Tag Archives: tarekat

SIKAP PARA ULAMA BASHRAH DI MASA KEMUNCULANNYA KELOMPOK SUFI

Para ulama Bashrah yang mengalami masa kemunculan kelompok sufi ini, tidaklah tinggal diam. Sebagaimana diriwayatkan Abu Asy-Syaikh Al-Ashbahani dengan sanadnya dari Muhammad bin Sirin, bahwa telah sampai kepadanya berita tentang orang-orang yang mengutamakan pakaian yang terbuat dari bulu domba.

Beliau berkata : “Sesungguhnya ada orang-orang yang mengutamakan pakaian yang terbuat dari bulu domba dengan alasan untuk meneladani Al-Masih bin Maryam ! Maka petunjuk Nabi kita lebih kita cintai, beliau biasa mengenakan pakaian yang terbuat dari bahan katun dan yang selainnya.” (Diringkas dari Majmu’ Fatawa, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah hal. 5, 6, 16).

http://shirotholmustaqim.wordpress.com/2013/08/13/mewaspadai-ajaran-sufi/

——————————

Advertisements

TARIAN & NYANYIAN BAGIAN DARI IBADAH ORANG-ORANG SUFI

Penulis Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah al Fauzan

Termasuk Bagian dari ‘Agama’ Shufi Adalah Mereka Beribadah Kepada Allah Dengan Nyanyian dan Tarian.

Mereka katakan bahwa semua itu adalah ibadah kepada Allah. Dr. Sobir Tu’aimah berkata dalam kitabnya, As-Sufiah Mu’taqadan wa Maslakan (Tasawuf, keyakinan dan jalan hidupnya) : “Tarian sufi telah menjadi ciri khas pada sebagian besar tarekat-tarekat tasawuf dalam berbagai kesempatan peringatan kelahiran tokoh-tokoh mereka, yaitu dengan berkumpulnya para pengikut tarekat tersebut untuk mendengarkan alunan suara musik yang keluar dari sekitar dua ratus orang pemusik, baik laki maupun wanita, sementara para pembesar duduk-duduk sambil menghisap berbagai macam rokok dan para pemimpin mereka serta para pengikutnya melakukan baca’an atas sebagian khurofat yang berkaitan orang-orang mati dikalangan mereka. Setelah berbagai penelitian, kami sampai pada kesimpulan bahwa penggunaan musik di kalangan tarekat tasawuf masa kini merujuk kepada apa yang disebut sebagai “Nyanyian kristiani hari Minggu“.

”Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menjelaskan tentang awal mula timbulnya tasawuf serta sikap para ulama tentang hal tersebut dan apa saja yang mereka perbuat. “Ketahuilah bahwa hal tersebut bukan muncul pada kurun tiga abad pertama yang terkenal utama, tidak di Hijaz [1] tidak juga di Syam [2], tidak di Yaman tidak juga di Mesir, tidak di Maroko tidak juga di Irak, tidak juga di Khurasan. Di negri-negri tersebut tidak ada–pada waktu itu, orang alim, shaleh, zuhud dan ahli ibadah yang berkumpul untuk mendengarkan tepuk tangan dan suara bersiul, dengan rebana atau dengan telapak tangan, tidak juga dengan potongan kayu. Akan tetapi semua itu terjadi di akhir abad ke tiga. Dan ketika para imam melihatnya, merekapun mengingkarinya. Imam Syafi’i rahimahullah berkata : “Ketika saya meninggalkan Baghdad ada sesuatu yang dibuat-buat oleh orang-orang zindiq yang mereka namakan Taghbir (nyanyian sufi) yang menghalangi orang dari Al Quran”.

Yazid bin Harun berkata : “Tidak ada yang melakukan nyanyian sufi kecuali orang yang fasiq, entah kapan hal itu berawal ?”.

Imam Ahmad ditanya tentang hal tersebut, maka dia menjawab : “Saya tidak menyukainya, itu adalah perkara yang diada-adakan. Ada yang bertanya, Apakah kita boleh duduk bersama mereka, Beliau menjawab : “Jangan.

Begitu juga semua imam agama membencinya, para pembesar masyaikh tidak menghadirinya, Ibrahim bin Adham tidak menghadirinya tidak juga Fudhail bin Iyadh, tidak juga Ma’ruf Al Karkhi, tidak Abu Sulaiman Ad-Daariny, tidak juga Ahmad bin Abilhawary, Sirry Saqty dan yang semacam mereka.

Sedangkan sejumlah ulama terhormat yang sempat menghadiri acara-acara mereka, pada akhirnya meninggalkannya, tokoh-tokoh ulama mencela pelaku-pelakunya sebagaimana yang dilakukan oleh Abdul Qadir dan Syaikh Abul Bayan dan lain-lainnya.

Sedangkan Imam Syafi’i yang menyatakan bahwa hal tersebut bersumber dari orang-orang zindiq, beliau adalah seorang imam dan ahli dalam Ushululislam (kaidah dasar-dasar Islam).

Disamping karena hal tersebut tidak didengar kecuali oleh mereka yang dituduh zindiq seperti Ibnu Ruwandi, Al-Farabi dan Ibnu Sina serta yang semacam mereka.

