terhadapnya sebelum penyampaian dakwah, KARENA KEPADA MEREKA TELAH DI SAMPAIKAN DAKWAH IBRAHIM dan juga para Nabi yang lain shalawaatullaah wa salaamuhu ‘alaihim”. (Syarah Shahih Muslim oleh An-Nawawi juz 3 hal. 79 melalui perantara Naqdu Masaalikis-Suyuthi fii Waalidayil-Musthafaa oleh Dr. Ahmad bin Shalih Az-Zahrani hal. 26, Cet. 1425 H).

Berikut hadits yang dimaksud Imam Nawawi selengkapnya,

عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَجُلًا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيْنَ أَبِي قَالَ فِي النَّارِ فَلَمَّا قَفَّى دَعَاهُ فَقَالَ إِنَّ أَبِي وَأَبَاكَ فِي النَّارِ

Dari Anas radliyallaahu ‘anhu, Bahwasannya ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, “Wahai Rasulullah, dimanakah tempat ayahku (yang telah meninggal) sekarang berada ?”. Beliau menjawab : “Di neraka”. Ketika orang tersebut berlalu, maka beliau memanggilnya lalu berkata : “Sesungguhnya ayahku dan ayahmu di neraka”. (HR. Muslim no. 203, Abu Dawud no. 4718, Ahmad no. 13861, Ibnu Hibban no. 578, Al-Baihaqi dalam Al-Kubraa no. 13856, Abu ‘Awanah no. 289, dan Abu Ya’la no. 3516).

Keterangan Imam Nawawi di atas menyebutkan, bahwa ORANG YANG MENINGGAL DUNIA PADA MASA DIMANA BANGSA ARAB TENGGELAM DALAM BERHALA, MAKA DIAPUN MASUK PENGHUNI NERAKA. KARENA KEPADA MEREKA TELAH DI SAMPAIKAN DAKWAH IBRAHIM.

• Bukti yang menunjukkan sudah sampainya dakwah para Nabi kepada musyrikin Qurais.

Bangunan ka’bah yang mereka jaga dan mereka muliakan, adalah sebagai bukti sudah sampainya kepada mereka dakwah Nabi Ibrahim ‘alaihis salam juga dakwah Nabi Isma’il ‘alaihis salam.

Semenjak dakwah Tauhid di sampaikan oleh Nabi Ibrahim mereka beribadah hanya kepada Allah Ta’ala. Namun seiring waktu berjalan kepercaya’an mereka menyimpang dan tersesat, selain mengimani adanya Allah Ta’ala, mereka pun mengagungkan (mengkeramatkan) berhala yang mereka yakini bisa menghubungkan antara mereka dengan Allah Ta’ala ketika mereka ada kebutuhan.

AWAL MULA RUSAKNYA KEPERCAYA’AN ORANG-ORANG ARAB JAHILIYAH

Berubah dan menyimpangnya kepercaya’an masyarakat Arab jahiliyah yang mulanya menganut kepercaya’an kepada Tauhid sebagai warisan dari ajaran Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, adalah semenjak kota Mekah dikuasai oleh Bani Khuza’ah.

Pada masa kota Makkah di kuasai Bani Khuza’ah, kemudian berhala yang mereka keramatkan di letakan di dalam dan sekitar Ka’bah.

Berhala tersebut di namakan “Hubal”. Menurut Ibnu Al-Kalbi, yang menyebabkan bangsa Arab akhirnya menyembah berhala dan batu, ialah setiap mereka akan pergi meninggalkan kota Makkah, selalu membawa sebuah batu yang diambilnya dari beberapa tempat di sekitar ka’bah, dengan maksud untuk menghormati Ka’bah, dan untuk memperlihatkan kecintaan mereka kepada Mekah. Kemudian batu-batu tersebut diletakan di tempat persinggahan atau tempat tinggal mereka. Mereka melakukan thawaf (mengelilingi) batu-batu itu. Layaknya orang melakukan thawaf waktu haji.

Dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu ia berkata,

قَالَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَيْتَ عَمْرٌو بِنْ عَامِرُ بِنْ لِحَيِّ الخزاعي يَجُرُّ قَصَبَهُ فِي النَّارِ وَكَانَ أَوَّلَ مَنْ سِيبَ السوائب

Telah bersabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam : “Aku melihat ‘Amru bin ‘Amir bin Luhay Al-Khuzaa’i menarik-narik ususnya di neraka. Dia adalah orang pertama yang melepaskan onta-onta (untuk dipersembahkan kepada berhala)”. (HR. Bukhari no. 3333 dan Muslim no. 2856).

Ibnu Katsir menjelaskan sebagai berikut :

عَمْرٌو هَذَا هُوَ اِبْنٌ لِحَيِّ بِنْ قمعة، أَحَدٌ رُؤَسَاءَ خزاعة الَّذِينَ وَلَّوْا البَيْتَ بَعْدَ جَرِّهِمْ وَكَانَ أَوَّلُ مِنْ غَيْرِ دِينِ إِبْرَاهِيمَ الخليل، فَأَدْخَلَ الأَصْنَامَ إِلَى الحِجَازِ، وَدَعَا الرُّعَاعُ مِنْ النَّاسِ إِلَى عِبَادَتِهَا والتقرب بِهَا، وَشَرَّعَ لَهُمْ هَذِهِ الشَّرَائِعَ الجَاهِلِيَّةُ فِي الأنعام وَغَيْرِهَا

“Amru bin ‘Amir bin Luhay Al-Khuza’i merupakan salah satu pemimpin Khuza’ah yang memegang kekuasa’an atas Ka’bah setelah Kabilah Jurhum. Ia adalah orang yang pertama kali mengubah agama Ibrahim (atas bangsa Arab). Ia memasukkan berhala-berhala ke Hijaz, lalu menyeru kepada beberapa orang jahil untuk menyembahnya dan bertaqarrub dengannya, dan ia membuat beberapa ketentuan jahiliyyah ini bagi mereka yang berkena’an dengan binatang ternak dan lain-lain . .” (lihat Tafsir Ibnu Katsir 2/148 QS. Al-Maidah ayat 103).

Selain menyembah berhala masyarakat jahiliyah juga menyembah malaikat dan jin.

Menjelang kelahiran agama Islam, ada sekelompok orang yang berusaha ingin melepaskan bangsanya dari kepercaya’an yang sesat, dan berusah mengembalikan kepercaya’an agama tahuhid (monotheisme) yang diajarkan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salam.

Mereka adalah Waraqah bin Naufal, Umayah bin Abi Shalt, Qus Saidah, Utsman bin Khuwairis, Abdullah bin Jahsy, dan Aainal bin Umar.

_____

HADITS TENTANG KEISLAMAN ORANG TUA NABI DAN SELAMATNYA MEREKA DARI API NERAKA

HADITS TENTANG KEISLAMAN ORANG TUA NABI DAN SELAMATNYA MEREKA DARI API NERAKA

• Hadits pertama,

عن عائشة قالت : «حج بنا رسول الله صلى الله عليه وسلم حجة الوداع ، فمرّ بي على عقبة الحجون وهو باكٍ حزين مغتم فنزل فمكث عني طويلاً ثم عاد إلي وهو فرِحٌ مبتسم ، فقلت له فقال : ذهبت لقبر أمي فسألت الله أن يحييها فأحياها فآمنت بي وردها الله »

Dari ‘Aisyah ia berkata : “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah melaksanakan haji bersama kami saat haji wada’. Lalu beliau bersamaku melintasi tempat yang bernama Hajuun dalam keadaan menangis dan sedih. Beliau pun turun (dari kendaraannya) dan menjauh dariku dalam waktu yang lama, kemudian kembali kepadaku dalam keadaan gembira dan tersenyum. Aku tanyakan kepada beliau (apa yang terjadi), dan beliau menjawab : “Aku tadi pergi ke kubur ibuku dan berdoa kepada Allah agar Ia menghidupkannya kembali hingga ia (ibuku) beriman kepadaku. Maka Allah pun mengembalikannya ke dunia ini lagi”.

✔ Status hadits : Maudlu’ (palsu).

Hadits ini dibawakan oleh As-Suyuthi dalam Al-Haawiy lil-Fataawaa 2/278. Diriwayatkan oleh Al-Jurqaaniy dalam Al-Abaathil wal-Manaakir (no. 207), Ibnu Syaahin dalam An-Naasikh wal-Mansuukh (no. 656), dan Ibnul-Jauziy dalam Al-Maudluu’aat (1/283-284) dari beberapa jalan, dari Muhammad bin Yahya Az-Zuhriy Abu Ghaziyyah, dari ‘Abdul-Wahhaab bin Musa, dari Abuz-Zinaad (dalam sanad lain : dari Ibnu Abiz-Zinaad), dari Hisyaam bin ‘Urwah, (dari ayahnya), dari ‘Aisyah radliyallaahu ‘anhaa.

