Tag Archives: tasauf

AJARAN IBNU ARABI

Di antara tokoh sufi yang mashur adalah Ibnu Arabi, nama lengkapnya Abu Bakar Muhammad ibn Ali Muhyiddin Al-Hatimi At-Thai Al-Andalusi, dikenal dengan Ibnu Arabi (bukan Ibnul Arabi yang ahli tafsir).

Ibnu Arabi dianggap sebagai tokoh tasawuf falsafi, lahir di Murcia Spanyol, 17 ramadhan 560 H/28 Juli 1165 M, dan mati di Damaskus, Rabi’ul Tsani 638 H/Oktober 1240 M.

Inti ajarannya didasarkan atas teori wihdatul wujud (satunya wujud, semua wujud di alam ini adalah cerminan Allah) yang menghasilkan wihdatul adyan (satunya agama, tauhid maupun syirik).

Di antara ajaran Ibnu Arabi adalah :

– “Hamba adalah Tuhan”. (tercantum dalam kitab Ibnu Arabi, Fushush Al-Hikam, 92-93).

– “Neraka adalah surga itu sendiri”. (Fushush Al-Hikam, 93-94).

– “Perbuatan hamba adalah perbuatan Allah itu sendiri”. (Fushush Al-Hikam, 143).

– “Fir’aun adalah mu’min dan terbebas dari siksa neraka”. (Fushush Al-Hikam, 181).

– “Wanita adalah Tuhan”. (Fushush Al-Hikam, 216).

– “Fir’aun adalah Tuhan Musa”. (Fushush Al-Hikam, 209).

– “Semua ini adalah Allah, tidak ada nabi/rasul atau malaikat. Allah adalah manusia besar”. (Fushush Al-Hikam, 48).

– “Allah membutuhkan pertolongan makhluk”. (Fushush Al-Hikam, 58-59).

Karena begitu sesatnya penyimpangan yang ditampilkan Ibnu Arabi, maka 37 ulama telah mengkafirkannya atau memurtadkannya. Di antara yang mengkafirkan Ibnu Arabi itu adalah ulama-ulama besar yang dikenal sampai kini :

•Ibnu Daqieq Al-‘Ied (w 702 H).
•Ibnu Taimiyah (w 728 H).
•Ibnu Qayyim Al-Jauziah (w 751 H).
•Qadhi ‘Iyadh (w 744 H).
•Al-‘Iraqi (w 826 H).
•Ibnu Hajar Al-Asqalani (w 852 H).
•Al-Jurjani (w 814 H).
•Izzuddin bin Abdis Salam (w 660 H).
•An-Nawawi (w 676 H).
•Adz-Dzahabi (w 748 H).
•Al-Bulqini (w 805 H).

(Lihat Tasawuf Belitan Iblis, Darul Falah, Jakarta, 2001, hlm. 72-73).

http://faisalchoir.blogspot.com/2012/07/di-antara-bukti-kesesatan-sufi-tidak.html?m=1

_______________________

Advertisements

MEMBUJANG ALA SUFI

Salah satu ajaran sufi yang menonjol adalah tabattul (hidup membujang).

Diyakini oleh penganut sufi, dengan cara beragama seperti ini, mereka lebih bisa mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Benarkah ?

Di antara nikmat dan tanda kekuasa’an Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah disyariatkannya menikah, menikah mendatangkan banyak maslahat dan manfa’at bagi setiap individu dan masyarakat.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untuk kalian istri-istri dari jenis kalian sendiri, supaya kalian cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antara kalian rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (Ar-Rum: 21).

Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullahu berkata : “Nikah termasuk nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang agung. Allah Subhanahu wa Ta’ala syariatkan bagi hamba-Nya dan menjadikannya sebagai sarana serta jalan menuju kemaslahatan dan manfa’at yang tak terhingga.” (Dinukil dari Taudhihul Ahkam, 4/331).

Bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutnya dengan lafadz perintah dalam beberapa ayat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : “Dan jika kalian takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kalian menikahinya), maka nikahilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi, dua, tiga, atau empat. Namun jika kalian takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja, atau budak-budak yang kalian miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” (An-Nisa`: 3).