Sedangkan orang-orang yang hanif pengikut Ibrahim alaihissalam yang Allah jadikan dia sebagai imam dan penganut agama Islam yang tidak menerima dari seorangpun agama selainnya dan mengikuti syariat Rasul terakhir Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Maka tidak ada pada mereka orang yang menyukainya dan menyerukan kepada perbuatan semacam itu. Mereka (yang dimaksud orang Islam) adalah pengikut Al Quran, keimanan dan petunjuk dan kebahagiaan, cahaya dan kemenangan, ahli ma’rifah, ilmu dan keyakinan serta keikhlasan kepada Allah, mencintai-Nya, tawakkal kepada-Nya, takut dan kembali kepada-Nya.

Sedangkan bagi mereka yang memiliki pengetahuan tentang hakekat agama ini, keada’an hati, ma’rifahnya, seleranya serta perasa’annya segera mengetahui bahwa mendengarkan orang yang bersiul dan bertepuk tangan tidaklah mendatangkan manfaat bagi hati dan kemaslahatan, tetapi justru mengandung kemudharatan dan bahaya yang lebih parah, hal tersebut bagi ruh seperti khamar bagi jasad, karena mengakibatkan pelakunya mabuk melebihi mabuknya seseorang dari khamar sehingga mereka merasakan kelezaran tanpa dapat membedakan, sebagaimana yang di rasakan orang yang mabuk karena minum khamar, bahkan dapat terjadi lebih banyak dan lebih besar dari peminum khamar, mencegah mereka dari zikir kepada Allah dan dari shalat melebihi apa yang dapat mencegah mereka karena minum khamar. Mendatangkan kepada mereka pertikaian dan permusuhan lebih besar dari apa yang didapatkan dari khamar”.

Dia juga berkata : “Adapun tarian, tidak diperintahkan oleh Allah, begitu juga Rasul-Nya, tidak juga salah seorang imam, akan tetapi Allah berfirman dalam kitab-Nya : “Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu”. (Luqman: 19).

“Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati”. (Al-Furqan: 63) maksudnya dengan tenang dan penuh wibawa, sedangkan ibadahnya orang beriman adalah ruku’ dan sujud”.

Bahkan rebana dan tarian tidak di perintahkan Allah dan Rasul-Nya, tidak pula oleh seseorang dari kalangan salaf umat ini.

Adapun perkata’an orang-orang bahwa hal tersebut adalah jaring yang digunakan untuk “menjaring” orang-orang awam adalah benar adanya, karena kebanyakan mereka menjadikan jaring tersebut untuk mendapatkan makanan atau roti di atas makanan. Allah Ta’ala berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan yang bathil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah”. (At-Taubah: 34).

Yang melakukan hal tersebut adalah tokoh-tokoh kesesatan yang dikatakan kepada pemimpin-pemimpin mereka : “Dan mereka berkata : “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menta’ati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). Ya Tuhan kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar”. (Al Ahzab 67-68)

Sedangkan jala yang dimaksud untuk menjaring massa, sesungguhnya adalah jala yang robek dimana buruannya keluar lagi jika telah masuk ke dalamnya, karena yang masuk untuk mendengar suara-suara bid’ah dalam tarekat sedang dia tidak memiliki landasan syari’at Allah dan Rasul-Nya, akan terwarisi dalam dirinya kondisi yang parah…. [3].

Kalangan tasawuf yang mendekatkan diri kepada Allah dengan nyanyian dan tarian, tepat bagi mereka firman Allah Ta’ala : “(Yaitu) orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau” (Al-A’raf: 51)

[Judul Asli Haqiqatushufiyyah wa Mauqifush Shufiyyah min Ushulil Ibadah wad Diin Edisi Indonesia Hakikat Sufi dan Sikap Kaum Sufi terhadap prinsip Ibadah dan Agama

Dinukil Dari http:// salafy.or.id%5D

http://sunniy.wordpress.com/2009/12/17/termasuk-bagian-dari-agama-shufi-adalah-mereka-beribadah-kepada-allah-dengan-nyanyian-dan-tarian/

————————

KESESATAN AJARAN TASAUF

Di antara sekian banyak kesesatan ajaran Tasawuf adalah :

1. WIHDATUL WUJUD

Yakni keyakinan bahwa Allah Ta’ala menyatu dengan segala sesuatu yang ada di alam semesta ini. Demikian juga Al-Hulul, yakni keyakinan bahwa Allah Ta’ala dapat masuk ke dalam makhluk-Nya.

– Al-Hallaj, seorang tokoh sufi, berkata : “Kemudian Dia (Allah) menampakkan diri kepada makhluk-Nya dalam bentuk orang (yang sedang) makan dan minum.” (Dinukil dari Firaq Al- Mua’shirah, karya Dr. Ghalib bin ‘Ali Iwaji, 2/600).