Muhammad bin Yahya Az-Zuhriy. Ad-Daaruquthniy berkata : “Matruk”. Ia juga berkata : “Dari ‘Abdil-Wahhaab bin Musa, ia telah memalsukan (hadits)”. Al-Azdiy berkata : “Dla’iif” [lihat Miizaanul-I’tidaal 4/62 no. 8299, Al-Mughni fidl-Dlu’afaa’ 2/642 no. 6071, dan Adl-Dlu’afaa wal-Matrukiin lid-Daaruquthniy hal. 219 no. 483].

Berikut komentar para ulama tentang hadits tersebut :

– Ibnul-Jauziy berkata : “Hadits palsu tanpa ada keraguan” [Al-Maudluu’aat, 1/283].

– Abul-Fadhl bin Naashir berkata : “Hadits ini palsu” [idem].

– Ad-Daaruquthniy berkata : “Isnad dan matannya baathil” [Lisaanul-Miizaan, hal. 479 no. 5300 – biografi ‘Aliy bin Ahmad Al-Ka’biy].

– Al-Jurqaaniy berkata : “Hadits ini baathil” [Al-Abaathil wal-Manaakir hal. 123 no. 207].

– Adz-Dzahabiy berkata : “Hadits dusta” [Miizaanul-I’tidaal, 2/684 no. 5326 – biografi ‘Abdul-Wahhaab bin Musa].

– Ibnu Katsir berkata : “Sangat munkar (munkarun jiddan) para perawinya tidak diketahui (majhul)” [Adillatul-Mu’taqad Abi Haniifah oleh ‘Ali Al-Qaariy – yang dicetak dalam ‘Aqiidatul-Muwahhidiin oleh ‘Abdullah bin Sa’diy Al-Ghaamidiy Al-‘Abdaliy hal. 481].

• Hadits ke dua,

عن عمران بن حصين عن النّبيّ صلى الله عليه وسلم قال : « سألت ربّي عزّوجل أن لا يدخل أحداً من أهل بيتي النّار فأعطانيها»

Dari ‘Imraan bin Hushain, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : “Aku memohon kepada Rabb-ku ‘azza wa jalla untuk tidak memasukkan satupun dari keluarga (ahlul-bait)-ku ke neraka. Maka Allah pun mengabulkannya”.

✔ Status hadits : Maudlu’ (palsu).

Diriwayatkan oleh Ibnu Basyraan dalam Al-Amaaliy (56/1) : Telah mengkhabarkan kepada kami Abu Sahl Ahmad bin Muhammad bin ‘Abdillah bin Ziyaad Al-Qaththaan : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yunus : Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Aliy Al-Hanafiy : Telah menceritakan kepada kami Israaiil, dari Abu Hamzah Ats-Tsamaaliy, dari Abu Rajaa’, dari ‘Imraan bin Hushain secara marfu’.
Abu Hamzah Ats-Tsamaaliy, ia bernama Tsaabit bin Abi Shafiyyah. Ahmad dan Ibnu Ma’iin berkata : “Tidak ada apa-apanya (laisa bi-syai’)”.

– Abu Zur’ah berkata : “Layyin (lemah)”.

– Abu Haatim berkata : “Layyinul-hadiits, ditulis haditsnya, namun tidak dipakai sebagai hujjah”.

– Al-Jauzajaaniy berkata : “Waahiyul-hadiits”.

– An-Nasa’iy berkata : “Tidak tsiqah”.

– Ad-Daaruquthniy berkata : “Matruk”.

– Ibnu Hajar berkata : “Dla’iif, orang Raafidlah”. [lihat Siyaru A’laamin-Nubalaa’ 1/363 no. 1358, Tahdzibut-Tahdziib 2/7-8 no. 10, dan Taqriibut-Tahdziib hal. 185 no. 826].

– Muhammad bin Yunus, ia adalah Ibnu Musa bin Sulaiman bin ‘Ubaid bin Rabii’ah bin Kudaim As-Saamiy Al-Kudaimiy, Abul-‘Abbaas Al-Bashriy. Ad-Daruquthniy memasukkan dalam kitabnya Adl-Dlu’afaa. As-Sahmiy berkata : Aku mendengar Ad-Daaruquthniy berkata : “Al-Kudaimiy dituduh memalsukan hadits”. Al-Aajurriy berkata : “Aku mendengar Abu Dawud membicarakan Muhammad bin Sinan dan Muhammad bin Yunus, memutlakkan pada (hadits)-nya kedustaan”.

– Ibnu Hibbaan berkata : “Ia memalsukan hadits dari orang-orang tsiqah”.

– Adz-Dzahabiy berkata : “Haalik (orang yang binasa)”.

[lihat selengkapnya pada Al-Mughniy fidl-Dlu’afaa 2/646 no. 6109, Adl-Dlu’afaa wal-Matruukiin hal. 221 no. 488, Al-Jaami’ fil-Jarh wat-Ta’diil 3/106-107 no. 4233, dan Tahdzibut-Tahdziib 9/539-544 no. 886].

• Hadits ke tiga

عن ابن عمر رضي الله عنه عن النّبيّ صلى الله عليه وسلم أنّه قال : « إذا كان يوم القيامة شفعت لأبي وأمّي وعمّي أبو طالب وأخ لي كان في الجاهليّة »

Dari Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhu, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : “Pada hari kiamat nanti, aku akan memberi syafa’at kepada ayahku, ibuku, pamanku Abu Thaalib, dan saudaraku semasa Jahiliyyah”.

✔ Status hadits : Maudlu’ (palsu).

Diriwayatkan oleh Tammaam dalam Fawaaid-nya (2/45) : Telah menceritakan kepada kami Abul-Haarits Ahmad bin Muhammad bin ‘Ammaarah bin Abil-Khaththaab Al-Laitsiy dan Muhammad bin Harun bin Syu’aib bin ‘Abdillah, mereka berdua berkata : Telah memberitakan kepada kami Abu ‘Abdil-Malik Ahmad bin Ibrahim Al-Qurasyiy : Telah menceritakan kepada kami Abu Sulaiman Ayyuub Al-Mukattib : Telah menceritakan kepada kami Al-Waliid bin Salamah, dari ‘Ubaidullah bin ‘Umar, dari Naafi’, dari Ibnu ‘Umar radliyalaahu ‘anhuma, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam.
Al-Waliid bin Salamah, ia adalah Ath-Thabaraniy Al-Ardaniy.

– Imam Ad-Daaruquthniy berkata : “Matruukul-hadiits”. Ia juga berkata : “Dzaahibul-hadiits (orang yang ditingalkan haditsnya)”.

– Abu Haatim berkata : “Dzaahibul-hadiits”.

– Al-Haakim berkata : “Ia memalsukan hadits dari orang-orang tsiqah”.

– Adz-Dzahabiy berkata : “Al-Waliid bin Salamah Ath-Thabaraniy Al-Ardaniy dari ‘Ubaidullah bin ‘Umar, telah didustakan oleh Duhaim dan Al-Haakim”.

[lihat Al-Mughniy fidl-Dlu’afaa’ 3/772 no. 6857 dan Miizaanul-I’tidaal 4/339 no. 9372].

– Al-Kinaaniy berkata dalam Tanziihusy-Syarii’ah (1/322) saat mengkritik Tammaam yang hanya mengomentari status Al-Waliid dengan munkarul-hadiits : “Bahkan ia (Al-Waliid bin Salamah) adalah pendusta (kadzdzaab) sebagaimana dikatakan oleh banyak huffaadh. Dan aku mengira ini termasuk dari kebathilannya”.

• Hadits ke empat

عن ابن عبّاس قال : سمعت النّبيّ صلى الله عليه وسلم يقول : «شفعت في هؤلاء النّفر : في أبي وعمّي أبي طالب وأخي من الرّضاعة ـ يعني ابن السّعديّة ـ ليكونوا من بعد البعث هباء»

Dari Ibnu ‘Abbaas ia berkata : Aku mendengar Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Aku memberi syafa’at kepada beberapa orang ini : ayahku, pamanku Abu Thaalib, saudara sepersusuanku, yaitu Ibnus-Sa’diyyah, dimana mereka akan menjadi debu setelah hari kebangkitan”.

✔ Status hadits : Maudlu’ (palsu).