“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kalian, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahaya kalian yang lelaki dan hamba-hamba sahaya yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberikan kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (An-Nur: 32).

Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian telah mampu untuk menikah hendaknya menikah, karena itu akan lebih menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Barangsiapa yang tidak mampu, hendaknya berpuasa karena itu adalah pemutus syahwatnya.”

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata kepada Sa’id bin Jubair rahimahullahu :
“Menikahlah, karena orang terbaik di umat ini adalah yang paling banyak istrinya.” (Dibawakan oleh Al-Bukhari rahimahullahu dalam Shahihnya).

Para ulama menyatakan, seorang yang khawatir terjatuh dalam zina maka dia wajib menikah. Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan berkata : “Nikah menjadi wajib atas seorang yang khawatir terjatuh dalam zina jika meninggalkannya. Karena, itu adalah jalan bagi dia untuk menjaga diri dari perbuatan haram. Dalam keada’an seperti ini, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu berkata : “Jika seseorang telah perlu menikah dan khawatir terjatuh dalam kenistaan jika meninggalkannya, maka harus dia dahulukan dari amalan haji yang wajib.” (Mulakhkhash Al-Fiqhi, 2/258).

Seorang yang menikah dengan niat menjaga kehormatan dijamin oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Diriwayatkan dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Tiga golongan yang Allah akan menolong mereka, budak yang hendak menebus dirinya, seorang yang menikah untuk menjaga kehormatannya, dan seorang yang berjihad di jalan Allah.” (HR. An-Nasa`i, Kitabun Nikah, Bab Ma’unatullah An- Nakih Al-Ladzi Yuridul ‘Afaf, no. 3166)

Janganlah seseorang meninggalkan pernikahan karena mengikuti bisikan setan, dengan dibayangi kesulitan ekonomi, padahal dia telah sangat ingin menikah serta takut terjatuh dalam maksiat. Bertawakallah dengan disertai ikhtiar. Allah Subhanahu wa Ta’ala menjamin orang yang benar-benar bertawakal kepada-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : “Barangsiapa yang bertawakal kepada-Nya pasti Dia akan mencukupkanya.” (Ath-thalaq 3).

http://asantosa30.wordpress.com/

————————-

KESESATAN AJARAN TASAUF

Di antara sekian banyak kesesatan ajaran Tasawuf adalah :

1. WIHDATUL WUJUD

Yakni keyakinan bahwa Allah Ta’ala menyatu dengan segala sesuatu yang ada di alam semesta ini. Demikian juga Al-Hulul, yakni keyakinan bahwa Allah Ta’ala dapat masuk ke dalam makhluk-Nya.

– Al-Hallaj, seorang tokoh sufi, berkata : “Kemudian Dia (Allah) menampakkan diri kepada makhluk-Nya dalam bentuk orang (yang sedang) makan dan minum.” (Dinukil dari Firaq Al- Mua’shirah, karya Dr. Ghalib bin ‘Ali Iwaji, 2/600).

– Ibnu ‘Arabi, tokoh sufi lainnya, berkata : “Seorang hamba adalah Rabb dan Rabb adalah hamba. Duhai kiranya, siapakah yang diberi kewajiban beramal ? Jika engkau katakan hamba, maka ia adalah Rabb. Atau engkau katakan Rabb, kalau begitu siapa yang diberi kewajiban?” (Al-Futuhat Al- Makkiyyah dinukil dari Firaq Al- Mu’ashirah, hal. 601).

– Muhammad Sayyid At-Tijani meriwayatkan (secara dusta, pen) dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bahwasanya beliau bersabda : “Aku melihat Rabbku dalam bentuk seorang pemuda.” (Jawahirul Ma’ani, karya ‘Ali Harazim, 1/197, dinukil dari Firaq Mu’ashirah, hal. 615).

Padahal Allah Ta’ala berfirman : “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Allah, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Asy-Syura: 11).