– Ibnu ‘Arabi, tokoh sufi lainnya, berkata : “Seorang hamba adalah Rabb dan Rabb adalah hamba. Duhai kiranya, siapakah yang diberi kewajiban beramal ? Jika engkau katakan hamba, maka ia adalah Rabb. Atau engkau katakan Rabb, kalau begitu siapa yang diberi kewajiban?” (Al-Futuhat Al- Makkiyyah dinukil dari Firaq Al- Mu’ashirah, hal. 601).

– Muhammad Sayyid At-Tijani meriwayatkan (secara dusta, pen) dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bahwasanya beliau bersabda : “Aku melihat Rabbku dalam bentuk seorang pemuda.” (Jawahirul Ma’ani, karya ‘Ali Harazim, 1/197, dinukil dari Firaq Mu’ashirah, hal. 615).

Padahal Allah Ta’ala berfirman : “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Allah, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Asy-Syura: 11).

“Berkatalah Musa : ‘Wahai Rabbku nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat-Mu.’ Allah berfirman: ‘Kamu sekali-kali tidak akan sanggup melihatku’…”1 (Al-A’raf: 143)

2. ORANG YANG MENYETUBUHI ISTRINYA, TIDAK LAIN IA MENYETUBUHI ALLAH.

Ibnu ‘Arabi berkata : “Sesungguhnya seseorang ketika menyetubuhi istrinya tidak lain (ketika itu) ia menyetubuhi Allah!” (Fushushul Hikam).

Betapa kufurnya kata-kata ini…, tidakkah orang-orang Sufi sadar akan kesesatan tokoh sufi ini ?

3. ALLAH ADALAH MAKHLUK DAN MAKHLUK ADALAH ALLAH, MASING-MASING SALING MENYEMBAH

Ibnu ‘Arabi berkata : “Maka Allah memujiku dan aku pun memuji-Nya. Dia menyembahku dan aku pun menyembah- Nya.” (Al-Futuhat Al-Makkiyyah)

Padahal Allah Ta’ala telah berfirman : “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (Adz- Dzariyat: 56).

“Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Allah Yang Maha Pemurah dalam keadaan sebagai hamba.” (Maryam: 93).

4. SEMUA AGAMA SAMA

– Ibnu ‘Arabi berkata : “Sebelumnya aku mengingkari kawanku yang berbeda agama denganku. Namun kini hatiku bisa menerima semua keada’an, tempat gembala rusa dan gereja pendeta, tempat berhala dan Ka’bah, lembaran-lembaran Taurat dan Mushaf Al Qur’an.” (Al-Futuhat Al-Makkiyyah).

– Jalaluddin Ar-Rumi, seorang tokoh sufi yang sangat kondang, berkata : “Aku seorang muslim, tapi aku juga seorang Nashrani, Brahmawi, dan Zaradasyti. Bagiku, tempat ibadah adalah sama… masjid, gereja, atau tempat berhala- berhala.” (Dinukil dari Ash-Shufiyyah Fi Mizanil Kitabi Was Sunnah karya Asy-Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu, hal.24-25).

Padahal Allah ta’ala berfirman : “Dan barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya. Dan dia di akhirat termasuk orang- orang yang merugi.” (Ali Imran: 85).

5. BOLEH MENOLAK HADITS YANG JELAS SHAHIH

Ibnu ‘Arabi berkata : “Kadangkala suatu hadits shahih yang diriwayatkan oleh para perawinya, tampak hakikat keadaannya oleh seseorang mukasyif (Sufi yang mengetahui ilmu ghaib dan batin).

Ia bertanya kepada Nabi secara langsung : “Apakah engkau mengatakannya ?” Maka beliau mengingkari seraya berkata : “Aku belum pernah mengatakannya dan belum pernah menghukuminya dengan shahih.”

Maka diketahui dari sini lemahnya hadits tersebut dan tidak bisa diamalkan sebagaimana keterangan dari Rabbnya walaupun para ulama mengamalkan berdasarkan isnadnya yang shahih.” (Al- Futuhat Al-Makkiyah). (Dinukil dari Ash-Shufiyyah Fi Mizanil Kitabi Was Sunnah karya Asy-Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu, hal. 23).

6. MEMBAGI ILMU MENJADI SYARI’AT DAN HAKIKAT

Apabila seseorang telah sampai pada tingkatan hakikat berarti ia telah mencapai martabat keyakinan yang tinggi kepada Allah Ta’ala.

Oleh karena itu, menurut keyakinan Sufi, gugur baginya segala kewajiban dan larangan dalam agama ini. Mereka berdalil dengan firman Allah ta’ala dalam Al Qur’an Surat Al-Hijr ayat 99 :

Mereka terjemahkan sebagai berikut : “Dan beribadahlah kepada Rabbmu hingga datang kepadamu keyakinan.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata : “Tidak diragukan lagi oleh ahlul ilmi dan iman, bahwa perkata’an tersebut termasuk sebesar-besar kekafiran dan yang paling berat. Ia lebih jahat dari perkataan Yahudi dan Nashrani karena Yahudi dan Nashrani beriman dengan sebagian isi Al Kitab dan mengkufuri sebagian lainnya. Sedangkan mereka adalah orang-orang kafir yang sesungguhnya (karena mereka berkeyakinan dengan sampainya kepada martabat hakikat tidak lagi terkait dengan kewajiban dan larangan dalam agama ini, pen).” (Majmu’ Fatawa, 11/401).

