Tag Archives: ulama

AJARAN IBNU ARABI

Di antara tokoh sufi yang mashur adalah Ibnu Arabi, nama lengkapnya Abu Bakar Muhammad ibn Ali Muhyiddin Al-Hatimi At-Thai Al-Andalusi, dikenal dengan Ibnu Arabi (bukan Ibnul Arabi yang ahli tafsir).

Ibnu Arabi dianggap sebagai tokoh tasawuf falsafi, lahir di Murcia Spanyol, 17 ramadhan 560 H/28 Juli 1165 M, dan mati di Damaskus, Rabi’ul Tsani 638 H/Oktober 1240 M.

Inti ajarannya didasarkan atas teori wihdatul wujud (satunya wujud, semua wujud di alam ini adalah cerminan Allah) yang menghasilkan wihdatul adyan (satunya agama, tauhid maupun syirik).

Di antara ajaran Ibnu Arabi adalah :

– “Hamba adalah Tuhan”. (tercantum dalam kitab Ibnu Arabi, Fushush Al-Hikam, 92-93).

– “Neraka adalah surga itu sendiri”. (Fushush Al-Hikam, 93-94).

– “Perbuatan hamba adalah perbuatan Allah itu sendiri”. (Fushush Al-Hikam, 143).

– “Fir’aun adalah mu’min dan terbebas dari siksa neraka”. (Fushush Al-Hikam, 181).

– “Wanita adalah Tuhan”. (Fushush Al-Hikam, 216).

– “Fir’aun adalah Tuhan Musa”. (Fushush Al-Hikam, 209).

– “Semua ini adalah Allah, tidak ada nabi/rasul atau malaikat. Allah adalah manusia besar”. (Fushush Al-Hikam, 48).

– “Allah membutuhkan pertolongan makhluk”. (Fushush Al-Hikam, 58-59).

Karena begitu sesatnya penyimpangan yang ditampilkan Ibnu Arabi, maka 37 ulama telah mengkafirkannya atau memurtadkannya. Di antara yang mengkafirkan Ibnu Arabi itu adalah ulama-ulama besar yang dikenal sampai kini :

•Ibnu Daqieq Al-‘Ied (w 702 H).
•Ibnu Taimiyah (w 728 H).
•Ibnu Qayyim Al-Jauziah (w 751 H).
•Qadhi ‘Iyadh (w 744 H).
•Al-‘Iraqi (w 826 H).
•Ibnu Hajar Al-Asqalani (w 852 H).
•Al-Jurjani (w 814 H).
•Izzuddin bin Abdis Salam (w 660 H).
•An-Nawawi (w 676 H).
•Adz-Dzahabi (w 748 H).
•Al-Bulqini (w 805 H).

(Lihat Tasawuf Belitan Iblis, Darul Falah, Jakarta, 2001, hlm. 72-73).

http://faisalchoir.blogspot.com/2012/07/di-antara-bukti-kesesatan-sufi-tidak.html?m=1

_______________________

Advertisements

SIKAP PARA ULAMA BASHRAH DI MASA KEMUNCULANNYA KELOMPOK SUFI

Para ulama Bashrah yang mengalami masa kemunculan kelompok sufi ini, tidaklah tinggal diam. Sebagaimana diriwayatkan Abu Asy-Syaikh Al-Ashbahani dengan sanadnya dari Muhammad bin Sirin, bahwa telah sampai kepadanya berita tentang orang-orang yang mengutamakan pakaian yang terbuat dari bulu domba.

Beliau berkata : “Sesungguhnya ada orang-orang yang mengutamakan pakaian yang terbuat dari bulu domba dengan alasan untuk meneladani Al-Masih bin Maryam ! Maka petunjuk Nabi kita lebih kita cintai, beliau biasa mengenakan pakaian yang terbuat dari bahan katun dan yang selainnya.” (Diringkas dari Majmu’ Fatawa, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah hal. 5, 6, 16).

http://shirotholmustaqim.wordpress.com/2013/08/13/mewaspadai-ajaran-sufi/

——————————

CELA’AN PARA ULAMA KEPADA SUFI

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Abdillah Abdurrahman Mubarak)

• CELA’AN AL-IMAM ASY-SYAFI’I TERHADAP SHUFIYAH

Shufiyah bukanlah pengikut Al-Imam Asy-Syafi’i. Di antara buktinya adalah banyaknya cela’an dari Al-Imam Asy-Syafi’i dan lainnya terhadap mereka.