“Berkatalah Musa : ‘Wahai Rabbku nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat-Mu.’ Allah berfirman: ‘Kamu sekali-kali tidak akan sanggup melihatku’…”1 (Al-A’raf: 143)

2. ORANG YANG MENYETUBUHI ISTRINYA, TIDAK LAIN IA MENYETUBUHI ALLAH.

Ibnu ‘Arabi berkata : “Sesungguhnya seseorang ketika menyetubuhi istrinya tidak lain (ketika itu) ia menyetubuhi Allah!” (Fushushul Hikam).

Betapa kufurnya kata-kata ini…, tidakkah orang-orang Sufi sadar akan kesesatan tokoh sufi ini ?

3. ALLAH ADALAH MAKHLUK DAN MAKHLUK ADALAH ALLAH, MASING-MASING SALING MENYEMBAH

Ibnu ‘Arabi berkata : “Maka Allah memujiku dan aku pun memuji-Nya. Dia menyembahku dan aku pun menyembah- Nya.” (Al-Futuhat Al-Makkiyyah)

Padahal Allah Ta’ala telah berfirman : “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (Adz- Dzariyat: 56).

“Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Allah Yang Maha Pemurah dalam keadaan sebagai hamba.” (Maryam: 93).

4. SEMUA AGAMA SAMA

– Ibnu ‘Arabi berkata : “Sebelumnya aku mengingkari kawanku yang berbeda agama denganku. Namun kini hatiku bisa menerima semua keada’an, tempat gembala rusa dan gereja pendeta, tempat berhala dan Ka’bah, lembaran-lembaran Taurat dan Mushaf Al Qur’an.” (Al-Futuhat Al-Makkiyyah).

– Jalaluddin Ar-Rumi, seorang tokoh sufi yang sangat kondang, berkata : “Aku seorang muslim, tapi aku juga seorang Nashrani, Brahmawi, dan Zaradasyti. Bagiku, tempat ibadah adalah sama… masjid, gereja, atau tempat berhala- berhala.” (Dinukil dari Ash-Shufiyyah Fi Mizanil Kitabi Was Sunnah karya Asy-Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu, hal.24-25).

Padahal Allah ta’ala berfirman : “Dan barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya. Dan dia di akhirat termasuk orang- orang yang merugi.” (Ali Imran: 85).

5. BOLEH MENOLAK HADITS YANG JELAS SHAHIH

Ibnu ‘Arabi berkata : “Kadangkala suatu hadits shahih yang diriwayatkan oleh para perawinya, tampak hakikat keadaannya oleh seseorang mukasyif (Sufi yang mengetahui ilmu ghaib dan batin).

Ia bertanya kepada Nabi secara langsung : “Apakah engkau mengatakannya ?” Maka beliau mengingkari seraya berkata : “Aku belum pernah mengatakannya dan belum pernah menghukuminya dengan shahih.”

Maka diketahui dari sini lemahnya hadits tersebut dan tidak bisa diamalkan sebagaimana keterangan dari Rabbnya walaupun para ulama mengamalkan berdasarkan isnadnya yang shahih.” (Al- Futuhat Al-Makkiyah). (Dinukil dari Ash-Shufiyyah Fi Mizanil Kitabi Was Sunnah karya Asy-Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu, hal. 23).

6. MEMBAGI ILMU MENJADI SYARI’AT DAN HAKIKAT

Apabila seseorang telah sampai pada tingkatan hakikat berarti ia telah mencapai martabat keyakinan yang tinggi kepada Allah Ta’ala.

Oleh karena itu, menurut keyakinan Sufi, gugur baginya segala kewajiban dan larangan dalam agama ini. Mereka berdalil dengan firman Allah ta’ala dalam Al Qur’an Surat Al-Hijr ayat 99 :

Mereka terjemahkan sebagai berikut : “Dan beribadahlah kepada Rabbmu hingga datang kepadamu keyakinan.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata : “Tidak diragukan lagi oleh ahlul ilmi dan iman, bahwa perkata’an tersebut termasuk sebesar-besar kekafiran dan yang paling berat. Ia lebih jahat dari perkataan Yahudi dan Nashrani karena Yahudi dan Nashrani beriman dengan sebagian isi Al Kitab dan mengkufuri sebagian lainnya. Sedangkan mereka adalah orang-orang kafir yang sesungguhnya (karena mereka berkeyakinan dengan sampainya kepada martabat hakikat tidak lagi terkait dengan kewajiban dan larangan dalam agama ini, pen).” (Majmu’ Fatawa, 11/401).