Beliau juga berkata : “Adapun pendalilan mereka dengan ayat tersebut, maka justru merupakan bumerang bagi mereka.

Al-Hasan Al-Bashri berkata : “Sesungguhnya Allah tidak menjadikan batas akhir beramal bagi orang-orang beriman selain kematian, kemudian beliau membaca Al Qur’an Surat Al-Hijr ayat 99, yang artinya : Dan beribadahlah kepada Rabbmu hingga datang kepadamu kematian’.”

Beliau melanjutkan : “Dan bahwasanya ‘Al-Yaqin’ di sini bermakna kematian dan setelahnya, dengan kesepakatan ulama kaum muslimin.” (Majmu Fatawa, 11/418).

7. IBADAH KEPADA ALLAH BUKAN KARENA TAKUT NERAKA JUGA BUKAN KARENA INGIN MASUK SURGA

Mereka mengatakan bahwa ibadah kepada Allah itu bukan karena takut dari adzab Allah (neraka) dan bukan pula mengharap jannah Allah.

Padahal Allah berfirman : “Dan peliharalah diri kalian dari an-naar (api neraka) yang disediakan untuk orang-orang yang kafir.” (‘Ali Imran: 131).

“Dan bersegeralah kalian kepada ampunan dari Rabb kalian dan kepada jannah (surga) yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa.” (‘Ali Imran: 133).

8. DZIKIR ORANG-ORANG AWAM DAN DZIKIRNYA OORANG-ORANG KHUSUS

Dzikirnya orang-orang awam adalah Laa ilaha illallah, sedangkan dzikirnya orang- orang khusus dan paling khusus adalah “Allah / huwa (di baca: huu)”, atau “aah” saja.

Padahal Rasulullah bersabda : “Sebaik-baik dzikir adalah Laa ilaha illallah.” (HR. At-Tirmidzi, dari shahabat Jabir bin Abdullah). (Fiqhul Ad‘iyati Wal Adzkar, karya Asy-Syaikh Dr. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr, hal, 173).

Syaikhul Islam berkata : “Barangsiapa beranggapan bahwa Laa ilaha illallah adalah dzikirnya orang awam, sedangkan dzikirnya orang-orang khusus dan paling khusus adalah / Huwa, maka ia seorang yang sesat dan menyesatkan.” (Risalah Al-’Ubudiyah, hal. 117-118, dinukil dari Haqiqatut Tasawuf, hal. 13).

9. ILMU KASYAF

Keyakinan bahwa orang-orang Sufi mempunyai ilmu kasyaf (yang dapat menyingkap hal-hal yang tersembunyi) dan ilmu ghaib.

Mereka mendustakan firman Allah : “Katakanlah tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui hal-hal yang ghaib kecuali Allah.” (An-Naml, 65).

10. ROSULULLAH DI CIPTAKAN DARI CAHAYA

Keyakinan bahwa Allah menciptakan Nabi Muhammad dari nur/ cahaya-Nya, dan Allah ciptakan segala sesuatu dari cahaya Nabi Muhammad.

Padahal Allah Ta’ala berfirman : “Katakanlah (Wahai Muhammad), sesungguhnya aku hanyalah seorang manusia seperti kalian, kecuali yang diwahyukan kepadaku …” (Al-Kahfi: 110).

“(Ingatlah) ketika Rabbmu berfirman kepada para Malaikat : “Sesungguhnya Aku akan ciptakan manusia dari tanah liat.” (Shad: 71).

11. ALLAH CIPTAKAN DUNIA KARENA NABI MUHAMMAD.

Keyakinan bahwa Allah menciptakan dunia ini karena Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Padahal Allah berfirman : “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (Adz- Dzariyat: 56).

Demikianlah beberapa diantara dari sekian banyak ajaran Tasawuf, yang dari ini saja, nampak jelas kesesatannya.
Semoga Allah Ta’ala menjauhkan kita dari kesesatan-kesesatan tersebut.

Sumber : http://asysyariah.com/ mewaspadai-sufi.html

shirotholmustaqim.wordpress.com/2013/08/13/mewaspadai-ajaran-sufi/

————————

PENISBATAN KELOMPOK SUFI

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan : “Adapun lafadz Sufiyyah bukanlah lafadz yang masyhur pada tiga abad pertama Islam. Dan setelah masa itu, penyebutannya menjadi masyhur.” (Majmu’ Fatawa, 11/5)

Lafadz Sufi bukanlah nisbat kepada Ahlush Shuffah yang ada di jaman Rasulullah, karena nisbat kepadanya adalah Shuffi. Bukan pula nisbat kepada shaf terdepan di hadapan Allah, karena nisbat kepadanya adalah Shaffi.
Demikian juga bukan nisbat kepada makhluk pilihan Allah karena nisbatnya adalah Shafawi. Dan bukan pula nisbat kepada Shufah bin Bisyr (salah satu suku Arab) meski secara lafadz bisa dibenarkan. Namun secara makna sangatlah lemah, karena antara suku tersebut dengan kelompok Sufi tidak berkaitan sama sekali.

shirotholmustaqim.wordpress.com/2013/08/13/mewaspadai-ajaran-sufi/

——————————

PENGARUH AJARAN NASRANI KEDALAM AJARAN TASAUF

Ajaran Sufi yang di adopsi dari ajaran Nasrani diantaranya adalah Tarbiyah Ruhiyah. Dalam agama Nasrani tarbiyah ruhiyah dilakukan dengan beberapa bentuk. Mulai dari menghindari segala kenikmatan dunia, seperti tidak mengkosumsi sesuatu yang enak dan lezat, tidak memakai pakaian bagus, menjauhi pernikahan sampai pada tinggkat bersemedi di gua-gua.