Diriwayatkan oleh Al-Khathiib dalam Taariikh Baghdaad (4/271), Al-Jurqaaniy dalam Al-Abaathil wal-Manaakir (hal. 128 no. 217), dan Ibnul-Jauziy dalam Al-Maudluu’aat (1/284-285), yang kesemuanya dari jalan : Abu Nu’aim, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Faaris, ia berkata : Telah menceritakan kepadaku Khaththaab bin ‘Abdid-Daaim Al-Arsuufiy : Telah menceritakan kepada kami Yahyaa bin Al-Mubaarak, dari Syariik, dari Manshuur, dari Laits, dari Mujaahid, dari Ibnu ‘Abbas secara marfu’.

Muhammad bin Faaris adalah Ibnu Hamdaan bin ‘Abdirrahman bin Muhammad bin Shabiih bin Muhammad bin ‘Abdirrahman bin ‘Abdirrazzaaq bin Ma’bad, Abu Bakr Al-‘Athasyiy Al-Ma’badiy. Al-Khathiib berkata : “Aku berkata kepada Abu Nu’aim tentangnya, lalu ia berkata : ‘Ia seorang Raafidliy yang ekstrim dalam bid’ah Rafidlahnya. Ia juga lemah dalam hadits”.

– Al-Khathiib juga berkata : “Ia tidak tsiqah”.

– Abul-Hasan Muhammad bin Al-‘Abbas bin Furaat berkata : “Abu Bakr Muhammad bin Faaris bin Hamdaan Al-Ma’badiy wafat pada bulan Dzulhijjah tahun 361 H. Ia bukan seorang yang tsiqah, tidak pula terpuji madzhabnya”

[lihat Taariikh Baghdaad 4/271, Lisaanul-Miizaan 7/436 no. 7298, Al-Maudluu’aat 1/284, dan Al-Abaathil wal-Manaakir hal. 128-129].

– Tentang Khaththaab bin ‘Abdid-Daaim Al-Arsuufiy, Al-Jurqaaniy berkata : “Khaththaab ini, seorang yang lemah (dla’iif) dan ma’ruf dengan riwayat-riwayat yang diingkari dari Yahya bin Al-Mubaarak Asy-Syaamiy” [lihat Al-Abaathil wal-Manaakir hal. 128]. Adz-Dzahabiy memasukkannya dalam Adl-Dlu’afaa’ 1/210 no. 1917].

– Al-Jurqaaniy berkata : “Hadits ini baathil, tidak ada asalnya. Laits bin Abi Sulaim adalah seorang yang lemah haditsnya. Manshuur bin Mu’tamir tidak mendengar satu pun riwayat dari Laits dan tidak pernah meriwayatkannya darinya karena kedla’ifannya. Yahya bin Al-Mubaarak ini adalah Syaamiy (orang Syaam) Shan’aaniy (orang Shan’a, Yaman). Seorang yang majhuul” [Al-Abaathil wal-Manaakir hal. 128].

– Ibnul-Jauziy berkata : “Hadits ini maudlu’ (palsu) tanpa keraguan. Adapun Laits, ia dla’iif. Manshuur tidak meriwayatkan darinya satu riwayatpun karena kedlaifannya. Yahya bin Al-Mubaarak ini adalah Syaamiy (orang Syaam) Shan’aaniy (orang Shan’a, Yaman), majhuul. Dan Al-Khaththaab adalah dla’iif” [Al-Maudluu’aat, 1/284].

• Hadits ke limam

عن علي بن أبي طالب قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ” هبط علي جبريل فقال يا محمد إن الله يقرئك السلام ويقول إني حرمت النار على صلب أنزلك وبطن حملك وحجر كفلك. فقال يا جبريل بين لى، فقال أما الصلب فعبد الله وأما البطن فآمنة بنت وهب، وأما الحجر فعبد يعنى عبدالمطلب وفاطمة بنت أسد “.

Dari ‘Aliy bin Abi Thaalib, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Jibril turun kepadaku dan berkata : ‘Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah mengucapkan salam kepadamu dan berfirman : Sesungguhnya aku telah mengharamkan neraka atas tulang sulbi yang telah mengeluarkanmu, perut yang mengandungmu, dan pangkuan yang telah memeliharamu’. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Wahai Jibril, terangkanlah kepadaku”. Ia (Jibril) berkata : “Adapun tulang sulbi, maka ia adalah ‘Abdullah. Adapun perut, maka ia adalah Aminah. Dan pangkuan, maka ia adalah ‘Abdul-Muthallib dan Faathimah binti Asad”.

✔ Status hadits : Maudu’ (palsu).

Diriwayatkan oleh Ibnul-Jauziy dalam Al-Maudluu’aat (1/283) dan Al-Jurqaaniy dalam Al-Abaathil wal-Manaakir (hal. 121-122 no. 206) dari jalan Abul-Husain Yahya bin Al-Husain bin Isma’il Al-‘Alawiy, ia berkata : Telah memberitakan kepada kami Abu ‘Abdillah Muhammad bin ‘Aliy bin Al-Husain Al-Hasaniy, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Zaid bin Haajib, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Ammaar Al-‘Aththaar, ia berkata : Telah menceritakan kepadaku ‘Aliy bin Muhammad bin Musa Al-Ghathaffaaniy, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Harun Al-‘Alawiy, ia berkata : Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin ‘Aliy bin Hamzah Al-‘Abbaasiy, ia berkata : Telah menceritakan kepadaku ayahku, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami ‘Aliy bin Musa bin Ja’far, ia berkata : Telah menceritakan kepadaku ayahku, dari Ja’far bin Muhammad, dari ayahnya, dari ‘Aliy bin Abi Thaalib secara marfu’.

– Al-Jurqaaniy berkata : “Hadits ini maudlu lagi baathil. Pada sanadnya terdapat lebih dari seorang perawi yang majhul.

– Telah berkata Abu Haatim Muhammad bin Hibbaan bin Ahmad Al-Bustiy Al-Haafidh : ‘Aliy bin Musa bin Ja’far Ar-Ridlaa meriwayatkan dari ayahnya banyak hal yang mengherankan (‘ajaaib).

Meriwayatkan darinya Abush-Shalt dan yang lainnya, seakan-akan dia ragu dan keliru. Aku bertanya kepada Al-Imam Muhammad bin Al-Hasan bin Muhammad perihal Abul-Husain Yahya bin Al-Husain bin Isma’il Al-Hasaniy Al-‘Alawiy. Ia berkata : ‘Ia seorang Rafidliy ekstrim…..” [Al-Abaathil wal-Manaakir hal. 122].

____________

ORANG TUA RASULULLAH MATI DALAM KEADA’AN KAFIR MENURUT KETERANGAN PARA ULAMA

ORANG TUA RASULULLAH MATI DALAM KEADA’AN KAFIR MENURUT KETERANGAN PARA ULAMA

1- Imam Al-Baihaqi rahimahullah berkata :

وَأَبَوَاهُ كَانَا مشركين، بِدَلِيلٍ مَا أَخْبَرْنَ

”Sesungguhnya kedua orang tua Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam adalah musyrik dengan dalil apa yang telah kami khabarkan . .”

Kemudian Imam Baihaqi membawakan hadits,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم اسْتَأْذَنْتُ رَبِّي أَنْ أَسْتَغْفِرَ لِأُمِّي فَلَمْ يُؤْذَنْ لِي وَاسْتَأْذَنْتُهُ أَنْ أَزُورَ قَبْرَهَا فَأُذِنَ لِي

Dari Abi Hurairah radliyallaahu ’anhu ia berkata, Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam : ”Sesungguhnya aku telah memohon ijin Rabb-ku untuk memintakan ampun ibuku, dan Ia tidak mengijinkanku. Namun Ia mengijinkan aku untuk menziarahi kuburnya”. (Shahih Muslim, no. 203 dan 976). (Lihat As-Sunanul-Kubraa juz 7 Bab Nikaahi Ahlisy-Syirk wa Thalaaqihim).

2- Imam Ibnul Jauzi berkata :

وَأُمَّا عَبْد الله فَإِنَّهُ مَاتَ وَرَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَمْلٌ وَلَا خِلَافَ أَنَّهُ مَاتَ كَافِرًا، وَكَذَلِكَ آمِنَةُ مَاتَتْ وَلِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سِتَّ سِنِينَ

”Adapun ’Abdullah (ayah Nabi), ia mati ketika Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam masih berada dalam kandungan, dan ia mati dalam keada’an kafir tanpa ada khilaf. Begitu pula Aminah (tentang kekafirannya tanpa ada khilaf), dimana ia mati ketika Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam berusia enam tahun”. (Al-Maudlu’aat juz 1 hal. 283).

Imam Ibnul Jauzi berkata ketika berhujjah dengan hadits ”Sesungguhnya aku telah memohon ijin Rabb-ku untuk memintakan ampun ibuku”, yaitu berdasarkan kenyataan bahwa Aminah bukanlah seorang wanita mukminah”. (Al-Maudlu’aat juz 1 hal. 284).

