Tag Archives: sufi

CELA’AN IMAM SYAFI’I KEPADA ORANG-ORANG SUFI

CELA’AN IMAM SYAFI’I KEPADA ORANG-ORANG SUFI

Ketika Imam Syâfi’i rahimahullah memasuki negeri Mesir pada tahun 199 H, Imam Syafi’i berkata :

خَلَفْتُ بِالْعِرَاقِ شَيْئًا أَحْدَثَهُ الزَّناَدِقَةُ يُسَمُّوْنَـهُ التَّـغْبِيْرَ يُشْغِلُوْنَ بِهِ النَّاسَ عَنِ الْقُرْآنِ

“Aku tinggalkan di (negeri) Irak sesuatu yang diada-adakan oleh kaum zindiq yang mereka sebut dengan taghbiir. Dengan itu, mereka melalaikan orang-orang dari al-Qur`ân”. (Manâqibu asy-Syâfi’i , karya al-Baihaqi 1/173).

Dalam riwayat lain, Imam Syafi’i berkata :

تَرَكْتُ بَغْدَادَ وَقَدْ أَحْدَثَ الزَّناَدِقَةُ فِيْهَا شَيْئًا يُسَمُّوْنَـهُ السَّمَاعَ

“Aku tinggalkan (kota) Baghdad, sedang orang-orang zindiq (waktu itu) telah mengadakan sesuatu yang baru (dalam agama) yang mereka sebut dengan istilah samâ’”.

Makna zindiq adalah orang yang sudah rusak agamanya. Dan orang-orang zindiq yang beliau maksud adalah kalangan mutashawwifah (para penganut Tasawuf). Sementara yang beliau maksud dengan taghbîr atau samâ` ialah nyanyian dan senandung yang mereka dendangkan.

– Imam Syâfi’i rahimahullah juga berkata :

أَسَاسُ التَّصَوَّفِ الْكَسَلُ

“Asas tasawuf adalah kemalasan”. (Al-Hilyah karya Abu Nu’aim al-Ashbahâni 9/136-137).

Dan Imam Syafi’i juga berkata :

لاَ يَكُوْنُ الصُّوْفِيُّ صُوْفِياًّ حَـتَّى يَكُوْنُ فِيْهِ أَرْبَعُ خِصَالٍ : كَسُولٌ أَكُوْلٌ شَؤُوْمٌ كثَيْرُ الْفُضُولِ

“Seseorang tidak akan menjadi Sufi (tulen) kecuali setelah empat perkara ada padanya: sangat malas, banyak makan, sangat pesimis, dan banyak melakukan hal yang tidak perlu”. (Manâqibu asy-Syâfi’i karya al-Baihaqi 2/207).

Imam Syafi’i juga berkata :

لَوْ أَنَّ رَجُلاً تَـصَوَّفَ مِنْ أَوَّلِ النَّهَارِ لَمْ يَأْتِ عَلَيْهِ الظُّهْرُ إِلاَّ وَجَدْتَـهُ أَحْمَقَ

“Kalau ada orang menjadi Sufi di pagi hari, maka tidaklah datang waktu Zhuhur kecuali orang tersebut akan engkau jumpai menjadi manusia yang dungu”. (Manâqib Syâfi’i karya Imam al-Baihaqi 2/207).

____________________

SHIRDI BABA, TOKOH SUFI DARI INDIA

SHIRDI BABA, TOKOH SUFI DARI INDIA

Shirdi Baba adalah tokoh sufi yang sesat, lahir pada tanggal 28 September 1838 di Shirdi, India dan meninggal pada tanggal 15 Oktober 1918. Sebagaimana tokoh sufi lainnya, Shirdi Baba juga banyak pengikutnya.

• Kesesatan Shirdi Baba

Diantara dari sekian banyak kesesatan Shirdi Baba adalah memadukan ajaran hindu dengan ajaran Islam.

Semasa hidupnya ia banyak tinggal di Masjid Dwarakamayi di Desa Shirdi, Distrik Ahmednagar, Maharashtra, India.

Pada awal perkembanganya, banyak umat Hindu dan Muslim menjadi pengikutnya. Pengikut Shirdi Baba menganggapnya sebagai seorang awatara/avatar, yakni sebutan untuk ke ilahian yang muncul di dunia untuk menuntun umat manusia pada kebenaran, dalam sejarah agama-agama dunia biasa disebut sebagai santo ataupun seorang Budha. Namun, jika Tuhan sendiri yang muncul kedunia secara fisik, ia disebut sebagai Purna Avatar.

Shirdi Baba mendorong pengikutnya untuk berdo’a atas nama Hindu dan Islam.

Shirdi bersama para anggotanya menyanyikan nama-nama Tuhan yang manapun, membaca Al-Fatihah, mempelajari kitab suci Al-Quran sekaligus memadukannya dengan teks-teks Hindu seperti Ramayana, Wisnu Sahasranam (Seribu Nama Wishnu), Bhagavad Gita, Yoga Wasista. Oleh karena itu ia menegaskan bahwa ajarannya adalah perpaduan Tauhid dan Advaita Vedanta.

Begitulah orang-orang sufi yang ajarannya di bangun diatas hawa nafsu dan kebodohan.

Maka pantaslah jika para Ulama banyak mencela orang-orang sufi, diantaranya Imam Syafi’i.

CELA’AN IMAM SYAFI’I KEPADA ORANG-ORANG SUFI

Ketika Imam Syâfi’i rahimahullah memasuki negeri Mesir pada tahun 199 H, Imam Syafi’i berkata :

خَلَفْتُ بِالْعِرَاقِ شَيْئًا أَحْدَثَهُ الزَّناَدِقَةُ يُسَمُّوْنَـهُ التَّـغْبِيْرَ يُشْغِلُوْنَ بِهِ النَّاسَ عَنِ الْقُرْآنِ

“Aku tinggalkan di (negeri) Irak sesuatu yang diada-adakan oleh kaum zindiq yang mereka sebut dengan taghbiir. Dengan itu, mereka melalaikan orang-orang dari al-Qur`ân”. (Manâqibu asy-Syâfi’i , karya al-Baihaqi 1/173).

Dalam riwayat lain, Imam Syafi’i berkata :

تَرَكْتُ بَغْدَادَ وَقَدْ أَحْدَثَ الزَّناَدِقَةُ فِيْهَا شَيْئًا يُسَمُّوْنَـهُ السَّمَاعَ

“Aku tinggalkan (kota) Baghdad, sedang orang-orang zindiq (waktu itu) telah mengadakan sesuatu yang baru (dalam agama) yang mereka sebut dengan istilah samâ’”.

Makna zindiq adalah orang yang sudah rusak agamanya. Dan orang-orang zindiq yang beliau maksud adalah kalangan mutashawwifah (para penganut tasawuf). Sementara yang beliau maksud dengan taghbîr atau samâ` ialah nyanyian dan senandung yang mereka dendangkan.

– Imam Syâfi’i rahimahullah juga berkata :

أَسَاسُ التَّصَوَّفِ الْكَسَلُ

“Asas tasawuf adalah kemalasan”. (Al-Hilyah karya Abu Nu’aim al-Ashbahâni 9/136-137).

Dan Imam Syafi’i juga berkata :

لاَ يَكُوْنُ الصُّوْفِيُّ صُوْفِياًّ حَـتَّى يَكُوْنُ فِيْهِ أَرْبَعُ خِصَالٍ : كَسُولٌ أَكُوْلٌ شَؤُوْمٌ كثَيْرُ الْفُضُولِ

“Seseorang tidak akan menjadi Sufi (tulen) kecuali setelah empat perkara ada padanya: sangat malas, banyak makan, sangat pesimis, dan banyak melakukan hal yang tidak perlu”. (Manâqibu asy-Syâfi’i karya al-Baihaqi 2/207).

Imam Syafi’i juga berkata :

لَوْ أَنَّ رَجُلاً تَـصَوَّفَ مِنْ أَوَّلِ النَّهَارِ لَمْ يَأْتِ عَلَيْهِ الظُّهْرُ إِلاَّ وَجَدْتَـهُ أَحْمَقَ

“Kalau ada orang menjadi Sufi di pagi hari, maka tidaklah datang waktu Zhuhur kecuali orang tersebut akan engkau jumpai menjadi manusia yang dungu”. (Manâqib Syâfi’i karya Imam al-Baihaqi 2/207).

By : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί

____________________

ALLAH TURUN KE LANGIT DUNIA

ALLAH TURUN KE LANGIT DUNIA

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ : يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِيْنَ يَبْقَى ثُلُثُ الأَخِيْرِ يَقُوْلُ : مَنْ يَدْعُوْنِيْ فَأَسْتَجِيْبَ لَهُ, مَنْ يَسْأَلُنِيْ فَأُعْطِيَهُ, مَنْ يَسْتَغْفِرُنِيْ فَأَغْفِرَ لَهُ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Rabb kita Tabaraka wa Ta’ala turun ke langit dunia pada setiap malam yaitu ketika sepertiga malam terakhir, (kemudian) Dia berfirman, ‘Barang siapa berdoa kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan, barang siapa meminta kepada-Ku, niscaya akan Aku berikan, dan barang siapa memohon ampun kepada-Ku, niscaya akan Aku ampuni.’”

PENJELASAN :

Turunnya Allah Tabaraka wa Ta’ala ke langit dunia merupakan salah satu dari sekian banyak sifat-sifat fi’liyah yang dimiliki-Nya. Sifat fi’liyah adalah sifat-sifat Allah yang berkaitan dengan kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala, seperti turun, istiwa, tertawa, murka, ridha, dan selainnya. Sifat-sifat tersebut telah ada sejak dahulu (qadim) jika dilihat dari segi jenisnya. Artinya sejak dulu Allah mampu untuk turun, tertawa, murka, ridha, berbicara dst.