Sa’at mereka menganggap telah mencapai puncak kesucian jiwa, mereka meyakini bahwa Zat Allâh Ta’âla menyatu dengan diri mereka. Yang mereka sebut dalam istilah mereka : Menyatunya Lahût dengan Nasût. Hal serupa juga ditiru oleh orang-orang sufi dalam mentarbiyah dirinya untuk mencapai tingkat hakikat.

Bila mereka telah sampai pada tingkat hakikat, mereka akan dapat mengetahui hal-hal yang ghaib sekalipun. Bahkan yang lebih eksrim lagi mereka menganggap diri mereka telah bersatu dengan Tuhan.

Ketika itu mereka meyakini tidak perlu lagi menjalankan perintah-perintah agama. Menurut mereka perintah-perintah agama adalah bagi orang yang belum sampai pada tingkat hakikat.

Kemudian juga dalam referensi orang-orang sufi sering menukil cerita-cerita rahib Nasrani.

Kesama’an lain adalah tidak menikah dengan alasan agar lebih fokus beribadah demi mendapatkan surga. Ajaran ini terdapat dalam Injil Matius fasal 19 ayat 12, yang berbunyi : “Ada orang yang tidak kawin,… ia membuat dirinya demikian karena keraja’an surga. Barangsiapa yang dapat melakukan maka hendaklah ia melakukannya”. Dalam surat Paulus kepada penduduk Karnitus fasal 7 ayat 1, berbunyi : “Sangat baik bagi seorang lelaki untuk tidak menyentuh wanita”.

Berkata salah seorang tokoh sufi Abu Sulaiman ad-Dârâny, “Tiga hal barangsiapa yang mencarinya maka sesungguhnya ia telah condong pada dunia, mencari kebutuhan hidup, menikahi wanita dan menulis hadits”.

Jika kita bandingkan apa yang diungkapkan oleh tokoh Sufi ini dengan apa yang terdapat dalam ajaran Nasrani tidak jauh beda. Menurut orang sufi menyiksa diri dengan tidak makan dan minum serta tidak tidur adalah salah satu cara untuk menyucikan jiwa. Bahkan bila ia sampai mengalami kondisi tidak sadarkan diri, ia akan dibuka baginya hijab, lalu dari kondisi itu ia akan menerima ilham dan ilmu ladunni.

Bahkan ada diantara mereka yang meyakini akan menyatu dengan Tuhan. Diantaranya ajaran Injil Matius fasal 10 ayat 9 dan 10, berbunyi : “Janganlah kamu membawa emas atau perak atau tembaga dalam ikat pinggangmu. Janganlah kamu membawa bekal dalam perjalanan, janganlah kamu membawa baju dua helai, kasut atau tongkat”. Demikian bunyi ayat-ayat Injil Matius tentang anjuran meninggalkan segala hal yang dibutuhkan oleh seseorang dalam mempertahankan hidup dalam perjalanannya.

Hal yang sama akan kita dapatkan pula dari ungkapan-ungkapan tokoh sufi sebagaimana yang sudah sebutkan di atas.

Bagaimana pula aqidah hulûl dalam agama Nasrani ?

Mari kita simak apa yang terdapat dalam Injil Matius pada fasal 10 ayat 20 : “Karena bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Bapamu, Dia yang akan berkata-kata di dalam kamu”.

Artinya ruh Tuhan menyusup kedalam diri seorang rahib yang sudah layak untuk di masuki oleh Roh tersebut. Setelah melalui proses penyucian jiwa dengan metode seperti yang kita sebutkan sebelumnya.

Demikian pula orang sufi meyakini hal yang sama, bila seorang wali telah sampai pada tingkat hakikat maka sebahagian sifat Tuhan akan menyusup ke dirinya.

Menurut mereka dari situ seorang sufi akan memiliki atau mengalami hal-hal yang diluar kemampuan manusia yang mereka sebut sebagai karamah.

Jika kita membaca tentang biografi dan kisah orang-orang sufi kita akan mendapatkan cerita yang menggambarkan hal tersebut.

Bila hal di atas kita bandingkan dengan ajaran Islam akan terlihat hal yang sangat bertolak belakang. Islam memerintahkan untuk beramal akan tetapi juga melarang melupakan kenikmatan dunia yang menjadi bagian mereka.