3- Imam Abu Hanifah rahimahullah berkata :

وَوَالِدَا رَسُولِ اللهِ مَاتَ عَلَى الكفر

”Dan kedua orang tua Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam mati dalam keadaan kafir”. (Al-Adillatul-Mu’taqad Abi Haniifah hal. 1) – [download dari http://www.alsoufia.com].

4- Imam Ath Thabari rahimahullah berkata dalam tafsirnya ketika menjelaskan QS. Al-Baqarah, 119 :

فَإِنَّ فِي اِسْتِحَالَةِ الشَّكِّ مِنْ الرَّسُولِ عَلَيْهِ السَلَامُ فِي أَنْ أَهَّلَ الشَّرَكَ مِنْ أَهْلِ الجَحِيمِ، وَأَنَّ أَبَوَيْهُ كَانَا مِنْهُمْ

”Semua ini berdasar atas keyakinan dari Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam bahwa orang-orang musyrik itu akan masuk neraka jahim dan kedua orang tua Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam termasuk bagian dari mereka”.

5- Al ’Allamah ’Ali bin Muhammad Sulthan Al-Qaari menyebutkan adanya ijma’ tentang kafirnya kedua orang tua Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam dengan perkata’annya :

وَأَمَّا الإِجْمَاعُ فَقَدْ أُتُّفِقَ السِّلْفُ وَالخَلْفُ مِنْ الصحابة وَالتَّابِعِينَ وَالأَئِمَّةِ الأَرْبَعَةِ وَسَائِرٌ المُجْتَهِدِينَ عَلَى ذَلِكَ مِنْ غَيْرِ إِظْهَارِ خِلَافٍ لَمَّا سَوْفَ نَأْلُكَ وَالخِلَافُ مِنْ اللَّاحِقِ لَا يَقْدَحُ فِي الإِجْمَاعِ السَّابِقِ سَوَاءٍ يَكُونُ مِنْ جِنْسِ المُخَالِفِ أَوْ صَنَّفَ الموافق

”Adapun ijma’, maka sungguh ulama salaf dan khalaf dari kalangan shahabat, tabi’in, imam empat, serta seluruh mujtahidin telah bersepakat tentang hal tersebut (kafirnya kedua orang tua Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam) tanpa adanya khilaf. Jika memang terdapat khilaf setelah adanya ijma’, maka tidak mengurangi nilai ijma’ yang telah terjadi sebelumnya. Sama saja apakah hal itu terjadi pada orang-orang menyelisihi ijma’ (dimasa setelahnya) atau dari orang-orang yang telah bersepakat (yang kemudian ia berubah pendapat menyelisihi ijma’)”. (Adilltaul-Mu’taqad Abi Haniifah hal. 7). – [download dari http://www.alsoufia.com].

6- Al ’Allamah Syamsul Haq ’Adhim ’Abadi berkata, Sabda Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam :

فَلَمْ يَأْذَنْ لِي: لِأَنَهَا كَافِرَةٌ وَالاِسْتِغْفَارُ لِلكَافِرِينَ لَا يَجُوزُ

”Dan Ia (Allah) tidak mengijinkanku” adalah disebabkan Aminah adalah seorang yang kafir, sedangkan memintakan ampun terhadap orang yang kafir adalah tidak diperbolehkan”. (’Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abi Dawud, Kitaabul Janaaiz, Baab Fii Ziyaaratil Qubuur).

• Kekafiran kedua orang tua Rasulullah menurut para Imam Ahli Hadits

Beberapa imam ahli hadits memasukkan hadits-hadits tentang kafirnya kedua orang tua Nabi dalam Bab-bab yang tegas menunjukkan fiqh (pemahaman) dan i’tiqad mereka tentang kekafiran kedua orang tua Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam.

– Imam Muslim memasukkannya dalam Bab,

[بَيَانٌ أَنْ مَنْ مَاتَ عَلَى الكُفْرِ فَهُوَ فِي النَّارِ وَلَا تَنَالُهُ شفاعة وَلَا تَنْفَعُهُ قَرَابَةٌ المُقَرَّبِينَ]

“Penjelasan bahwasannya siapa saja meninggal dalam kekafiran maka ia berada di neraka dan ia akan memperoleh syafa’at dan tidak bermanfaat baginya hubungan kekerabatan”.

– Imam Ibnu Majah memasukkannya dalam Bab,

[مَا جَاءَ فِي زِيَارَةِ قُبُورٍ المشركين]

”Apa-Apa yang datang mengenai ziarah ke kubur orang-orang musyrik”. – Imam An-Nasa’i memasukkannya dalam Bab, [زِيَارَةٌ قَبَرَ المشرك] ”Ziyarah ke Kubur Orang-Orang Musyrik”.

_________________

BENARKAH KEDUA ORANG TUA NABI MATI DALAM KEADA’AN KAFIR ?

BENARKAH KEDUA ORANG TUA NABI MATI DALAM KEADA’AN KAFIR ?

Keturunan Nabi adalah nasab yang mulia dalam Islam. Akan tetapi hal itu bukanlah jaminan bahwa mereka akan dimasukkan ke dalam surga dan selamat dari api neraka. Allah Ta’ala hanya akan menilai seseorang, termasuk mereka yang mengaku memiliki nasab mulia (keturunan Nabi) dari amalnya.

Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam bersabda :

وَمَنْ بَطَأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ

“Barangsiapa yang lambat amalnya, maka kemulia’an nasabnya tidak bisa mempercepatnya”. (HR. Muslim, Arba’un Nawawiyyah no. 36).

Tidak dipungkiri bahwa kedudukan para Nabi dan Rasul itu tinggi di mata Allah. Namun hal itu bukanlah sebagai jaminan bahwa seluruh keluarga Nabi dan Rasul mendapatkan petunjuk dan keselamatan serta aman dari ancaman siksa neraka karena keterkaitan hubungan keluarga dan nasab.

NASAB TIDAK MENYELAMATKAN

• Kekafiran anak Nabi Nuh

Allah telah berfirman tentang kekafiran anak Nabi Nuh ‘alaihis-salaam yang akhirnya termasuk orang-orang yang ditenggelamkan Allah bersama orang-orang kafir :

وَقِيلَ يَأَرْضُ ابْلَعِي مَآءَكِ وَيَسَمَآءُ أَقْلِعِي وَغِيضَ الْمَآءُ وَقُضِيَ الأمْرُ وَاسْتَوَتْ عَلَى الْجُودِيّ وَقِيلَ بُعْداً لّلْقَوْمِ الظّالِمِينَ * وَنَادَى نُوحٌ رّبّهُ فَقَالَ رَبّ إِنّ ابُنِي مِنْ أَهْلِي وَإِنّ وَعْدَكَ الْحَقّ وَأَنتَ أَحْكَمُ الْحَاكِمِينَ * قَالَ يَنُوحُ إِنّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ إِنّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ فَلاَ تَسْأَلْنِـي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنّيَ أَعِظُكَ أَن تَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ

Dan difirmankan: “Hai bumi telanlah airmu, dan hai langit (hujan) berhentilah,” dan airpun disurutkan, perintahpun diselesaikan dan bahtera itupun berlabuh di atas bukit Judi, dan dikatakan: “Binasalah orang-orang yang zalim“. Dan Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya”. Allah berfirman: “Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatan)nya perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakekat)nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan”. (QS. Huud : 44-46).

• Kekafiran bapak Nabi Ibrahim

Allah juga berfirman tentang keingkaran Azar ayah Nabi Ibrahim ’alaihis-salaam :

وَمَا كَانَ اسْتِغْفَارُ إِبْرَاهِيمَ لأبِيهِ إِلاّ عَن مّوْعِدَةٍ وَعَدَهَآ إِيّاهُ فَلَمّا تَبَيّنَ لَهُ أَنّهُ عَدُوّ للّهِ تَبَرّأَ مِنْهُ إِنّ إِبْرَاهِيمَ لأوّاهٌ حَلِيمٌ

“Dan perminta’an ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka, tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri dari padanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun”. (QS. At-Taubah : 114).

• Kekafiran istri Nabi Luth

Dan Allah pun berfirman tentang istri Nabi Luth sebagai orang yang dibinasakan oleh adzab Allah :

فَأَنجَيْنَاهُ وَأَهْلَهُ إِلاّ امْرَأَتَهُ كَانَتْ مِنَ الْغَابِرِينَ

“Kemudian Kami selamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali isterinya, dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan)”. (Q.S. Al-A’raf : 83).