Sementara jika dilihat dari kasus terjadinya maka semua sifat di atas adalah satu hal yang baru, yang bisa muncul jika Allah berkehendak untuk melakukannya.Ketika Allah berkehendak maka Dia akan melakukan hal tersebut, namun ketika Allah tidak berkehendak maka Dia tidak melakukannya. [Lihat Mukhtashar Al-Ajwibah Al-Ushuliyyah (hal. 30) dan Syarh Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah (hal. 78-79)]

Hadits di atas menyebutkan dengan sangat jelas bahwa Rabb kita Tabaraka wa Ta’ala turun ke langit dunia pada setiap sepertiga malam terakhir untuk mengijabahi do’a hamba-Nya. Akan tetapi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menjelaskan kepada kita tentang bagaimana cara turunnya Allah ke langit dunia. Allah pun tidak mewahyukan bagaimana caranya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. [Lihat Syarh ‘Aqidah Al-Wasithiyyah, Khalil Harras (hal. 165)]

Untuk itu, selaku hamba sekaligus ummat yang taat, sudah sepatutnya kita menerima khabar ini tanpa menanyakan kaifiyat (cara) turunnya Allah, karena perkara tersebut berada diluar jangkauan nalar kita. Kalaupun kita hendak bersikap takalluf (memberat-beratkan diri) dengan mengkhayalkan bagaimana turunnya Allah, maka hakekatnya kita telah melakukan tasybih (menyerupakan Allah dengan makhlukNya).

Allah Ta’ala telah berfirman :

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَىْءٌۚ وَهُوَالسَّمِيْعُ الْبَصِيْر

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Allah, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Qs. Asy-Syura: 11)

Selain itu, kita juga tidak patut untuk mengubah hakikat sifat turunnya Allah dengan permisalan-permisalan yang tidak ada asal-usulnya. Contohnya mengatakan bahwa yang turun bukanlah Dzat Allah, tetapi yang turun adalah rahmat Allah. Orang yang memiliki keyakinan ini, berarti telah terjebak dalam tahrif (mengubah makna). Padahal sejatinya, kebiasaan seperti itu adalah kebiasaan buruk orang-orang Mu’tazilah dan Asy’airah yang zhahirnya adalah perilaku kaum Yahudi, sebagaimana difirmankan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala,

مِنَ الَّذِيْنَ هَادُوْا يَحَرِّفُوْنَ الْكَلِمَ عَنْ مَّوَاضِعِهِ …

Artinya: “Yaitu orang-orang Yahudi, mereka mengubah perkataan dari tempat-tempatnya…” (Qs. An-Nisa’: 46)

Mengingat pentingnya masalah ini, banyak diantara para ulama yang menulis risalah khusus tentang hal ini. Dan berikut ini adalah komentar mereka:

1. Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “Aqidah yang aku yakini dan diyakini oleh orang-orang yang pernah aku temui seperti Sufyan, Malik dan selainnya adalah menetapkan syahadat bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah Rasulullah dan bahwasanya Allah berada di atas ‘Arsy-Nya di langit-Nya, lalu mendekat kepada makhluk-Nya sesuai dengan apa yang Dia kehendaki, dan sesungguhnya Allah turun ke langit dunia sebagaimana yang Dia kehendaki.” [Lihat Ijtima’ul Juyusy Al-Islamiyyah (hal. 94 dan 122), Mukhtashar Al-‘Uluw (hal. 176), Majmu’ Fatawa (IV/181), dan ‘Aunul Ma’bud (XIII/41 dan 47)]

2. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyahrahimahullah berkata, “Sesungguhnya pendapat tentang turunnya Allah setiap malam, telah tersebar luas melalui Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Salafush Shalih serta para ulama dan ahli hadits telah sepakat membenarkannya dan menerimanya. Siapa yang berkeyakinan sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka perkataan itu adalah haq dan benar, kendati ia tidak mengetahui tentang hakikat dan kandungan serta makna-maknanya. Sebagaimana orang yang membaca Al-Qur’an sedang dia tidak memahami makna ayat yang dibacanya. Karena sebenar-benar kalam adalah Kalam Allah (Al-Qur’an) dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (as-sunnah).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan perkataan ini dan yang semisalnya secara umum, tidak mengistimewakan seseorang atas orang lain, dan tidak pula disembunyikannya dari seseorang. Sedangkan para Sahabat serta para Tabi’in menyebutkannya, menukilnya, menyampaikannya dan meriwayatkannya di majelis-majelis khusus dan umum pula, yang selanjutnya dimuat dalam kitab-kitab Islam yang dibaca di majelis-majelis khusus maupun umum, seperti Shahih Al-Bukhari, Shahih Muslim, Muwaththa’ Imam Malik, Musnad Imam Ahmad, Sunan Abi Dawud, Sunan At-Tirmidzi, Sunan An-Nasa’i, dan yang semisalnya.” [Lihat Majmu’ Fatawa (V/322-323) dan Syarah Hadits Nuzul(hal. 69)]

3. Abdul Ghani Al-Maqdisi rahimahullah berkata, “Hadits-hadits tentang turunnya Allah ke langit dunia setiap hari telah mencapai derajat mutawatir dan (sanadnya) shahih. Maka wajib bagi kita untuk mengimaninya, pasrah menerimanya, tidak menentangnya, menjalankannya tanpa takyif (menanyakan caranya) dan tamtsil (menyerupakan dengan makhluk) sertatakwil (menyelewengkan artinya) sehingga meniadakan hakikat turunnya Allah.” [Lihat Al-Iqtishad fil I’tiqad(hal. 100)]

4. Imam Al-Ajurri rahimahullah berkata, “Mengimaninya adalah wajib, tetapi tidak boleh bagi seorang muslim untuk bertanya, ‘Bagaimana cara Allah turun?’ Dan tidak ada yang mengingkari hal ini, kecuali golongan Mu’tazilah. Adapun ahlul haq, mereka mengatakan, “Mengimaninya adalah wajib tanpa takyif (menanyakan caranya), sebab telah datang hadits-hadits yang shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala turun ke langit dunia setiap malam. Orang-orang yang meriwayatkan hadits ini kepada kita, mereka pula yang meriwayatkan hadits-hadits tentang hukum halal haram, shalat, zakat, puasa, haji dan jihad. Maka seperti halnya para ulama dalam menerima semua itu, mereka (ahlul haq) juga menerima hadits-hadits ini, bahkan mereka menegaskan, ‘Barang siapa yang menolaknya maka dia sesat dan keji.’” Mereka (ahlul haq) bersikap waspada darinya (para penolak kebenaran itu) dan memperingatkan ummat dari penyimpangannya.”[Lihat Asy-Syari’ah(II/93) dan ‘Aqidatus Salaf Ash-habil Hadits (hal. 81)]

5. Imam Ash-Shabuni rahimahullah berkata, “Para ulama ahli hadits menetapkan turunnya Rabb ‘Azza wa Jalla ke langit terendah pada setiap malam tanpa menyerupakan turun-Nya Allah itu dengan turunnya makhluk (tasybih), tanpa memisalkan (tamtsil) dan tanpa menanyakan bagaimana sifat turun-Nya (takyif). Tetapi menetapkannya sesuai dengan apa yang ditetapkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mengakhiri perkataan padanya (tanpa ada komentar lagi), memperlakukan kabar shahih yang memuat hal itu sesuai dengan zhahirnya, serta menyerahkan ilmunya kepada Allah.” [Lihat ‘Aqidatus Salaf Ash-habil Hadits (hal. 75)]

Ahlus Sunnah wal Jama’ah telah bersepakat mengenai wajibnya mengimani turunnya Allah Tabaraka wa Ta’ala ke langit dunia pada setiap malam, karena khabar tentang hal ini telah shahih datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai penerima wahyu dan pembawa risalah. Dengan demikian, cukuplah bagi kita untuk mengimani bahwa Allah memang benar turun ke langit dunia pada setiap sepertiga malam, yang merupakan waktu paling baik untuk diijabahnya do’a-do’a, tanpa mempertanyakan kaifiyatnya (takyif), tanpa merubah maknanya (tahrif), tanpa menyerupakan cara turunnya Allah dengan cara turun makhluk (tasybih), tanpa membuat permisalan-permisalan yang tidak ada asal-usulnya (tamtsil), dan juga tanpa pengingkaran dalam bentuk apa pun (ta’thil). Itulah penjelasan dan pemahaman paling baik serta paling selamat –insya Allah– untuk permasalahan ini, karena demikianlah yang difahami oleh orang-orang dari generasi terbaik, dan mereka itulah orang-orang yang paling mengerti dengan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sebagaimana dikatakan oleh Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah, “Pendapat yang benar adalah pendapat Salafush Shalih, yaitu menyakini turunnya Allah dan memahami riwayat ini sebagaimana datangnya, tanpa takyif (mempertanyakan caranya) dan tanpa tamtsil (menyerupakan dengan makhluk). Inilah jalan yang paling benar, paling selamat, paling cocok, dan paling bijaksana. Pegangilah keyakinan ini dan gigitlah dengan gigi gerahammu serta waspadalah dari keyakinan-keyakinan yang menyelisihnya.” [Lihat Ta’liq Fathul Bari (III/30)]

___

BENARKAH KEDUA ORANG TUA NABI MATI DALAM KEADA’AN KAFIR ?

BENARKAH KEDUA ORANG TUA NABI MATI DALAM KEADA’AN KAFIR ?

Keturunan Nabi adalah nasab yang mulia dalam Islam. Akan tetapi hal itu bukanlah jaminan bahwa mereka akan dimasukkan ke dalam surga dan selamat dari api neraka. Allah Ta’ala hanya akan menilai seseorang, termasuk mereka yang mengaku memiliki nasab mulia (keturunan Nabi) dari amalnya.

Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam bersabda :

وَمَنْ بَطَأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ

“Barangsiapa yang lambat amalnya, maka kemulia’an nasabnya tidak bisa mempercepatnya”. (HR. Muslim, Arba’un Nawawiyyah no. 36).

Tidak dipungkiri bahwa kedudukan para Nabi dan Rasul itu tinggi di mata Allah. Namun hal itu bukanlah sebagai jaminan bahwa seluruh keluarga Nabi dan Rasul mendapatkan petunjuk dan keselamatan serta aman dari ancaman siksa neraka karena keterkaitan hubungan keluarga dan nasab.

NASAB TIDAK MENYELAMATKAN

• Kekafiran anak Nabi Nuh

Allah telah berfirman tentang kekafiran anak Nabi Nuh ‘alaihis-salaam yang akhirnya termasuk orang-orang yang ditenggelamkan Allah bersama orang-orang kafir :

وَقِيلَ يَأَرْضُ ابْلَعِي مَآءَكِ وَيَسَمَآءُ أَقْلِعِي وَغِيضَ الْمَآءُ وَقُضِيَ الأمْرُ وَاسْتَوَتْ عَلَى الْجُودِيّ وَقِيلَ بُعْداً لّلْقَوْمِ الظّالِمِينَ * وَنَادَى نُوحٌ رّبّهُ فَقَالَ رَبّ إِنّ ابُنِي مِنْ أَهْلِي وَإِنّ وَعْدَكَ الْحَقّ وَأَنتَ أَحْكَمُ الْحَاكِمِينَ * قَالَ يَنُوحُ إِنّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ إِنّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ فَلاَ تَسْأَلْنِـي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنّيَ أَعِظُكَ أَن تَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ

Dan difirmankan: “Hai bumi telanlah airmu, dan hai langit (hujan) berhentilah,” dan airpun disurutkan, perintahpun diselesaikan dan bahtera itupun berlabuh di atas bukit Judi, dan dikatakan: “Binasalah orang-orang yang zalim“. Dan Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya”. Allah berfirman: “Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatan)nya perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakekat)nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan”. (QS. Huud : 44-46).

• Kekafiran bapak Nabi Ibrahim

Allah juga berfirman tentang keingkaran Azar ayah Nabi Ibrahim ’alaihis-salaam :

وَمَا كَانَ اسْتِغْفَارُ إِبْرَاهِيمَ لأبِيهِ إِلاّ عَن مّوْعِدَةٍ وَعَدَهَآ إِيّاهُ فَلَمّا تَبَيّنَ لَهُ أَنّهُ عَدُوّ للّهِ تَبَرّأَ مِنْهُ إِنّ إِبْرَاهِيمَ لأوّاهٌ حَلِيمٌ

“Dan perminta’an ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka, tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri dari padanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun”. (QS. At-Taubah : 114).

• Kekafiran istri Nabi Luth

Dan Allah pun berfirman tentang istri Nabi Luth sebagai orang yang dibinasakan oleh adzab Allah :

فَأَنجَيْنَاهُ وَأَهْلَهُ إِلاّ امْرَأَتَهُ كَانَتْ مِنَ الْغَابِرِينَ

“Kemudian Kami selamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali isterinya, dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan)”. (Q.S. Al-A’raf : 83).

KAFIRKAH KEDUA ORANG TUA RASULULLAH ?

Kekafiran anak Nabi Nuh, kafirnya bapak Nabi Ibrahim juga kafirnya istri Nabi Luth begitu pula kafirnya kedua orang tua Rasullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah kehendak kauni Allah ta’ala, mereka mati dalam keada’an kafir.

KEKAFIRAN KEDUA ORANG TUA RASULULLAH MENURUT AL-QUR’AN, HADITS NABI DAN KETERANGAN PARA ULAMA

Kekafiran kedua orang tua Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di terangkan di dalam al-Qur’an dan hadits Nabi juga menurut keterangan para Ulama sebagai berikut,

• Keterangan dari al-Qur’an

Allah Ta’ala berfirman :

مَا كَانَ لِلنّبِيّ وَالّذِينَ آمَنُوَاْ أَن يَسْتَغْفِرُواْ لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوَاْ أُوْلِي قُرْبَىَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيّنَ لَهُمْ أَنّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

“Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam”. (Q.S At-Taubah : 113).

Asbabun nuzul (sebab turunnya) ayat ini adalah berkaitan dengan permohonan Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam kepada Allah ta’ala untuk memintakan ampun ibunya (namun kemudian Allah tidak mengijinkannya) – (Lihat Tafsir Ath-Thabari dan Tafsir Ibnu Katsir QS. At-Taubah : 113).

• Keterangan dari hadits Nabi

عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَجُلًا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيْنَ أَبِي قَالَ فِي النَّارِ فَلَمَّا قَفَّى دَعَاهُ فَقَالَ إِنَّ أَبِي وَأَبَاكَ فِي النَّارِ

Dari Anas radliyallaahu ‘anhu, Bahwasannya ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, “Wahai Rasulullah, dimanakah tempat ayahku (yang telah meninggal) sekarang berada ?”. Beliau menjawab : “Di neraka”. Ketika orang tersebut berlalu, maka beliau memanggilnya lalu berkata : “Sesungguhnya ayahku dan ayahmu di neraka”. (HR. Muslim no. 203, Abu Dawud no. 4718, Ahmad no. 13861, Ibnu Hibban no. 578, Al-Baihaqi dalam Al-Kubraa no. 13856, Abu ‘Awanah no. 289, dan Abu Ya’la no. 3516).

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata : “Di dalam hadits tersebut [yaitu hadits :

إِنَّ أَبِي وَأَبَاكَ فِي النَّارِ

”Sesungguhnya ayahku dan ayahmu di neraka”] terdapat pengertian bahwa orang yang meninggal dunia dalam keada’an kafir, maka dia akan masuk neraka. Dan kedekatannya dengan orang-orang yang mendekatkan diri (dengan Allah) tidak memberikan manfa’at kepadanya. Selain itu, hadits tersebut juga mengandung makna bahwa orang yang meninggal dunia pada masa dimana bangsa Arab tenggelam dalam penyembahan berhala, maka diapun masuk penghuni neraka. Hal itu bukan termasuk pemberian siksa’an terhadapnya sebelum penyampaian dakwah, karena kepada mereka telah disampaikan dakwah Ibrahim dan juga para Nabi yang lain shalawaatullaah wa salaamuhu ‘alaihim”. (Syarah Shahih Muslim oleh An-Nawawi juz 3 hal. 79 melalui perantara Naqdu Masaalikis-Suyuthi fii Waalidayil-Musthafaa oleh Dr. Ahmad bin Shalih Az-Zahrani hal. 26, Cet. 1425 H).

Hadits Nabi lainnya,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم اسْتَأْذَنْتُ رَبِّي أَنْ أَسْتَغْفِرَ لِأُمِّي فَلَمْ يُؤْذَنْ لِي وَاسْتَأْذَنْتُهُ أَنْ أَزُورَ قَبْرَهَا فَأُذِنَ لِي

Dari Abi Hurairah radliyallaahu ’anhu ia berkata, Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam : ”Sesungguhnya aku telah memohon ijin Rabb-ku untuk memintakan ampun ibuku, dan Ia tidak mengijinkanku. Namun Ia mengijinkan aku untuk menziarahi kuburnya”. (H.R Muslim no. 976, Abu Dawud no. 3234, An-Nasa’i dalam Ash-Shughraa no. 2034, Ibnu Majah no. 1572, dan Ahmad no. 9686).

Al-Imam Al-Baihaqi rahimahullah berkata :

وَأَبَوَاهُ كَانَا مشركين، بِدَلِيلٍ مَا أَخْبَرْنَ

”Sesungguhnya kedua orang tua Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam adalah musyrik dengan dalil apa yang telah kami khabarkan….”. Kemudian beliau membawakan dalil hadits dalam Shahih Muslim di atas (no. 203 dan 976) di atas. (Lihat As-Sunanul-Kubraa juz 7 Bab Nikaahi Ahlisy-Syirk wa Thalaaqihim). [1].

Al-’Allamah Syamsul-Haq ’Adhim ’Abadi berkata :

فلم يأذن لي :‏‏ لأنها كافرة والاستغفار للكافرين لا يجوز

”Sabda beliau shallallaahu ’alaihi wasallam : ”Dan Ia (Allah) tidak mengijinkanku” adalah disebabkan Aminah adalah seorang yang kafir, sedangkan memintakan ampun terhadap orang yang kafir adalah tidak diperbolehkan”. (’Aunul-Ma’bud Syarh Sunan Abi Dawud, Kitaabul-Janaaiz, Baab Fii Ziyaaratil-Qubuur). [2]

Hadits Nabi lainnya,

عَنْ اِبْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ “جَاءَ أَبِنَا مليكة – وَهُمَا مِنْ الأَنْصَارِ – فَقَالَا: يَا رَسُولَ اللهِ إنَ أمَنَا كَانَتْ تَحْفَظُ عَلَى البَعْلِ وَتُكَرِّمُ الضَيْفَ، وَقَدٌّ وئدت فِي الجَاهِلِيَّةِ فَأَيْنَ أُمُّنَا؟ فَقَالَ: أُمُّكُمَا فِي النَّارِ. فَقَامَا وَقَدْ شَقَّ ذَلِكَ عَلَيْهِمَا، فَدَعَاهُمَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَجَعَا، فَقَالَ: أَلَّا أَنَ أُمِّي مَعَ أُمِّكُمَا

Dari Ibnu Mas’ud radliyallaahu ‘anhu ia berkata, Datang dua orang anak laki-laki Mulaikah, mereka berdua dari kalangan Anshar, lalu berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibu kami semasa hidupnya memelihara onta dan memuliakan tamu. Dia dibunuh di jaman Jahiliyyah. Dimana ibu kami sekarang berada ?”. Maka beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam menjawab : “Di neraka”. Lalu mereka berdiri dan merasa berat mendengar perkata’an beliau. Lalu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam memanggil keduanya lalu berkata : “Bukankah ibuku bersama ibu kalian berdua (di neraka) ?” (Lihat Tafsir Ad-Durrul-Mantsur juz 4 halaman 298 – Diriwayatkan oleh Ahmad no. 3787, Thabarani dalam Al-Kabiir 10/98-99 no. 10017, Al-Bazzar 4/175 no. 3478, dan yang lainnya, shahih).