Beliau juga berkata : “Adapun pendalilan mereka dengan ayat tersebut, maka justru merupakan bumerang bagi mereka.

Al-Hasan Al-Bashri berkata : “Sesungguhnya Allah tidak menjadikan batas akhir beramal bagi orang-orang beriman selain kematian, kemudian beliau membaca Al Qur’an Surat Al-Hijr ayat 99, yang artinya : Dan beribadahlah kepada Rabbmu hingga datang kepadamu kematian’.”

Beliau melanjutkan : “Dan bahwasanya ‘Al-Yaqin’ di sini bermakna kematian dan setelahnya, dengan kesepakatan ulama kaum muslimin.” (Majmu Fatawa, 11/418).

7. IBADAH KEPADA ALLAH BUKAN KARENA TAKUT NERAKA JUGA BUKAN KARENA INGIN MASUK SURGA

Mereka mengatakan bahwa ibadah kepada Allah itu bukan karena takut dari adzab Allah (neraka) dan bukan pula mengharap jannah Allah.

Padahal Allah berfirman : “Dan peliharalah diri kalian dari an-naar (api neraka) yang disediakan untuk orang-orang yang kafir.” (‘Ali Imran: 131).

“Dan bersegeralah kalian kepada ampunan dari Rabb kalian dan kepada jannah (surga) yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa.” (‘Ali Imran: 133).

8. DZIKIR ORANG-ORANG AWAM DAN DZIKIRNYA OORANG-ORANG KHUSUS

Dzikirnya orang-orang awam adalah Laa ilaha illallah, sedangkan dzikirnya orang- orang khusus dan paling khusus adalah “Allah / huwa (di baca: huu)”, atau “aah” saja.

Padahal Rasulullah bersabda : “Sebaik-baik dzikir adalah Laa ilaha illallah.” (HR. At-Tirmidzi, dari shahabat Jabir bin Abdullah). (Fiqhul Ad‘iyati Wal Adzkar, karya Asy-Syaikh Dr. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr, hal, 173).

Syaikhul Islam berkata : “Barangsiapa beranggapan bahwa Laa ilaha illallah adalah dzikirnya orang awam, sedangkan dzikirnya orang-orang khusus dan paling khusus adalah / Huwa, maka ia seorang yang sesat dan menyesatkan.” (Risalah Al-’Ubudiyah, hal. 117-118, dinukil dari Haqiqatut Tasawuf, hal. 13).

9. ILMU KASYAF

Keyakinan bahwa orang-orang Sufi mempunyai ilmu kasyaf (yang dapat menyingkap hal-hal yang tersembunyi) dan ilmu ghaib.

Mereka mendustakan firman Allah : “Katakanlah tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui hal-hal yang ghaib kecuali Allah.” (An-Naml, 65).

10. ROSULULLAH DI CIPTAKAN DARI CAHAYA

Keyakinan bahwa Allah menciptakan Nabi Muhammad dari nur/ cahaya-Nya, dan Allah ciptakan segala sesuatu dari cahaya Nabi Muhammad.

Padahal Allah Ta’ala berfirman : “Katakanlah (Wahai Muhammad), sesungguhnya aku hanyalah seorang manusia seperti kalian, kecuali yang diwahyukan kepadaku …” (Al-Kahfi: 110).

“(Ingatlah) ketika Rabbmu berfirman kepada para Malaikat : “Sesungguhnya Aku akan ciptakan manusia dari tanah liat.” (Shad: 71).