KAFIRKAH KEDUA ORANG TUA RASULULLAH ?

Kekafiran anak Nabi Nuh, kafirnya bapak Nabi Ibrahim juga kafirnya istri Nabi Luth begitu pula kafirnya kedua orang tua Rasullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah kehendak kauni Allah ta’ala, mereka mati dalam keada’an kafir.

KEKAFIRAN KEDUA ORANG TUA RASULULLAH MENURUT AL-QUR’AN, HADITS NABI DAN KETERANGAN PARA ULAMA

Kekafiran kedua orang tua Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di terangkan di dalam al-Qur’an dan hadits Nabi juga menurut keterangan para Ulama sebagai berikut,

• Keterangan dari al-Qur’an

Allah Ta’ala berfirman :

مَا كَانَ لِلنّبِيّ وَالّذِينَ آمَنُوَاْ أَن يَسْتَغْفِرُواْ لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوَاْ أُوْلِي قُرْبَىَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيّنَ لَهُمْ أَنّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

“Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam”. (Q.S At-Taubah : 113).

Asbabun nuzul (sebab turunnya) ayat ini adalah berkaitan dengan permohonan Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam kepada Allah ta’ala untuk memintakan ampun ibunya (namun kemudian Allah tidak mengijinkannya) – (Lihat Tafsir Ath-Thabari dan Tafsir Ibnu Katsir QS. At-Taubah : 113).

• Keterangan dari hadits Nabi

عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَجُلًا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيْنَ أَبِي قَالَ فِي النَّارِ فَلَمَّا قَفَّى دَعَاهُ فَقَالَ إِنَّ أَبِي وَأَبَاكَ فِي النَّارِ

Dari Anas radliyallaahu ‘anhu, Bahwasannya ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, “Wahai Rasulullah, dimanakah tempat ayahku (yang telah meninggal) sekarang berada ?”. Beliau menjawab : “Di neraka”. Ketika orang tersebut berlalu, maka beliau memanggilnya lalu berkata : “Sesungguhnya ayahku dan ayahmu di neraka”. (HR. Muslim no. 203, Abu Dawud no. 4718, Ahmad no. 13861, Ibnu Hibban no. 578, Al-Baihaqi dalam Al-Kubraa no. 13856, Abu ‘Awanah no. 289, dan Abu Ya’la no. 3516).

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata : “Di dalam hadits tersebut [yaitu hadits :

إِنَّ أَبِي وَأَبَاكَ فِي النَّارِ

”Sesungguhnya ayahku dan ayahmu di neraka”] terdapat pengertian bahwa orang yang meninggal dunia dalam keada’an kafir, maka dia akan masuk neraka. Dan kedekatannya dengan orang-orang yang mendekatkan diri (dengan Allah) tidak memberikan manfa’at kepadanya. Selain itu, hadits tersebut juga mengandung makna bahwa orang yang meninggal dunia pada masa dimana bangsa Arab tenggelam dalam penyembahan berhala, maka diapun masuk penghuni neraka. Hal itu bukan termasuk pemberian siksa’an terhadapnya sebelum penyampaian dakwah, karena kepada mereka telah disampaikan dakwah Ibrahim dan juga para Nabi yang lain shalawaatullaah wa salaamuhu ‘alaihim”. (Syarah Shahih Muslim oleh An-Nawawi juz 3 hal. 79 melalui perantara Naqdu Masaalikis-Suyuthi fii Waalidayil-Musthafaa oleh Dr. Ahmad bin Shalih Az-Zahrani hal. 26, Cet. 1425 H).

Hadits Nabi lainnya,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم اسْتَأْذَنْتُ رَبِّي أَنْ أَسْتَغْفِرَ لِأُمِّي فَلَمْ يُؤْذَنْ لِي وَاسْتَأْذَنْتُهُ أَنْ أَزُورَ قَبْرَهَا فَأُذِنَ لِي

Dari Abi Hurairah radliyallaahu ’anhu ia berkata, Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam : ”Sesungguhnya aku telah memohon ijin Rabb-ku untuk memintakan ampun ibuku, dan Ia tidak mengijinkanku. Namun Ia mengijinkan aku untuk menziarahi kuburnya”. (H.R Muslim no. 976, Abu Dawud no. 3234, An-Nasa’i dalam Ash-Shughraa no. 2034, Ibnu Majah no. 1572, dan Ahmad no. 9686).

Al-Imam Al-Baihaqi rahimahullah berkata :

وَأَبَوَاهُ كَانَا مشركين، بِدَلِيلٍ مَا أَخْبَرْنَ

”Sesungguhnya kedua orang tua Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam adalah musyrik dengan dalil apa yang telah kami khabarkan….”. Kemudian beliau membawakan dalil hadits dalam Shahih Muslim di atas (no. 203 dan 976) di atas. (Lihat As-Sunanul-Kubraa juz 7 Bab Nikaahi Ahlisy-Syirk wa Thalaaqihim). [1].

Al-’Allamah Syamsul-Haq ’Adhim ’Abadi berkata :

فلم يأذن لي :‏‏ لأنها كافرة والاستغفار للكافرين لا يجوز

”Sabda beliau shallallaahu ’alaihi wasallam : ”Dan Ia (Allah) tidak mengijinkanku” adalah disebabkan Aminah adalah seorang yang kafir, sedangkan memintakan ampun terhadap orang yang kafir adalah tidak diperbolehkan”. (’Aunul-Ma’bud Syarh Sunan Abi Dawud, Kitaabul-Janaaiz, Baab Fii Ziyaaratil-Qubuur). [2]

Hadits Nabi lainnya,

عَنْ اِبْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ “جَاءَ أَبِنَا مليكة – وَهُمَا مِنْ الأَنْصَارِ – فَقَالَا: يَا رَسُولَ اللهِ إنَ أمَنَا كَانَتْ تَحْفَظُ عَلَى البَعْلِ وَتُكَرِّمُ الضَيْفَ، وَقَدٌّ وئدت فِي الجَاهِلِيَّةِ فَأَيْنَ أُمُّنَا؟ فَقَالَ: أُمُّكُمَا فِي النَّارِ. فَقَامَا وَقَدْ شَقَّ ذَلِكَ عَلَيْهِمَا، فَدَعَاهُمَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَجَعَا، فَقَالَ: أَلَّا أَنَ أُمِّي مَعَ أُمِّكُمَا

Dari Ibnu Mas’ud radliyallaahu ‘anhu ia berkata, Datang dua orang anak laki-laki Mulaikah, mereka berdua dari kalangan Anshar, lalu berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibu kami semasa hidupnya memelihara onta dan memuliakan tamu. Dia dibunuh di jaman Jahiliyyah. Dimana ibu kami sekarang berada ?”. Maka beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam menjawab : “Di neraka”. Lalu mereka berdiri dan merasa berat mendengar perkata’an beliau. Lalu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam memanggil keduanya lalu berkata : “Bukankah ibuku bersama ibu kalian berdua (di neraka) ?” (Lihat Tafsir Ad-Durrul-Mantsur juz 4 halaman 298 – Diriwayatkan oleh Ahmad no. 3787, Thabarani dalam Al-Kabiir 10/98-99 no. 10017, Al-Bazzar 4/175 no. 3478, dan yang lainnya, shahih).

• Kekafiran ke dua orang tua Nabi menurut para Ulama (ijma’ Ulama).

– Al-Imam Ibnul Jauzi berkata :

وَأُمَّا عَبْد الله فَإِنَّهُ مَاتَ وَرَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَمْلٌ وَلَا خِلَافَ أَنَّهُ مَاتَ كَافِرًا، وَكَذَلِكَ آمِنَةُ مَاتَتْ وَلِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سِتَّ سِنِينَ

”Adapun ’Abdullah (ayah Nabi), ia mati ketika Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam masih berada dalam kandungan, dan ia mati dalam keada’an kafir tanpa ada khilaf. Begitu pula Aminah (tentang kekafirannya tanpa ada khilaf), dimana ia mati ketika Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam berusia enam tahun”. (Al-Maudlu’aat juz 1 hal. 283).

Al-Imam Ibnul Jauzi berkata ketika berhujjah dengan hadits ”Sesungguhnya aku telah memohon ijin Rabb-ku untuk memintakan ampun ibuku”, yaitu berdasarkan kenyataan bahwa Aminah bukanlah seorang wanita mukminah”. (Al-Maudlu’aat juz 1 hal. 284).