Yang dilarang Islam adalah mendahulukan kesenangan dunia dan melalaikan kesenangan akhirat. Islam adalah agama yang seimbang dalam segala hal, baik dalam ideologi maupun ibadah dan akhlak. Firman Allâh Ta’âla, “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allâh Ta’âla kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah sebagaimana Allâh Ta’âla telah berbuat baik kepadamu”. (QS. al- Qashash/28:77)

Dalam ayat ini sangat jelas Allâh Ta’âla menyuruh kita untuk mencari karunia-Nya baik yang berhubungan dengan kebahagian akhirat maupun kenikmatan duniawi.

Dan firman Allâh Ta’âla : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa- apa yang baik yang telah Allâh Ta’âla halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allâh Ta’âla tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allâh Ta’âla telah rezekikan kepadamu”. (QS. Al- Maidah/5:87-88)

Dalam ayat ini, Allâh Ta’âla dengan jelas melarang kita melampaui batas yang telah ditentukan Allâh Ta’âla , seperti mengharamkan seseuatu yang dihalalkan Allâh Ta’âla, melakukan ibadah yang tidak pernah diperintahkan Allâh Ta’âla.

Diriwayatkan dalam sebuah hadits, ada tiga orang Sahabat mendatangi sebagian isteri Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam untuk bertanya tentang bagaimana ibadah beliau jika beliau berada di rumah beliau. Ketika mereka mendengar jawaban dari isteri Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam, mereka memandang bahwa ibadah mereka sangat sedikit sekali bila dibanding dengan ibadah Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam yang sudah diampuni dosanya yang berlalu dan yang akan datang. Lalu mereka ingin bersungguh-sungguh untuk beribadah.

Diantara mereka ada yang ingin shalat malam tanpa tidur, yang lain ingin berpuasa setiap hari, yang ketiga tidak mau menikah.

Sa’at berita itu sampai kepada Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam, beliau marah dan menasehati mereka bertiga secara langsung dan juga menasehati kaum Muslimin. Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Apakah kalian yang mengatakan begini-begini ? Demi Allâh saya adalah orang yang paling takut dan paling bertakwa kepada Allâh diantara kalian. Akan tetapi saya berpuasa juga berbuka, saya shalat malam numun juga tidur, dan saya mengawini wanita. Barangsiapa tidak suka pada sunnahku. Maka ia tidak termasuk golonganku”.

Bila kita lihat kehidupan Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam beliau juga makan daging, minum susu, menyisir rambut dan memakai wangi-wangian.

Ketika beliau ditanya tentang sesorang yang memakai pakaian bagus apakah itu termasuk kategori sombong ? Beliau menjawab tidak, kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.

garibblog.wordpress.com/

———————–

SHALAWAT-SHALAWAT BUATAN SUFI

Shalawat kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam bukanlah amalan yang asing bagi seorang muslim. Hampir-hampir setiap majlis ta’lim ataupun acara ritual tertentu tidak pernah lengang dari dengungan shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam.

Terlebih bagi seorang muslim yang merindukan syafa’atnya, ia pun selalu melantunkan shalawat dan salam tersebut setiap kali disebutkan nama beliau Shallallahu ‘alaihi wassalam.
Karena memang shalawat kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wassalam merupakan ibadah mulia yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala.

Allah Ta’ala berfirman : “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian kepada Nabi dan ucapkanlah salam kepadanya”. (Al Ahzab: 56)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Barangsiapa bershalawat kepadaku sekali saja, niscaya Allah akan membalasnya dengan shalawat sepuluh kali lipat.” (H.R. Al Hakim dan Ibnu Sunni).

Demikianlah kedudukan shalawat Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam dalam agama Islam. Sehingga di dalam mengamalkannya pun haruslah dengan petunjuk Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam.

Sebaik-baik shalawat, tentunya yang sesuai dengan petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam dan sejelek-jelek shalawat adalah yang menyelisihi petunjuknya.

Karena beliau Shallallahu ‘alaihi wassalam lebih mengerti shalawat manakah yang paling sesuai untuk diri beliau.

Diantara shalawat-shalawat yang telah dituntunkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada umatnya, yaitu : “Ya, Allah curahkanlah shalawat kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau telah curahkan shalawat kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah, curahkanlah barakah kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau telah curahkan barakah kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Dan masih banyak lagi shalawat yang dituntunkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam.

Adapun shalawat-shalawat yang menyelisihi tuntunan Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam maka cukup banyak juga, diantaranya beberapa shalawat yang biasa dilantunkan oleh orang-orang Sufi ataupun orang-orang yang tanpa disadari terpengaruh dengan mereka.

• BEBERAPA SHALAWAT BUATAN SUFI

1. SHALAWAT NARIYAH

Shalawat jenis ini banyak tersebar dan diamalkan di kalangan kaum muslimin. Dengan suatu keyakinan, siapa yang membacanya 4444 kali, hajatnya akan terpenuhi atau akan dihilangkan kesulitan yang dialaminya. Berikut nash shalawatnya: “Ya Allah, berikanlah shalawat dan salam yang sempurna kepada Baginda kami Nabi Muhammad, yang dengannya terlepas semua ikatan kesusahan dan dibebaskan semua kesulitan. Dan dengannya pula terpenuhi semua kebutuhan, diraih segala keinginan dan kematian yang baik, dan dengan wajahnya yang mulia tercurahkan siraman kebahagiaan kepada orang yang bersedih. Semoga shalawat ini pun tercurahkan kepada keluarganya dan para sahabatnya sejumlah seluruh ilmu yang Engkau miliki.”