• Kekafiran ke dua orang tua Nabi menurut para Ulama (ijma’ Ulama).

– Al-Imam Ibnul Jauzi berkata :

وَأُمَّا عَبْد الله فَإِنَّهُ مَاتَ وَرَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَمْلٌ وَلَا خِلَافَ أَنَّهُ مَاتَ كَافِرًا، وَكَذَلِكَ آمِنَةُ مَاتَتْ وَلِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سِتَّ سِنِينَ

”Adapun ’Abdullah (ayah Nabi), ia mati ketika Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam masih berada dalam kandungan, dan ia mati dalam keada’an kafir tanpa ada khilaf. Begitu pula Aminah (tentang kekafirannya tanpa ada khilaf), dimana ia mati ketika Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam berusia enam tahun”. (Al-Maudlu’aat juz 1 hal. 283).

Al-Imam Ibnul Jauzi berkata ketika berhujjah dengan hadits ”Sesungguhnya aku telah memohon ijin Rabb-ku untuk memintakan ampun ibuku”, yaitu berdasarkan kenyataan bahwa Aminah bukanlah seorang wanita mukminah”. (Al-Maudlu’aat juz 1 hal. 284).

– Al ’Allamah ’Ali bin Muhammad Sulthan Al-Qaari menyebutkan adanya ijma’ tentang kafirnya kedua orang tua Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam dengan perkata’annya :

وَأَمَّا الإِجْمَاعُ فَقَدْ أُتُّفِقَ السِّلْفُ وَالخَلْفُ مِنْ الصحابة وَالتَّابِعِينَ وَالأَئِمَّةِ الأَرْبَعَةِ وَسَائِرٌ المُجْتَهِدِينَ عَلَى ذَلِكَ مِنْ غَيْرِ إِظْهَارِ خِلَافٍ لَمَّا سَوْفَ نَأْلُكَ وَالخِلَافُ مِنْ اللَّاحِقِ لَا يَقْدَحُ فِي الإِجْمَاعِ السَّابِقِ سَوَاءٍ يَكُونُ مِنْ جِنْسِ المُخَالِفِ أَوْ صَنَّفَ الموافق

”Adapun ijma’, maka sungguh ulama salaf dan khalaf dari kalangan shahabat, tabi’in, imam empat, serta seluruh mujtahidin telah bersepakat tentang hal tersebut (kafirnya kedua orang tua Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam) tanpa adanya khilaf. Jika memang terdapat khilaf setelah adanya ijma’, maka tidak mengurangi nilai ijma’ yang telah terjadi sebelumnya. Sama saja apakah hal itu terjadi pada orang-orang menyelisihi ijma’ (dimasa setelahnya) atau dari orang-orang yang telah bersepakat (yang kemudian ia berubah pendapat menyelisihi ijma’). (Adilltaul-Mu’taqad Abi Haniifah hal. 7 – download dari http://www.alsoufia.com).

– Imam Abu Hanifah rahimahullah berkata :

وَوَالِدَا رَسُولِ اللهِ مَاتَ عَلَى الكفر

”Dan kedua orang tua Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam mati dalam keadaan kafir” [Al-Adillatul-Mu’taqad Abi Haniifah hal. 1 – download dari http://www.alsoufia.com].

– Imam Ath-Thabari rahimahullah berkata dalam tafsirnya ketika menjelaskan QS. Al-Baqarah, 119 :

فَإِنَّ فِي اِسْتِحَالَةِ الشَّكِّ مِنْ الرَّسُولِ عَلَيْهِ السَلَامُ فِي أَنْ أَهَّلَ الشَّرَكَ مِنْ أَهْلِ الجَحِيمِ، وَأَنَّ أَبَوَيْهُ كَانَا مِنْهُمْ

”Semua ini berdasar atas keyakinan dari Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam bahwa orang-orang musyrik itu akan masuk neraka jahim dan kedua orang tua Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam termasuk bagian dari mereka”.

– Kekafiran kedua orang tua Rasulullah menurut para Imam Ahli Hadits

Beberapa imam ahli hadits memasukkan hadits-hadits tentang kafirnya kedua orang tua Nabi dalam Bab-bab yang tegas menunjukkan fiqh (pemahaman) dan i’tiqad mereka tentang kekafiran kedua orang tua Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam.

– Imam Muslim memasukkannya dalam Bab,

[بَيَانٌ أَنْ مَنْ مَاتَ عَلَى الكُفْرِ فَهُوَ فِي النَّارِ وَلَا تَنَالُهُ شفاعة وَلَا تَنْفَعُهُ قَرَابَةٌ المُقَرَّبِينَ]

“Penjelasan bahwasannya siapa saja
meninggal dalam kekafiran maka ia berada di neraka dan ia akan memperoleh syafa’at dan tidak bermanfaat baginya hubungan kekerabatan”.

– Imam Ibnu Majah memasukkannya dalam Bab,

[مَا جَاءَ فِي زِيَارَةِ قُبُورٍ المشركين]

”Apa-Apa yang datang mengenai ziarah ke kubur orang-orang musyrik”.
– Imam An-Nasa’i memasukkannya dalam Bab, [زِيَارَةٌ قَبَرَ المشرك] ”Ziyarah ke Kubur Orang-Orang Musyrik.

Dan yang lainnya.

Keterangan dari Al-Qur’an dan hadits dan juga keterangan para Ulama diatas adalah hujjah yang sangat jelas yang menunjukkan kekafiran kedua orang tua Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam.

BEBERAPA SUBHAT DAN BANTAHANNYA

1. Kedua orang tua Nabi termasuk ahli fatrah sehingga mereka dima’afkan.

Bantahan :

Pengertian fatrah menurut bahasa kelemahan dan penurunan (Lisaanul-’Arab oleh Ibnul-Mandhur 5/43).

Adapun pengertian fatrah secara istilah, bermakna tenggang waktu antara dua orang Rasul, dimana ia tidak mendapati Rasul pertama dan tidak pula menjumpai Rasul kedua” (Jam’ul-Jawaami’ 1/63).

Hal ini seperti selang waktu antara Nabi Nuh dan Idris ’alaihimas salaam serta seperti selang waktu antara Nabi ’Isa ’alaihis salaam dan Nabi Muhammad shallallaahu ’alaihi wasallam. Definisi ini dikuatkan oleh firman Allah ta’ala :

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ قَدْ جَاءَكُمْ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ عَلَى فَتْرَةٍ مِنَ الرُّسُلِ أَنْ تَقُولُوا مَا جَاءَنَا مِنْ بَشِيرٍ وَلا نَذِيرٍ

Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepada kamu Rasul Kami, menjelaskan (syariat Kami) kepadamu ketika terputus (pengiriman) rasul-rasul, agar kamu tidak mengatakan, “Tidak datang kepada kami baik seorang pembawa berita gembira maupun seorang pemberi peringatan”. (QS. Al-Maaidah : 19).

Ahli fatrah terbagi menjadi dua macam :

1. Yang telah sampai kepadanya ajaran Nabi.

2. Yang tidak sampai kepadanya ajaran / dakwah Nabi dan dia dalam keadaan lalai.

Golongan pertama di atas dibagi menjadi dua, yaitu :

Pertama, Yang sampai kepadanya dakwah dan dia bertauhid serta tidak berbuat syirik. Maka mereka dihukumi seperti ahlul-islam / ahlul-iman. Contohnya adalah Waraqah bin Naufal, Qus bin Saa’idah, Zaid bin ’Amr bin Naufal, dan yang lainnya.

Kedua, Yang tidak sampai kepadanya dakwah namun ia merubah ajaran dan berbuat syirik. Golongan ini tidaklah disebut sebagai ahlul-islam / ahlul iman. Tidak ada perselisihan di antara ulama bahwa mereka merupakan ahli neraka. Contohnya adalah ’Amr bin Luhay [3], Abdullah bin Ja’dan, shahiibul-mihjan, kedua orang tua Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam, dan yang lainnya.

Golongan kedua, maka mereka akan diuji oleh Allah kelak di hari kiamat.

Kedua orang tua Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam memang termasuk ahli fatrah, namun telah sampai kepada mereka dakwah Nabi Ibrahim ’alaihis-salaam. Maka, mereka tidaklah dima’afkan akan kekafiran mereka sehingga layak sebagai ahli neraka.

2. Ada hadits-hadits yang menceritakan tentang dihidupkannya kembali kedua orang tua Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam ke dunia, lalu mereka beriman kepada ajaran beliau.