– Al ’Allamah ’Ali bin Muhammad Sulthan Al-Qaari menyebutkan adanya ijma’ tentang kafirnya kedua orang tua Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam dengan perkata’annya :

وَأَمَّا الإِجْمَاعُ فَقَدْ أُتُّفِقَ السِّلْفُ وَالخَلْفُ مِنْ الصحابة وَالتَّابِعِينَ وَالأَئِمَّةِ الأَرْبَعَةِ وَسَائِرٌ المُجْتَهِدِينَ عَلَى ذَلِكَ مِنْ غَيْرِ إِظْهَارِ خِلَافٍ لَمَّا سَوْفَ نَأْلُكَ وَالخِلَافُ مِنْ اللَّاحِقِ لَا يَقْدَحُ فِي الإِجْمَاعِ السَّابِقِ سَوَاءٍ يَكُونُ مِنْ جِنْسِ المُخَالِفِ أَوْ صَنَّفَ الموافق

”Adapun ijma’, maka sungguh ulama salaf dan khalaf dari kalangan shahabat, tabi’in, imam empat, serta seluruh mujtahidin telah bersepakat tentang hal tersebut (kafirnya kedua orang tua Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam) tanpa adanya khilaf. Jika memang terdapat khilaf setelah adanya ijma’, maka tidak mengurangi nilai ijma’ yang telah terjadi sebelumnya. Sama saja apakah hal itu terjadi pada orang-orang menyelisihi ijma’ (dimasa setelahnya) atau dari orang-orang yang telah bersepakat (yang kemudian ia berubah pendapat menyelisihi ijma’). (Adilltaul-Mu’taqad Abi Haniifah hal. 7 – download dari http://www.alsoufia.com).

– Imam Abu Hanifah rahimahullah berkata :

وَوَالِدَا رَسُولِ اللهِ مَاتَ عَلَى الكفر

”Dan kedua orang tua Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam mati dalam keadaan kafir” [Al-Adillatul-Mu’taqad Abi Haniifah hal. 1 – download dari http://www.alsoufia.com].

– Imam Ath-Thabari rahimahullah berkata dalam tafsirnya ketika menjelaskan QS. Al-Baqarah, 119 :

فَإِنَّ فِي اِسْتِحَالَةِ الشَّكِّ مِنْ الرَّسُولِ عَلَيْهِ السَلَامُ فِي أَنْ أَهَّلَ الشَّرَكَ مِنْ أَهْلِ الجَحِيمِ، وَأَنَّ أَبَوَيْهُ كَانَا مِنْهُمْ

”Semua ini berdasar atas keyakinan dari Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam bahwa orang-orang musyrik itu akan masuk neraka jahim dan kedua orang tua Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam termasuk bagian dari mereka”.

– Kekafiran kedua orang tua Rasulullah menurut para Imam Ahli Hadits

Beberapa imam ahli hadits memasukkan hadits-hadits tentang kafirnya kedua orang tua Nabi dalam Bab-bab yang tegas menunjukkan fiqh (pemahaman) dan i’tiqad mereka tentang kekafiran kedua orang tua Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam.

– Imam Muslim memasukkannya dalam Bab,

[بَيَانٌ أَنْ مَنْ مَاتَ عَلَى الكُفْرِ فَهُوَ فِي النَّارِ وَلَا تَنَالُهُ شفاعة وَلَا تَنْفَعُهُ قَرَابَةٌ المُقَرَّبِينَ]

“Penjelasan bahwasannya siapa saja
meninggal dalam kekafiran maka ia berada di neraka dan ia akan memperoleh syafa’at dan tidak bermanfaat baginya hubungan kekerabatan”.

– Imam Ibnu Majah memasukkannya dalam Bab,

[مَا جَاءَ فِي زِيَارَةِ قُبُورٍ المشركين]

”Apa-Apa yang datang mengenai ziarah ke kubur orang-orang musyrik”.
– Imam An-Nasa’i memasukkannya dalam Bab, [زِيَارَةٌ قَبَرَ المشرك] ”Ziyarah ke Kubur Orang-Orang Musyrik.

Dan yang lainnya.

Keterangan dari Al-Qur’an dan hadits dan juga keterangan para Ulama diatas adalah hujjah yang sangat jelas yang menunjukkan kekafiran kedua orang tua Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam.

BEBERAPA SUBHAT DAN BANTAHANNYA

1. Kedua orang tua Nabi termasuk ahli fatrah sehingga mereka dima’afkan.

Bantahan :

Pengertian fatrah menurut bahasa kelemahan dan penurunan (Lisaanul-’Arab oleh Ibnul-Mandhur 5/43).

Adapun pengertian fatrah secara istilah, bermakna tenggang waktu antara dua orang Rasul, dimana ia tidak mendapati Rasul pertama dan tidak pula menjumpai Rasul kedua” (Jam’ul-Jawaami’ 1/63).

Hal ini seperti selang waktu antara Nabi Nuh dan Idris ’alaihimas salaam serta seperti selang waktu antara Nabi ’Isa ’alaihis salaam dan Nabi Muhammad shallallaahu ’alaihi wasallam. Definisi ini dikuatkan oleh firman Allah ta’ala :

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ قَدْ جَاءَكُمْ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ عَلَى فَتْرَةٍ مِنَ الرُّسُلِ أَنْ تَقُولُوا مَا جَاءَنَا مِنْ بَشِيرٍ وَلا نَذِيرٍ

Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepada kamu Rasul Kami, menjelaskan (syariat Kami) kepadamu ketika terputus (pengiriman) rasul-rasul, agar kamu tidak mengatakan, “Tidak datang kepada kami baik seorang pembawa berita gembira maupun seorang pemberi peringatan”. (QS. Al-Maaidah : 19).

Ahli fatrah terbagi menjadi dua macam :

1. Yang telah sampai kepadanya ajaran Nabi.

2. Yang tidak sampai kepadanya ajaran / dakwah Nabi dan dia dalam keadaan lalai.

Golongan pertama di atas dibagi menjadi dua, yaitu :

Pertama, Yang sampai kepadanya dakwah dan dia bertauhid serta tidak berbuat syirik. Maka mereka dihukumi seperti ahlul-islam / ahlul-iman. Contohnya adalah Waraqah bin Naufal, Qus bin Saa’idah, Zaid bin ’Amr bin Naufal, dan yang lainnya.

Kedua, Yang tidak sampai kepadanya dakwah namun ia merubah ajaran dan berbuat syirik. Golongan ini tidaklah disebut sebagai ahlul-islam / ahlul iman. Tidak ada perselisihan di antara ulama bahwa mereka merupakan ahli neraka. Contohnya adalah ’Amr bin Luhay [3], Abdullah bin Ja’dan, shahiibul-mihjan, kedua orang tua Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam, dan yang lainnya.

Golongan kedua, maka mereka akan diuji oleh Allah kelak di hari kiamat.

Kedua orang tua Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam memang termasuk ahli fatrah, namun telah sampai kepada mereka dakwah Nabi Ibrahim ’alaihis-salaam. Maka, mereka tidaklah dima’afkan akan kekafiran mereka sehingga layak sebagai ahli neraka.

2. Ada hadits-hadits yang menceritakan tentang dihidupkannya kembali kedua orang tua Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam ke dunia, lalu mereka beriman kepada ajaran beliau.

Diantara hadits-hadits tersebut adalah,

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: حَجَّ بِنَا رَسُولُ اللهِ حُجَّةَ الوَدَاعِ، فَمَرَّ بِي عَلَى عَقَبَةِ الحجون وَهُوَ بَاكٍ حَزِينٌ مُغْتَمٌّ فَنُزِّلَ فَمَكَثَ عَنِّي طَوِيلًا ثُمَّ عَادَ إِلَيَّ وَهُوَ فَرِحٌ مُبْتَسِمٌ، فَقُلْتُ لَهُ فَقَالَ: ذَهَبْتُ لِقَبْرٍ أُمِّيٍّ فَسَأَلْتُ اللهَ أَنْ يُحَيِّيَهَا فَأَحْيَاهَا فَآمَنَتْ بِي وَرْدُهَا الله

Dari ’Aisyah radliyallaahu ’anhaa ia berkata : ”Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam melakukan haji bersama kami dalam haji wada’. Beliau melewati satu tempat yang bernama Hajun dalam keadaan menangis dan sedih. Lalu beliau shallallaahu ’alaihi wasallam turun dan menjauh lama dariku kemudian kembali kepadaku dalam keadaan gembira dan tersenyum. Maka akupun bertanya kepada beliau (tentang apa yang terjadi), dan beliau pun menjawab : ”Aku pergi ke kuburan ibuku untuk berdoa kepada Allah agar Ia menghidupkannya kembali. Maka Allah pun menghidupkannya dan mengembalikan ke dunia dan beriman kepadaku” [Diriwayatkan oleh Ibnu Syahin dalam An-Nasikh wal-Mansukh no. 656, Al-Jauzaqaani dalam Al-Abaathil 1/222, dan Ibnul-Jauzi dalam Al-Maudlu’aat 1/283-284].