Bila kita merujuk kepada Al Qur’an dan As Sunnah, maka kandungan shalawat tersebut sangat bertentangan dengan keduanya.

Bukankah hanya Allah semata yang mempunyai kemampuan untuk melepaskan semua ikatan kesusahan dan kesulitan, yang mampu memenuhi segala kebutuhan dan memberikan siraman kebahagiaan kepada orang yang bersedih ?!

Allah Ta’ala berfirman : “Katakanlah (wahai Muhammad), Aku tidak kuasa menarik kemanfa’atan bagi diriku dan tidak pula mampu menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentunya aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan tertimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan dan pembawa khabar gembira bagi orang-orang yang beriman.” (Al A’raf: 188).

Dan juga firman-Nya : “Katakanlah (wahai Muhammad), Panggillah mereka yang kalian anggap (sebagai tuhan) selain Allah. Maka mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya darimu dan tidak pula memindahkannya.” (Al-Isra: 56)

Para ahli tafsir menjelaskan, ayat ini turun berkena’an dengan kaum yang berdo’a kepada Al Masih, atau malaikat, atau sosok orang shalih dari kalangan jin. (Tafsir Ibnu Katsir 3/47-48)

Seorang laki-laki datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam , lalu mengatakan : “Berdasarkan kehendak Allah dan kehendakmu”. Maka beliau bersabda : “Apakah engkau hendak menjadikanku sebagai tandingan bagi Allah ? Ucapkanlah : “Berdasarkan kehendak Allah semata”. (HR. An-Nasa’i) (Lihat Minhaj Al-Firqatin Najiyah hal. 227-228, Muhammad Jamil Zainu)

Maka dari itu, jelaslah dari beberapa dalil diatas bahwasanya Shalawat Nariyah terkandung padanya unsur pengkultusan yang berlebihan terhadap diri Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam hingga mensejajarkannya dengan Allah Ta’ala.

Tentunya yang demikian ini merupakan salah satu bentuk kesyirikan yang dimurkai oleh Allah dan Nabi-Nya.

2. SHALAWAT AL-FAATIH (Pembuka)

Shalawatnya sebagai berikut : “Ya Allah ! berikanlah shalawat kepada Baginda kami Muhammad yang membuka segala yang tertutup ….”

Berkata At-Tijani pendiri tarekat Sufi Tijaniyah, secara dusta : “….Kemudian beliau (Nabi Shallahu ‘alaihi wassalam) mengabarkan kepadaku untuk kedua kalinya, bahwa satu kali membacanya menyamai setiap tasbih yang terdapat di alam ini dari setiap dzikir, menyamai dari setiap do’a yang kecil maupun besar, dan menyamai membaca Al Qur’an 6.000 kali, karena ini termasuk dzikir.” (Mahabbatur Rasul 285, Abdur Rauf Muhammad Utsman).

Demikianlah kedustaan, kebodohan dan kekafiran yang nyata dari seorang yang mengaku berjumpa dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam, karena ia berkeyakinan bahwa perkataan manusia lebih mulia 6.000 kali lipat daripada firman Allah Ta’ala.

Bukankah Allah telah menegaskan dalam firman-Nya : “Dan siapakah yang perkatannya lebih benar dari pada Allah? (An Nisaa’:122).

“Dan sungguh telah sempurna kalimat Tuhanmu(Al Qur’an) ,sebagai kalimat yang benar dan adil.”(Al An’am, 115).

Demikian pula Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam telah menegaskan dalam sabdanya : “Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah perkataan Allah“. (HR. Muslim)

“Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Al Qur’an, maka baginya satu kebaikan. Dan satu kebaikan menjadi sepuluh kali semisal (kebaikan) itu. Aku tidak mengatakan, alif laam miim itu satu huruf, namun alif satu huruf, laam satu huruf, dan miim satu huruf.” (HR.Tirmidzi dan yang lainnya dari Abdullah bin Mas’ud).

Dari beberapa dalil di atas cukuplah bagi kita sebagai bukti atas kebatilan shalawat Al Faatih, terlebih lagi bila kita telusuri kandungannya yang kental dengan nuansa pengkultusan terhadap Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam yang dilarang dalam agama yang sempurna ini.

3. SHALAWAT SA’ADAH (Kebahagia’an)

Shalawatnya sebagai berikut : “Ya Allah, berikanlah shalawat kepada Baginda kami Muhammad sejumlah apa yang ada dalam ilmu Allah, shalawat yang kekal seperti kekalnya kerajaan Allah …”.