Diantara hadits-hadits tersebut adalah,

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: حَجَّ بِنَا رَسُولُ اللهِ حُجَّةَ الوَدَاعِ، فَمَرَّ بِي عَلَى عَقَبَةِ الحجون وَهُوَ بَاكٍ حَزِينٌ مُغْتَمٌّ فَنُزِّلَ فَمَكَثَ عَنِّي طَوِيلًا ثُمَّ عَادَ إِلَيَّ وَهُوَ فَرِحٌ مُبْتَسِمٌ، فَقُلْتُ لَهُ فَقَالَ: ذَهَبْتُ لِقَبْرٍ أُمِّيٍّ فَسَأَلْتُ اللهَ أَنْ يُحَيِّيَهَا فَأَحْيَاهَا فَآمَنَتْ بِي وَرْدُهَا الله

Dari ’Aisyah radliyallaahu ’anhaa ia berkata : ”Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam melakukan haji bersama kami dalam haji wada’. Beliau melewati satu tempat yang bernama Hajun dalam keadaan menangis dan sedih. Lalu beliau shallallaahu ’alaihi wasallam turun dan menjauh lama dariku kemudian kembali kepadaku dalam keadaan gembira dan tersenyum. Maka akupun bertanya kepada beliau (tentang apa yang terjadi), dan beliau pun menjawab : ”Aku pergi ke kuburan ibuku untuk berdoa kepada Allah agar Ia menghidupkannya kembali. Maka Allah pun menghidupkannya dan mengembalikan ke dunia dan beriman kepadaku” [Diriwayatkan oleh Ibnu Syahin dalam An-Nasikh wal-Mansukh no. 656, Al-Jauzaqaani dalam Al-Abaathil 1/222, dan Ibnul-Jauzi dalam Al-Maudlu’aat 1/283-284].

Bantahan :

Hadits ini tidak shahih karena perawi yang bernama Muhammad bin Yahya Az-Zuhri dan Abu Zinaad.

Tentang Muhammad bin Yahya Az-Zuhri,

Imam Ad-Daruquthni berkata : ”Matruk”. Ia juga berkata : ”Munkarul-Hadits, ia dituduh memalsukan hadits”. (lihat selengkapnya dalam Lisaanul-Miizaan 4/234).

Adapun tentang Abu Zinaad,

– Maka telah berkata Yahya bin Ma’in : Ia bukanlah orang yang dijadikan hujjah oleh Ashhaabul-Hadiits, tidak ada apa-apanya”.

– Ahmad berkata : ”Orang yang goncang haditsnya (mudltharibul-hadiits)”.

– Berkata Ibnul-Madiinii : ”Menurut para shahabat kami ia adalah seorang yang dla’if”. Ia juga berkata pula : ”Aku melihat Abdurrahman bin Mahdi menulis haditsnya”.

– Imam An-Nasa’i berkata : ”Haditsnya tidak boleh dijadikan hujjah”.

– Ibnu ’Adi berkata : ”Ia termasuk orang yang ditulis haditsnya”.

(silakan lihat selengkapnya dalam Tahdzibut-Tahdzib).

Ringkasnya, Abu Zinaad, ia termasuk perawi yang ditulis haditsnya namun riwayatnya sangat lemah jika ia bersendirian.

Dengan melihat kelemahan itu, maka status hadits diatas, para ahli hadits menyimpulkan sebagai berikut :

– Ibnul-Jauzi dalam Al-Maudlu’aat (1/284) berkata : ”Palsu tanpa ragu lagi”.

– Imam Ad-Daruquthni dalam Lisaanul Mizan (biografi ’Ali bin Ahmad Al-Ka’by) : ”Munkar lagi bathil”.

– Ibnu ’Asakir dalam Lisanul-Mizan (4/111) : ”Hadits munkar”.

– Adz-Dzahabi berkata (dalam biografi ’Abdul-Wahhab bin Musa) : ”Hadits ini adalah dusta”.

Hadits lainnya,

عَنْ اِبْنٍ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : قَالَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِذَا كَانَ يَوْمَ القِيَامَةِ شَفَعَتْ لِأَبِي وَأُمَّي وَعَمَّي أَبِي طَالِبٌ وَاخِ لِي كَانَ فِي الجاهلية

Dari Ibnu ’Umar radliyallaahu ’anhuma ia berkata, Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam : ”Pada hari kiamat nanti aku akan memberi syafa’at kepada ayahku, ibuku, pamanku Abu Thalib, dan saudaraku di waktu Jahiliyyah” (Diriwayatkan oleh Tamam Ar-Razi dalam Al-Fawaaid 2/45).

Bantahan :

Hadits ini adalah palsu karena rawi yang bernama Al-Waliid bin Salamah. “Ia adalah pemalsu lagi ditinggalkan haditsnya”. (lihat Al-Majruhiin oleh Ibnu Hibban 3/80 dan Mizaanul-I’tidaal oleh Adz-Dzahabi 4/339).

Hadits lainnya,

عَنْ عَلَيَّ مَرْفُوعًا: “هَبَطَ جِبْرِيلُ عَلَيَّ فَقَالَ إِنَّ اللهَ يقرئك السَّلَامُ وَيَقُولُ إِنَّي حَرَمْتُ النَّارَ عَلَى صُلُبٍ أَنْزِلُكَ وَبَطْنٍ حَمْلِكَ وَحَجَرٍ كَفُلِّكَ”

Dari ’Ali radliyallaahu ’anhu secara marfu’ : ”Jibril turun kepadaku dan berkata : ’Sesungguhnya Allah mengucapkan salaam dan berfirman : Sesungguhnya Aku haramkan neraka bagi tulang rusuk yang telah mengeluarkanmu (yaitu Abdullah), perut yang mengandungmu (yaitu Aminah), dan pangkuan yang merawatmu (yaitu Abu Thalib)”. (Diriwayatkan oleh Al-Jauzaqaani dalam Al-Abaathil 1/222-223 dan Ibnul-Jauzi dalam Al-Maudlu’aat 1/283).

Bantahan :

Hadits ini adalah palsu (maudlu’) tanpa ada keraguan sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ibnul-Jauzi dalam Al-Maudlu’aat (1/283) dan Imam Adz-Dzahabi dalam Ahaadiitsul-Mukhtarah no. 67.

Dan hadits lain yang senada yang tidak lepas dari status sangat lemah, munkar, atau palsu.

3. Hadits-hadits yang menjelaskan tentang kafirnya kedua orang tua Nabi shallallaahu ’alaihi wa sallam dinasakh (dihapus) oleh hadits-hadits yang menjelaskan tentang berimannya kedua orang tua beliau.

Bantahan :

Klaim nasakh (di hapus) hanyalah diterima bila hadits nash naasikh (penghapus) berderajat shahih.

Namun, ternyata kedudukan haditsnya yang dianggap naasikh (penghapus) adalah sangat lemah, munkar, atau palsu.

Maka bagaimana bisa diterima hadits shahih di nasakh (di hapus) oleh hadits yang kedudukannya sangat jauh di bawahnya ?

Itu yang pertama.

Adapun yang kedua, Nasakh (di hapus sebuah hadits oleh hadits lainnya) hanyalah ada dalam permas’alahan hukum, bukan dalam permas’alahan khabar.

Walhasil, anggapan nasakh (hadits di atas di hapus oleh hadits lainnya) adalah anggapan yang sangat lemah.

Kesimpulannya : Orang-orang yang menolak kafirnya kedua orang tua Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, berhujjah dengan dalil-dalil yang sangat lemah.

Penyelisihan dalam perkara ini bukan termasuk khilaf yang diterima dalam Islam (karena tidak didasari oleh hujjah yang kuat).

PIHAK YANG MENOLAK KEKAFIRAN ORANG TUA NABI

Sebagian orang-orang yang datang belakangan menolak tentang kekafirannya kedua orang tua Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka menyelisihi setelah adanya ijma’ (tentang kekafiran kedua orang tua Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam). Mereka mengklaim bahwa kedua orang tua Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk ahli surga. Yang paling menonjol dalam membela pendapat ini adalah Al-Haafidh As-Suyuthi. Ia menulis beberapa judul khusus yang membahas tentang status kedua orang tua Nabi seperti : Masaalikul-Hunafaa fii Waalidayal-Musthafaa, At-Ta’dhiim wal-Minnah fii Anna Abawai Rasuulillah fil-Jannah, As-Subulul Jaliyyah fil Aabaail ’Aliyyah, dan lain-lain.

• Syi’ah dan habaib

Orang-orang Syi’ah berada pada barisan terdepan dalam memperjuangkan pendapat bathil ini. Di susul kemudian sebagian habaaib (orang yang mengaku keturunan Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam) dimana mereka menginginkan atas pendapat itu agar orang berkeyakinan tentang kemulia’an kedudukan mereka sebagai keturunan Rasulullah. Hakekatnya, motif dua golongan ini adalah sama. Kultus individu.

Kesimpulan : Kedua orang tua Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam meninggal dalam keada’an kafir sangat jelas, berdasarkan al-Qur’an dan hadits Nabi juga menurut perkata’an para Ulama. Wallaahu a’lam.

__________________________

[1] Perkataan Imam Al-Baihaqi tentang kekafiran kedua orang tua Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam juga dapat ditemui dalam kitab Dalaailun-Nubuwwah juz 1 hal. 192, Daarul-Kutub, Cet. I, 1405 H, tahqiq : Dr. Abdul-Mu’thi Al-Qal’aji.

[2] Karena ibu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam termasuk orang-orang kafir. Maka Allah Ta’ala melarang Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam dan kaum mukminin secara umum untuk memintakan ampun orang-orang yang meninggal dalam keada’an kafir sebagaimana firman-Nya :

مَا كَانَ لِلنّبِيّ وَالّذِينَ آمَنُوَاْ أَن يَسْتَغْفِرُواْ لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوَاْ أُوْلِي قُرْبَىَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيّنَ لَهُمْ أَنّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

“Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam”. (QS. At-Taubah: 113).

[3] Dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu ia berkata :

قَالَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَيْتَ عَمْرٌو بِنْ عَامِرُ بِنْ لِحَيِّ الخزاعي يَجُرُّ قَصَبَهُ فِي النَّارِ وَكَانَ أَوَّلَ مَنْ سِيبَ السوائب

Telah berkata Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu, Telah bersabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam : “Aku melihat ‘Amru bin ‘Amir bin Luhay Al-Khuzaa’i menarik-narik ususnya di neraka. Dia adalah orang pertama yang melepaskan onta-onta (untuk dipersembahkan kepada berhala)”. (HR. Bukhari no. 3333 – tartib maktabah sahab, Muslim no. 2856).