Bantahan :

Hadits ini tidak shahih karena perawi yang bernama Muhammad bin Yahya Az-Zuhri dan Abu Zinaad.

Tentang Muhammad bin Yahya Az-Zuhri,

Imam Ad-Daruquthni berkata : ”Matruk”. Ia juga berkata : ”Munkarul-Hadits, ia dituduh memalsukan hadits”. (lihat selengkapnya dalam Lisaanul-Miizaan 4/234).

Adapun tentang Abu Zinaad,

– Maka telah berkata Yahya bin Ma’in : Ia bukanlah orang yang dijadikan hujjah oleh Ashhaabul-Hadiits, tidak ada apa-apanya”.

– Ahmad berkata : ”Orang yang goncang haditsnya (mudltharibul-hadiits)”.

– Berkata Ibnul-Madiinii : ”Menurut para shahabat kami ia adalah seorang yang dla’if”. Ia juga berkata pula : ”Aku melihat Abdurrahman bin Mahdi menulis haditsnya”.

– Imam An-Nasa’i berkata : ”Haditsnya tidak boleh dijadikan hujjah”.

– Ibnu ’Adi berkata : ”Ia termasuk orang yang ditulis haditsnya”.

(silakan lihat selengkapnya dalam Tahdzibut-Tahdzib).

Ringkasnya, Abu Zinaad, ia termasuk perawi yang ditulis haditsnya namun riwayatnya sangat lemah jika ia bersendirian.

Dengan melihat kelemahan itu, maka status hadits diatas, para ahli hadits menyimpulkan sebagai berikut :

– Ibnul-Jauzi dalam Al-Maudlu’aat (1/284) berkata : ”Palsu tanpa ragu lagi”.

– Imam Ad-Daruquthni dalam Lisaanul Mizan (biografi ’Ali bin Ahmad Al-Ka’by) : ”Munkar lagi bathil”.

– Ibnu ’Asakir dalam Lisanul-Mizan (4/111) : ”Hadits munkar”.

– Adz-Dzahabi berkata (dalam biografi ’Abdul-Wahhab bin Musa) : ”Hadits ini adalah dusta”.

Hadits lainnya,

عَنْ اِبْنٍ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : قَالَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِذَا كَانَ يَوْمَ القِيَامَةِ شَفَعَتْ لِأَبِي وَأُمَّي وَعَمَّي أَبِي طَالِبٌ وَاخِ لِي كَانَ فِي الجاهلية

Dari Ibnu ’Umar radliyallaahu ’anhuma ia berkata, Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam : ”Pada hari kiamat nanti aku akan memberi syafa’at kepada ayahku, ibuku, pamanku Abu Thalib, dan saudaraku di waktu Jahiliyyah” (Diriwayatkan oleh Tamam Ar-Razi dalam Al-Fawaaid 2/45).

Bantahan :

Hadits ini adalah palsu karena rawi yang bernama Al-Waliid bin Salamah. “Ia adalah pemalsu lagi ditinggalkan haditsnya”. (lihat Al-Majruhiin oleh Ibnu Hibban 3/80 dan Mizaanul-I’tidaal oleh Adz-Dzahabi 4/339).

Hadits lainnya,

عَنْ عَلَيَّ مَرْفُوعًا: “هَبَطَ جِبْرِيلُ عَلَيَّ فَقَالَ إِنَّ اللهَ يقرئك السَّلَامُ وَيَقُولُ إِنَّي حَرَمْتُ النَّارَ عَلَى صُلُبٍ أَنْزِلُكَ وَبَطْنٍ حَمْلِكَ وَحَجَرٍ كَفُلِّكَ”

Dari ’Ali radliyallaahu ’anhu secara marfu’ : ”Jibril turun kepadaku dan berkata : ’Sesungguhnya Allah mengucapkan salaam dan berfirman : Sesungguhnya Aku haramkan neraka bagi tulang rusuk yang telah mengeluarkanmu (yaitu Abdullah), perut yang mengandungmu (yaitu Aminah), dan pangkuan yang merawatmu (yaitu Abu Thalib)”. (Diriwayatkan oleh Al-Jauzaqaani dalam Al-Abaathil 1/222-223 dan Ibnul-Jauzi dalam Al-Maudlu’aat 1/283).

Bantahan :

Hadits ini adalah palsu (maudlu’) tanpa ada keraguan sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ibnul-Jauzi dalam Al-Maudlu’aat (1/283) dan Imam Adz-Dzahabi dalam Ahaadiitsul-Mukhtarah no. 67.

Dan hadits lain yang senada yang tidak lepas dari status sangat lemah, munkar, atau palsu.

3. Hadits-hadits yang menjelaskan tentang kafirnya kedua orang tua Nabi shallallaahu ’alaihi wa sallam dinasakh (dihapus) oleh hadits-hadits yang menjelaskan tentang berimannya kedua orang tua beliau.

Bantahan :

Klaim nasakh (di hapus) hanyalah diterima bila hadits nash naasikh (penghapus) berderajat shahih.

Namun, ternyata kedudukan haditsnya yang dianggap naasikh (penghapus) adalah sangat lemah, munkar, atau palsu.

Maka bagaimana bisa diterima hadits shahih di nasakh (di hapus) oleh hadits yang kedudukannya sangat jauh di bawahnya ?

Itu yang pertama.

Adapun yang kedua, Nasakh (di hapus sebuah hadits oleh hadits lainnya) hanyalah ada dalam permas’alahan hukum, bukan dalam permas’alahan khabar.

Walhasil, anggapan nasakh (hadits di atas di hapus oleh hadits lainnya) adalah anggapan yang sangat lemah.

Kesimpulannya : Orang-orang yang menolak kafirnya kedua orang tua Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, berhujjah dengan dalil-dalil yang sangat lemah.

Penyelisihan dalam perkara ini bukan termasuk khilaf yang diterima dalam Islam (karena tidak didasari oleh hujjah yang kuat).

PIHAK YANG MENOLAK KEKAFIRAN ORANG TUA NABI

Sebagian orang-orang yang datang belakangan menolak tentang kekafirannya kedua orang tua Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka menyelisihi setelah adanya ijma’ (tentang kekafiran kedua orang tua Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam). Mereka mengklaim bahwa kedua orang tua Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk ahli surga. Yang paling menonjol dalam membela pendapat ini adalah Al-Haafidh As-Suyuthi. Ia menulis beberapa judul khusus yang membahas tentang status kedua orang tua Nabi seperti : Masaalikul-Hunafaa fii Waalidayal-Musthafaa, At-Ta’dhiim wal-Minnah fii Anna Abawai Rasuulillah fil-Jannah, As-Subulul Jaliyyah fil Aabaail ’Aliyyah, dan lain-lain.

• Syi’ah dan habaib

Orang-orang Syi’ah berada pada barisan terdepan dalam memperjuangkan pendapat bathil ini. Di susul kemudian sebagian habaaib (orang yang mengaku keturunan Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam) dimana mereka menginginkan atas pendapat itu agar orang berkeyakinan tentang kemulia’an kedudukan mereka sebagai keturunan Rasulullah. Hakekatnya, motif dua golongan ini adalah sama. Kultus individu.

Kesimpulan : Kedua orang tua Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam meninggal dalam keada’an kafir sangat jelas, berdasarkan al-Qur’an dan hadits Nabi juga menurut perkata’an para Ulama. Wallaahu a’lam.

__________________________

[1] Perkataan Imam Al-Baihaqi tentang kekafiran kedua orang tua Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam juga dapat ditemui dalam kitab Dalaailun-Nubuwwah juz 1 hal. 192, Daarul-Kutub, Cet. I, 1405 H, tahqiq : Dr. Abdul-Mu’thi Al-Qal’aji.

[2] Karena ibu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam termasuk orang-orang kafir. Maka Allah Ta’ala melarang Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam dan kaum mukminin secara umum untuk memintakan ampun orang-orang yang meninggal dalam keada’an kafir sebagaimana firman-Nya :

مَا كَانَ لِلنّبِيّ وَالّذِينَ آمَنُوَاْ أَن يَسْتَغْفِرُواْ لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوَاْ أُوْلِي قُرْبَىَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيّنَ لَهُمْ أَنّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

“Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam”. (QS. At-Taubah: 113).