11. ALLAH CIPTAKAN DUNIA KARENA NABI MUHAMMAD.

Keyakinan bahwa Allah menciptakan dunia ini karena Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Padahal Allah berfirman : “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (Adz- Dzariyat: 56).

Demikianlah beberapa diantara dari sekian banyak ajaran Tasawuf, yang dari ini saja, nampak jelas kesesatannya.
Semoga Allah Ta’ala menjauhkan kita dari kesesatan-kesesatan tersebut.

Sumber : http://asysyariah.com/ mewaspadai-sufi.html

shirotholmustaqim.wordpress.com/2013/08/13/mewaspadai-ajaran-sufi/

————————

PENGARUH AJARAN NASRANI KEDALAM AJARAN TASAUF

Ajaran Sufi yang di adopsi dari ajaran Nasrani diantaranya adalah Tarbiyah Ruhiyah. Dalam agama Nasrani tarbiyah ruhiyah dilakukan dengan beberapa bentuk. Mulai dari menghindari segala kenikmatan dunia, seperti tidak mengkosumsi sesuatu yang enak dan lezat, tidak memakai pakaian bagus, menjauhi pernikahan sampai pada tinggkat bersemedi di gua-gua.

Sa’at mereka menganggap telah mencapai puncak kesucian jiwa, mereka meyakini bahwa Zat Allâh Ta’âla menyatu dengan diri mereka. Yang mereka sebut dalam istilah mereka : Menyatunya Lahût dengan Nasût. Hal serupa juga ditiru oleh orang-orang sufi dalam mentarbiyah dirinya untuk mencapai tingkat hakikat.

Bila mereka telah sampai pada tingkat hakikat, mereka akan dapat mengetahui hal-hal yang ghaib sekalipun. Bahkan yang lebih eksrim lagi mereka menganggap diri mereka telah bersatu dengan Tuhan.

Ketika itu mereka meyakini tidak perlu lagi menjalankan perintah-perintah agama. Menurut mereka perintah-perintah agama adalah bagi orang yang belum sampai pada tingkat hakikat.

Kemudian juga dalam referensi orang-orang sufi sering menukil cerita-cerita rahib Nasrani.

Kesama’an lain adalah tidak menikah dengan alasan agar lebih fokus beribadah demi mendapatkan surga. Ajaran ini terdapat dalam Injil Matius fasal 19 ayat 12, yang berbunyi : “Ada orang yang tidak kawin,… ia membuat dirinya demikian karena keraja’an surga. Barangsiapa yang dapat melakukan maka hendaklah ia melakukannya”. Dalam surat Paulus kepada penduduk Karnitus fasal 7 ayat 1, berbunyi : “Sangat baik bagi seorang lelaki untuk tidak menyentuh wanita”.

Berkata salah seorang tokoh sufi Abu Sulaiman ad-Dârâny, “Tiga hal barangsiapa yang mencarinya maka sesungguhnya ia telah condong pada dunia, mencari kebutuhan hidup, menikahi wanita dan menulis hadits”.

Jika kita bandingkan apa yang diungkapkan oleh tokoh Sufi ini dengan apa yang terdapat dalam ajaran Nasrani tidak jauh beda. Menurut orang sufi menyiksa diri dengan tidak makan dan minum serta tidak tidur adalah salah satu cara untuk menyucikan jiwa. Bahkan bila ia sampai mengalami kondisi tidak sadarkan diri, ia akan dibuka baginya hijab, lalu dari kondisi itu ia akan menerima ilham dan ilmu ladunni.

Bahkan ada diantara mereka yang meyakini akan menyatu dengan Tuhan. Diantaranya ajaran Injil Matius fasal 10 ayat 9 dan 10, berbunyi : “Janganlah kamu membawa emas atau perak atau tembaga dalam ikat pinggangmu. Janganlah kamu membawa bekal dalam perjalanan, janganlah kamu membawa baju dua helai, kasut atau tongkat”. Demikian bunyi ayat-ayat Injil Matius tentang anjuran meninggalkan segala hal yang dibutuhkan oleh seseorang dalam mempertahankan hidup dalam perjalanannya.