Nisbah Al-Khuzaa’i merupakan nisbah kepada sebuah suku besar Arab, yaitu Bani Khuza’ah. Ibnu Katsir menjelaskan sebagai berikut :

عَمْرٌو هَذَا هُوَ اِبْنٌ لِحَيِّ بِنْ قمعة، أَحَدٌ رُؤَسَاءَ خزاعة الَّذِينَ وَلَّوْا البَيْتَ بَعْدَ جَرِّهِمْ وَكَانَ أَوَّلُ مِنْ غَيْرِ دِينِ إِبْرَاهِيمَ الخليل، فَأَدْخَلَ الأَصْنَامَ إِلَى الحِجَازِ، وَدَعَا الرُّعَاعُ مِنْ النَّاسِ إِلَى عِبَادَتِهَا والتقرب بِهَا، وَشَرَّعَ لَهُمْ هَذِهِ الشَّرَائِعَ الجَاهِلِيَّةُ فِي الأنعام وَغَيْرِهَا

“Amru bin ‘Amir bin Luhay Al-Khuza’i merupakan salah satu pemimpin Khuza’ah yang memegang kekuasa’an atas Ka’bah setelah Kabilah Jurhum. Ia adalah orang yang pertama kali mengubah agama Ibrahim (atas bangsa Arab). Ia memasukkan berhala-berhala ke Hijaz, lalu menyeru kepada beberapa orang jahil untuk menyembahnya dan bertaqarrub dengannya, dan ia membuat beberapa ketentuan jahiliyyah ini bagi mereka yang berkena’an dengan binatang ternak dan lain-lain . .” (lihat Tafsir Ibnu Katsir 2/148 QS. Al-Maidah ayat 103).

sumber: http://abul-jauzaa.blogspot.com/2008/06/kafirkah-kedua-orang-tua-nabi-sebuah.html

Video Penjelasan bahwa kedua orangtua nabi berada di neraka

______________

TIDAK TAKUT NERAKA DAN TIDAK BUTUH SURGA

Di antara ajaran sufi adalah tidak takut neraka dan tidak membutuhkan surga.

Berikut ini di antara perkata’an tokoh-tokoh mereka.

– Abu Yazid Al-Bustami berkata : “Surga itu tidak pernah terlintas di hati orang-orang yang mempunyai cinta, karena mereka terhalang dari padanya karena cinta mereka”. (Thabaqatu Ash-Shufiyyah, As-Sulami, hal. 19).

– Abu Yazid Al-Busthami bermunajat kepada Allah Ta’ala dengan berkata :
“Aku tidak menginginkan-Mu karena pahala. Namun, aku menginginkan-Mu karena siksa”. (Syarhu Ash-Shufiyyah, Mahmud Al-Ghurab, hal. 180).

– Abu Yazid Al-Busthami berkata : “Barangsiapa kenal Allah, maka surga menjadi pahala dan petaka baginya.” (An-Nuru fi Kalimati Abu Thaifur, As-Sahlaji, hal. 147).

– Abu Yazid Al-Busthami berkata : “Aku ingin hari kiamat terjadi agar aku bisa memasang kemahku di pintu jahannam.” Seseorang berkata kepada Abu Yazid Al-Busthami, “Kenapa begitu wahai Abu Yazid ?” Abu Yazid Al-Busthami menjawab, “Karena aku tahu bahwa jika jahannam melihatku, ia pasti padam.” (An-Nuru fi Kalimati Abu Thaifur, As-Sahlaji, hal. 147).

• PENGHINA’AN TERHADAP NERAKA DAN APINYA

– Asy-Syibli berkata dalam majelis ilmunya : “Sesungguhnya Allah mempunyai hamba-hamba. Jika mereka meludah di atas Jahannam, maka Jahannam pasti padam”. (Al-Luma’, Ath-Thusi, hal. 491).

– Asy-Syibli berkata : “Jika terlintas di benakku bahwa neraka dan apinya membakar sehelai rambutku, maka aku musyrik.” (Ibid, hal. 490).

Suatu ketika Asy-Syibli mendengar seseorang membaca ayat :

“Allah Ta’ala berfirman : “Tinggallah kalian dengan hina di dalamnya dan janganlah kalian berbicara dengan Aku.” (Al-Mukminin: 108).

– Lalu Asy-Syibli berkata : “Ah, seandainya aku menjadi salah seorang di antara mereka.” (Ibid, hal. 490).

– Abu Hazim Al-Madani berkata : “Aku malu kepada Tuhanku jika aku menyembah-Nya karena takut siksa. Kalau begitu, aku seperti orang jahat yang jika tidak takut, maka ia tidak akan… beramal. Aku juga malu kepada-Nya jika aku menyembah-Nya karena mengharap pahala-Nya, karena jika aku menyembah-Nya karena mengharap pahala-Nya maka dengan cara seperti itu aku seperti buruh yang jahat yang jika tidak diberi gaji maka ia tidak mau bekerja, namun aku menyembah-Nya karena cinta kepada-Nya.” (Ghautsu Al-Mawahibi Al-Aliyyati, AN-Nafzi Ar-Randi, Jilid I, hal. 242. Juga Qutu Al-Qulubi, Abu Thalib Al-Makki, Jilid II, hal. 56).

[Semua perkata’an di atas dikutip dari kitab Dirasat fi At-Tasawuf, Dr. Ihsan Ilahi Dhahir, Edisi Indonesia Darah Hitam Tasawuf, penerbit Darul Falah, Jakarta].

• ORANG YANG DI KATAKAN HINA OLEH ORANG SUFI

– Tokoh sufi Muhammad bin Sa’id Az-Zanji pernah ditanya, siapa sebenarnya yang dinamakan ORANG HINA itu ? Ia menjawab, Yaitu orang yang menyembah Allah karena takut dan berharap.” (Nafahatu Al-Unsi, Al-Jami, hal. 38).

Orang yang beribadah karena takut akan siksa neraka, dan beribadah karena ingin masuk surga, adalah orang-orang yang hina menurut orang sufi.

Maka perhatikan berikut ini :

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

“Aku adalah orang yang paling tahu di antara kalian tentang Allah, karena itu aku adalah orang yang paling takut di antara kalian kepada-Nya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

• PERINTAH UNTUK TAKUT KEPADA ALLAH

Allah Ta’ala memerintahkan agar orang-orang yang beriman takut kepada-Nya.

– Allah Ta’ala berfirman :

وَإِيَّايَ فَارْهَبُونِ

“Dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut.” (Al-Baqarah: 40).

– Allah Ta’ala berfirman :

يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلا يَشْفَعُونَ إِلا لِمَنِ ارْتَضَى وَهُمْ مِنْ خَشْيَتِهِ مُشْفِقُونَ

“Allah mengetahui segala sesuatu yang di hadapan mereka (malaikat) dan yang di belakang mereka, dan mereka tiada memberi syafa’at melainkan kepada orang yang diridai Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya.” (Al-Anbiyaa’: 28).

– Allah Ta’ala berfirman :

وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ

“Dan bagi orang yang takut akan sa’at menghadap Tuhannya ada dua surga.” (Ar-Rahman: 46).

• PERINTAH SUPAYA BERDO’A DENGAN RASA TAKUT DAN HARAP

Allah Ta’ala yang memerintahkan kepada orang-orang yang beriman, agar berdo’a dengan rasa takut dan harap.

– Allah Ta’ala berfirman :

وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا إِنَّ رَحْمَةَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ

“Dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan harapan.” (Al-A’raaf: 56).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah manusia yang paling mengenal Allah dan paling takut kepada-Nya, lalu mengapa orang-orang sufi mengatakan tidak takut kepada Allah ?

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

“Aku adalah orang yang paling tahu di antara kalian tentang Allah, karena itu aku adalah orang yang paling takut di antara kalian kepada-Nya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Notes:

Kita berbaik sangka kepada tokoh-tokoh dimana orang-orang sufi menukil ucapan dan perbuatan dari mereka, serta membersihkan mereka dari apa saja yang dialamatkan kepada mereka, seperti Rabi’ah al-Adawiyah, al-Junaid al-Baghdadi, Abdul Qadir al-Jailani, dan tokoh-tokoh lain.

http://faisalchoir.blogspot.com/2012/07/di-antara-bukti-kesesatan-sufi-tidak.html?m=1

__________

AJARAN IBNU ARABI

Di antara tokoh sufi yang mashur adalah Ibnu Arabi, nama lengkapnya Abu Bakar Muhammad ibn Ali Muhyiddin Al-Hatimi At-Thai Al-Andalusi, dikenal dengan Ibnu Arabi (bukan Ibnul Arabi yang ahli tafsir).

Ibnu Arabi dianggap sebagai tokoh tasawuf falsafi, lahir di Murcia Spanyol, 17 ramadhan 560 H/28 Juli 1165 M, dan mati di Damaskus, Rabi’ul Tsani 638 H/Oktober 1240 M.

Inti ajarannya didasarkan atas teori wihdatul wujud (satunya wujud, semua wujud di alam ini adalah cerminan Allah) yang menghasilkan wihdatul adyan (satunya agama, tauhid maupun syirik).

Di antara ajaran Ibnu Arabi adalah :

– “Hamba adalah Tuhan”. (tercantum dalam kitab Ibnu Arabi, Fushush Al-Hikam, 92-93).

– “Neraka adalah surga itu sendiri”. (Fushush Al-Hikam, 93-94).