Berkata An-Nabhani As-Sufi setelah menukilkannya dari Asy-Syaikh Ahmad Dahlan : ”Bahwa pahalanya seperti 600.000 kali shalat. Dan siapa yang rutin membacanya setiap hari Jum’at 1.000 kali, maka dia termasuk orang yang berbahagia dunia akhirat.” (Lihat Mahabbatur Rasul 287-288)

Sungguh kedusta’an mana mungkin shalat yang merupakan tiang agama dan sekaligus rukun Islam kedua pahalanya 600. 000 di bawah shalawat sa’adah ini ?!

Cukuplah yang demikian itu sebagai bukti atas kepalsuan dan kebatilan shalawat tersebut.

4. SHALAWAT BURDATUL BUSHIRI

Shalawatnya sebagai berikut : “Wahai Rabbku! Dengan perantara Musthafa (Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassallam) penuhilah segala keinginan kami dan ampunilah dosa-dosa kami yang telah lalu, wahai Dzat Yang Maha Luas Kedermawanannya.”

Shalawat ini mempunyai beberapa (kemungkinan) makna. Bila maknanya seperti yang terkandung di atas, maka termasuk tawasul kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam yang beliau telah meninggal dunia. Hal ini termasuk jenis tawasul yang dilarang, karena tidak ada seorang pun dari sahabat yang melakukannya disaat ditimpa musibah dan yang sejenisnya.

Bahkan Umar bin Al Khathab ketika shalat istisqa’ (minta hujan) tidaklah bertawasul dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam karena beliau telah meninggal dunia, dan justru Umar meminta Abbas paman Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam (yang masih hidup ketika itu) untuk berdo’a.

Kalaulah tawasul kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam ketika beliau telah meninggal dunia merupakan perbuatan yang disyari’atkan niscaya Umar melakukannya.

Adapun bila mengandung makna tawasul dengan ja’ah (kedudukan) Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam, maka termasuk perbuatan yang diada-adakan dalam agama.

Hadits “Bertawasullah dengan kedudukanku”, merupakan hadits yang tidak ada asalnya (palsu). Bahkan bisa mengantarkan kepada kesyirikan disa’at ada keyakinan bahwa Allah Ta’ala butuh terhadap perantara sebagaimana butuhnya seorang pemimpin terhadap perantara antara dia dengan rakyatnya, karena ada unsur menyamakan Allah dengan makhluk-Nya, sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. (Lihat Al Firqatun Najiyah hal. 85)

Sedangkan bila maknanya mengandung unsur (Demi Nabi Muhammad) maka termasuk syirik, karena tergolong sumpah dengan selain Allah Ta’ala.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda : “Barang siapa yang bersumpah dengan selain Allah, maka dia telah berbuat kafir atau syirik.” (HR. At Tirmidzi, Ahmad dan yang lainnya dengan sanad yang shahih)

Dari sekian makna di atas maka jelaslah bagi kita kebatilan yang terkandung di dalam shalawat tersebut. Terlebih lagi Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam dan para sahabatnya tidak pernah mengamalkannya, apalagi mengajarkannya.

Seperti itu pula hukum yang dikandung oleh bagian akhir dari Shalawat Badar (bertawasul kepada Nabi Muhammad, para mujahidin dan ahli Badar).

5. SHALAWAT SEORANG SUFI LIBANON

Berikut Shalawatnya : “Ya Allah berikanlah shalawat kepada Muhammad sehingga Engkau menjadikan darinya keesa’an dan qoyyumiyyah (maha berdiri sendiri dan yang mengurusi makhluknya).”

Padahal Allah Ta’ala berfirman : ”Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Asy-Syura: 11)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam sendiri pernah bersabda : “Janganlah kalian mengkultuskan diriku, sebagaimana orang-orang Nasrani mengkultuskan Isa bin Maryam. Hanyalah aku ini seorang hamba, maka katakanlah : “(Aku adalah) hamba Allah dan Rasul- Nya.” (H.R Al Bukhari).

Wallahu A’lam Bish Shawab

* Hadits Palsu Dan Dha’if Yang Tersebar Di Kalangan Umat

Hadits Anas bin Malik Radiyallahu ‘anhu : “Barangsiapa bershalawat kepadaku pada malam Jum’at 80 kali, niscaya Allah akan mengampuni segala dosanya selama 80 tahun.”

Keterangan :

Hadits ini palsu, karena di dalam sanadnya terdapat seorang perawi yang bernama Wahb bin Dawud bin Sulaiman Adh Dharir.

Al Khathib Al Baghdadi berkata : “Dia seorang yang tidak bisa dipercaya.”

Asy Syaikh Al Albani berkata : “Sesungguhnya ciri-ciri kepalsuan hadits ini sangatlah jelas.” (Lihat Silsilah Adh Dha’ifah no. 215)

Dikutip dari Buletin Islam Al Ilmu Edisi 50/II/IV/1426, diterbitkan Yayasan As Salafy Jember. Judul asli “Tasawuf & Sholawat Nabi”.

Dikirim oleh al Al Akh Ibn Harun via email.) http://www.salafy.or.id/ salafy.php?menu=detil&id_ artikel=947 Imam Ath Thurtusi : Kedustaan Ihya’ Ulumuddin

asantosa30.wordpress.com/category/sufi-tasauf/shalawat-bidah-buatan-sufi/

—————————-