Hal yang sama akan kita dapatkan pula dari ungkapan-ungkapan tokoh sufi sebagaimana yang sudah sebutkan di atas.

Bagaimana pula aqidah hulûl dalam agama Nasrani ?

Mari kita simak apa yang terdapat dalam Injil Matius pada fasal 10 ayat 20 : “Karena bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Bapamu, Dia yang akan berkata-kata di dalam kamu”.

Artinya ruh Tuhan menyusup kedalam diri seorang rahib yang sudah layak untuk di masuki oleh Roh tersebut. Setelah melalui proses penyucian jiwa dengan metode seperti yang kita sebutkan sebelumnya.

Demikian pula orang sufi meyakini hal yang sama, bila seorang wali telah sampai pada tingkat hakikat maka sebahagian sifat Tuhan akan menyusup ke dirinya.

Menurut mereka dari situ seorang sufi akan memiliki atau mengalami hal-hal yang diluar kemampuan manusia yang mereka sebut sebagai karamah.

Jika kita membaca tentang biografi dan kisah orang-orang sufi kita akan mendapatkan cerita yang menggambarkan hal tersebut.

Bila hal di atas kita bandingkan dengan ajaran Islam akan terlihat hal yang sangat bertolak belakang. Islam memerintahkan untuk beramal akan tetapi juga melarang melupakan kenikmatan dunia yang menjadi bagian mereka.

Yang dilarang Islam adalah mendahulukan kesenangan dunia dan melalaikan kesenangan akhirat. Islam adalah agama yang seimbang dalam segala hal, baik dalam ideologi maupun ibadah dan akhlak. Firman Allâh Ta’âla, “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allâh Ta’âla kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah sebagaimana Allâh Ta’âla telah berbuat baik kepadamu”. (QS. al- Qashash/28:77)

Dalam ayat ini sangat jelas Allâh Ta’âla menyuruh kita untuk mencari karunia-Nya baik yang berhubungan dengan kebahagian akhirat maupun kenikmatan duniawi.

Dan firman Allâh Ta’âla : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa- apa yang baik yang telah Allâh Ta’âla halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allâh Ta’âla tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allâh Ta’âla telah rezekikan kepadamu”. (QS. Al- Maidah/5:87-88)

Dalam ayat ini, Allâh Ta’âla dengan jelas melarang kita melampaui batas yang telah ditentukan Allâh Ta’âla , seperti mengharamkan seseuatu yang dihalalkan Allâh Ta’âla, melakukan ibadah yang tidak pernah diperintahkan Allâh Ta’âla.

Diriwayatkan dalam sebuah hadits, ada tiga orang Sahabat mendatangi sebagian isteri Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam untuk bertanya tentang bagaimana ibadah beliau jika beliau berada di rumah beliau. Ketika mereka mendengar jawaban dari isteri Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam, mereka memandang bahwa ibadah mereka sangat sedikit sekali bila dibanding dengan ibadah Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam yang sudah diampuni dosanya yang berlalu dan yang akan datang. Lalu mereka ingin bersungguh-sungguh untuk beribadah.

Diantara mereka ada yang ingin shalat malam tanpa tidur, yang lain ingin berpuasa setiap hari, yang ketiga tidak mau menikah.

Sa’at berita itu sampai kepada Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam, beliau marah dan menasehati mereka bertiga secara langsung dan juga menasehati kaum Muslimin. Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Apakah kalian yang mengatakan begini-begini ? Demi Allâh saya adalah orang yang paling takut dan paling bertakwa kepada Allâh diantara kalian. Akan tetapi saya berpuasa juga berbuka, saya shalat malam numun juga tidur, dan saya mengawini wanita. Barangsiapa tidak suka pada sunnahku. Maka ia tidak termasuk golonganku”.

Bila kita lihat kehidupan Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam beliau juga makan daging, minum susu, menyisir rambut dan memakai wangi-wangian.

Ketika beliau ditanya tentang sesorang yang memakai pakaian bagus apakah itu termasuk kategori sombong ? Beliau menjawab tidak, kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.

garibblog.wordpress.com/

———————–