– “Perbuatan hamba adalah perbuatan Allah itu sendiri”. (Fushush Al-Hikam, 143).

– “Fir’aun adalah mu’min dan terbebas dari siksa neraka”. (Fushush Al-Hikam, 181).

– “Wanita adalah Tuhan”. (Fushush Al-Hikam, 216).

– “Fir’aun adalah Tuhan Musa”. (Fushush Al-Hikam, 209).

– “Semua ini adalah Allah, tidak ada nabi/rasul atau malaikat. Allah adalah manusia besar”. (Fushush Al-Hikam, 48).

– “Allah membutuhkan pertolongan makhluk”. (Fushush Al-Hikam, 58-59).

Karena begitu sesatnya penyimpangan yang ditampilkan Ibnu Arabi, maka 37 ulama telah mengkafirkannya atau memurtadkannya. Di antara yang mengkafirkan Ibnu Arabi itu adalah ulama-ulama besar yang dikenal sampai kini :

•Ibnu Daqieq Al-‘Ied (w 702 H).
•Ibnu Taimiyah (w 728 H).
•Ibnu Qayyim Al-Jauziah (w 751 H).
•Qadhi ‘Iyadh (w 744 H).
•Al-‘Iraqi (w 826 H).
•Ibnu Hajar Al-Asqalani (w 852 H).
•Al-Jurjani (w 814 H).
•Izzuddin bin Abdis Salam (w 660 H).
•An-Nawawi (w 676 H).
•Adz-Dzahabi (w 748 H).
•Al-Bulqini (w 805 H).

(Lihat Tasawuf Belitan Iblis, Darul Falah, Jakarta, 2001, hlm. 72-73).

http://faisalchoir.blogspot.com/2012/07/di-antara-bukti-kesesatan-sufi-tidak.html?m=1

_______________________

SIKAP PARA ULAMA BASHRAH DI MASA KEMUNCULANNYA KELOMPOK SUFI

Para ulama Bashrah yang mengalami masa kemunculan kelompok sufi ini, tidaklah tinggal diam. Sebagaimana diriwayatkan Abu Asy-Syaikh Al-Ashbahani dengan sanadnya dari Muhammad bin Sirin, bahwa telah sampai kepadanya berita tentang orang-orang yang mengutamakan pakaian yang terbuat dari bulu domba.

Beliau berkata : “Sesungguhnya ada orang-orang yang mengutamakan pakaian yang terbuat dari bulu domba dengan alasan untuk meneladani Al-Masih bin Maryam ! Maka petunjuk Nabi kita lebih kita cintai, beliau biasa mengenakan pakaian yang terbuat dari bahan katun dan yang selainnya.” (Diringkas dari Majmu’ Fatawa, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah hal. 5, 6, 16).

http://shirotholmustaqim.wordpress.com/2013/08/13/mewaspadai-ajaran-sufi/

——————————

TARIAN & NYANYIAN BAGIAN DARI IBADAH ORANG-ORANG SUFI

Penulis Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah al Fauzan

Termasuk Bagian dari ‘Agama’ Shufi Adalah Mereka Beribadah Kepada Allah Dengan Nyanyian dan Tarian.

Mereka katakan bahwa semua itu adalah ibadah kepada Allah. Dr. Sobir Tu’aimah berkata dalam kitabnya, As-Sufiah Mu’taqadan wa Maslakan (Tasawuf, keyakinan dan jalan hidupnya) : “Tarian sufi telah menjadi ciri khas pada sebagian besar tarekat-tarekat tasawuf dalam berbagai kesempatan peringatan kelahiran tokoh-tokoh mereka, yaitu dengan berkumpulnya para pengikut tarekat tersebut untuk mendengarkan alunan suara musik yang keluar dari sekitar dua ratus orang pemusik, baik laki maupun wanita, sementara para pembesar duduk-duduk sambil menghisap berbagai macam rokok dan para pemimpin mereka serta para pengikutnya melakukan baca’an atas sebagian khurofat yang berkaitan orang-orang mati dikalangan mereka. Setelah berbagai penelitian, kami sampai pada kesimpulan bahwa penggunaan musik di kalangan tarekat tasawuf masa kini merujuk kepada apa yang disebut sebagai “Nyanyian kristiani hari Minggu“.

”Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menjelaskan tentang awal mula timbulnya tasawuf serta sikap para ulama tentang hal tersebut dan apa saja yang mereka perbuat. “Ketahuilah bahwa hal tersebut bukan muncul pada kurun tiga abad pertama yang terkenal utama, tidak di Hijaz [1] tidak juga di Syam [2], tidak di Yaman tidak juga di Mesir, tidak di Maroko tidak juga di Irak, tidak juga di Khurasan. Di negri-negri tersebut tidak ada–pada waktu itu, orang alim, shaleh, zuhud dan ahli ibadah yang berkumpul untuk mendengarkan tepuk tangan dan suara bersiul, dengan rebana atau dengan telapak tangan, tidak juga dengan potongan kayu. Akan tetapi semua itu terjadi di akhir abad ke tiga. Dan ketika para imam melihatnya, merekapun mengingkarinya. Imam Syafi’i rahimahullah berkata : “Ketika saya meninggalkan Baghdad ada sesuatu yang dibuat-buat oleh orang-orang zindiq yang mereka namakan Taghbir (nyanyian sufi) yang menghalangi orang dari Al Quran”.

Yazid bin Harun berkata : “Tidak ada yang melakukan nyanyian sufi kecuali orang yang fasiq, entah kapan hal itu berawal ?”.

Imam Ahmad ditanya tentang hal tersebut, maka dia menjawab : “Saya tidak menyukainya, itu adalah perkara yang diada-adakan. Ada yang bertanya, Apakah kita boleh duduk bersama mereka, Beliau menjawab : “Jangan.

Begitu juga semua imam agama membencinya, para pembesar masyaikh tidak menghadirinya, Ibrahim bin Adham tidak menghadirinya tidak juga Fudhail bin Iyadh, tidak juga Ma’ruf Al Karkhi, tidak Abu Sulaiman Ad-Daariny, tidak juga Ahmad bin Abilhawary, Sirry Saqty dan yang semacam mereka.

Sedangkan sejumlah ulama terhormat yang sempat menghadiri acara-acara mereka, pada akhirnya meninggalkannya, tokoh-tokoh ulama mencela pelaku-pelakunya sebagaimana yang dilakukan oleh Abdul Qadir dan Syaikh Abul Bayan dan lain-lainnya.

Sedangkan Imam Syafi’i yang menyatakan bahwa hal tersebut bersumber dari orang-orang zindiq, beliau adalah seorang imam dan ahli dalam Ushululislam (kaidah dasar-dasar Islam).

Disamping karena hal tersebut tidak didengar kecuali oleh mereka yang dituduh zindiq seperti Ibnu Ruwandi, Al-Farabi dan Ibnu Sina serta yang semacam mereka.

Sedangkan orang-orang yang hanif pengikut Ibrahim alaihissalam yang Allah jadikan dia sebagai imam dan penganut agama Islam yang tidak menerima dari seorangpun agama selainnya dan mengikuti syariat Rasul terakhir Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Maka tidak ada pada mereka orang yang menyukainya dan menyerukan kepada perbuatan semacam itu. Mereka (yang dimaksud orang Islam) adalah pengikut Al Quran, keimanan dan petunjuk dan kebahagiaan, cahaya dan kemenangan, ahli ma’rifah, ilmu dan keyakinan serta keikhlasan kepada Allah, mencintai-Nya, tawakkal kepada-Nya, takut dan kembali kepada-Nya.

Sedangkan bagi mereka yang memiliki pengetahuan tentang hakekat agama ini, keada’an hati, ma’rifahnya, seleranya serta perasa’annya segera mengetahui bahwa mendengarkan orang yang bersiul dan bertepuk tangan tidaklah mendatangkan manfaat bagi hati dan kemaslahatan, tetapi justru mengandung kemudharatan dan bahaya yang lebih parah, hal tersebut bagi ruh seperti khamar bagi jasad, karena mengakibatkan pelakunya mabuk melebihi mabuknya seseorang dari khamar sehingga mereka merasakan kelezaran tanpa dapat membedakan, sebagaimana yang di rasakan orang yang mabuk karena minum khamar, bahkan dapat terjadi lebih banyak dan lebih besar dari peminum khamar, mencegah mereka dari zikir kepada Allah dan dari shalat melebihi apa yang dapat mencegah mereka karena minum khamar. Mendatangkan kepada mereka pertikaian dan permusuhan lebih besar dari apa yang didapatkan dari khamar”.

Dia juga berkata : “Adapun tarian, tidak diperintahkan oleh Allah, begitu juga Rasul-Nya, tidak juga salah seorang imam, akan tetapi Allah berfirman dalam kitab-Nya : “Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu”. (Luqman: 19).

“Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati”. (Al-Furqan: 63) maksudnya dengan tenang dan penuh wibawa, sedangkan ibadahnya orang beriman adalah ruku’ dan sujud”.

Bahkan rebana dan tarian tidak di perintahkan Allah dan Rasul-Nya, tidak pula oleh seseorang dari kalangan salaf umat ini.

Adapun perkata’an orang-orang bahwa hal tersebut adalah jaring yang digunakan untuk “menjaring” orang-orang awam adalah benar adanya, karena kebanyakan mereka menjadikan jaring tersebut untuk mendapatkan makanan atau roti di atas makanan. Allah Ta’ala berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan yang bathil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah”. (At-Taubah: 34).