[3] Dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu ia berkata :

قَالَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَيْتَ عَمْرٌو بِنْ عَامِرُ بِنْ لِحَيِّ الخزاعي يَجُرُّ قَصَبَهُ فِي النَّارِ وَكَانَ أَوَّلَ مَنْ سِيبَ السوائب

Telah berkata Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu, Telah bersabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam : “Aku melihat ‘Amru bin ‘Amir bin Luhay Al-Khuzaa’i menarik-narik ususnya di neraka. Dia adalah orang pertama yang melepaskan onta-onta (untuk dipersembahkan kepada berhala)”. (HR. Bukhari no. 3333 – tartib maktabah sahab, Muslim no. 2856).

Nisbah Al-Khuzaa’i merupakan nisbah kepada sebuah suku besar Arab, yaitu Bani Khuza’ah. Ibnu Katsir menjelaskan sebagai berikut :

عَمْرٌو هَذَا هُوَ اِبْنٌ لِحَيِّ بِنْ قمعة، أَحَدٌ رُؤَسَاءَ خزاعة الَّذِينَ وَلَّوْا البَيْتَ بَعْدَ جَرِّهِمْ وَكَانَ أَوَّلُ مِنْ غَيْرِ دِينِ إِبْرَاهِيمَ الخليل، فَأَدْخَلَ الأَصْنَامَ إِلَى الحِجَازِ، وَدَعَا الرُّعَاعُ مِنْ النَّاسِ إِلَى عِبَادَتِهَا والتقرب بِهَا، وَشَرَّعَ لَهُمْ هَذِهِ الشَّرَائِعَ الجَاهِلِيَّةُ فِي الأنعام وَغَيْرِهَا

“Amru bin ‘Amir bin Luhay Al-Khuza’i merupakan salah satu pemimpin Khuza’ah yang memegang kekuasa’an atas Ka’bah setelah Kabilah Jurhum. Ia adalah orang yang pertama kali mengubah agama Ibrahim (atas bangsa Arab). Ia memasukkan berhala-berhala ke Hijaz, lalu menyeru kepada beberapa orang jahil untuk menyembahnya dan bertaqarrub dengannya, dan ia membuat beberapa ketentuan jahiliyyah ini bagi mereka yang berkena’an dengan binatang ternak dan lain-lain . .” (lihat Tafsir Ibnu Katsir 2/148 QS. Al-Maidah ayat 103).

sumber: http://abul-jauzaa.blogspot.com/2008/06/kafirkah-kedua-orang-tua-nabi-sebuah.html

Video Penjelasan bahwa kedua orangtua nabi berada di neraka

______________

TIDAK TAKUT NERAKA DAN TIDAK BUTUH SURGA

Di antara ajaran sufi adalah tidak takut neraka dan tidak membutuhkan surga.

Berikut ini di antara perkata’an tokoh-tokoh mereka.

– Abu Yazid Al-Bustami berkata : “Surga itu tidak pernah terlintas di hati orang-orang yang mempunyai cinta, karena mereka terhalang dari padanya karena cinta mereka”. (Thabaqatu Ash-Shufiyyah, As-Sulami, hal. 19).

– Abu Yazid Al-Busthami bermunajat kepada Allah Ta’ala dengan berkata :
“Aku tidak menginginkan-Mu karena pahala. Namun, aku menginginkan-Mu karena siksa”. (Syarhu Ash-Shufiyyah, Mahmud Al-Ghurab, hal. 180).

– Abu Yazid Al-Busthami berkata : “Barangsiapa kenal Allah, maka surga menjadi pahala dan petaka baginya.” (An-Nuru fi Kalimati Abu Thaifur, As-Sahlaji, hal. 147).

– Abu Yazid Al-Busthami berkata : “Aku ingin hari kiamat terjadi agar aku bisa memasang kemahku di pintu jahannam.” Seseorang berkata kepada Abu Yazid Al-Busthami, “Kenapa begitu wahai Abu Yazid ?” Abu Yazid Al-Busthami menjawab, “Karena aku tahu bahwa jika jahannam melihatku, ia pasti padam.” (An-Nuru fi Kalimati Abu Thaifur, As-Sahlaji, hal. 147).

• PENGHINA’AN TERHADAP NERAKA DAN APINYA

– Asy-Syibli berkata dalam majelis ilmunya : “Sesungguhnya Allah mempunyai hamba-hamba. Jika mereka meludah di atas Jahannam, maka Jahannam pasti padam”. (Al-Luma’, Ath-Thusi, hal. 491).

– Asy-Syibli berkata : “Jika terlintas di benakku bahwa neraka dan apinya membakar sehelai rambutku, maka aku musyrik.” (Ibid, hal. 490).

Suatu ketika Asy-Syibli mendengar seseorang membaca ayat :

“Allah Ta’ala berfirman : “Tinggallah kalian dengan hina di dalamnya dan janganlah kalian berbicara dengan Aku.” (Al-Mukminin: 108).

– Lalu Asy-Syibli berkata : “Ah, seandainya aku menjadi salah seorang di antara mereka.” (Ibid, hal. 490).

– Abu Hazim Al-Madani berkata : “Aku malu kepada Tuhanku jika aku menyembah-Nya karena takut siksa. Kalau begitu, aku seperti orang jahat yang jika tidak takut, maka ia tidak akan… beramal. Aku juga malu kepada-Nya jika aku menyembah-Nya karena mengharap pahala-Nya, karena jika aku menyembah-Nya karena mengharap pahala-Nya maka dengan cara seperti itu aku seperti buruh yang jahat yang jika tidak diberi gaji maka ia tidak mau bekerja, namun aku menyembah-Nya karena cinta kepada-Nya.” (Ghautsu Al-Mawahibi Al-Aliyyati, AN-Nafzi Ar-Randi, Jilid I, hal. 242. Juga Qutu Al-Qulubi, Abu Thalib Al-Makki, Jilid II, hal. 56).

[Semua perkata’an di atas dikutip dari kitab Dirasat fi At-Tasawuf, Dr. Ihsan Ilahi Dhahir, Edisi Indonesia Darah Hitam Tasawuf, penerbit Darul Falah, Jakarta].

• ORANG YANG DI KATAKAN HINA OLEH ORANG SUFI

– Tokoh sufi Muhammad bin Sa’id Az-Zanji pernah ditanya, siapa sebenarnya yang dinamakan ORANG HINA itu ? Ia menjawab, Yaitu orang yang menyembah Allah karena takut dan berharap.” (Nafahatu Al-Unsi, Al-Jami, hal. 38).

Orang yang beribadah karena takut akan siksa neraka, dan beribadah karena ingin masuk surga, adalah orang-orang yang hina menurut orang sufi.

Maka perhatikan berikut ini :

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

“Aku adalah orang yang paling tahu di antara kalian tentang Allah, karena itu aku adalah orang yang paling takut di antara kalian kepada-Nya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

• PERINTAH UNTUK TAKUT KEPADA ALLAH

Allah Ta’ala memerintahkan agar orang-orang yang beriman takut kepada-Nya.

– Allah Ta’ala berfirman :

وَإِيَّايَ فَارْهَبُونِ

“Dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut.” (Al-Baqarah: 40).

– Allah Ta’ala berfirman :

يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلا يَشْفَعُونَ إِلا لِمَنِ ارْتَضَى وَهُمْ مِنْ خَشْيَتِهِ مُشْفِقُونَ

“Allah mengetahui segala sesuatu yang di hadapan mereka (malaikat) dan yang di belakang mereka, dan mereka tiada memberi syafa’at melainkan kepada orang yang diridai Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya.” (Al-Anbiyaa’: 28).

– Allah Ta’ala berfirman :

وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ

“Dan bagi orang yang takut akan sa’at menghadap Tuhannya ada dua surga.” (Ar-Rahman: 46).

• PERINTAH SUPAYA BERDO’A DENGAN RASA TAKUT DAN HARAP

Allah Ta’ala yang memerintahkan kepada orang-orang yang beriman, agar berdo’a dengan rasa takut dan harap.

– Allah Ta’ala berfirman :

وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا إِنَّ رَحْمَةَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ

“Dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan harapan.” (Al-A’raaf: 56).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah manusia yang paling mengenal Allah dan paling takut kepada-Nya, lalu mengapa orang-orang sufi mengatakan tidak takut kepada Allah ?

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

“Aku adalah orang yang paling tahu di antara kalian tentang Allah, karena itu aku adalah orang yang paling takut di antara kalian kepada-Nya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Notes:

Kita berbaik sangka kepada tokoh-tokoh dimana orang-orang sufi menukil ucapan dan perbuatan dari mereka, serta membersihkan mereka dari apa saja yang dialamatkan kepada mereka, seperti Rabi’ah al-Adawiyah, al-Junaid al-Baghdadi, Abdul Qadir al-Jailani, dan tokoh-tokoh lain.

http://faisalchoir.blogspot.com/2012/07/di-antara-bukti-kesesatan-sufi-tidak.html?m=1

__________