Al-Imam Al-Baihaqi meriwayatkan dengan sanadnya sampai Al-Imam Asy-Syafi’i : “Jika seorang belajar tasawuf di pagi hari, sebelum datang waktu dhuhur engkau akan dapati dia menjadi orang dungu.”
Al-Imam Asy-Syafi’i juga mengatakan : “Aku tidak pernah melihat seorang shufi yang berakal. Seorang yang telah bersama kaum shufiyah selama 40 hari, tidak mungkin kembali akalnya.” Beliau juga berkata, “Azas (dasar shufiyah) adalah malas.” (Lihat Mukhalafatush Shufiyah lil Imam Asy-Syafi’i t hal. 13-15).

Beliau menamai shufiyah dengan kaum zindiq. Kata beliau, “Kami tinggalkan Baghdad dalam keada’an orang-orang zindiq telah membuat-buat bid’ah yang mereka namakan sama’ (nyanyian sufi, red.).” Asy-Syaikh Jamil Zainu berkata : “Orang-orang zindiq yang dimaksud Al-Imam Asy-Syafi’i adalah kaum shufiyah.” (Lihat Shufiyah fi Mizan Al-Kitabi was Sunnah).

• CELA’AN AL-IMAM MALIK

At-Tunisi mengatakan, Kami berada di sisi Al-Imam Malik, sedangkan murid-murid beliau di sekelilingnya. Seorang dari Nashibiyin berkata : “Di tempat kami ada satu kelompok disebut shufiyah. Mereka banyak makan, kemudian membaca qashidah dan berjoget.” Al-Imam Malik berkata, “Apakah mereka anak-anak ?” Orang tadi menjawab, “Bukan.” Beliau berkata, “Apakah mereka adalah orang-orang gila ?” Orang tadi berkata, “Bukan, mereka adalah orang-orang tua yang berakal.” Al-Imam Malik berkata, “Aku tidak pernah mendengar seorang pemeluk Islam melakukan demikian.”

• CELA’AN IMAM AHMAD

Al-Imam Ahmad ditanya tentang apa yang dilakukan shufiyah berupa nasyid-nasyid dan qashidah yang mereka namakan sama’. Beliau berkata, “Itu adalah muhdats (perkara baru yang diada-adakan dalam Islam).”

Ditanyakan kepada beliau, “Apakah boleh kami duduk bersama mereka ?” Beliau menjawab, “Janganlah kalian duduk bersama mereka.”

Beliau berkata tentang Harits Al-Muhasibi, dia adalah tokoh shufiyah, “Aku tidak pernah mendengar pembicara’an tentang masalah hakikat sesuatu seperti yang diucapkannya. Namun aku tidak membolehkan engkau berteman dengannya.”

• CELA’AN AL-IMAM ABU ZUR’AH

Al-Hafizh berkata dalam Tahdzib, Al-Bardza’i berkata, “Abu Zur’ah ditanya tentang Harits Al-Muhasibi dan kitab-kitabnya. Beliau berkata kepada penanya, “Hati-hati kamu dari kitab- kitab ini, karena isinya kebid’ahan dan kesesatan. Engkau wajib berpegang dengan atsar, akan engkau dapati yang membuatmu tidak membutuhkan apapun dari kitab-kitabnya’.”

• CELA’AN AL-IMAM IBNUL JAUZI

Beliau berkata, “Aku telah menela’ah keada’an shufiyah dan aku dapati kebanyakannya menyimpang dari syariat. Antara bodoh tentang syariat atau kebid’ahan dengan akal pikiran.”
Marwan bin Muhammad berkata : “Tiga golongan manusia yang tidak bisa dipercaya dalam masalah agama : shufi, qashash (tukang kisah), dan ahlul bid’ah yang membantah ahlul bid’ah lainnya.” (Lihat Mukhalafatush Shufiyah, hal.16-18).

http://garibblog.wordpress.com/

—————————-