Yang melakukan hal tersebut adalah tokoh-tokoh kesesatan yang dikatakan kepada pemimpin-pemimpin mereka : “Dan mereka berkata : “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menta’ati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). Ya Tuhan kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar”. (Al Ahzab 67-68)

Sedangkan jala yang dimaksud untuk menjaring massa, sesungguhnya adalah jala yang robek dimana buruannya keluar lagi jika telah masuk ke dalamnya, karena yang masuk untuk mendengar suara-suara bid’ah dalam tarekat sedang dia tidak memiliki landasan syari’at Allah dan Rasul-Nya, akan terwarisi dalam dirinya kondisi yang parah…. [3].

Kalangan tasawuf yang mendekatkan diri kepada Allah dengan nyanyian dan tarian, tepat bagi mereka firman Allah Ta’ala : “(Yaitu) orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau” (Al-A’raf: 51)

[Judul Asli Haqiqatushufiyyah wa Mauqifush Shufiyyah min Ushulil Ibadah wad Diin Edisi Indonesia Hakikat Sufi dan Sikap Kaum Sufi terhadap prinsip Ibadah dan Agama

Dinukil Dari http:// salafy.or.id%5D

http://sunniy.wordpress.com/2009/12/17/termasuk-bagian-dari-agama-shufi-adalah-mereka-beribadah-kepada-allah-dengan-nyanyian-dan-tarian/

————————

WALI DAN KAROMAH MENURUT KAUM SUFI

Pandangan kaum Sufi tentang wali dan karamah menyimpang dari Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam.

Diantara pandangan mereka adalah sebagai berikut :

– Wali adalah gambaran tentang sosok yang telah menyatu dan melebur diri dengan Allah Ta’ala. Hal ini sebagaimana yang dinyatakan oleh Al Manuufi (dedengkot Sufi) dalam kitabnya Jamharatul ‘Auliya’ 1/98-99 (lihat Firaq Mu’ashirah 2/ 699).

– Gelar wali merupakan pemberian dari Allah Ta’ala yang bisa diraih tanpa melakukan amalan (sebab), dan bisa diraih oleh seorang yang baik atau pelaku kemaksiatan sekalipun. (Lihat Firaq Mu’ashirah 2/701).

Menurut Sufi, Wali memiliki kekhususan melebihi kekhususan Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam. Diantara kekhususan tersebut adalah :

1. Mengetahui apa yang ada di hati manusia.

Sebagaimana ucapan An-Nabhani tentang Muhammad Saifuddin Al Farutsi An Naqsyabandi.

2. Mampu menolak malaikat maut yang hendak mencabut nyawa atau mengembalikan nyawa seseorang.

Hal ini diterangkan Muhammad Shadiq Al Qaadiri tentang Asy Syaikh Abdul Qadir Al Jailani.

3. Mampu berjalan di atas air dan terbang di udara.

An Nabhani menceritakan hal itu tentang diri Muhammad As Sarwi yang dikenal dengan Ibnu Abil Hamaa’il.

4. Dapat menunaikan shalat lima waktu di Makkah padahal mereka ada di negeri yang sangat jauh.

An Nabhani membela perbuatan wali-wali mereka tersebut.

5. Memiliki kesanggupan untuk memberi janin pada seorang ibu walaupun tidak ditakdirkan Allah Ta’ala.

Sekali lagi kedustaan Muhammad Shadiq Al Qaadiri tentang Asy Syaikh Abdul Qadir Al Jailani. (Dinukil dari buku-buku kaum Sufi melalui kitab Khashaa’ishul Mushthafa hal. 280-293).

Dan masih banyak lagi keanehan-keanehan yang ada pada tokoh-tokoh atau wali-wali mereka.

KEYAKINAN SUFI LAINNYA

• Menurut Sufi, Kedudukan wali lebih tinggi dari pada Nabi.

– Ibnu Arabi menyatakan di dalam sebuah syairnya : “Kedudukan puncak kenabian berada pada suatu tingkatan Sedikit dibawah wali dan diatas rasul “. (Lathaa’iful Asraar hal.49).

– Abu Yazid Al Busthami berkata : “Kami telah mendalami suatu lautan, yang para nabi hanya mampu di tepi-tepinya saja.” (Firaq Mu’ashirah 2/698)

• Menurut Sufi, seorang wali tidak terikat dengan syariat Islam.

Asy Sya’rani menyatakan bahwa Ad Dabbagh pernah berkata : “Pada salah satu tingkatan kewalian dapat dibayangkan seorang wali duduk bersama orang-orang yang sedang minum khamr (minuman keras), dan dia ikut juga minum bersama mereka. Orang-orang pasti menyangka ia seorang peminum khamr, namun sebenarnya ruhnya telah berubah bentuk dan menjelma seperti yang terlihat tersebut. (Ath Thabaqaatul Kubra 2/41)

• Menurut Sufi, seorang Wali Harus Ma’shum (Terjaga Dari Dosa).

Ibnu Arabi berkata : “Salah satu syarat menjadi imam kebatinan adalah harus ma’shum. Adapun imam dhahir (syariat-pen) tidak bisa mencapai derajat kema’shuman.” (Al Futuuhaat Al Makkiyah 3/183).

• Menurut Sufi, seorang wali harus dita’ati secara mutlak.

Al Ghazali berkata : “Apapun yang telah diinstruksikan syaikhnya dalam proses belajar mengajar maka hendaklah dia mengikutinya dan membuang pendapat pribadinya. Karena, kesalahan syaikhnya itu lebih baik daripada kebenaran yang ada pada dirinya.” (Ihya’ Ulumuddin 1/50)

• Menurut Sufi, perbuatan maksiat seorang Wali dianggap sebagai Karamah.

Dalam menceritakan karamah Ali Wahisyi, Asy Sya’rany berkata : “Syaikh kami itu, bila sedang mengunjungi kami, dia tinggal di rumah seorang wanita tuna susila/pelacur.” (Ath Thabaqaatul Kubra 2/135)

• Menurut Sufi, karamah menjadikan seorang wali memiliki kema’shuman.

Al Qusyairi berkata : “Salah satu fungsi karamah yang dimiliki oleh para wali agar selalu mendapat taufiq untuk berbuat ta’at dan ma’shum dari maksiat dan penyelisihan syari’at.” (Ar Risalah Al Qusyairiyah hal.150).

Dari bahasan di atas dapat kita simpulkan bahwa pengertian wali menurut kaum sufi sangatlah rancu dan menyimpang, karena dengan pengertian sufi tersebut siapa saja bisa menjadi wali, walaupun ia pelaku kesyirikan, bid’ah atau kemaksiatan. Ini jelas-jelas bertentangan dengan Al Qur’an, As Sunnah dan fitrah yang suci.

Wallahu a’lam bishshawaab.

asantosa30.wordpress.com/

——————–

MEMBUJANG ALA SUFI

Salah satu ajaran sufi yang menonjol adalah tabattul (hidup membujang).

Diyakini oleh penganut sufi, dengan cara beragama seperti ini, mereka lebih bisa mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Benarkah ?

Di antara nikmat dan tanda kekuasa’an Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah disyariatkannya menikah, menikah mendatangkan banyak maslahat dan manfa’at bagi setiap individu dan masyarakat.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untuk kalian istri-istri dari jenis kalian sendiri, supaya kalian cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antara kalian rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (Ar-Rum: 21).

Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullahu berkata : “Nikah termasuk nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang agung. Allah Subhanahu wa Ta’ala syariatkan bagi hamba-Nya dan menjadikannya sebagai sarana serta jalan menuju kemaslahatan dan manfa’at yang tak terhingga.” (Dinukil dari Taudhihul Ahkam, 4/331).

Bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutnya dengan lafadz perintah dalam beberapa ayat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : “Dan jika kalian takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kalian menikahinya), maka nikahilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi, dua, tiga, atau empat. Namun jika kalian takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja, atau budak-budak yang kalian miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” (An-Nisa`: 3).

“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kalian, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahaya kalian yang lelaki dan hamba-hamba sahaya yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberikan kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (An-Nur: 32).

Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian telah mampu untuk menikah hendaknya menikah, karena itu akan lebih menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Barangsiapa yang tidak mampu, hendaknya berpuasa karena itu adalah pemutus syahwatnya.”

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata kepada Sa’id bin Jubair rahimahullahu :
“Menikahlah, karena orang terbaik di umat ini adalah yang paling banyak istrinya.” (Dibawakan oleh Al-Bukhari rahimahullahu dalam Shahihnya).

Para ulama menyatakan, seorang yang khawatir terjatuh dalam zina maka dia wajib menikah. Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan berkata : “Nikah menjadi wajib atas seorang yang khawatir terjatuh dalam zina jika meninggalkannya. Karena, itu adalah jalan bagi dia untuk menjaga diri dari perbuatan haram. Dalam keada’an seperti ini, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu berkata : “Jika seseorang telah perlu menikah dan khawatir terjatuh dalam kenistaan jika meninggalkannya, maka harus dia dahulukan dari amalan haji yang wajib.” (Mulakhkhash Al-Fiqhi, 2/258).

Seorang yang menikah dengan niat menjaga kehormatan dijamin oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Diriwayatkan dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Tiga golongan yang Allah akan menolong mereka, budak yang hendak menebus dirinya, seorang yang menikah untuk menjaga kehormatannya, dan seorang yang berjihad di jalan Allah.” (HR. An-Nasa`i, Kitabun Nikah, Bab Ma’unatullah An- Nakih Al-Ladzi Yuridul ‘Afaf, no. 3166)

Janganlah seseorang meninggalkan pernikahan karena mengikuti bisikan setan, dengan dibayangi kesulitan ekonomi, padahal dia telah sangat ingin menikah serta takut terjatuh dalam maksiat. Bertawakallah dengan disertai ikhtiar. Allah Subhanahu wa Ta’ala menjamin orang yang benar-benar bertawakal kepada-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : “Barangsiapa yang bertawakal kepada-Nya pasti Dia akan mencukupkanya.” (Ath-thalaq 3).

http://asantosa30.wordpress.com/

————————-